IMG-LOGO
Nasional

Sikap Pesantren Tebuireng pada Pilpres 2019, Pilih 01 atau 02?

Selasa 25 Desember 2018 5:0 WIB
Bagikan:
Sikap Pesantren Tebuireng pada Pilpres 2019, Pilih 01 atau 02?
Jombang, NU Online
KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) menegaskan bahwa Pesantren Tebuireng tidak condong atau memihak pada calon manapun pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Ia menegaskan, Tebuireng berusaha berada di tengah-tengah agar tidak condong ke kanan maupun ke kiri, calon nomor satu atau nomor dua. Hal ini agar tak menimbulkan kekacauan di masyarakat.

"Ya, di sini kami tegaskan kembali bahwa Tebuireng itu tidak memihak kepada siapa pun, baik calon nomor satu maupun nomor dua. Tebuireng berusaha berada di tengah-tengah. Dan memang harus ke arah sana. Maka mari memilih sesuai pilihan hati masing-masing," katanya, Senin (24/12).

Menurutnya, sikap ini diambil karena Tebuireng harus memberikan contoh yang baik pada masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan Islam harus bisa membuat perbedaan pendapat yang tidak melahirkan permusuhan atau perselisihan. Dan Tebuireng harus diupayakan ke arah sana (tanpa memihak).

"Jika terjadi semacam itu (kekacauan Pilpres), maka terbilang sia-sia dengan tolok ukur pendidikan pesantren yang sudah ditempuh selama ini. Terlebih kita memiliki ukhuwah wathaniyah, basyariah, islamiyah, nahdliyah dan sekarang ada ukhuwah tebuirengiyah. Supaya tidak terjadi keributan. Maka Tebuireng ditengah saja," tambah adik kandung Gus Dur ini.

Gus Solah juga berharap kepada dzurriyah (keluarga/kerabat), alumni, dan seluruh pihak yang terkait dengan Tebuireng tidak saling menjatuhkan, menjelekkan, dan mengompori. Hal semacam itu yang memicu terjadinya perpecahan hubungan. Baik untuk Tebuireng sendiri, maupun luar Tebuireng. 

"Tidak masalah kelompok ini lebih condong ke kiri, sedang kelompok lain lebih condong ke kanan. Semua punya pilihan sesuai hati nurani yang penting tidak saling menjatuhkan," beber ayah tiga anak ini.

Gus Solah juga menyoroti fenomena umum yang terjadi di masyarakat. Dimana kelompok para pendukung kedua paslon kebanyakan mereka tidak bicara substansial, artinya berbicara bukan hal yang penting dan bermutu, bahkan disebarkan. Malah yang dibahas kejelekan paslon lain bukan programnya paslon.

"Mereka saling mempoyoki, bahkan mengejek satu sama lain. Inilah yang kemudian menyebabkan perpecahan, persinggungan itu terjadi. Itu kan bukan hal substansial dan tak perlu sebenarnya," tutur Gus Solah.

Sementara itu Wakil Pengasuh Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz memberikan keterangan secara khusus bahwa hal yang semacam itu kebetulan terjadi di Pesantren Tebuireng. Ada kelompok yang mendukung calon nomor urut satu dan kelompok calon nomor urut dua.

"Di Tebuireng ada yang suka nomor satu, ada juga nomor dua. Namun perlu adanya kebaikan dan kesetiaan sebagai perlawanan terhadap kejahatan atau pengkhianatan, agar tercipta satu kesatuan yang kemudian disebut ummah, bukan perpecahan," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 25 Desember 2018 22:28 WIB
Saat Berkumpul Jangan Digunakan untuk Mencaci, Tapi Berdoa
Saat Berkumpul Jangan Digunakan untuk Mencaci, Tapi Berdoa
Jakarta, NU Online 
Ketua PBNU KH Abdul Manan Abdul Ghani mengatakan bahwa doa adalah senjata orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, bagi warga NU, saat berkumpul harus digunakan zikir dan berdoa karena akan menyebarkan kesejukan.

Ad dua’i shilahul mu’minin, doa adalah senjata orang mukmin,” katanya pada Istighotsah di Halaman Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jl. Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Selasa (25/12) malam. 

Kiai Manan kemudian mengajak kepada warga NU agar jangan sampai saat berkumpul digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna, apalagi memudaratkan orang lain.  

“Jangan meniru orang lain, saat berkumpul untuk mencaci maki, mengadu domba. Tapi gunakan untuk tahlil, itighotsah, zikir, taklim,” katanya pada kegiatan yang bertajuk Untuk Indonesia Aman dan Damai.

Kiai Manan juga menjelaskan agar ber-NU itu harus kaffah. Artinya harus mengikuti cara berpikir, amaliah, dan pergerakan NU. 

Sebelumnya, Ketua LD PBNU, KH Agus Salim mengatakan tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk mengenal Allah. Untuk istighotsah digelar agar masyarakat Indonesia mengingat Allah. 

"Apa tujuan utama hidup di dunia ini? Dan apa tujuan syariat? Jawabanya adalah untuk kenal Allah. Menurut Ibnu Abbas, makna liya'buduun dimaknai tahu, maka untuk itu pada malam ini LDNU menyelenggarakan istighosah untuk kenal Allah," katanya saat menyampaikan sambutan. 

Ia menjelaskan, harus dimaklumi jika warga Indonesia sedang diuji sebab, Allah ingin hamba-Nya untuk mengenal Allah. Intinya, ujar dia, yakni untuk meningkatkan kembali ingatan hambanya kepada Allah. 

PBNU, lanjutnya, turut berbela sungkawa atas musibah yang sedang dialami warga Banten dan Lampung. Ia menyarankan kepada ratusan jamaah untuk meluruskan niatnya yakni mendoakan para korban tsunami. 

Ketika berita ini ditulis, kegiatan tersebut masih berlangsung. (Abdullah Alawi)

Selasa 25 Desember 2018 21:30 WIB
Warga NU Doakan Korban Tsunami Selat Sunda di PBNU
Warga NU Doakan Korban Tsunami Selat Sunda di PBNU
Jakarta, NU Online
Ratusan Jamaah mengikuti kegiatan Istighotsah di Halaman Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jl. Kramat Raya no 164 Jakarta Pusat, Selasa (25/12) malam. Kegiatan yang bertajuk "Untuk Indonesia Aman dan Damai" tersebut diselenggarakan dalam rangka doa bersama untuk korban tsunami Selat Sunda. 

Sebelum istighotsah, para peserta melakukan shalawat dan tawasul dipimpin KH Misbahul Munir Kholil. Hadir pada kegiatan itu Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LD NU), KH Agus Salim, sejumlah pengurus lembaga PBNU KH Masruhin dan KH Kosim dan penceramah NU yang sedang naik daun KH Ahmad Muwafiq atau yang biasa disapa Gus Muwafiq. 

Ketua LD PBNU, KH Agus Salim mengatakan tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk mengenal Allah. Untuk istighotsah digelar agar masyarakat Indonesia mengingat Allah. 

"Apa tujuan utama hidup di dunia ini? Dan apa tujuan syariat? Jawabanya adalah untuk kenal Allah. Menurut Ibnu Abbas, makna liya'buduun dimaknai tahu, maka untuk itu pada malam ini LDNU menyelenggarakan istighosah untuk kenal Allah," katanya saat menyampaikan sambutan. 

Ia menjelaskan, harus dimaklumi jika warga Indonesia sedang diuji sebab, Allah ingin hamba-Nya untuk mengenal Allah. Intinya, ujar dia, yakni untuk meningkatkan kembali ingatan hambanya kepada Allah. 

PBNU, lanjutnya, turut berbela sungkawa atas musibah yang sedang dialami warga Banten dan Lampung. Ia menyarankan kepada ratusan jamaah untuk meluruskan niatnya yakni mendoakan para korban tsunami. 

Ketika berita ini ditulis, kegiatan tersebut masih berlangsung. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)

Selasa 25 Desember 2018 19:30 WIB
NU PEDULI BANTEN-LAMPUNG
LPBI NU Jateng Kirim Relawan untuk Bantu Korban Tsunami Selat Sunda
LPBI NU Jateng Kirim Relawan untuk Bantu Korban Tsunami Selat Sunda
Semarang, NU Online 
Pengurus Wilayah Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah mengirimkan relawan untuk turut serta dalam penanganan bencana tsunami Selat Sunda. Untuk tahap awal telah diberangkat 8 relawan.

Ketua PW LPBI NU Jateng Winarti mengatakan, sedianya relawan yang siap berangkat mencapai 30 orang lebih. "Namun dengan berbagai pertimbangan, kita jadwalkan pengiriman secara bertahap," ujarnya, Selasa (25/12).

Winarti menyebutkan, para relawan yang dikirim memiliki berbagai keahlian. Mulai dari evakuasi, pemilihan logistik, maupun distribusi logistik. "Beberapa juga sudah pernah bertugas saat bencana gempa bumi di NTB, maupun Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu," terangnya.

Relawan tersebut, kata Winarti, antara lain dari Brebes, Boyolali, Kudus, dan Pekalongan. "Beberapa daerah juga sudah siap. Namun karena bertahap, nantinya menunggu jadwal yang kita tetapkan. Beberapa pengurus NU daerah juga telah membuka Posko NU Peduli Bencana untuk kasus tsunami ini," jelasnya.

Winarti menjelaskan, tim dari Jateng sendiri akan bergabung dengan Pos Induk PBNU yang juga membuka posko bencana tsunami ini. "Kita berharap, relawan-relawan yang kita kirimkan ini bisa saling membantu, dan memberi manfaat positif dalam penanganan bencana tsunami tersebut," tegasnya.

Meski mengirimkan relawan untuk bencana tsunami, LPBI NU Jateng juga masih menyiapkan personil untuk kembali bertugas di Lombok. "Hanya saja untuk yang Lombok, yang akan kita kirim kan adalah relawan dengan skill tukang bangunan, kayu, dan tukang las," bebernya.

Hingga Selasa (25/12), korban tsunami Selat Sunda terus bertambah. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal mencapai 429 orang meninggal. Sementara 1.485 orang luka-luka, 154 orang hilang, dan 16.082 orang mengungsi.

Data kerugian materiil terkait tsunami Selat Sunda juga terus bertambah. Ada 882 rumah yang rusak, 73 penginapan rusak dan 60 warung rusak. Adapula 434 perahu dan kapal rusak, 24 kendaraan roda 4 rusak, 41 kendaraan roda 2 rusak, 1 dermaga rusak, dan 1 shelter rusak.

Daerah yang paling parah terdampak tsunami Selat Sunda ialah Kabupaten Pandeglang. Tercatat BNPN, di daerah ini sebanyak 290 orang meninggal dunia, 1.143 luka-luka, 77 orang hilang, dan 14.395 orang mengungsi. (Red: Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG