::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Krisis Yaman: Ribuan Orang Tewas, Jutaan Lainnya Mengungsi dan Kelaparan

Jumat, 28 Desember 2018 23:30 Internasional

Bagikan

Krisis Yaman: Ribuan Orang Tewas, Jutaan Lainnya Mengungsi dan Kelaparan
Anak-anak Yaman sedang menukarkan kupon makanan. Foto: Hani Mohammed/AP
Sana’a, NU Online
Yaman didera perang sejak 2014 silam. Sejak saat itu, kehidupan di Yaman menjadi kacau balau. Ribuan orang meninggal. Jutaan orang meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi. Puluhan juta lainnya tengah menghadapi kerawanan makanan. 

UNICEF, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah anak-anak, mencatat, lebih dari tujuh juta anak-anak Yaman tengah menghadapi rawan pangan, dibandingkan dengan ancaman langsung kelaparan. Sementara jutaan anak Yaman lainnya mengalami kekurangan gizi.

“Hari ini, 1,8 juta anak-anak di bawah usia lima tahun menghadapi kekurangan gizi akut, dan 400.000 dipengaruhi oleh gizi buruk akut,” kata Direktur regional UNICEF Geert Cappelaere, dikutip dari laman AFP, Jumat (2/11).

Data yang sama juga disampaikan PBB melalui World Food Program (WFP). Dilaporkan bahwa ada sekitar 12 juta penduduk Yaman tengah menghadapi bencana kelaparan. Data ini membuat krisis yang terjadi di Yaman menjadi yang terparah di dunia.

“Saat ini Yaman tengah menghadapi krisis kelaparan terparah di dunia, di mana hampir 18 juta orang di seluruh penjuru negeri bahkan tak tahu-menahu bagaimana mereka akan mendapatkan makanan selanjutnya," kata juru bicara WFP Herve Verhoosel, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (17/10).

Lebih miris lagi, Perwakilan UNICEF di Yaman Meritxell Relano mengungkapkan, dari total populasi Yaman yang mencapai 28 juta jiwa, 22 juta orang tergantung dengan bantuan luar. Sementara 8,4 juta orang diyakini tengah berada di ambang kelaparan.
Krisis kemanusian di Yaman tersebut disebabkan perang yang tak kunjung selesai, blokade –barang, makanan, dan lainnya ke dan dari Yaman, dan sanksi yang dikenakan –oleh pihak-pihak yang tengah bertikai- kepada penduduk sipil Yaman.   

Sebetulnya, Yaman memiliki tanah yang subur. Berbagai macam tanaman, biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, dan lainnya tumbuh di sana. Begitu pun dengan sektor peternakan. Banyak produk yang dihasilkan mulai dari unggas hingga unta. Namun akibat perang, semuanya menjadi terkendala. 

Krisis kemanusiaan yang melanda Yaman selama empat tahun lebih itu juga telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang. Sementara dua ribu orang meninggal akibat wabah kolera yang melanda wilayah Yaman. Tidak lain, wabah kolera dipicu kurangnya air bersih. Sementara kekurangan air bersih disebabkan air tanah yang terkuras dan kerusakan infrastruktur.

Ribuan sekolah hancur

Berbagai macam fasilitas umum seperti rumah sakit, bandara, pelabuhan, pasar, hingga sekolah juga rusak. Menurut laporan UNESCO, ada sekitar 2.500 sekolah di Yaman yang rusak dan hancur semenjak perang meletus. Akibatnya, sedikitnya dua juta anak Yaman putus sekolah.   

Keadaan seperti itu tidak membuat sebagian warga Yaman berhenti untuk menyediakan akses pendidikan ke anak-anaknya. Seorang guru Yaman Adel al-Shorbagy mengubah rumahnya di kota Taiz menjadi ‘sekolah dadakan’ bagi ratusan anak Yaman korban perang. Setiap harinya, sekitar 700 anak Yaman mengantri di luar rumahnya untuk menunggu gilirannya diajar.  

Pada tahun pertama, ada sekitar 500 anak-anak Yaman –baik laki-laki maupun perempuan- yang berusia antara enam hingga 15 tahun yang mendaftar untuk sekolah di rumah al-Shorbagy.

“Kami membuka gedung ini sebagai inisiatif masyarakat. Itu adalah tugas nasional dan kemanusiaan saya terhadap lingkungan saya,” kata al-Shorbagy, dikutip lama Reuters, Ahad (30/10).

Fasilitas yang ada di dalam rumah al-Shorbagy begitu sederhana. Dinding dari bata, jendela lebar, papan tulis kecil, dan tirai robek untuk membagi ruang kelas satu dengan lainnya. Ruangannya pun sempit untuk menampung semua sekitar 700 anak. Bahkan hampir tidak ada ruang untuk bergerak.

Total, ada 16 guru sukarelawan yang mengajar di rumah al-Shorbagy. Untuk kurikulum, al-Shorbagy mengikuti kurikulum Yaman sebelum perang. Sehingga ia juga menyelenggarakan kelas matematika, sains, dan bahasa Inggris.

Mengapa dunia bungkam?

Perang Yaman telah mengakibatkan ribuan orang meninggal, jutaan orang lainnya mengungsi dan kelaparan, namun mengapa dunia –khususnya negara-negara Islam- bungkam?

Direktur Indonesian Muslim Crisis Center, Robi Sugara, mengemukakan, ada tiga alasan atau faktor mengapa masyarakat Muslim saat ini tidak bersuara atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Yaman.

Pertama, isu perdamaian dan kemanusiaan belum populer di kalangan Muslim. Hal ini berdampak pada pandangan mereka yang melihat konflik hanya dari sisi Muslim dan non-Muslimnya, bukan dari sisi kemanusiaannya.

“Kenapa di Myanmar berisik sekali karena pelaku kekerasannya non-Muslim. Kenapa di Palestina berisik karena aktornya non-Muslim,” kata Robi, Selasa (10/1).

Kedua, konflik antaraliran dalam suatu agama dianggap sebagai perselisihan biasa. Sebab itulah, Yaman tak dipedulikan oleh dunia. Konflik yang terlihat di negara tersebut adalah konflik Sunni dan Syiah, konflik dalam agama. Hal ini yang tidak menarik mata dunia untuk melihatnya.

“Ketika Muslim saling berantem gitu, saling bunuh-bunuhan misalkan, itu dianggap sebagai sebuah perselisihan,” katanya.

Ketiga, diamnya Muslim dunia atas konflik Yaman adalah karena posisi Sunni sebagai pihak yang menyerang Syiah atau posisi Syiah sebagai pihak yang tertekan. 

“Yaman seakan respons dari Suriah. Di Suriah kenapa ramai, karena masyarakat Indonesia umumnya Muslim Sunni. Narasi yang dikembangkan adalah Sunni dibantai oleh Syiah. Itu yang dinarasikan sehingga timbul kepedulian,” jelasnya. (Red: Muchlishon)