IMG-LOGO
Esai

Wayang, Warisan Budaya Nusantara Era Kapitayan dan Islam

Selasa 25 Desember 2018 2:0 WIB
Bagikan:
Wayang, Warisan Budaya Nusantara Era Kapitayan dan Islam
Oleh Lodji Hadi

Hari Wayang Dunia (HWD) biasa diperingati setiap tanggal tujuh november menyusul ditetapkannya wayang sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco pada 7 November 2003 silam. Di berbagai tempat biasanya digelar berbagai acara peringatan yang sudah barang tentu diisi dengan pagelaran-pagelaran wayang yang mengangkat tema beragam, namun dengan semangat yang sama yakni pentingnya memelihara seni budaya warisan leluhur sebagai wahana perekat sosial dan menjaga-kembangkan nilai-nilai kepribadian dan karakter sebagai entitas kebudayaan dan bangsa. Seperti contohnya di ISI Surakarta yang menggelar peringatan HWD selama empat hari berturut-turut dengan berbagai macam bentuk dan tema pertunjukan wayang.

“Kita ini sugih (kaya). Begitu kayanya ragam Wayang di Nusantara, baik yang klasik maupun kreasi”, kata Ki Jumaali, dalang wayang kreasi WolakWalik yang biasa mengangkat tema-tema kritik sosial dalam pergelarannya. “Dari Sumatra ada wayang Kulit Palembang, ada Wayang Golek Sunda, Wayang Kulit Jawa. Itu masih macam-macam bentuknya seperti Gagrak Mataram Jogja, Solo dan Jegdong Jawa Timur, Wayang Lemah Bali, Wayang Sasak, Wayang Banjar, Wayang Krucil, Wayang Topeng”, lanjutnya.

Ditanya tentang tema-tema sumber wayang, dalang yang juga pelaku seni teater ini memaparkan bahwa tak ada aturan baku dalam kreatifitas, termasuk di dalamnya wayang. “Sumbernya bisa macam-macam. Sumber dalam pakem wayang tradisional memang kebanyakan dari kisah Ramayana-Mahabarata, tapi dalam skala luas wayang bisa menampilkan cerita-cerita yang beragam diambil dari Sejarah Wali, Sejarah Majapahit, Panji, fabel, kitab agama. Itu tampak misalnya dalam cerita pertunjukan Wayang Sadat, Wayang Wali, wayang tani (yg mulai kehilangan jejak) dan lain-lain, termasuk wayang wolak-walik punya saya ini”, paparnya sembari mengelus kumisnya yang tebal. “Wayang ini seni yang kompleks dengan berbagai disiplin seni di dalamnya seperti sastra, musik, rupa dan lainnya. Sungguh luar biasa Dramaturgi Indonesia oplosan tak ada sekat tragedi dan komedi”, tambahnya.

Sementara itu dalang muda asal kota Malang dan sekaligus pengurus Lesbumi PBNU, Ki Ardhi Purbo Antono, mengatakan bahwa wayang memiliki fungsi sebagai media pendidikan maayarakat sekaligus sebgai hiburan dan ajang silaturahim. “Wayang niku sarana silaturahim antar penduduk nusantara, media dakwah bil hikmah yang tepat untuk segala jaman”, katanya. Dia juga menambahkan bahwa wayang juga merupakan sarana doa dan sarana meruwat bumi nusantara yg terbukti kemanjurannya. “Karena cerita-cerita dalam wayang nusantara adalah lelaku, suluk para ulama, wali, pujangga jawa tentang keharmonisan dan kelangsungan hidup antara manusia dengan isi alam semesta. Jadi bagi saya wayang adalah semacam manaqib para wali nusantara melalui jalur seni dan budaya”, pungkaanya.

Dwi Fungsi Wayang Era Kapitayan
Wayang merupakan warisan seni asli Nusantara. Sejak jaman pra Hindu wayang sudah dikenal dalam dua bentuk. Pertama, sebagai media dalam upacara suci memanggil arwah leluhur yang digelar pada hari-hari tertentu, terutama dalam penobatan ratu.

Dalang kumara (dalam keadaan kerasukan ruh) menuturkan kisah ratu-ratu Medang Kamulan (kerajaan awal di alam arwah, Sanghyang Dharma Kamulan i…) yang menjadi leluhur ratu yang dinobatkan. Karena ruh tidak bisa dilihat, maka digambarkan dalam wujud bayangan (hawayang, wewayangan).

Sekalipun Hindu sudah masuk, wayang tidak lantas hilang dan tetap pada fungsinya sebagai sarana upacara yg bersifat sakral. Seseorang yang sakit tidak lekas sembuh akan menggelar wayang untuk minta bantuan arwah leluhur. Karena itu sang Dalang, selain memainkan wayang dalam keadaan trance, juga menjadi penghubung manusia dengan dunia arwah.

Kedua, wayang sebagai tontonan berisi lakon-lakon humor. Tidak ada cerita pakem tertentu karena sifatnya yang hanya menghibur lewat beberapa figur tokoh Mabanyol dan Mamirus seperti Bancak, Doyok, Sangut, Santa, Prasanta. (Sampai sekarang di Jawa sebutan bagi orang yang sedang bertingkah lucu/melawak biasa disebut Mbanyol)

Di era Kediri dan Majapahit berkembang Karebet, pertunjukan wayang dari kertas yg dibeber dengan cerita panji yang memasukkan tokoh-tokoh Mabanyol dan Mamirus sebagai pelawak. Ini wayang untuk ditonton secara umum. Tapi wayang yang digelar di Kamulan tetap diteruskan sebagai sarana ritual keagamaan bersifat tertutup.

Baca juga 》  Semangat Pancasila Dalam Haul Ke-6 Mbah Liem
Wayang di Era Walisongo

Selanjutnya di era Wali Songo terjadi deformasi bentuk wayang. Figur tokoh yang digambar mirip manusia diubah menjadi gambar dekoratif yg tidak menyerupai manusia seperti bentuk hidung, mata, mulut, kepala, tangan, hiasan, dll. Deformasi bentuk ini dilakukan untuk menyiasati larangan lslam menggambar makhluk hidup.

Pakem cerita Ramayana dan Mabharata yang “diIslamkan” dijadikan kisah baku wayang pada era ini. Gamelan pun ditambah lebih lengkap. Meski sudah lslam, pertunjukan wayang tidak lepas dari anasir-anasir kuno seperti sesaji, kekutuk membakar dupa, membaca doa khusus untuk arwah sekitar yang hadir. Jadi wayang memang sudah dikenal di Nusantara sejak jaman Kapitayan kuno. Tapi wayang dalam bentuk Wayang Purwa sebagaimana kita kenal adalah sepenuhnya hasil kreasi Wali Songo. (Lodz)
Tags:
Bagikan:
Selasa 25 Desember 2018 16:15 WIB
Beratnya Menjadi Santri Milenial
Beratnya Menjadi Santri Milenial
Oleh Fuad al-Athor

Sejauh ini, jika disebutkan kata milenial, persepsi kita langsung dibawa pada gugusan ciri satu generasi yang sepintas kilas begitu menyenangkan, ringan dan instan. Sekumpulan tingkah laku anak muda kekinian yang kurang lebih dideterminasi oleh perluasan fungsi teknologi informasi. Sehingga hubungan sosial apa pun yang memungkinkan akan diproses secara online; mulai dari komunikasi biasa, belanja, politik dan bahkan dakwah. Dengan ditingkahi sapaan gaes, bro dan sist, generasi ini juga lekat pada sebuah hubungan produksi yang tengah jadi andalan, yaitu Industri kreatif. Apa pun itu, mulai dari Industri merchandise sampai pada usaha warung kopi, yang tentunya tidak asal warkop. Asik kan, gaes?

Sesuai data perkembangan demografi, Indonesia akan segera memanen bonusnya dan tentunya generasi milenial inilah subjek yang dimaksud. Secara keseluruhan, generasi ini disinyalir menempati lebih dari sepertiga jumlah penduduk Indonesia, proporsinya sekitar 34, 45 persen! Bayangkan jumlah kita gaes! Sangat menentukan ya, tapi secara jumlah lho.

Menurut para pencetus istilah ini, generasi yang dipatok pada mereka yang lahir sejak tahun 80 hingga tahun 2000-an ini, (ingat, ini ukuran Amrik, gaes, mungkin di kita harus mundur sekian tahun) adalah mereka yang juga bersikap cuek pada fenomena politik, apalagi terhadap fenomena yang menyertakan perbincangan serius dan ndakik-ndakik, semacam perdebatan ideologi dan agama, umpamanya. Bayangkan, sesantai-santainya forum diskusi yang membahas politik dan isu keagamaan, sejauh ini, yang dikemas di cafe-cafe, tetap aja njlimet, dedet. Apalagi itu lho, pembicaranya, kadang bicara tanpa ekspresi, datar saja dari depan sampai belakang. Nggak ada sentuhan emosionalnya sama sekali. Mending kalau sekalian orasi, paling tidak ada sesuatu yang terasa menggugah-lah biar tidak lempeng-lempeng saja. Maka, dalam situasi seperti ini gawai menjadi lebih menyenangkan, seserius apapun paparan, kita akan lebih asyik WA-an, messenggeran, retweet, nge-like dan share konten-konten medsos.

Di balik kecuekan dan asiknya kita ini, gaes, ternyata banyak dari bapak dan ibu yang hebat-hebat itu, yang pintar-pintar mengolah ide dan gagasan, merangkai simpulan dari serangkaian pengamatan dan bahkan riset betulan(!), yang memerhatikan kita dengan dahi berkerut. Memikir-mikirkan kita akan menjadi apa, milenial akan diapakan? Mereka menyerukan agar kita tidak salah pilih secara politik, menyarankan agar tidak berlabuh pada paham keagamaan yang radikal, menganjurkan untuk lebih bersimpati pada kenyataan, bukan semata menyembunyikan diri dalam identitas kemayaan akun-akun medsos. Kita harus berterima kasih lho, sudah dipikirkan oleh mereka.

Kalau dipikir-pikir memang benar, gaes. Kekhawatiran mereka tidaklah semata merumit-rumitkan masalah. Situasi memang penuh pergumulan, isme-isme itu saling merebut pengaruh dan percobaan untuk menghegemoni melalui kekuatan-kekuatan politik yang tengah berkontestasi. Mungkin sedikit membutuhkan konsentrasi bagi kita untuk memahami gejala konservatifisme agama. Fenomena ini sepertinya menumpang pada pertumbuhan kelas menengah urban yang independen dan cenderung terputus hubungannya dengan sumber-sumber pengetahuan keislaman yang selama ini dikelola secara tradisional di pelosok-pelosok desa sana. Mereka ini hidup dengan ritme yang sangat ditentukan oleh sistem masyarakat kapitalistik yang teratur, modern dan rasional. Hingga agak canggung kalau sudah bicara tentang berkah kiai, belajar dengan metode yang lebih banyak riyadlah-nya, atau menjadi bingung menyaksikan penghormatan pada guru yang berpegang pada adab-adab yang disusun dengan nilai-nilai yang berlaku sejak ratusan tahun silam.

Namun, tiba-tiba, dengan cara berpikirnya yang simplistis, mereka memotong sekian untaian tradisi dan mencoba dengan sembrono mengembalikan pemahaman mereka langsung pada sumber teks Islam, Al-Qur'an dan Hadits. Kemudian apa yang terjadi? Islamnya tidak proporsional, aneh dan cenderung tidak nyambung antara nalar dan kenyataan keseharian. Tongkrongannya mantap di gerai-gerai warung kopi TNC/MNC, berkendaraan mobil mewah dan berjejaring dengan teknik yang sangat modern tapi begitu tekstual dalam memahami ayat-ayat suci dan hadits. Bahkan diantara mereka ada yang begitu instrumentalis-politis dalam memahami agama. Agama hanya alat untuk menggapai sesuatu. Agama hanya nilai-nilai sosial yang bisa dijadikan alat penggalangan sentimen politik. Aneh kan?

Orang-orang pintar tadi kemudian meringkus gejala ini dalam sebuah kata: konservatifisme. Padahal kita tahu kan gaes, kalau secara konvensional para pengamat dan cerdik-cendikia bule yang sudah lama meneliti NU, menabalkan NU sebagai salah satu golongan Islam konservatif. Nah sekarang, yang lebih konservatif dan wagu ternyata ada. Kenapa wagu, karena sandaran mereka goyah jika sudah dihadapkan pada mereka yang radikalis, mereka cenderung lebih akomodatif. Nah, agak menakutkan, kan gaes? Enggak jelas mereka ini kalau sudah bicara komitmen toleransi dan perdamaian. Jauh lebih tidak jelas dari yang dituduhkan pada kita, generasi milenial.. hehe..

Gaes, itulah constrain sisi kanan kita. Kita bahkan sangat progresif jika dibandingkan dengan sisi kanan tersebut. Tapi kita menjalankan Islam yang moderat. Moderatisme inilah yang selama ini menjiwai NU dalam pemahaman dan implementasi Islam. Sebuah manhaj yang lentur dan bijak dalam merespon perkembangan zaman. Warga NU selalu bersikap tawassuth (moderat) dan i’tidal (lurus, konsisten). Sikap tawassuth (moderat) jamaah NU ini berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama. Dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun. Tidak terlalu mudah terpancing pada kebaruan yang belum diselidiki kebaikan dan kebenarannya juga tidak terlalu bersikukuh untuk berpedoman pada pahaman-pahaman yang dirasa telah ketinggalan zaman serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstremis).

Warga NU selalu bersikap toleran (tasamuh). Sikap toleran ini, terutama ditujukan terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ (cabang ) atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Tasamuh juga diartikan sebagai sikap menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini.

Kemudian, kita harus selalu bersikap seimbang (tawazun) dalam berkhidmah/mengabdi. Yakni, menyertakan khidmah kepada Allah SWT, khidmah kepada sesama manusia serta khidmah kepada lingkungan hidupnya. Artinya, kita harus menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). Sikap seimbang juga berarti menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Tawazun juga berarti seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur'an dan hadits).

Ah, masak? Ya iyalah. Buktinya, ketika ada kelompok politik yang mencoba memainkan isu yang ada irisannya dengan doktrin keislaman, ya.. tetap kita lawan(!) Jika itu mencoba menawarkan semacam ide yang menyunat tampilan utuh dari doktrin tersebut, contohnya tentang Isu penolakan Poligami yang belakangan lagi hits.

Doktrin, tetap tetaplah hal yang objektif, gaes. Tidak boleh dicuplik sedikit lalu dipoles dengan semau-maunya kita. Hanya saja soal pelaksanaan, agama kan selalu bertumpu pada kebijaksanaan. Contohnya, soal membalas perbuatan jahat, kan boleh, hanya saja Allah lebih suka pada yang memaafkan. Sama dengan Poligami, boleh, hanya saja bijaksananya adalah untuk lebih mengutamakan kemaslahatan kehidupan rumah tangga, kemampuan berkeadilan dan masa depan anak-anak kita. (FYI, Tulisan ini diketik bukan di bawah pengawasan ibu negara lho, murni sedang sadar..hehe)

Anggap saja moderatisme Islam ini sedang berjalan di antara godaan dan ujian konservatifisme di satu sisi dan sekularisme di sisi lainnya, maka menjadi santri milenial tidak mudah-mudah amat, kan? Artinya, kita tetap dituntut selalu update, agak cuek dikit, berwawasan luas, setia pada nilai-nilai tradisi, produktif, kreatif juga istiqomah nongkrong di cafe.

#Huoaaa #BerbahagialahKauSantriMilenial.


Penulis adalah santri Pondok Pesantren Kasepuhan Atas Angin Ciamis

Senin 24 Desember 2018 22:30 WIB
Mencari Ibu Teladan
Mencari  Ibu Teladan
Ilustarsi (hipwee)
Oleh Agung Kuswantoro

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan." (QS. Albaqarah: 233).

Ibu adalah sosok manusia yang memiliki jenis kelamin wanita. Islam memandang seorang wanita begitu spesial. Bahkan, wanita menjadi sebuah nama dalam surat di dalam Al-Qur’an, yaitu Annisa. Wanita memiliki tiga tingkatan, yaitu wanita atau perempuan, istri, dan ibu. Ketiganya ada perbedaannya.

Pertama, wanita. Al-Qur’an meletakkan banyak hak bagi kaum wanita. Para ahli mengatakan simbol kasih sayang. Sehingga, wanita itu dalam bayangannya adalah sosok ibu. Ketika ibu ada di sisi kita, terasa biasa-biasa saja. Namun, ketika tiada, baru kita merasa kehilangan ibu. Kita baru menyadari betapa besar peranan ibu.

Kedua, istri. Islam mengajarkan kepada penganutnya agar wanita itu menikah. Tujuannya, agar meningkatkan statusnya menjadi Istri. Istri kedudukannya lebih tinggi dibanding wanita.

Seorang istri sudah memikirkan orang lain. Siapa itu? Suami. Istri tidak memikirkan dirinya sendiri. Setiap pagi, ia masak untuk suami dan dirinya. Makan untuk berdua.

Ego atau keakuan tentang dirinya berkurang. Ia merelakan 'egonya' kepada orang lain yaitu suami. Misalnya, ia suka makan dengan lauk yang pedas. Namun, suaminya tidak suka pedas. Maka, ia tidak membuat lauk dengan rasa pedas. Ia mengikhlaskan kesukaannya demi suaminya. Oleh karenanya, wanita yang menikah hukumnya lebih mulia dibanding dengan wanita yang belum menikah.

Ketiga, ibu. Ibu adalah seorang yang sudah menikah. Posisinya sebagai istri dan wanita, sekaligus ibu bagi anak-anak. Menurut Fatihuddin (2011), ibu memiliki beberapa pengorbanan, yaitu (1) hamil, (2) melahirkan, (3) merawat bayi, (4) mengasuh dan mendidik, (5) menikahkan, dan (6) ketika sudah tua renta.

Menurut  Imam Ahmad dan Syafi’i bahwa waktu terlama wanita dalam posisi hamil adalah empat tahun. Umumya adalah enam bulan. Dan, tercepat masa kehamilan adalah tujuh bulan. Pendapat ini menunjukkan bahwa betapa beratnya wanita dalam keadaan hamil.

Kemudian, setelah hamil, ada pengorbanan melahirkan. Ada sebuah hadits dari Abu Daud, bahwa 'mati syahid' ada tujuh, selain yang terbunuh di jalan Allah. Mereka yaitu (1) orang yang mati karena thaun, (2) orang yang tenggelam, (3) luka parah dalam perutnya, (4) sakit perut, (5) orang yang terbakar, (6) orang yang tertimpa benda keras, (7) wanita yang meninggal, namun di dalam perutnya ada janin.

Hadits di atas menunjukkan bahwa wanita yang dalam proses persalinan membutuhkan fisik dan psikologis yang kuat. Sehingga, proses setelah persalinan, di mana ada haid, nifas, dan wiladah. Secara fiqih dan kedokteran, proses tersebut merupakan anugerah 'nikmat' seorang wanita. Belum tentu semua wanita merasakan proses itu. Oleh karenanya, dalam fiqih bagi mereka yang mengalami proses itu, tidak terbebani melakukan syariat, seperti shalat dan puasa.

Kemudian, Al-Qur’an mengatakan menyapihnya hingga usia dua tahun (QS. Albaqoroh: 233). Perlu, kita luruskan bahwa anjuran agama seperti itu. Kita, sebagai suami atau calon suami, perlu kita luruskan akan hal ini. Apa pun kondisinya, baik wanita tersebut wanita karir atau wanita yang sibuk. Itu pula bukti cara mengimani kepada kitab (Al-Qur’an).

Dari ketiga kedudukan atau status (wanita, istri, dan ibu), ternyata ada yang paling mulia atau baik di antaranya yaitu ibu teladan. Siapakah ibu teladan itu? Menurut Maya (2009) bahwa ibu teladan adalah ibu yang memiliki kekuatan doa. Lisan atau ucapan ibu, ibarat 'idu geni'. Artinya, landep, tajam setiap perkataannya.

Ada sebuah kisah nyata diceritakan dalam buku Kekuatan Doa Ibu, ada seorang anak yang menangis karena ketakutan dan merasa tidak nyaman dengan keadaannya. Di tubuh anak tersebut ada kotoran ayam yang menempelnya. Kemudian, anak itu minta tolong dan menangis. Ibunya yang membersihkannya dan berkata, "Jangan takut dengan kotoran ini. Kelak, engkau menjadi menjadi jenderal."

Empat puluh tahun berlalu dari peristiwa itu, ternyata anak yang dulu takut dengan kotoran hewan menjadi jenderal. Doa ibu waktu anak tersebut kecil, terkabulkan. Anak tersebut bernama Jenderal Subagyo HS, mantan kepala staf TNI Angkata Darat tahun 1998-1999. Ia sekarang adalah anggota Dewan Pertimbangan Presiden. 

Itulah contoh kekuatan doa ibu. Begitu dahsyat. Oleh karenanya, wahai para ibu jagalah lisannya. Jangan sampai nyepatani (mengutuk) anak. Tidak tepat jika kita, sebagai ibu, berkata buruk. Perlu kita luruskan agar berkata baik. Cerita rakyat yang mendoakan anak menjadi benda, harus kita hindari. Sejatinya Muslimah itu berkata dengan baik.

Selain, menjaga lisan, kita dianjurkan untuk jujur dan menjaga pergaulan. Terlebih di saat sekarang tantangannya sangat banyak.

Dari penjelasan di atas, ada beberapa simpulan, yaitu Islam memandang wanita ada diposisi terhormat. Semenjak Islam turun di Arab. Bahkan, Al-Qur’an secara khusus memberikan surat tentang wanita, kita mengenalnya surat Annisa. Ada tiga kedudukan atau status seorang wanita, yaitu wanita, istri, dan ibu. Posisi termulia ternyata bukanlah ibu, tetapi ibu teladan. Terakhir, ibu teladan adalah ibu yang kekuatan doanya sangat hebat. Ia selalu menjaga lisan, jujur, dan menjaga pergaulan.

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Salafiah Kauman Pemalang, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Ahad 23 Desember 2018 23:52 WIB
Sastra Minor di Pesantren
Sastra Minor di Pesantren
Oleh Khudori Husnan

Menulis seperti seekor anjing menggali lubang, seekor tikus menggali liang
Gillez Deleuze dan Felix Guattari

Saya mencium aroma tak biasa di cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal di buku kumpulan cerpen Kucing Makan Koran (Diandra Kreatif, Jombang, 2018) dan Hilmi Abedillah di buku Trik Ahli Neraka (Penerbit Mitra Karya, Tuban, 2018). Cerpen-cerpen mereka berbeda dari cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti, Yanusa Nugroho, Danarto, Gus tf Sakai, Mustofa Bisri, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Damhuri Muhammad, Ben Sohib, Berto Tukan, dan sejenisnya. 

Cerpen-cerpen para cerpenis yang namanya saya sebut di atas, kita sebut saja mereka para cerpenis mayor atau utama, biasanya enak dibaca karena cerpen-cerpen mereka mampu membuai pembaca, baik lewat cara bertuturnya yang tertib, maupun dari muatan pesan yang disampaikan. Cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah terkesan kebalikan dari cerpen-cerpen karya para cerpenis mayor.  

Melalui cerpen-cerpennya, Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah seperti ingin membicarakan banyak hal tapi tertekan dan bingung menentukan cara bagaimana menyampaikannya. Alih-alih larut dalam kegalauan panjang, Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah, memilih tetap menuntaskan cerpen-cerpennya. 

Dadang Ari Murtono meringkas cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal sebagai “Semesta yang mengambang, semesta yang masih bertikai dengan dirinya sendiri, saling membunuh dan berebut dominasi, agar ia bisa memijak kukuh di permukaan tanahnya sendiri-dan bukannya tanah yang kita kenal.” Bagi Dadang Ari Murtono cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal mengambang karena tak “utuh” dan tak “menjadi.” 

Keutuhan dan kemenjadian, yang disebut Dadang Ari Murtono sebagai kemutlakan, biasanya memicu makna. Dalam pembacaan saya, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah tipikal cerpen yang tak mengutamakan makna tapi berupaya menyeret pembacanya untuk memalingkan wajah pada dinamika literer di pesantren.

Bagaimana Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah lebih memilih jalan ‘mengambang’ dari pada menulis cerpen sesuai selera kebanyakan pembaca cerpen? Persoalan ini menarik untuk didalami. 

Cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah diikat oleh benang merah, sama-sama menjadikan khazanah pesantren NU, sebagai titik pemberangkatan. Cerpen Hilmi Abedillah Denuri Ketemu Dinawari yang berkisah tentang ambisi Daenuri berziarah ke makam Syekh Dinawari di Bagdad, pekat dengan istilah-istilah khas pesantren termasuk kitab Jurumiyah, Rihlah Ibni Bathuthah dan seterusnya. Istilah-istilah khas pesantren juga banyak dijumpai di cerpen lain termasuk cerpen Sya’ban yang penokohannya memakai nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah, serta cerpen Barokah. 

Sama seperti cerpen-cerpen Hilmi Abedilah, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal juga banyak memakai istilah-istilah pesantren misalnya pada cerpen Ziarah dan Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim yang berkisah tentang kecurigaan santri senior terhadap santri mualaf yang diduga penganut aliran sesat. Tak seperti Hilmi,  Zainuddin Sugendal mulai memasuki tema-tema berbalut teka-teki seperti terdapat di cerpen Angsana dan Sebelas Macan Tuan Hasan yang memasukan unsur-unsur mitologi dan jampi-jampi. 

Sudah barang tentu Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal bukan yang pertama menjadikan tema-tema pesantren sebagai sudut pandang. Gus Mus, salah satunya, pernah menulis cerpen tentang Gus Jakfar. Lebih jauh lagi ada nama Djamil Suherman sastrawan angkatan 60-an dan 70-an yang banyak mengangkat  kehidupan pesantren. Bedanya, tema-tema pesantren lebih dijadikan inspirasi dan bukan sebagai intensitas apalagi sebagai kesadaran untuk merontokkan dominasi kebahasaan yang datang dari luar bahasa pesantren. 

Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal menggumuli tema-tema pesantren secara intensif dan antusias. Proses ini menjadikan cerpen-cerpen Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal berpotensi termasuk ke dalam sastra minor. Menurut Eko Endarmoko minor bersinonim dengan “(a) cemeh, remeh, kecil, ringan, sepele, sipil, (cak) (b) bawahan, inferior, marginal, sekunder, subordinat.” 

Mengacu pada pendapat  Eko Endarmoko, minor dapat kita artikan sebagai  miring. Sastra minor berarti sastra yang, cara penyampaian maupun muatannya, mengekspresikan ke-miring-an. Barangkali di sini ada peran penyair NU Miring, Binhad Nurrohmat. 

Sastra minor digemakan oleh dua tokoh penting dari Prancis Gillez Deleuze, seorang filosof, dan Felix Guattari, aktivis politik dan praktisi psikoanalisa, lewat bukunya Kafka Toward a Minor Literature (1986). Berbeda dari tafsiran misalnya Walter Benjamin atas Kafka yang lebih menitikberatkan pada unsur-unsur ke-Yahudi-an Kafka, Gillez Deleuze menyingkap dimensi revolusioner di balik karya-karya Kafka sembari mengenalkan istilah sastra minor. 

Deleuze dan Guattari menyebut adanya tiga ciri pokok sastra minor; pertama dalam bahasanya, sastra minor terpengaruh oleh koefisiensi tingkat tinggi dari apa yang disebut  sebagai “deteritorialisasi; kedua, segala hal yang tercantum dalam sastra minor bersifat politis; ketiga, semua yang tercantum memuat suatu nilai kolektif.

Tiga butir pemikiran Deleuze dan Guattari tentang karakteristik sastra minor menyiratkan sastra minor adalah tulisan yang terkonstruk sebagai minoritas dalam kerangka bahasa-bahasa arus utama yang telah digunakan oleh  cerpenis-cerpenis terkemuka; diawal tulisan saya menyebutkan sebagai cerpenis mayor. 

Artinya, sastra minor tak lahir dari ruang steril di khazanah sastra mayor. Sebaliknya, ia muncul  karena sastra mayor menganggap sastra minor sebagai ganjil, tak biasa, dan bersifat teritorial dalam artian hanya dirayakan di lingkup teritori tertentu, dalam hal ini pesantren. 

Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah mencoba melawan dominasi cerpenis mayor melalui cara dan gaya cerita pendeknya sendiri. Pada saat bersamaan dia juga kemungkinan besar membaca dan menyerap karya-karya cerpenis mayor. Hubungan antara Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah dengan para cerpenis mayor serupa hubungan antara seekor kucing lapar yang tak menemukan sepotong ikan pun untuk dimakan, kecuali sehelai Koran seperti digambarkan Zainuddin Sugendal di cerpennya Kucing Makan Koran; 

“kucing hitam yang lapar itu melompat ke dalam tong sampah dan mengamuk di sana. Dia bertengkar dengan koran-koran yang bergerak karena ulahnya sendiri. Dia memakan Koran-koran itu kemudian memuntahkannya lagi.” 

“Muntahan” cerpenis-cerpenis minor ini merupakan  penerimaan kembali proses deteritorialisasi lewat cara defamiliarisasi dan perlawanan terhadap  konvensi melalui karya-karyanya. Tema-tema yang lekat dengan dunia pesantren, yang semula terkucil dan tak diperhitungkan, mulai mengalami pengolahan dan penempaan ulang lalu  ditampilkan lewat karya. Tahlil, ziarah, barokah, kitab kuning, jimat, dan seterusnya mulai bermunculan.

Sastra minor juga bersifat politis dalam artian berhubungan dengan tindakan-tindakan selanjutnya termasuk seruan bagi sebuah penyatuan, solidaritas, dan otonomi  yang kelak menjadi titik-tolak bagi pilihan yang dibuat, cita rasa yang dimiliki dan kehidupan yang dijalani; jika pesantren diibaratkan seekor kucing, maka tampaknya tidak mungkin pesantren melumat dirinya sendiri, bahkan ketika pesantren hadir sebagai duplikatnya. 

“’hati kucing itu diselimuti kegundahan. Foto-foto makanan ia santap dengan lahap. Foto-foto manusia juga ia santap. Foto artis ia juga tidak keberatan. Tapi kali ini foto kucing, bahkan itu adalah dirinya sendiri. 

‘Kau tidak memakanku?’ Tanya Koran. 

‘Mungkin hari ini aku memilih berpuasa.’ Kucing itu lalu pergi.’” 

(Hilmi Abedillah, cerpen Kucing Masuk Koran).

Persoalan-persoalan yang dikemukakan di atas, serupa dengan apa yang pernah ditulis Keith Foulcher (1995) saat ia menyatakan momen poskolonial ditandai oleh terbitnya kesadaran akan ketidakotentikan kultural dalam diri subjek kolonial, seperti tercermin dari karya-karya sastra Indonesia awal termasuk Abdul Muis Salah Asuhan, Armijn Pane Belenggu, Achdiat K. Mihardja, Ateis, disusul kemudian Mochtar Lubis Jalan Tak Ada Ujung, dan Pramoedya Ananta Toer Keluarga Gerilya. 

Melalui novel, para pengarang mencari dan menegaskan akar-akar tradisi dan pemikirannya sendiri lewat sebuah pendekatan historis, termasuk kelak menghasilkan salah satu produknya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, yang notabene bahasa resmi yang dijadikan pengarang-pengarang mayor berkarya cipta sembari meminggirkan idiom-idiom minor.  

Sastra minor bersifat revolusioner karena sedapat mungkin berjarak dari bahasa-bahasa mayor. Ketika tulisan-tulisan minor mencapai kedudukan sebagai mayor, ia akan kehilangan identitas radikalnya, menjadi dominan dan pada akhirnya menjiplak watak sang penindas. 

Penulis-penulis minor juga dapat terjebak pada apa yang disebut Gillez Deleuze dan Felix Guattari sebagai regionalisme, semacam sastra minor abal-abal, yang tulisan-tulisannya lebih menampilkan nada-nada nostalgis, esensialis, serta  pemujaan berlebihan pada teritori sembari berupaya mengomunikasikan makna-makna kontemporer. Regionalisme adalah bahaya yang mengintai  tulisan-tulisan “minor.” Pasalnya, regionalisme memendam hasrat untuk menjadi ekspresi mayor, demikian menurut Deleuze dan Guattari.

Dari pada menyebut cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal sebagai cerita-cerita yang mengambang barangkali baik menyebutnya sebagai ikhtiar memeragakan “seni tanpa kepastian” (art of indeterminacy). Pada seni jenis ini, makna-makna yang dimungkinkan lahir dari sebuah cerita, selalu dalam pergerakan tak pasti di setiap tahap proses-proses penceritaan. “Seni tanpa kepastian memerlihatkan proses perajangan pada keseluruhan bahan dasar narasinya demi menghindari dampak yang timbul dari proses penyimpulan. Pembacaan sekilas pada “seni tanpa kepastian, akan dianggap jenis ini sebagai mengambang, untuk tak menyebutnya, tak memiliki maksud dan tujuan yang jelas.

Akhirnya, apakah Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah seorang cerpenis “minoristis”? Atau sebaliknya “regionalistis”? Mari kita sama-sama uji cerpen-cerpennya, sambil merenungi pesan Gillez Deleuze dan Felix Guattari untuk urusan tulis menulis; “menulis seperti seekor anjing menggali lubang, seekor tikus menggali liang.” Menulis seperti mengorek-ngorek realitas keseharian yang dekat dengan kita. Keseharian perlu terus dikorek karena ia, meminjam judul lagu dangdut H. Rhoma Irama, penuh tabir kepalsuan.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG