IMG-LOGO
Nasional

Kunjungi Tebuireng, Kiai Said Ziarah dan Ngobrol Bareng Gus Sholah

Sabtu 29 Desember 2018 19:45 WIB
Bagikan:
Kunjungi Tebuireng, Kiai Said Ziarah dan Ngobrol Bareng Gus Sholah
Kiai Said Berbincang dengan Gus Sholah (Foto: Ist.)

Jombang, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersilaturrahim ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/12).

Kiai Said datang setelah shalat ashar bersama sang istri Nur Hayati Abdul Qodir. Ia menggunakan kopiah hitam, celana panjang dan berjas. Sedangkan istrinya memakai batik.


Foto: Silaturahmi Keluarga Kiai Said ke Ndalem Kasepuhan Gus Sholah


Kedatangan Kiai Said disambut langsung Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) bersama sang istri. Kedua tokoh nasional tersebut terlibat pembicaraan tertutup di Ndalem Kasepuhan Tebuireng.

Setelah terlibat perbincangan cukup lama, Kiai Said bersama keluarga menuju makam KH Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid dan keluarga besar Tebuireng untuk berziarah.

Kiai Said tampak khusyuk berdoa di dalam pagar besi makam Tebuireng dan didampingi istri dan beberapa putra serta cucunya.


Foto: Kiai Said dan Keluarga Berziarah ke Makam Tebuireng


Selepas ziarah, rombongan Kiai Said langsung meninggalkan Tebuireng dan meneruskan perjalanan. Beberapa warga yang ingin foto bersama pun harus mengurungkan niatnya. Seperti halnya seorang warga bernama Arif yang mengaku mengidolakan Kiai Said.

"Mau memberhentikan tidak enak, tadi Kiai Said buru-buru dan sama keluarga juga. Nampaknya ada tempat yang mau dikunjungi lagi. Padahal pingin banget foto bareng," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)

Bagikan:
Sabtu 29 Desember 2018 22:0 WIB
Sweeping Buku sama dengan Menganggap Masyarakat masih Bodoh
Sweeping Buku sama dengan Menganggap Masyarakat masih Bodoh
Sweeping Ilustrasi (Alit Ambara)
Jakarta, NU Online
Aksi sweeping atas sejumlah buku anggota Koramil 0809/11 Pare Kediri beberapa waktu lalu mendapat tanggapan keras dari Ketua Lakpesdam NU, Dr  H Rumadi Ahmad MA. Aksi tersebut disebutnya sebagai tindakan yang menghina kewarasan akal sehat. 

"Tindakan ini penghinaan akal sehat dan sama saja menganggap masyarakat bodoh," kata Rumadi Ahmad pada NU Online, Sabtu (29/12). 

Rumadi mengatakan tindakan penggerebekan seperti ini sudah usang dan tidak bisa dibenarkan. Secara prosedur penyitaan buku ini menyalahi aturan yang berlaku. "Tidak bisa TNI melakukan penyitaan. Itu bukan kewenangan TNI," lanjutnya.

Kalaupun terbukti bersalah, penyitaan pada properti milik orang lain harus mengikuti prosedur yang ditetapkan. "Kalau toh ada pelarangan buku, penyitaan tidak bisa dilakukan sepihak, harus melalui prosedur hukum," katanya.

Lebih dari itu Rumadi menilai hal tersebut sebagai aksi yang berlebihan yang tidak sesuai dengan semangat zaman yang semakin terbuka. "Ini tindakan berlebihan. Zaman gini kok masih ada sweeping buku," katanya.

Sebelumnya anggota Koramil 0809/11 Pare Kediri menyita 149 buah buku yang dianggap mempropagandakan paham komunis. Menurut keterangan Komandan Koramil Pare, Letnan Satu Sutejo, penyitaan ini berdasarkan Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1996 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia.

Namun tidak semua buku yang disita merupakan buku propaganda PKI. Justru salah satu buku yang ikut 'digaruk' adalah buku 'Benturan NU-PKI' karya H Abdul Mun'im DZ yang berisi klarifikasi kalangan Nahdliyin seputar kejadian 1965/66. (Ahmad Rozali)
Sabtu 29 Desember 2018 21:15 WIB
Update, Korban Jiwa Tsunami Banten-Lampung Capai 431 Orang
Update, Korban Jiwa Tsunami Banten-Lampung Capai 431 Orang
Jakarta, NU Online
Korban jiwa dan dan luka-luka dari bencana tsunami yang terjadi di dua provinsi Banten dan Lampung terus bertambah. Saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana merilis data terbarunya tentang jumlah korban yang mencapai 431 orang.

"Hingga 29/12/2018 korban tsunami di Selat Sunda: 431 orang meninggal dunia, 7.200 orang luka-luka, 15 orang hilang, dan 46.646 orang mengungsi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho Sabtu, (29/12)

Ia juga merinci tentang sejumlah kerugian material yang disebabkan oleh bencana tersebut. "Kerugian material antara lain 1.778 unit rumah rusak, 78 unit penginapan dan warung rusak, 434 perahu dan kapal rusak dan lainnya," lanjutnya.

Sebelumnya di laporkan bahwa sebagian korban yang mengungsi mulai diserang sejumlah penyakit. Hal itu terjadi pada korban yang mengungsi di SDN I Cigeulis, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten. 

Pengungsi mulai mengeluhkan berbagai penyakit seperti gatal gatal dan muntah. Salah seorang petugas kesehatan Ulfa Fitri Anggraeni menyebut kebanyakan keluhan kesehatan yang dikeluhkan anak-anak ialah gatal-gatal dan flu. Sedangkan, keluhan orang dewasa ialah infeksi saluran pernapasan, pusing dan pegal-pegal. 

"Faktornya karena cuaca dan kelelahan. Sementara akan kita kasih obat dulu, kalau tidak memungkinkan baru dirujuk ke Puskesmas terdekat," ujarnya seperti dikutip di Antara. (Ahmad Rozali)
Sabtu 29 Desember 2018 20:55 WIB
Pengungsi di Pegunungan Rajabasa Lamsel Butuh Lampu Darurat
Pengungsi di Pegunungan Rajabasa Lamsel Butuh Lampu Darurat
Jakarta, NU Online
Korban bencana tsunami di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, yang mengungsi di Pegunungan Rajabasa, membutuhkan lampu darurat untuk penerangan ketika memasuki malam.

"Belum ada (bantuan penerangan), selama ini masih pakai penerangan apa adanya. Kadang pakai lampu kapal kadang hanya numpang penerangan dari pengungsi yang mempunyai lampu," kata salah satu pengungsi, Ade, di Lampung Selatan, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (29/12).

Ade bersama keluarganya yang mengungsi di Pegunungan Rajabasa mengaku belum pernah mendapatkan bantuan lampu darurat dari posko untuk digunakan sebagai penerangan ketika malam.

"Belum dapat. Yang dapat cuma pakaian, makanan, perlengkapan anak, dan logistik lainnya. Kalau lampu belum," kata dia.

Hal sama dikatakan Dede Nuryana. Relawan Rumah Zakat ini mengaku ada sebagian pengungsi yang belum mempunyai lampu darurat.

Di lokasi, katanya, hanya ada beberapa pengungsi yang menggunakan lampu darurat miliknya sendiri. "Ada yang punya, tapi cuma beberapa. Itu juga punya mereka bukan dari bantuan," kata dia.

Saat mengantar makanan di atas gunung, Dede menyempatkan mendata warga pengungsi yang belum memiliki lampu darurat. Pihaknya berencana akan membeli lampu darurat kebutuhan pengungsi.

"Berapa jumlah yang akan dibeli belum tahu, karena ada timnya sendiri yang beli. Kita baru data aja," kata dia. (Red: Ahmad Rozali)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG