IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Meluruskan Salah Paham Islam Nusantara

Rabu 26 Desember 2018 12:35 WIB
Bagikan:
Meluruskan Salah Paham Islam Nusantara
Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin (2015-2018) mengatakan bahwa akhir-akhir ini Islam Nusantara menjadi wacana publik. Tidak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin), tetapi masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya. Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru.

Hal ini wajar karena NU adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangat positif, baik bagi Nahdlatul Ulama (NU) maupun bagi negeri ini.

Adapun buku Islam Nusantara merupakan dokumentasi keputusan resmi Bahtsul Masail Maudhu’iyyah PWNU Jawa Timur 13 Februari 2016 di Universitas Negeri Malang. Forum yang diabadikan di buku ini membahas berbagai isu seputar sejarah, dakwah, toleransi hingga kebangsaan.

Buku ini dapat menjadi rujukan strategis bagi warga Nahdliyyin, pengurus NU, peneliti, maupun masyarakat secara luas. Buku Islam Nusantara ini sangat penting dimiliki dan dibaca, khususnya bagi akitivis, pengurus dan warga NU untuk menetralisasi penyesatan informasi terkait Islam Nusantara yang sebenarnya merupakan identitas keberislaman ala NU sejak dahulu.

Kehadiran buku Islam Nusantara ini diharapkan dapat memberi manfaat yang luas bagi siapa saja yang menaruh perhatian atas eksistensi Ahlussunnah wal Jama’ah al-Nahdliyyah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai ideologi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita semua berharap kepada berbagai pihak yang selama masih ini berada di ujung kanan maupun di ‘ujung kiri’ dalam perdebatan tentang Islam Nusantara, mari sama-sama menengah menapaki manhaj moderat yang telah dita’sis oleh para pendiri NU.

Buku ini mengantarkan pembaca memahami dengan benar karakteristik Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu tawassuth, tawazun dan i’tidal dalam bersikap dan bertindak dalam urusan apapun, sehingga kekokohan ukhuwwah islamiyyah, ukhuwwah wathaniyyah, dan ukhuwwah Basyariyyah terjaga sepanjang masa.

Buku ini mencakup pemahaman Islam Nusantara sebagai praktik keislaman khas 

Nusantara dan sebagai metode dakwah Islam di Nusantara baik di masa walisongo maupun masa kini. Buku ini juga memuat landasan menyikapi tradisi, yaitu redaksi ayat Al-Qur'an dan hadits yang mengakomodir tradisi, tradisi jahiliyah yang mendapatkan legalitas dalam Agama Islam.

Buku ini secara jelas mengungkap pendekatan terhadap tradisi, pelestarian tradisi sebagai media dakwah, dan landasan toleransi terhadap pluralitas agama dan keagamaan di samping argumentasi teologis atas konsistensi menjaga persatuan bangsa.

Peresensi adalah Alhafiz Kurniawan, pemerhati masalah keislaman.

Identitas Buku:
Judul buku: Islam Nusantara Manhaj Dakwah Islam Aswaja di Nusantara 
Penulis: Tim PW LBM NU Jawa Timur
Editor: Ahmad Muntaha AM
Penerbit: PW LTN NU Jawa Timur, PW LBM NU Jawa Timur, dan Universitas Negeri Malang
Cetakan: 1, November 2018
ISBN: 978-602-50207-6-6
Tebal: 80 Halaman
Bagikan:
Selasa 18 Desember 2018 22:45 WIB
Belajar Berbaik Sangka kepada Allah
Belajar Berbaik Sangka kepada Allah
Ibarat ombak di lautan yang beriak tenang kadang pula bergelombang, begitulah kehidupan manusia. Dinamika kehidupan kita sebagai manusia tak mungkin lepas dari beragam ujian Allah  SWT, entah berupa kesusahan, kegagalan, kemiskinan, pun kekayaan dan kesenangan. Hadirnya ujian-ujian tersebut menjadi barometer keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.

Sebagaimana Firman-Nya: “Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya di antara kamu” (QS Al-Mulk: 2]. Semakin kita sabar dan lapang dada dalam menghadapi ujian, semakin tinggi pula derajat kita di hadapan-Nya. Sebaliknya, ketika kita hanya berpangku tangan, berputus asa, dan merutuki keadaan, semakin rendah pula derajat kita di sisi-Nya. Semua ditentukan oleh bagaimana sudut pandang pikiran kita saat menghadapinya.

Terbitnya buku dengan judul Berpikir Positif Agar Allah Selalu Menolongmu ini, dapat menjadi media bagi kita untuk belajar memandang setiap ujian dan cobaan Allah dari kacamata berpikir positif. Melalui buah tangannya ini, Didi Junaedi mendedah signifikansi pikiran dalam mengarahkan setiap tingkah laku kita. Utamanya ketika kita berhadapan dengan berbagai persolan pelik dalam hidup, kita dituntut bijaksana dalam menyelesaikannya.

“A person limited only by the thoughts that the chooses (seseorang di batasi oleh pemikiran-pemikiran yang ia pilih sendiri)”, statement James Allen yang dinukil dalam buku ini memang benar adanya. Seseorang yang senantiasa memenuhi pikirannya dengan pikiran-pikiran negatif, hakikatnya telah membatasi dirinya untuk hanya berpikir negatif saja. Berbeda dengan orang yang selalu berpikir positif, pastilah hal-hal positif yang menghiasi hari-harinya (halaman 4).

Sebagai manusia yang dhaif, seringkali kita tidak mampu mengendalikan sikap serta pikiran kita tatkala ditimpa ujian Allah. Sebab, kita terbawa oleh arus situasi dan kondisi yang terjadi. Semisal ketika kita mendapat limpahan nikmat dan bergelimang harta, kita malah enggan memanfaatkannya untuk kebaikan, seakan khawatir harta yang kita miliki akan berkurang. Padahal semua nikmat yang kita miliki adalah pemberian Allah untuk menguji kita, apakah kita memanfaatkannya dengan baik atau tidak. 
 
Pikiran seringkali tertipu oleh tampilan dhahir masalah yang hadir, kita lebih terpaku pada peliknya masalah tersebut dan mengabaikan sisi substansialnya. Jika demikian, alih-alih masalah terselesaikan, kita malah melahirkan masalah yang lebih besar lagi.

Namun, berbeda jika kita menyadari bahwa takdir tuhan yang buruk sekalipun adalah skenario terbaik yang telah Allah gariskan untuk kita, pastilah kita akan menjadi hamba yang laa khaufun alaihim walaa hum yahzanuun. Tak ada rasa takut, putus asa, dan kesedihan ketika kita menghadapi masalah serumit apapun, yang ada hanya optimisme dan keberanian dalam diri kita. 

Melatih diri supaya selau berpikir positif memang tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh sebab itu, dalam buku ini telah dijelaskan langkah primordial melatih diri kita untuk senantiasa ber-positive thinking kepada Allah. Bisa karena biasa, begitulah rumus sederhana dalam berusaha. Kita harus mampu menjaga konsistensi dan keistiqamahan kita hingga pikiran positif tersebut dapat terejawantah menjadi tindakan baik dan bijaksana dalam keseharian kita. 

Telah menjadi sunnatullah, bahwa setiap usaha pasti tidak luput dari hambatan yang merintangi. Didi Junaedi pun tidak lupa menguraikan hambatan-hambatan yang acapkali mematahkan ikhtiar kita untuk berpikir positif. Di antaranya: Membirkan kesombongan (takabur), berprasangka buruk (su'udzan), menebar kedengkian (hasad), dan beragam sikap negatif lainnya.

Sikap-sikap tersebut berpotensi mencegah lahirmya pikiran positif dalam diri kita dan biasa kita lakukan secara spontan, baik sadar ataupun tidak. Semua sikap itu harus kita kikis habis sebelum menjadi penyakit kronis dan menghambat input pikiran-pikiran positif dalam diri kita.

Apa yang penulis sajikan dalam buku ini layak untuk kita jadikan problem solving dan instrumen untuk memperbaiki diri kita yang tidak pernah lepas dari konflik lahir dan batin. Buku ini juga bertabur kisah-kisah sarat inspirasi yang disarikan dari kehidupan nabi, para sahabat, hingga pengalaman pribadi penulis serta orang-orang di sekitarnya.

Beberapa kali kita mungkin akan menemukan pengetikan kata yang kurang valid dan benar. Namun kekurangan ini tidak akan menghijab kita yang ingin menjadikan buku ini sebagai jembatan untuk meraih kebahagiaan hakiki di bawah naungan ridha Ilahi. Wallahu a’lam bisshawab. Salam literasi dan Selamat membaca! 
 
Peresensi adalah Muhammad Faiz As, Santri pegiat literasi yang bermukim di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-guluk, Sumenep.

Identitas buku:
Judul buku: Berpikir Positif Agar Allah Selalu Menolongmu 
Penulis: Didi Junaedi
Penerbit: PT Qaf Media Kreativa
Cetakan: 1, 2017
ISBN: 978-602-602-244-4-2
Tebal: 268 Halaman
Senin 17 Desember 2018 11:0 WIB
Mata Rantai Keilmuan Kiai Sarang
Mata Rantai Keilmuan Kiai Sarang
Kealiman seorang santri tidak dapat dipisahkan dengan kiainya, yang menggulo wentah (mengajar) dengan penuh kesungguhan. Selain tirakat lahir, mereka juga tirakat batin, dengan selalu mendoakan santrinya agar menjadi orang yang dapat meneruskan perjuangannya dalam mengemban amanah, menyebarkan agama Islam. Ilmu yang diajarkan, bukan sekedar ilmu biasa, namun ilmu tersebut bersambung dengan sumber aslinya, shâhibu al-syari’ah, baginda Nabi Muhammad SAW.

Kesinambungan keilmuan tersebut dirawat dengan adanya sanad atau silsilah keilmuan yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi yang selanjutnya hingga sampai sekarang. Ilmu sanad ini hanya dimiliki oleh umat Islam, tidak selainnya, sehingga kitab suci selain Al-Qur’an, rawan mengalami sebuah distorsi (tahrif) di dalamnya.

Tradisi keilmuan di Pesantren Sarang sangat erat dengan transmisi silsilah keilmuan, sanad. Setiap usai menghatamkan sebuah kitab, semisal Shahih Bukhari, maka kiai atau ustadz yang mengampu mata kuliah akan membacakan riwayat keilmuannya yang diriwayatkan dari gurunya hingga kepada pengarang kitab Shahih Bukhari, yaitu Imam Bukhari.

Selain pembacaan sanad kitab, juga terkadang dibacakan silsilah keilmuan fiqih Mazhab Syafi’i melalui mata rantai emas, silsilatu al-dzhab, yang diriwayatkan dari ulama alim yang menjadi rujukan pada zamannya, seperti silsilah keilmuan yang diriwayatkan Kiai Zubair Dahlan, ayahanda Kiai Maimoen Zubair dari Syekh Said al-Yamani (murid Syekh Ahmad Zaini Dahlan), Syaikh Hasan al-Yamani (murid Sayyid Umar Syatha), Syekh Ibnu Maya’ba al-Syinqithi (murid Syekh Mahfudz al-Termasi), Syekh Baqir al-Jukjawi (murid Syekh Mahfudz al-Termasi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi), dan Kiai Faqih Maskumambang (murid Syekh Mahfudz al-Termasi). Semua silsilah ini jika ditelusuri akan berhujung kepada silsilatu al-dzahab, sebagaimana yang dikupas dalam buku ini.

Selain tradisi riwayah, Kiai Zubair Dahlan sangat menekankan dirayah, bahkan ini yang lebih diunggulkan. Oleh sebab itu, maka tidak mengherankan jika muridnya banyak menjadi seorang ulama atau nibras (cahaya) dalam bidang masalah pengembangan agama Islam ketika mereka sudah berkiprah di tengah masyarakat.

Di antara muridnya adalah Kiai Maimoen Zubair, Kiai Muslih ibn Abdurrahman al-Maraqi (Mranggen), Kiai Ustman al-Maraqi, Kiai Muradi al-Maraqi, Kiai Hisyam Cepu, Kiai Sahal Jepara, Kiai Ridwan Bangilan, Kiai Jauhari Jember,  Kiai Bisyri al-Hafi Cepu, Kiai Masyhudi Merakurak, Kiai Manfuri Merakurak, Kiai Habib Sayyid Zaen al-Jufri, Kiai Abdul Fattah Sendang, Kiai Shiddiq Sendang, Kiai Muslih Tanggir, Kiai Abdul Khaliq Laju, Kiai Masyhudi Senori,  Kiai Kurdi al-Makki, Kiai Matin Mas’ud Cilacap, Kiai Shiddiq Narukan, Kiai Sahal Mahfudz Kajen, Kiai Abdul Wahab Sulang, Kiai Syahid Kemadu, Kiai Dahlan Surabaya, Kiai Ghazali Bojonegoro, Kiai Fayyumi Siraj Kajen, Kiai Tamam Siraj Pamotan, Kiai Ibrahim Karas, Kiai Humaidi Narukan, Kiai Syifa Makam Agung, Kiai Abdul Ghafur Senori, Kiai Harun Kalitidu, Kiai Masyhudi Madiun, Kiai Mursyid Klaten, Kiai Abu Thayyib Solo, Kiai Hambali Demak, Kiai Sholeh Kragan, Kiai Masyhudi Blora, Kiai Abdussalam  Rengel, Kiai Syaerozi Cirebon, Kiai Izzudin Cirebon, Kiai Nashiruddin Cirebon, Kiai Idris Marzuqi (pengasuh Pesantren Lirboyo), Kiai Islahudin Dukuhseti, Kiai Muslim Mranggen, Kiai Dimyathi Rais Kendal, Mbah Dim Ploso, Kiai Nawawi Sidogiri, Kiai Hasani Sidogiri, dan lain-lain.

Dalam buku ini, Amirul Ulum, sang penulis biografi ulama Nusantara, mengupas dengan detail manaqib atau biografi Kiai Zubair Dahlan, mulai dari  masa kecil hingga wafat. Sumbangsihnya dikupas dengan bahasa yang mudah dipaham, terutama bagi kalangan pesantren.

Kontribusi Kiai Zubair Dahlan yang dikupas dalam buku ini di antaranya, keberhasilannya dalam mendidik santrinya, bertafaqquh fiddin, melanjutkan tradisi keilmuan baginda Nabi Muhammad SAW, menjadi pimpinan pejuang dalam mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan (ketika terjadi Agresi Militer Belanda), menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, pengabdiannya dalam organisasi Nahdlatul Ulama, menjadi Syekh Haji, jaringan-jaringannya, baik lokal maupun internasional (melalui media Haramain), dan lain-lain.

Tak kalah pentingnya, dalam buku ini telah dikupas tentang sifat mulia Kiai Zubair Dahlan yang sangat memperhatikan kehidupan fakir dan miskin. Setiap usai menjalankan salat Jum’at, ia sering mengunjungi rumah-rumah penduduk, terlebih kaum fakir dan miskin. Ia mendermakan sebagian hartanya untuk berbagi kepada orang yang membutuhkan. Ia juga mengajak  kepada hartawan di wilayah Sarang dan sekitarnya untuk ikut mendermakan harta mereka.

Ia sangat dermawan sekali, meskipun kenyataannya, ia bukanlah orang yang kaya. Sebab kedermawanannya ini, maka tidak mengherankan jika ia sangat akrab dan disegani oleh kaumnya. Tentang kefakiran Kiai Zubair Dahlan, Kiai Maimoen Zubair mengatakan, “Beliau (Kiai Zubair Dahlan) adalah salah satu Masyayikh Sarang yang hidup dalam kondisi fakir dan wafat juga dalam keadaan fakir.”

Selain mengupas tentang biografi Kiai Zubair Dahlan, pemikirannya, jaringannya, dan kiprahnya untuk agama dan bangsanya, buku ini juga mengupas sebagian manaqib Masyayikh Sarang seperti Kiai Ghozali al-Sarani, Kiai Umar al-Sarani, Kiai Syu’iab al-Sarani, Kiai Fathurrahman al-Sarani, dan Kiai Ahmad Syu’aib al-Sarani.

Kejayaan Pesantren Sarang dimulai pada zaman Kiai Umar al-Sarani dan Kiai Syu’aib al-Sarani. Pada masa kepengasuhannya, Pesantren Sarang diserbu banyak thalabah dari berbagai kawasan, khususnya pulau Jawa.

Mereka banyak menjadi orang berpengaruh ketika kembali ke kampung halamannya seperti Kiai Khalil Kasingan, Kiai Baidlowi al-Lasemi (Rais Akbar Thariqah Ifadhiyyah Nahdlatul Ulama dan pencetus gelar Soekarno, huwa waliyyul amri adh dharûry bi al-syaukah), Kiai Ridwan Mujahid (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Ma’shum Ahmad (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Muhaimin al-Lasemi (pendiri Dar al-Ulum (Makkah) dan pengajar di Masjidil haram), Kiai Bisri Syansuri (pendiri Nahdlatul Ulama), dan lain-lain.

Persesensi adalah Dwi Oktaviani Kurniawati, pemerhati Kajian Sejarah Ulama Nusantara

Identitas buku:
Judul Buku: KH Zubair Dahlan: Kontribusi Kiai Sarang untuk Nusantara & Dunia Islam
Penulis: Amirul Ulum
Penerbit: Global Press Yogyakarta
Tebal: 452 halaman (xxxii + 420)
ISBN : 978-602-5653-24-7
Ahad 16 Desember 2018 11:0 WIB
Kisah Lucu di Neraka
Kisah Lucu di Neraka
“Waktunya makan malam,” kata malaikat itu sambil menyodorkan duri-duri beracun dan bangkai babi. “Minumnya ambil sendiri di sana,” lanjutnya sambil menunjuk ke sebuah galon berisi darah-darah panas.
Mereka bertiga menggangguk.

Setelah malaikat itu pergi, mereka melanjutkan obrolan. Tampaknya mereka sudah terbiasa makan bangkai babi atau duri beracun. Bangkai babi itu rasanya seperti steak kalau di dunia, duri-duri itu seperti bandeng presto. Minuman darah sudah mereka anggap semacam soda gembira yang melegakan tenggorokan.

Penggalan di atas, merupakan sedikit kreasi imajinatif yang tergambar dalam kumpulan cerpen ini. Cerita ini berjudul “Trik Ahli Neraka” yang menggambarkan mengenai bagaimana keseharian kehidupan di neraka dan segala aktifitasnya. Dalam kutipan di atas tak terlihat bagaimana kerasnya neraka, justru yang terlihat adalah sebuah rutinitas keseharian selayaknya hidup sekarang. 

Kisah ini bercerita mengenai tiga pendosa yang tinggal di neraka dan berusaha untuk menyusup ke surga. Ketiga tokohnya adalah sapto sebagai pezina, Rojam sang plagiator tulisan-tulisan, dan Ciyus yang merupakan koruptor. Konflik terjadi antara para penghuni neraka yang diprakarsai oleh ketiga orang tersebut, dengan para malaikat penjaga neraka. Konflik berikutnya yang muncul adalah antara Sapto dengan keduanya dimana Sapto menipu kawan-kawannya mengenai jalur menuju surga.

Kisah yang dikemas sangat unik dan ramah bagi pembaca. Dunia neraka yang sering digambarkan dalam kengerian yang tak terbanyangkan, ditarik menjadi aktiitas keseharian selayaknya manusia hidup di dunia (tentunya dengan siksa yang menjadi rutinitas). Racikan katanya juga mudah dipahami bagi semua kalangan, karena memang ada beberapa cerpen yang disampaikan melalui puitisasi kata-kata atau narasi yang rumit untuk dipahami dalam sekali baca.

Secara umum buku kumpulan cerpen karya Hilmi ini nyaman di mata dan mudah membuat tertawa. Beberapa kisah mungkin hanya bisa dipahami oleh kalangan pesantren saja, semisal kisah “Puntung Rokok di Toilet Pondok”, “Daenuri Ketemu Dinawari”, “Barokah”, dan “Seminar Nasi Pecel” yang membahas tentang setitik kehidupan dalam dunia pesantren. Hal ini mungkin tidak terlepas dari backgroun pesantren yang dimiliki oleh penulis. 

Gaya diksi yang digunakan sangat variatif. Misal kita lihat pada cerpen yang berjudul “Bunga Sya’ban”. Terlihat bagaimana penulis menggunakan majas personifikasi –penggambaran dengan hal yang mati lalu membuatnya seakan-akan hidup- dalam mengungkap bulan Sya’ban dan Ramadhan.

Sya’ban tersenyum mendengar tekadku yang baru. Lalu ia meraih gelas yang ada di depannya. Melanjutkan tegukannya. “Nanti kalau ramadan ke sini, jangan sampai kau suguhi dia minuman seperti ini saat matahari masih tergantung di langit. Ia juga berpuasa. Ajak ia berbuka bersama.”

Kisah ini mengutarakan mengenai nilai keutamaan bulan Sya’ban. Sya’ban diibaratkan selayaknya tamu yang datang kepada seseorang dan membawa bunga-bunga yang wangi. ‘Bunga’ di sini menjadi pengibaratan dari jumlah hari yang ada pada bulan Sya’ban. penulis berusaha menyampaikan bahwa tak semua orang mendapat keutamaan bulan Sya’ban ini. Hanya orang tertentu yang memiliki niat dan tekad yang tulus yang dapat menghirup harum wangi bunga yang dibawa oleh bulan Sya’ban. Dari sini terlihat bagaimana cara penulis dalam menyampaikan nilai-nilai agama dalam cerpennya.

Ada sedikit kesulitan untuk memahami nilai yang dimaksud saat membaca kisah “Arwah Seorang Putri”. Kesan kisahnya seperti semacam drama umum yang sering dilihat dalam acara televisi. Sehingga terkesan biasa-biasa saja. Namun akhirnya disadari bahwa ada nilai toleransi agama yang kuat dan tersirat dalam kisah ini.

Istriku seorang muslimah yang telah menghafal kitab sucinya. Dihormati di antara umat muslim yang lain. Sedangkan aku seorang komunis kantoran yang tentu sangat dibenci oleh mereka.

Walaupun begitu, kami tetap bisa serumah, sekamar, bahkan seselimut.

Sebagai sebuah karya yang lahir dari rahim pesantren, karya ini sangat perlu untuk diapresiasi dan ditularkan kepada santri-santri lain. Hilmi yang masih nyantri di Jombang ini menunjukkan bahwa seorang santri harus kreatif. Dalam pengantarnya tersirat bahwa si pengarang berusaha menyampaikan nilai keagaman dan kehidupan melalui kumpulan cerpennya ini. Jadi, para pembaca silahkan bersiap-siap untuk tersenyum sendiri saat membacanya.

Kisah Lucu di Neraka
Judul Buku : Trik Ahli Neraka
Pengarang : Hilmi Abedillah
Penerbit : Mitra Karya
Cetakan : I / Maret 2018
Kota Terbit : Tuban
Tebal Buku : 189 Halaman 
Peresensi : Muhammad Miftahuddin, Pimpinan redaksi Majalah Aksara, Pimpinan redaksi www.aksaraonline.com,  Wakil II Pimpinan Umum Majalah Suara Pandanaran, dan Kontributor www.bangkitmedia.com

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG