IMG-LOGO
Esai

Sastra Minor di Pesantren

Ahad 23 Desember 2018 23:52 WIB
Bagikan:
Sastra Minor di Pesantren
Oleh Khudori Husnan

Menulis seperti seekor anjing menggali lubang, seekor tikus menggali liang
Gillez Deleuze dan Felix Guattari

Saya mencium aroma tak biasa di cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal di buku kumpulan cerpen Kucing Makan Koran (Diandra Kreatif, Jombang, 2018) dan Hilmi Abedillah di buku Trik Ahli Neraka (Penerbit Mitra Karya, Tuban, 2018). Cerpen-cerpen mereka berbeda dari cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti, Yanusa Nugroho, Danarto, Gus tf Sakai, Mustofa Bisri, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Damhuri Muhammad, Ben Sohib, Berto Tukan, dan sejenisnya. 

Cerpen-cerpen para cerpenis yang namanya saya sebut di atas, kita sebut saja mereka para cerpenis mayor atau utama, biasanya enak dibaca karena cerpen-cerpen mereka mampu membuai pembaca, baik lewat cara bertuturnya yang tertib, maupun dari muatan pesan yang disampaikan. Cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah terkesan kebalikan dari cerpen-cerpen karya para cerpenis mayor.  

Melalui cerpen-cerpennya, Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah seperti ingin membicarakan banyak hal tapi tertekan dan bingung menentukan cara bagaimana menyampaikannya. Alih-alih larut dalam kegalauan panjang, Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah, memilih tetap menuntaskan cerpen-cerpennya. 

Dadang Ari Murtono meringkas cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal sebagai “Semesta yang mengambang, semesta yang masih bertikai dengan dirinya sendiri, saling membunuh dan berebut dominasi, agar ia bisa memijak kukuh di permukaan tanahnya sendiri-dan bukannya tanah yang kita kenal.” Bagi Dadang Ari Murtono cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal mengambang karena tak “utuh” dan tak “menjadi.” 

Keutuhan dan kemenjadian, yang disebut Dadang Ari Murtono sebagai kemutlakan, biasanya memicu makna. Dalam pembacaan saya, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah tipikal cerpen yang tak mengutamakan makna tapi berupaya menyeret pembacanya untuk memalingkan wajah pada dinamika literer di pesantren.

Bagaimana Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah lebih memilih jalan ‘mengambang’ dari pada menulis cerpen sesuai selera kebanyakan pembaca cerpen? Persoalan ini menarik untuk didalami. 

Cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah diikat oleh benang merah, sama-sama menjadikan khazanah pesantren NU, sebagai titik pemberangkatan. Cerpen Hilmi Abedillah Denuri Ketemu Dinawari yang berkisah tentang ambisi Daenuri berziarah ke makam Syekh Dinawari di Bagdad, pekat dengan istilah-istilah khas pesantren termasuk kitab Jurumiyah, Rihlah Ibni Bathuthah dan seterusnya. Istilah-istilah khas pesantren juga banyak dijumpai di cerpen lain termasuk cerpen Sya’ban yang penokohannya memakai nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah, serta cerpen Barokah. 

Sama seperti cerpen-cerpen Hilmi Abedilah, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal juga banyak memakai istilah-istilah pesantren misalnya pada cerpen Ziarah dan Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim yang berkisah tentang kecurigaan santri senior terhadap santri mualaf yang diduga penganut aliran sesat. Tak seperti Hilmi,  Zainuddin Sugendal mulai memasuki tema-tema berbalut teka-teki seperti terdapat di cerpen Angsana dan Sebelas Macan Tuan Hasan yang memasukan unsur-unsur mitologi dan jampi-jampi. 

Sudah barang tentu Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal bukan yang pertama menjadikan tema-tema pesantren sebagai sudut pandang. Gus Mus, salah satunya, pernah menulis cerpen tentang Gus Jakfar. Lebih jauh lagi ada nama Djamil Suherman sastrawan angkatan 60-an dan 70-an yang banyak mengangkat  kehidupan pesantren. Bedanya, tema-tema pesantren lebih dijadikan inspirasi dan bukan sebagai intensitas apalagi sebagai kesadaran untuk merontokkan dominasi kebahasaan yang datang dari luar bahasa pesantren. 

Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal menggumuli tema-tema pesantren secara intensif dan antusias. Proses ini menjadikan cerpen-cerpen Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal berpotensi termasuk ke dalam sastra minor. Menurut Eko Endarmoko minor bersinonim dengan “(a) cemeh, remeh, kecil, ringan, sepele, sipil, (cak) (b) bawahan, inferior, marginal, sekunder, subordinat.” 

Mengacu pada pendapat  Eko Endarmoko, minor dapat kita artikan sebagai  miring. Sastra minor berarti sastra yang, cara penyampaian maupun muatannya, mengekspresikan ke-miring-an. Barangkali di sini ada peran penyair NU Miring, Binhad Nurrohmat. 

Sastra minor digemakan oleh dua tokoh penting dari Prancis Gillez Deleuze, seorang filosof, dan Felix Guattari, aktivis politik dan praktisi psikoanalisa, lewat bukunya Kafka Toward a Minor Literature (1986). Berbeda dari tafsiran misalnya Walter Benjamin atas Kafka yang lebih menitikberatkan pada unsur-unsur ke-Yahudi-an Kafka, Gillez Deleuze menyingkap dimensi revolusioner di balik karya-karya Kafka sembari mengenalkan istilah sastra minor. 

Deleuze dan Guattari menyebut adanya tiga ciri pokok sastra minor; pertama dalam bahasanya, sastra minor terpengaruh oleh koefisiensi tingkat tinggi dari apa yang disebut  sebagai “deteritorialisasi; kedua, segala hal yang tercantum dalam sastra minor bersifat politis; ketiga, semua yang tercantum memuat suatu nilai kolektif.

Tiga butir pemikiran Deleuze dan Guattari tentang karakteristik sastra minor menyiratkan sastra minor adalah tulisan yang terkonstruk sebagai minoritas dalam kerangka bahasa-bahasa arus utama yang telah digunakan oleh  cerpenis-cerpenis terkemuka; diawal tulisan saya menyebutkan sebagai cerpenis mayor. 

Artinya, sastra minor tak lahir dari ruang steril di khazanah sastra mayor. Sebaliknya, ia muncul  karena sastra mayor menganggap sastra minor sebagai ganjil, tak biasa, dan bersifat teritorial dalam artian hanya dirayakan di lingkup teritori tertentu, dalam hal ini pesantren. 

Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah mencoba melawan dominasi cerpenis mayor melalui cara dan gaya cerita pendeknya sendiri. Pada saat bersamaan dia juga kemungkinan besar membaca dan menyerap karya-karya cerpenis mayor. Hubungan antara Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah dengan para cerpenis mayor serupa hubungan antara seekor kucing lapar yang tak menemukan sepotong ikan pun untuk dimakan, kecuali sehelai Koran seperti digambarkan Zainuddin Sugendal di cerpennya Kucing Makan Koran; 

“kucing hitam yang lapar itu melompat ke dalam tong sampah dan mengamuk di sana. Dia bertengkar dengan koran-koran yang bergerak karena ulahnya sendiri. Dia memakan Koran-koran itu kemudian memuntahkannya lagi.” 

“Muntahan” cerpenis-cerpenis minor ini merupakan  penerimaan kembali proses deteritorialisasi lewat cara defamiliarisasi dan perlawanan terhadap  konvensi melalui karya-karyanya. Tema-tema yang lekat dengan dunia pesantren, yang semula terkucil dan tak diperhitungkan, mulai mengalami pengolahan dan penempaan ulang lalu  ditampilkan lewat karya. Tahlil, ziarah, barokah, kitab kuning, jimat, dan seterusnya mulai bermunculan.

Sastra minor juga bersifat politis dalam artian berhubungan dengan tindakan-tindakan selanjutnya termasuk seruan bagi sebuah penyatuan, solidaritas, dan otonomi  yang kelak menjadi titik-tolak bagi pilihan yang dibuat, cita rasa yang dimiliki dan kehidupan yang dijalani; jika pesantren diibaratkan seekor kucing, maka tampaknya tidak mungkin pesantren melumat dirinya sendiri, bahkan ketika pesantren hadir sebagai duplikatnya. 

“’hati kucing itu diselimuti kegundahan. Foto-foto makanan ia santap dengan lahap. Foto-foto manusia juga ia santap. Foto artis ia juga tidak keberatan. Tapi kali ini foto kucing, bahkan itu adalah dirinya sendiri. 

‘Kau tidak memakanku?’ Tanya Koran. 

‘Mungkin hari ini aku memilih berpuasa.’ Kucing itu lalu pergi.’” 

(Hilmi Abedillah, cerpen Kucing Masuk Koran).

Persoalan-persoalan yang dikemukakan di atas, serupa dengan apa yang pernah ditulis Keith Foulcher (1995) saat ia menyatakan momen poskolonial ditandai oleh terbitnya kesadaran akan ketidakotentikan kultural dalam diri subjek kolonial, seperti tercermin dari karya-karya sastra Indonesia awal termasuk Abdul Muis Salah Asuhan, Armijn Pane Belenggu, Achdiat K. Mihardja, Ateis, disusul kemudian Mochtar Lubis Jalan Tak Ada Ujung, dan Pramoedya Ananta Toer Keluarga Gerilya. 

Melalui novel, para pengarang mencari dan menegaskan akar-akar tradisi dan pemikirannya sendiri lewat sebuah pendekatan historis, termasuk kelak menghasilkan salah satu produknya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, yang notabene bahasa resmi yang dijadikan pengarang-pengarang mayor berkarya cipta sembari meminggirkan idiom-idiom minor.  

Sastra minor bersifat revolusioner karena sedapat mungkin berjarak dari bahasa-bahasa mayor. Ketika tulisan-tulisan minor mencapai kedudukan sebagai mayor, ia akan kehilangan identitas radikalnya, menjadi dominan dan pada akhirnya menjiplak watak sang penindas. 

Penulis-penulis minor juga dapat terjebak pada apa yang disebut Gillez Deleuze dan Felix Guattari sebagai regionalisme, semacam sastra minor abal-abal, yang tulisan-tulisannya lebih menampilkan nada-nada nostalgis, esensialis, serta  pemujaan berlebihan pada teritori sembari berupaya mengomunikasikan makna-makna kontemporer. Regionalisme adalah bahaya yang mengintai  tulisan-tulisan “minor.” Pasalnya, regionalisme memendam hasrat untuk menjadi ekspresi mayor, demikian menurut Deleuze dan Guattari.

Dari pada menyebut cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal sebagai cerita-cerita yang mengambang barangkali baik menyebutnya sebagai ikhtiar memeragakan “seni tanpa kepastian” (art of indeterminacy). Pada seni jenis ini, makna-makna yang dimungkinkan lahir dari sebuah cerita, selalu dalam pergerakan tak pasti di setiap tahap proses-proses penceritaan. “Seni tanpa kepastian memerlihatkan proses perajangan pada keseluruhan bahan dasar narasinya demi menghindari dampak yang timbul dari proses penyimpulan. Pembacaan sekilas pada “seni tanpa kepastian, akan dianggap jenis ini sebagai mengambang, untuk tak menyebutnya, tak memiliki maksud dan tujuan yang jelas.

Akhirnya, apakah Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah seorang cerpenis “minoristis”? Atau sebaliknya “regionalistis”? Mari kita sama-sama uji cerpen-cerpennya, sambil merenungi pesan Gillez Deleuze dan Felix Guattari untuk urusan tulis menulis; “menulis seperti seekor anjing menggali lubang, seekor tikus menggali liang.” Menulis seperti mengorek-ngorek realitas keseharian yang dekat dengan kita. Keseharian perlu terus dikorek karena ia, meminjam judul lagu dangdut H. Rhoma Irama, penuh tabir kepalsuan.

Tags:
Bagikan:
Jumat 21 Desember 2018 7:0 WIB
Goresan-goresan Kaligrafi di MTQ Riau
Goresan-goresan Kaligrafi di MTQ Riau
Oleh Didin Sirojuddin AR
Tulisan dan lukisan kaligrafi di MTQ Provinsi Riau XXXVII (11-18/12/2018) tambah dahsyat saja. Dahsyat dan  memikat. Bukan hanya bikin hati saya senang. Saya malah terseret ke  kenangan tahun 1994. Itulah waktu  diselenggarakannya MTQ Nasional XVI di "Bumi Lancang Kuning" Riau.

Saya ketika itu ditunjuk sebagai salah satu jurinya. Sebelumnya, saya sudah delapan kali bolak-balik Jakarta-Pekanbaru untuk menggembleng delapan khattat (kaligrafer) Riau agar kuat berkompetisi dalam musabaqah akbar tersebut.

Dalam MTQ Nasional 1994, saya bikin dialog kaligrafi yang disisipi dengan deklarasi Lancang Kuning  Agreement  (Kesepakatan Lancang Kuning), yaitu, sepakat meniru Lancang Kuning.

Lancang Kuning adalah kapal layar kebanggaan Kerajaan Melayu Riau. Bila berlayar malam dengan gelombang menerjang, Lancang Kuning harus dikemudikan nakhoda ahli supaya tidak tenggelam.

Deklarasi itu sengaja dibuat sebagai titik tolak semangat  "pengembangan kaligrafi di Indonesia", dari MTQ Nasional 1994 di Bumi Lancang Kuning Riau. Sebab, waktu itu, MKQ (مسابقة خط القرآن) masih dalam tahap belajar, sederhana, sedang mencari bentuk jati dirinya, dan memerlukan "gebrakan". Gebrakannya dimulai dari "semangat menerjang gelombang" sang bahtera Lancang Kuning.

Berikut ini lirik lagu Lancang Kuning Jamal Abdillah agar serasa diayun ke alam mimpi:

Lancang Kuning
Lancang Kuning belayar malam
Belayar malam...

Lancang kuning
Lancang Kuning belayar malam
Hai belayar malam...

Haluan menuju
Haluan menuju ke laut dalam
Haluan menuju

Kalau nakhoda
Kalau nakhoda kuranglah paham
Hai kuranglah paham...

Kalau nakhoda
Kalau nakhoda kuranglah paham
Hai kuranglah paham...

Alamatlah kapal
Alamatlah kapal akan tenggelam
Alamatlah kapal
Alamatlah kapal akan tenggelam...

Lancang Kuning belayar malam... (2x)

Lancang Kuning
Lancang Kuning menentang badai
Menentang badai...

Lancang Kuning
Lancang Kuning menentang badai
Hai menentang badai...

Seperti serentetan mitraliur yang ditembakkan, semangat "menerjang gelombang" dibawa seluruh peserta MKQ-MTQ Nasional  ke seluruh penjuru Indonesia. Sejak 1994 itu, Kaligrafi di Indonesia tidak lagi hanya keterampilan, apalagi skill zonder ilmu. Para khattat mengembangkannya ke pemikiran. Maka, jadilah  kaligrafi benar-benar seni (الخط فن), kaligrafi benar-benar ilmu (الخط علم), kaligrafi benar-benar filsafat (الخط فلسفة).

Para peserta musabaqah tambah menguasai (dengan tingkat kehalusan menggores) ragam khat Naskhi, Tsulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Kufi, dan Riq'ah dengan rincian lekak-lekuknya. Unsur seni rupanya juga show bizarre warna-warna yang semakin sensasional.

Inisiatif berkreasi penuh inovatifnya disokong terus oleh kehadiran gaya-gaya kaligrafi kontemporer (tradisional, simbolik, figural, ekspresionis, dan abstrak) yang, aduhaaai, menambah greget saja dalam berkarya.

Persaingan yang  bertambah ketat, berekses ke kompetisi yang semakin keras. Berbeda dengan karya-karya sebelum 1994 yang kalem bin adem, pasca-1994 semuanya jadi karya-karya perjuangan yang lebih liar.


Saya lihat para peserta lomba berdatangan di arena musabaqah  dengan tampang-tampang pejuang seperti Yulius Caesar datang di kota Roma dengan teriakan "vini, vidi, vici" ("aku datang, aku lihat, aku menang") dan seperti datang untuk menyimak wejangan amir al-syu'ara (raja penyair) Ahmad Syauqi:

قف دون رأيك فى الحياة مجاهدا • إن الحياة عقيدة وجهاد

Artinya, "Perjuangkanlah pendapatmu sekuat tenaga dalam mengarungi hidup • Sesungguhnya hidup adalah keyakinan dan perjuangan."

Teringat, di tahun 1994, saya melatih beberapa kader Riau:  Muktamar, Ali Muhsin, Nana Natsiruddin, Abdul Lathif, Syamsul Rizal, Umi Kalsum,  Siti Rahayu, dan Yelia Erawati. Kini, 24 tahun kemudian, mereka sudah jadi tokoh dan pembina kaligrafi di Riau.

Hari ini di tahun 2018, Riau memiliki lebih 200 khattat/kaligrafer profesional, mayoritas alumni Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka, Sukabumi. Uniknya, santri Lemka pertama berasal dari Riau. Dari Riau pula jumlah santri terbanyak saban tahun. Ini mengundang dan menggoda santri dari 30 lebih provinsi lainnya, meneladani Riau.

Di mana-mana anak muda menulis dan melukis kaligrafi. Gelombang air laut dan badai mengamuk tambah menjadi-jadi. Hebatnya, bahtera Lancang Kuning malah berlayar tambah kencang. Teruuuslah melaju tambah kencang.


*) Penulis adalah pengasuh Lembaga Kaligrafi (Lemka) yang juga pengajar pada Fak. Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah.
Kamis 13 Desember 2018 16:0 WIB
Nama dari Kiai untuk Santri
Nama dari Kiai untuk Santri
KH Imam Syamsuddin
Oleh Abdullah Alawi

Semula ia bernama Bambang Margono, tapi ketika menimba ilmu di Tebuireng, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menggantinya dengan nama Ahmad Shobari. Nama pemberian Hadratussyekh itulah yang melekat kepadanya. Kecintaannya kepada Hadratussyekh, dilakukannya dengan mengajar di Tebuireng. Dia bolak-balik rumah dan pesantren selama 33 tahun dengan menggunakan sepeda ontel sejauh 5 km.

Menurut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagaimana dikutip di buku Kiai Shobari; Santri Kinasih Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, Kiai Shobari tidak pernah mengeluh menjalani puluhan tahun bersepeda. Tanda takzimnya kepada guru, ketika memasuki kompleks Tebuireng, ia akan menuntun sepedanya itu. Lalu setelah agak jauh, Kiai Shobari akan menunggangi sepedanya lagi. 

Soal kiai yang mengganti nama santri dialami tokoh NU Kabupaten Sukabumi, KH Imam Syamsuddin. Ia mengaku diberi nama depan oleh KH Ahmad Syaikhu, salah seorang tokoh NU tahun 70-an. 

“Sebelumnya nama saya hanya Syamsuddin,” katanya. 

Kemudian ia bercerita bagaimana pertemuannya dengan KH Ahmad Syaikhu. "Pada tahun 1974, usia saya baru berusia 18 tahun, nyantri di pesantren Al-Falah yang dipimpin KH Abdullah Sanusi, tokoh NU Sukabumi yang mewakili daerahnya menghadiri Muktamar NU 1952 di Palembang,” jelasnya. 

Pada tahun tersebut, sambung Syamsuddin, pesantren Al-Falah dikunjungi tiga tokoh NU, yaitu KH Idham Chalid, KH Ahmad Syaikhu dan Subhan ZE.

“Kalau tidak salah urusan partai PPP,” katanya.

Santri Syamsuddin dipercaya ajengan untuk menerima tamu, memberi suguhan makanan, dan minuman. Ketika ia hendak undur diri, entah sebab apa, KH Ahmad Syaikhu menahannya. 

“Sebentar, siapa namamu?” tanya KH Ahmad Syaikhu.

“Syamsuddin,” jawabnya.

“Saya kasih tambahan nama depan ya. Ditambah Imam. Jadi, Imam Syamsuddin.”

Syamsuddin adalah santri yang menghormati guru. Juga sahabat guru. Diberi nama depan seperti itu, diterima dengan ikhlas. Nama depan “Imam” melekat hingga sekarang.

Selain aktif di NU, Syamsuddin yang juga jebolan jurusan sejarah IKIP Bandung ini adalah dosen di STAI Al-Masthuriyah. Juga mubaligh populer di Sukabumi. Salah satu ciri khas ceramahnya selalu bernuansa sejarah lengkap dengan tanggal dan tahun. 

Selain itu, ia aktif mengajar ngaji ibu-ibu dan bapak-bapak di kediamannya, Cibadak, Sukabumi.

Di pesantren, saat saya mengaji di Pondok Pesantren Assalafiyah Nurul Hikmah, ada santri yang semula bernama Dadan. Kemudian oleh sang kiai diubah menjadi Ma’mun Nawawi. Nama tersebut merupakan tafaul kepada pengasuh pesantren Baqiyatus Solihat, Cibarusah, santri Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari yang dikenal dengan ahli ilmu falak.


Penulis adalah warga NU Kelahiran Sukabumi


Kamis 6 Desember 2018 0:0 WIB
Di Yaman Habib Umar Sampaikan Solusi Kemajuan Umat
Di Yaman Habib Umar Sampaikan Solusi Kemajuan Umat
Maulid Nabi di Tarim, Yaman
Oleh Gamal Abdul Nasir 

Tidak terasa, kita sudah berada di penghujung bulan Rabiul Awal. Bulan yang patut umat muslim untuk bergembira di dalamnya, karena pada bulan Rabiul Awal dilahirkannya Sang Pembawa Risalah; Nabi Muhammad Saw.

Di Tarim sendiri, tempat saya menuntut ilmu, sepuluh akhir bulan Rabiul Awal merupakan momen puncak peringatan maulid Nabi Muhammad Saw.

Tanah leluhur para Walisanga ini akan terlihat sangat ramai di sepuluh akhir bulan Rabiul awal. Masyarakat setempat, penuntut ilmu serta para peziarah sangat antusias untuk menghadiri berbagai acara yang isinya mengekspresikan kegembiraan dengan peringatan maulid Mabi Muhammad Saw; seperti pembacaan Maulid, pawai Maulid, dan lainnya.

Tempat-tempat yang biasanya mengadakan peringatan Maulid di sepuluh akhir bulan Rabiul Awal ini pun adalah tempat-tempat yang penuh dengan nilai historis dan sakral, seperti; Zanbal, Ribath Tarim, Darul Musthofa, Masjid Al Fath Imam Al Haddad.

Senin, 25 Rabiul Awal 1440 Hijirah atau 3 Desember 2018 pesanttren asuhan Habib Umar bin Hafiz mengadakan acara peringatan Maulid Nabi tepat setelah shalat Dzuhur. Meskipun waktu peringatan Maulid berbarengan dengan waktu istirahat siang, masyarakat sangat antusias untuk datang, terbukti dengan melimpah ruahnya para jamaah sampai ke bagian luar Pesantren Darul Musthofa. Tua, muda, anak-anak, mereka semua hadir karena rasa kecintaan dan kegembiraan mereka akan kelahiran Nabi Muhammad Saw

Turut berhadir juga pada acara tersebut pimpinan mufti Tarim; Habib Ali Masyhur (kakak kandung dari Habib Umar), Habib Umar bin Hafiz, para munshib (pimpinan), kabilah-kabilah, serta para habaib lainnya dan para syeikh.

Peringatan Maulid diisi dengan pembacaan syi'ir pujian kepada Nabi Muhammad Saw dengan shalawat khas ala Tarim, serta sambutan dan ceramah agama dari Habib Ali Masyhur dan Habib Umar bin Hafiz.

Pimpinan Pondok Darul Musthafa itu menyeru kepada para Muslim untuk memperkuat ikatan tali mutaba'ah kepada Nabi Muhammad Saw; melakukan segala perkara sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw; serta membuang ego diri dan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita.

"Kalau itu semua dilakukan maka kita; umat Islam akan bersatupadu. Umat akan maju, masyarakat kita akan rukun damai tanpa perpecahan karena kita memiliki anutan yang satu yaitu Nabi Muhammad Saw; serta akan menjadi senjata kesuksesan kita di dunia dan di akhirat," paparnya.

Penguatan ikatan mutaba'ah kepada Nabi Muhammad Saw menjadi senjata kita, menjadi sebab kemenangan kita di dunia dan di akhirat. "Sebagaimana kesuksesan yang diraih para sahabat Nabi Saw dengan kuatnya mutaba'ah mereka kepada Nabi Muhammad Saw," ungkapnya.

Ia juga menyampaikan sebab keterbelakangan umat adalah banyaknya fitnah. Bencana yang tersebar disebabkan karena kurang kuatnya ikatan mutaba'ah kita kepada Nabi Muhammad Saw. "Kita terlalu mementingkan ego pribadi, cinta dunia  dan lebih memilih mengikuti panutan yang lain selain Nabi Muhammad Saw," lanjutnya.

Acara yang dimulai sejak selesai shalat Dzuhur ini diakhiri dengan makan bersama dan shalat Ashar berjamaah.

Penulis adalah Mahasiswa (aktif) Fakultas Syariah wal Qonun, Universitas Al Ahgaff, Yaman; anggota Departemen Informasi dan Komunikasi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhrmaut.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG