::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kunci Bisa Menulis Adalah Berlatih dan Perkaya Sudut Pandang

Senin, 24 Desember 2018 17:30 Daerah

Bagikan

Kunci Bisa Menulis Adalah Berlatih dan Perkaya Sudut Pandang
Semarang, NU Online
Semua orang bisa menulis, hanya saja perlu melatih diri untuk melihat sesuatu dari cara pandang yang tidak biasa. Hal tersebut kemudian dilanjutkan dengan menulis, baik cerpen dan sebagainya.  

Penjelasan tersebut disampaikan Umu Habibah pada pelatihan membuat cerita pendek atau cerpen, Ahad (23/12) Kegiatan diselenggarakan Devisi Huminfo (Hubungan Masyarakat dan Informasi) Pondok Pesantren Darul Falah Besongo,  Tambakaji, Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. 

Mbak Umu, sapaan akrab Umum Habibah adalah alumni Buletin Al-Qolam. Penulis cerpen Kang Yai ini memaparkan materi tentang teknik dan hal ihwal berkenaan penulisan cerpen. Bukan hanya memberikan pemahaman mengenai cerpen, sebagai penyempurna pelatihan menulis cerpen. Ia membawakan beberapa karya cerpen dari penulis terkenal sebagai media contoh cerpen yang baik dan benar.

Salah satu cerpen yang dikaji dalam pelatihan ini adalah cerpen berjudul Salawat Dedaunan karangan Yomusa Nugroho yang menjadi cerpen Kompas terbaik 2011. Mbak Umu memaparkan begitu terperinci terkait dengan teknik dan gaya penulis menuangkan cerita  dalam bingkai karya cerpen.

“Cerpen itu menarik karena mampu menulis dari sudut pandang yang berbeda,” katanya.

Setelah bedah cerpen, perempuan asal Cilacap ini mengajak para santri untuk mencoba dan mempraktikkan ilmu yang didapat. “Saya mendorong para santri untuk memulai menuangkan ide untuk menulis,” ajaknya.

Tema hujan dipilih membuat cerpen, hasil karya sederhana santri dibacakan di depan santri lain. “Dari sini didapati bahwa santri pesantren memiliki kemampuan menulis, hanya saja masih perlu dikambangkan lagi,” kata Mbak Umu.

Dalam pandangannya, yang baik itu harus bisa mengatur waktu dengan baik kapan harus menulis,  dan harus bisa memposisikan diri di setiap keadaan. “Meskipun suasana hati sedang sedih, karena tidak butuh mood yang baik untuk mengawali sebuah tulisan,” kata Mbak Umu di ujung pelatihan.

Pelatihan menulis cerpen ini berjalan dengan lancar dan meninggalkan kesan pada para santri..“Pelatihan ini memberi saya ilmu yang sangat banyak, utamanya bagaimana menulis cerpen yang baik dan benar dan mendorong motivasi bagi saya dan santri yang lain untuk menulis dan mengespresikan lewat cerpen,” kata salah seorang peserta, Rifka.

Harapan dengan terlaksananya pelatihan menulis cerpen ini dapat menambah himmah santri untuk menulis dan meningkatkan kualitas karyanya. (Kiki/Ibnu Nawawi)