Menaker Sebut Pentingnya Menjaga NU untuk Anak Cucu Kita

Menaker Sebut Pentingnya Menjaga NU untuk Anak Cucu Kita
Menaker Hanif Dhakiri, di Rakornas Lakpesdam NU
Menaker Hanif Dhakiri, di Rakornas Lakpesdam NU
Bekasi, NU Online
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI HM Hanif Dhakiri, memberikan arahan kepada ratusan peserta halaqah nasional pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Luar Negeri (Cevest) Kota Bekasi, Jawa Barat,  Senin (24/12). 

Menaker mengingatkan banyak hal agar Nahdlatul Ulama tidak mengalami kemunduran. Menurut dia, kemunduran bahkan hilangnya sesuatu hal bisa terjadi tanpa disadari dan tanpa melakukan kesalahan. 

Nahdlatul Ulama sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu tidak boleh lenyap hanya karena masyarakat Indonesia tidak mengenal NU termasuk kalangan generasi muda. 

"Maka inovasi oleh Nahdlatul Ulama harus tetap dilakukan. Sebab, saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi dan pada kasus itu, 75% Indonesia akan diisi oleh kaum muda," tandasnya. 

Baginya, yang akan bertahan hidup bukanlah orang kuat pintar, bukan pula orang hebat, tetapi orang yang respon terhadap perubahan. 

“Jangan sampai NU di tahun mendatang boleh jadi tidak memiliki kesalahan apapun tetapi hilang karena orang tidak mengenal NU, tidak paham NU, mungkin ada NU rasa HTI, NU masuk angin. Jangan sampai seperti itu,” ujarnya.
  
Ia menjelaskan, menindaklanjuti revolusi industri dan bonus demografi Indonesia, sudah saatnya PBNU memberikan modal untuk generasi muda NU agar NU tidak mengalami kemunduran bahkan hilang dari peradaban Indonesia.  

Ia bercerita, bagaimana situasi situasi yang terjadi di masa yang akan datang jika generasi muda NU tidak memiliki kemampuan untuk menghadapinya. 

“Bahkan, ada ungkapan begini, untuk menghancurkan NU itu gampang, bangun saja banyak apartemen, maka NU akan hilang, karena sudah tidak ada tahlilan dan tidak kumpul dengan amsyarakat. Bahkan, nanti akan ada yang tidak punya rumah tapi punya tempat tinggal, karena tanah sudah tidak ada,” tuturnya. 

Generasi para aktifis NU saja ucap dia, belum tentu aktif di NU seperti dia saat ini, itu bisa terjadi jika NU tidak dikenalkan. Untuk itu dia menginginkan semua warga NU mengenalkan NU kepada keluarganya terlebih dahulu. 

“Generasi kita belum tentu menjadi NU, salah satu cara paling sederhana adalah gambar NU dan ulama-ulama kita dipajang di rumah, buku NU dibanyakin, meski jarang dibaca itu untuk anak anak kita. Ini tantangan pertama dari bonus demografi, kalau ini bagus untuk anak anak kita dalam konteks NU, maka sentuhan kita itu akan menentukan kontruksi NU yang akan datang,” tutupnya. (Red: Muiz)
BNI Mobile