IMG-LOGO
Daerah
NU PEDULI BANTEN-LAMPUNG

Gusdurian Banten Siap Salurkan Donasi Tahap Kedua untuk Korban Tsunami

Ahad 30 Desember 2018 12:0 WIB
Bagikan:
Gusdurian Banten Siap Salurkan Donasi Tahap Kedua untuk Korban Tsunami
Pandeglang, NU Online
Penggerak Gusdurian Banten melakukan aksi cepat sehari setelah peristiwa Tsunami yang terjadi di Selat Sunda dengan menggalang donasi. Penggalangan donasi tahap pertama dimulai dari tanggal 23-26 Desember 2018. Donasi yang terkumpul ada dua jenis, yakni pakaian layak pakai dan uang yang dibelanjakan barang-barang kebutuhan pokok seperti makan siap saji, keperluan rumah tangga, beras, tepung, mie instan, popok, pembalut, dan lain-lain. Bantuan donasi tersebut diangkut satu box mobil pickup terisi penuh.

Koordinator Penggerak Gusdurian Banten Taufik Hidayat mengatakan penggalangan donasi bantuan terhadap masyarakat korban bencana tsunami tersebut merupakan tahap pertama. Selanjutkan masih akan dilaksanakan open donasi tahap berikutnya bekerja sama dengan penggerak Jaringan Gusdurian lainnya.

"Jadi, penggalangan dana ini masih tahap pertama. Dan selanjutnya kami bermaksud menyelenggarakan penggalangan dana yang berkolaborasi dengan semua penggerak Jaringan Gusdurian se-Indonesia," kata Taufik yang merupakan santri di salah satu Pondok Pesantren Salafiyah yang ada di Kota Serang.

Taufik mengungkapkan penyaluran donasi tahap pertama ini semaksimal mungkin didistribusikan ke daerah yang terkena dampak bencana namun masih minim mendapatkan bantuan. Kampung Nelayan, Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur adalah tempat menjadi tujuan pendistribusian donasi tahap pertama tersebut.

Bagi Taufik, penerus pemikiran Gus Dur harus secara total memperjuangkan nilai kemanusiaan sebagaimana yang dicontohkan Gus Dur. Tidak bisa setengah-setengah, kami akan total memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

"Ya, hikmahnya, berhubung ini Tahun Politik dan sekarang sedang panas-panasnya menjelang Pilpres, minimal kejadian ini bisa meredam konflik atau gesekan-gesekan antar masyarakat. Jadi masyarakat akhirnya bisa benar-benar sadar bahwa kemanusiaan itu sebagaimana kata Gus Dur, lebih penting dari politik," tandasnya.

Ustadz Muding, tokoh masyarakat Kampung Nelayan mengatakan berterima kasih banyak atas donasi yang disalurkan oleh komunitas Gusdurian Banten tersebut.

"Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada kawan-kawan dari Jaringan Gusdurian. Karena dengan ini bisa membantu meringankan musibah yang masyarakat kami alami," pungkasnya. (Ahmad Kholiyi/Abdullah Alawi)


Bagikan:
Ahad 30 Desember 2018 22:50 WIB
Pergunu Kota Bandung Segera Laksanakan Program Strategis
Pergunu Kota Bandung Segera Laksanakan Program Strategis
Pergunu Kota Bandung
Bandung, NU Online
Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kota Bandung melaksanakan rapat akhir tahun 2018 di Lt 2 Ruang Rapat Kantor PWNU Jawa Barat Jl Terusan Galunggung No 9 Bandung, Sabtu (29/12).

Agenda rapat yakni pembahasan program strategis seperti penyegaran tubuh organisasi, pembentukan pengurus tingkat kecamatan, persiapan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU), pembuatan KTA Pergunu, pembentukan MGMP Pergunu, dan Rapat Kerja (Raker).

Enjang Sunandar Ketua Pimpinan Cabang Pergunu  Kota Bandung berharap agar kondisi Pergunu Kota Bandung agar bisa lebih baik lagi ke depannya. 

"Kita bersama memajukan Pergunu di Kota Bandung dengan penuh semangat dan komitmen, agar Pergunu lebih baik lagi dan terasa manfaatnya oleh guru-guru di Kota Bandung" tutur Enjang Sunandar.

Dalam kesempatan itu juga ada penyegaran dalam tubuh organisasi yang semula Rifa Anggyana Wakil Sekretaris ditetapkan sebagai Sekretaris PC Pergunu Kota Bandung. 

Lebih lanjut Enjang Sunandar mengatakan bahwa Untuk penyegaran struktur pengurus PC Pergunu Kota Bandung akan dilaksanakan setelah kegiatan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) sekaligus Raker pada Bulan Januari 2019.

Sementara itu, H. Saepuloh Ketua Pimpinan Wilayah Pergunu Jawa Barat memaparkan tantangan yang sangat berat bagi guru dalam proses pembelajaran di era digital.

"Di era digital ini, tantangan guru menjadi sangat berat, sehingga guru dituntut untuk menguasai dan memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran," tutur Saepuloh.

Oleh karena itu, Saepuloh berharap Pergunu Kota Bandung agar dapat membantu guru-guru NU dalam upaya peningkatan kompetensi dan kualitas pembelajaran. (Red: Fathoni)
Ahad 30 Desember 2018 22:30 WIB
Masuk Ansor dan Banser Bukan Sekadar untuk Gagah-gagahan
Masuk Ansor dan Banser Bukan Sekadar untuk Gagah-gagahan
Jepara, NU Online
Sebanyak 80 peserta yang berasal dari Jepara, Demak, dan Boyolali mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) yang diadakan GP Ansor Kecamatan Welahan, Jepara berlangsung di  Pesantren At-Taqie Desa Kalipucang Kulon Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Jumat-Ahad (28-30/12). 

Dalam kegiatan yang berlangsung 3 hari puluhan peserta itu mendapatkan materi di antaranya ke-NU-an, keaswajaan, keorganisasian, kewirausahaan, analisis SWOT, PBB, kebanseran, IT, dan administrasi.

Ketua PAC GP Ansor Welahan, M. Anis Fahmi mengatakan dengan kegiatan PKD dan Diklatsar tujuannya untuk memperoleh kader yang militan dan berkualitas.

"Sehingga jadi Ansor dan Banser bukan hanya sekadar gagah-gagahan," katanya, Ahad (30/12). 

Anis melanjutkan Ansor Banser sebagai kader muda NU harus siap terjun  di masyarakat mengawal kiai dalam berdakwah dan mempertahankan NKRI dari oknum warga negara yang ingin mengganti Pancasila dengan Khilafah. "Bagi NU dan Ansor Pancasila sudah final," tandasnya. 

Hadir dalam pembukaan PKD dan Diklatsar, Jumat (28/12) Muspika Welahan (Camat, Polsek, Danramil), MWCNU dan PCNU serta shahibul ma'had KH Nur Kholis. 

KH Hayatun Abdullah Hadziq dalam sambutannya mengungkapkan kaderisasi di lingkup NU harus massif. 

"Pelatihan terkait NU dan organisasi harus diadakan. Ke depannya yang mengisi pengurus NU benar-benar mengerti dan paham betul karena yang di Ansor harus siap jadi pengurus NU di masa mendatang. Sehingga kaderisasi di NU terlaksana dengan baik," pungkas kiai yang kerap disapa Mbah Yatun ini. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)
Ahad 30 Desember 2018 22:15 WIB
Ketua Ishari NU Jatim Bertekad Lestarikan Budaya Ulama Nusantara
Ketua Ishari NU Jatim Bertekad Lestarikan Budaya Ulama Nusantara
Malang, NU Online
Dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) NU Jawa Timur menetapkan KH Mahmud al-Husori sebagai Rais Majelis Hadi dan Kiai M Nuruddin untuk Ketua Tanfidzi. 

Ketua terpilih mengajak semua pihak bersama membangun Ishari NU Jatim. “Karena Ishari NU Jatim menjadi barometer Ishari secara nasional,” kata Kiai M Nuruddin, Sabtu (29/12). 

Dalam pandangannya, Ishari adalah badan otonom atau banom NU termuda. “Ishari resmi menjadi banom pada Muktamar ke-33 NU di Jombang,” jelasnya. 

Dirinya juga menginisiasi musyawarah tingkat nasional sehingga Ishari memiliki Rais Majelis Hadi dan Ketua Umum di tingkat pusat. “Maka dari itu Ishari NU Jatim menjadi percontohan skala nasional,” kata Kiai Nuruddin setelah ditetapkan sebagai Ketua Tanfidzi di Pesantren Sunan Kalijogo, Malang.

Dalam lima tahun masa khidmatnya yakni dari 2018 hingga 2023, Kiai Nuruddin akan terus merajut ukhuwah dalam kemandirian jamiyah. Ishari NU Jatim ke depan akan berdiri dengan kaki sendiri dan terus memberikan kemanfaatan kepada anggota Ishari.

“Kami bertekad akan menjadi banom NU seperti lainnya, meskipun kami masih baru,” tegasnya.

Selain itu, Kiai Nuruddin memiliki keinginan memperjuangkan Ishari sebagai budaya Jawa Timur. “Kalau di Aceh bangga dengan tarian saman, maka Jawa Timur juga punya Ishari yakni perbaduan hadrah dengan seni akan menjadi budaya khas nusantara,” jelasnya. 

Dirinya mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur bahwa Ishari adalah budaya asli Jawa Timur sehingga bisa mendapatkan pengakuan. “Tidak hanya pengakuan, Jawa Timur akan bershalawat setiap saat bersama Ishari,” urai Kiai Nuruddin. 

Selain itu, dirinya akan terus menggalakkan demi melestarikan budaya warisan ulama nusantara tersebut. Awalnya bacaan shalawat yang dibingkai dengan seni ini menjadi perekat bagi masyarakat. “Memang Ishari ini dalam membaca shalawat terlihat biasa, tapi kalau sudah diresapi akan terhanyut dalam bacaannya. Inilah nantinya yang akan kami teruskan kepada generasi muda,” tuturnya.

Ia mengakui, membaca shalawat dengan paduan antara Jawa dan Timur Tengah ini memang sulit, khususnya bagi mereka yang tidak memahami. “Tugas kami memberikan pemahaman kepada anak muda membaca shalwat dengan perpaduan Jawa dan Timur Tengah,” tutupnya. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG