IMG-LOGO
Nasional

Pesantren dan NU Penguat Kehidupan Tenang dan Guyub


Jumat 28 Desember 2018 23:45 WIB
Bagikan:
Pesantren dan NU Penguat Kehidupan Tenang dan Guyub
Jakarta, NU Online
Konflik yang terjadi di beberapa negara di Timur Tengah, seperti Palestina, Suriah, Afghanistan, dan Yaman memporak-porandakan negerinya. Dampak yang ditimbulkannya menghancurkan materi dan menghilangkan banyak nyawa. Sementara warga yang hidup mengalami kesengsaraan seperti mengungsi.

Pada 2017, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani berkunjung ke Indonesia dan meminta pemerintah dengan penduduk mayoritas muslim ini untuk menjadi mediator konflik di internal negaranya. Ghani mengaku kagum terhadap keragaman yang dimiliki Indonesia, seperti agama, suku, bahasa, dan budaya, namun tetap solid dan damai.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Hj Khofifah Indar Parawansa, kerukunan yang terjadi di Indonesia tidak lepas dari keberadaan NU.

"Siapa yang kemudian menjadi bagian penguat kehidupan yang tenang, guyub, dan rukun? Adalah pesantren-pesantren, adalah NU," kata Khofifah di Hotel Bintang Wisata Mandiri, Jakarta Pusat, Jumat (28/12).

Khofifah memaparkan, NU melalui sejumlah tradisi amaliah Ahlussunnah wal Jamaah, seperti istighosah, semaan Al-Qur'an, dan manaqib selalu meminta kepada Allah SWT agar Indonesia selalu diberikan keselamatan.

"Makanya hari ini, doa kita adalah keselamatan bangsa," jelas perempuan yang menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada masa Presiden ke-5 KH Abdurrahman Wahid itu.

Pernyataan serupa juga pernah dikemukakan Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (19/11).

Gus Yahya, demikian kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini kerap disapa, menyatakan bahwa Indonesia selamat dari konflik horizontal (konflik agama dan perang sipil) karena adanya Nahdlatul Ulama.

Menurut Gus Yahya, negara Islam di dunia, dari Maroko sampai Bangladesh sedang menuju kegagalan sosial dan keruntuhan peradaban. Begitu juga dengan negara di Timur Tengah yang kesulitan memperbaiki negaranya.

"Tinggal Indonesia yang selamat dari kemelut ini. Tinggal Indonesia, satu-satunya. Itu sebabnya, sekarang seluruh dunia menengok dengan penuh harap kepada Indonesia. Kenapa Indonesia selamat? karena di Indonesia ada Nahdlatul Ulama," jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
IMG
IMG