IMG-LOGO
Daerah

Diskusi Santri Al-Muayyad Windan; Kita Bukan Cebong dan Kampret!

Selasa 25 Desember 2018 16:30 WIB
Bagikan:
Diskusi Santri Al-Muayyad Windan; Kita Bukan Cebong dan Kampret!
Moh Yasir Alimi dikelilingi para santri
Klaten, NU Online 
Santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan bersemangat mendiskusikan post truth dan bagaimana caranya bisa selamat di era tersebut. Diskusi berlangsung di Pondok Pesantren Husnul Khotimah yang juga diasuh oleh KH Dian Nafi pada 24 Desember 2018.

Para santri penasaran mengapa begitu banyak hoaks di Indonesia? Mengapa banyak hoaks dan ujaran kebencian tersebut mengeksploitasi agama? Mengapa banyak anak muda menjadi korban hoaks dan apa kaitan semua itu dengan post truth? Mengapa masyarakat terbelah? 

Kegiatan diformat dalam bentuk diskusi buku Mediatisasi Agama, Post Truth dan Ketahanan Nasional (2018) dengan berdiskusi langsung dengan penulisnya yaitu Moh Yasir Alimi, dosen Universitas Negeri Semarang yang merupakan Wakil Ketua Pengurus Wilayah PWNU Jawa Tengah.

Eco Chambers
Yasir menjelaskan, radikalisasi terjadi karena proses algoritmik media sosial yang menempatkan manusia pada klik dan klan yang satu selera saja. Akibatnya masyarakat terbelah secara ideologis pada ruang ideologis yang tertutup (eco chambers) dan saling berhadapan satu sama lain.

"Masyarakat menjadi terbelah antara cebong dan kampret. Penyebutan dengan nama binatang tersebut adalah tanda pengerasan ideologis dan pengelompokan yang ekstrem. Kalau dulu hanya bani daster dan bani serbet, Sekarang lebih parah menjadi cebong dan kampret," katanya.

Eco chambers ini, menurut dia, berbahaya karena menyebabkan menjadi radikal yaitu cebong kampret bukan sekadar pilihan politik, tapi juga kita menganggap bahwa pihak lawan adalah malapetaka bagi bangsa dan negara. Bahkan menganggap lawan sebagai binatang.

“Dulu cebong kampret hanya tentang pilihan pilpres saja. Kita dalam segala hal masyarakat menjadi terbelah antara cebong dan kampret. Dulu hanya persoalan politik saja sekarang ke persoalan personal,” katanya. "Dengan derasnya arus informasi yang kita akses di medsos kita merasa bahwa kita meluas, padahal sejatinya kita menyempit dan dialienasi dari kemanusiaan dan keragaman kita," tegasnya.

Manusia Dimuliakan Allah
Dalam kesempatan tersebut Yasir dan para santri mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali pada jatidiri kita sebagai manusia sebagai hamba Allah. Kita manusia bukan cebong dan kampret.

Allah saja Yang Maha Agung memuliakan manusia dengan sebutan yang indah yaitu "wahai orang orang yang beriman", "wahai manusia", masak kita merendahkan makhluknya dengan memandang rendah sesama dengan memberi sebutan yang buruk.

“Janganlah kita membiarkan diri menjadi korban algoritma, eco chambers dan propaganda para provocation enterpreneur dengan menyebarkan hoaks dan kebencian,” ajaknya. 

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayad Windan KH Dian Nafi mengapresiasi kegiatan bedah buku tersebut dan mengajak pada santri untuk terus mencari ilmu, dan ikut menyelamatkan kehidupan dengan berbuat baik dan memberikan kemanfaatan bagi sesama, alam dan bangsa dan negara. 

Buku Mediatisasi Agama, Post Truth dan Ketahanan Nasional yang ditulis kader NU ini adalah buku pertama tentang post truth di Indonesia yang mendedah bagaimana hate speech dan hoaks berbasis agama beroperasi di media sosial dan memecah belah masyarakat. Buku ini sangat bermanfaat untuk menjaga kewarasan kita agar tidak disorientasi dalam derasnya arus informasi dan kembali menggelorakan semangat cinta Tanah Air. (Red: Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 25 Desember 2018 23:0 WIB
Peringati Maulid Tak Harus di Bulan Maulud
Peringati Maulid Tak Harus di Bulan Maulud
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Darussalam, Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat KH Tb Ahmad Rifqi menjelaskan bahwa peringatan maulid Nabi merupakan ungkapan kegembiraan dan rasa suka cinta karena hadirnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi ini.

Sehingga peringatan maulid menurutnya tidak hanya dilaksanakan sebatas satu tahun sekali pada tanggal 12 Rabiul awwal saja. Peringatan maulid seyogyanya dilakukan setiap saat seperti yang juga sudah dilakukan oleh para ulama dan auliya yang hampir selalu membacakan maulid Nabi kapan pun dan dimana pun.

Penjelasan ini disampaikannya saat mengisi acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan pembacaan maulid burdah di Masjid Nurul Hidayah, Jalan Bakti 2, Tegal Alur, Kalideres, Jakarta. Sabtu (23/12) Malam.

"Contohnya itu adalah Al Habib Al Quthb Abdullah bin Alwi Al-Haddad memperingati maulid kubronya di pertengahan bulan Rajab," ujar kiai yang biasa disapa Kang Entus ini.

Kang Entus menambahkan, di kalangan warga NU khususnya para kiai dan santri, kegiatan pembacaan riwayat maulid Nabi Muhammad SAW sering dilakukan setiap malam selasa dan atau pun malam Jumat. Hal ini dilakukan karena mengharapkan berkah dan syafaat dari Rasulullah SAW.

"Apalagi seluruh ulama telah konsensus dan ijma' mengatakan dan mengamalkan kebaikan memperingati kelahiran junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sudah pasti membawa keberkahan," jelasnya di hadapan ribuan jamaah yang memadati Masjid Nurul Hidayah tersebut.

Selain itu, kata Kang Entus, dalam melaksanakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, umat Islam harus memiliki niatan baik dan menanamkan sifat husnuddzan (berbaik sangk). Sebab selain memang ajaran agama Islam yang mesti diamalkan, berbaik sangka juga bisa membuahkan rasa mahabbah (cinta) yang besar kepada Rasulullah SAW.

"Pada prinsipnya, sebaik dan seindah apapun itu jika disikapi dengan suudzan atau negative thinking akan tetap terlihat buruk," tandasnya

Hadir dalam kegiatan tersebut para ulama dan habaib diantaranya Habib Fathan, Habib Umar Al-Hadad, Habib Abu Bakar Assegaf, KH Masykur Ciawi, KH Moh Jamil, Ajengan Usamah Cilebut, Ustadz Abdurohim, dan H Yuyun Nur Uyuni dan ketua panitia pelaksana Muallim Farid Ali . (Aiz Luthfi/Muhammad Faizin)

Selasa 25 Desember 2018 22:0 WIB
Ini Cara NU Karawang Jaga Ukhuwah Wathaniyah dan Basyariyah
Ini Cara NU Karawang Jaga Ukhuwah Wathaniyah dan Basyariyah
Jakarta, NU Online 
PCNU Karawang berupaya menjaga tiga ukhuwah yang menjadi amanat para pendahulu Nahdlatul Ulama. Tiga ukhuwah itu adalah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), wathaniyah (persaudaraan sesama warga sebangsa dan senegara), dan basyariyah (persaudaraan sesama anak manusia). 

Sebagai bentuk menjaga ukhuwah wathaniyah Ketua PCNU Karawang KH Ahmad Ruhyat Hasbi bersama Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) dan Muspida Karawang, mengunjungi sejumlah gereja di Karawang, di antaranya, Gereja Kristus Raja Katolik di Jalan Pasundan, Gereja HKBP di Kompleks Resinda, serta Gereja Imanuel di Kertabumi.

“Kami sebagai pengurus perjuangan Gus Dur akan terus mengawal persatuan dan kesatuan diantara sesama anak bangsa,” tutur KH Ahmad Ruhyat Hasbi, saat berada di Gereja HKBP, Senin (24/12).

“Kita memang berbeda suku, agama, berbeda keyakinan, tapi ada kesamaan di antara kita bahwa kita sebagai anak bangsa yang hidup di negara ini. Kami ulama di Karawang berharap saudara-saudara bisa beribadah dengan tenang,” sambungnya.

Kiai yang lebih akrab disapa Kang Uyan ini menjelaskan, prinsip menjalin kerukunan bagi umat Islam terhadap pemeluk agama lain sudah menjadi ajaran prinsip Nahdlatul Ulama sejak dulu.

Ditegaskan Kang Uyan, kerukunan antarumat negara di Indonesia tidak akan tercipta hanya dengan menunjukan sikap toleransi semata, melainkan diperlukan sikap keterbukaan diri untuk terlibat dalam sebuah kerja sama demi meraih kebaikan bersama.

Menurut dia, Allah SWT jika menghendaki seluruh umat di dunia ini beragama Islam, maka tentu bisa. Tapi kenyataanya agama manusia berbeda-beda. Allah tidak pernah melarang seorang Muslim untuk berbuat kebaikan kepada saudaranya yang non-Muslim. 

“Sehingga di Nahdlatul Ulama, prinsip menjalin kerukunan antarumat beragama ini disebut ukhuwah wathaniyyah. Dan selama ini kami menjaga itu di Karawang melalui Forum Kerukunan Antar Umat Beragama,” pungkas Kang Uyan. (Abdullah Alawi)


Selasa 25 Desember 2018 20:30 WIB
Kader Ansor di Sidoarjo Dibekali Melek Teknologi dan Medsos
Kader Ansor di Sidoarjo Dibekali Melek Teknologi dan Medsos
PKD PAC GP Ansor Gedangan, Sidoarjo, Jatim.
Sidoarjo, NU Online
Proses kaderisasi mutlak dilakukan sebuah organisasi sebagai eksistensi menjaga keberlangsungan di masa mendatang. Pada saat yang sama, keterampilan kekinian juga diperlukan agar mampu menjawab tantangan zaman.

Hal tersebut sebagaimana dilakukan Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur yang menyelenggarakan PKD (Pelatihan Kepemimpinan Dasar) beberapa waktu berselang di Kampus PLB Unesa Desa Wedi Gedangan Sidoarjo. 

Pada PKD tersebut, panitia memberikan materi copy writer yang tujuannya agar kader lebih memahami dunia media social (Medsos). "Harapan kita, kader melek teknologi, terutama di media sosial, karena tantangan perjuangan saat ini adalah melawan berita hoaks, sehingga kader harus siap berjuang dan berdakwah di dunia maya," kata H Zanuar Riza, Selasa (25/12).

Menurut Ketua PAC GP Ansor Gedangan tersebut, selama kegiatan yang diikuti puluhan peserta itu juga di sampaikan materi dalil amaliyah Aswaja. “Pematerinya  adalah KH Ma'ruf Khozin selaku Ketua Pengurus Wilayah Aswaja NU Center Jatim,” jelasnya.

Para peserta juga menerima materi leadership dan spiritual motivation. “Tidak tanggung-tanggung, pada sesi ini panitia mendatangkan motivator nasional Didik Mardani sehingga peserta dalam mengikuti pelatihan begitu antusias dan semangat,” ungkapnya.

Sebagaimana layaknya kegiatan pelatihan, peserta juga menerima materi muatan dasar yang wajib disampaikan seperti masalah NU, Ansor, dan Aswaja. 

Panitia sengaja menyuguhkan pelatihan yang menarik, selain materi indoor juga outdoor berupa outbound. “Sehingga peserta pulang dengan banyak kesan, banyak ilmu dan menyenangkan, sebagaimana kaidah mempertahankan kebaikan warisan masa lalu, mengambil hal yang baru yang lebih baik,” pungkasnya. (Moh Kholidun/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG