IMG-LOGO
Trending Now:
Internasional

Di Hadapan Tokoh Politik Eropa, Gus Yahya Sampaikan Solusi atas Krisis Dunia

Ahad 30 Desember 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Di Hadapan Tokoh Politik Eropa, Gus Yahya Sampaikan Solusi atas Krisis Dunia
Gus Yahya (ketiga dari kiri). Foto: Istimewa
Ljubljana, NU Online
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya diundang untuk menjadi salah satu pembicara dalam diskusi panel di di Ljubljana, ibu kota Slovenia, pada Senin 17 Desember lalu. 

Diskusi yang mengangkat topik 'Migrasi, Terorisme, dan Kebebasan Berbicara’ itu juga menghadirkan sejumlah narasumber lainnya. Yaitu mantan Perdana Menteri Slovenia dan Ketua Partai Demokrasi Slovenia (SDS) Janez Jansa, Ketua Partai Rakyat Slovenia (SLS) Marjan Podobnik, Presiden VSO Aleš Hoys, Pakar dalam masalah keamanan Bostjan Perne, dan Iván Calabuig dari The Asimetric Group, Vienna. Hadir pula dalam forum diskusi itu tokoh-tokoh politik dari berbagai negara di Eropa. 

Dalam diskusi tersebut, Gus Yahya mengatakan bahwa Eropa –secara khusus- dan dunia –secara umum- tengah menghadapi krisis yang bertumpuk-tumpuk. Mulai dari banyaknya pengungsi dan pencari suaka, ancaman terorisme, hingga radikalisme atas nama agama kini menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Eropa dan dunia. 

“Norma sekularisme mengungkung masyarakat Eropa dengan rambu-rambu ‘political correctness’ (kepantasan politik) untuk tidak menyentuh soal-soal agama sehingga nyaris tidak ada lagi kebebasan berbicara dalam wacana publik tentang soal-soal ini,” jelas Gus Yahya.

Gus Yahya lantas menegaskan, krisis yang tengah menimpa negara-negara Eropa dan dunia tersebut merupakan tumpahan (spill over) dari kekacauan dunia Islam. Dimana negara-negara yang mayoritas berpenduduk Islam seperti Pakistan, Afghanistan, Suriah, Libya, Irak, dan lainnya masih terus bergolak hingga hari ini. 

Dia menjelaskan, untuk mencari solusi atas krisis tersebut maka peran dan pengaruh agama Islam sebagai ‘akar masalah’ harus dibedah. “Tidak mungkin mengatasi krisis di Eropa terkait hal ini kecuali dengan sekaligus mencapai jalan keluar dari kemelut dunia Islam,” ucapnya.

Terkait dengan pertentangan dan perdebatan krisis tersebut, Gus Yahya menyarankan agar orang Eropa memikirkan bagaimana mereka secara keseluruhan dapat selamat sebagai satu keutuhan dan tidak ikut tertulari oleh kekacauan yang tumpah dari Timur Tengah dan dunia Islam.

“Dalai Lama mengatakan: “Europe for Europeans”, tanah Eropa adalah haknya orang Eropa, maka yang harus diupayakan adalah mengatasi masalah di wilayah-wilayah asal sehingga orang-orang tidak lagi ingin lari dari sana dan yang sudah mengungsi bisa pulang,” jelasnya. 

“Saya katakan “Europeans for Europe”, seluruh masyarakat Eropa harus berkonsolidasi dengan mengesampingkan segala persaingan politik, demi keselamatan Eropa sebagai satu keutuhan dan itulah yang sedang kami perjuangkan pula ditengah bangsa Indonesia untuk keselamatan Indonesia,” paparnya.

Gus Yahya menegaskan, tidak ada solusi terbatas atas krisis tersebut. Misalnya solusi untuk Timur Tengah atau solusi untuk Eropa saja. Satu-satunya solusi adalah bagaimana seluruh masyarakat dunia mengupayakan solusi menyeluruh melalui konsolidasi global yang kokoh.

“Karena masalah ini telah menjelma menjadi krisis peradaban dunia, dengan ramifikasi (turunan dan dampak langsung tak langsung) pada hampir semua masalah ekonomi-politik dunia,” jelasnya.

Diwawancarai ‘Tednik Demokracija’

Setelah acara diskusi selesai, Gus Yahya diwawancarai ‘Tednik Demokracija’, sebuah majalah politik mingguan Slovenia. Dalam sesi wawancara yang berlangsung selama dua jam itu, Gus Yahya juga menyampaikan bagaimana Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi menuju solusi.

Gus Yahya kemudian menyinggung soal Islam Nusantara. Menurutnya, Islam Nusantara merupakan model peradaban Islam yang unik dengan karakter yang secara fundamental, berbeda dengan model peradaban Timur Tengah, anak benua Eropa (Turki), Afrika, dan Asia Tengah dan Selatan (Bukhara, Pakistan, dan Bangladesh).

Gus Yahya yakin, Islam Nusantara dapat menjadi rujukan alternatif untuk membangun peradaban Islam yang lebih mendorong harmoni di tengah heterogenitas masyarakat dunia saat ini.

Di samping itu, Gus Yahya juga membicarakan soal Pancasila dan Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945. Keduanya merupakan konsensus dari semua agama dan ideologi besar dunia dengan menyatukan unsur-unsur idealisme tentang kemuliaan peradaban dari masing-masing agama dan ideologi yang ada. 

“Sehingga formatnya dapat menjadi rujukan bagi cita-cita peradaban masa depan bagi seluruh umat manusia,” tukasnya. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Jumat 28 Desember 2018 23:30 WIB
Krisis Yaman: Ribuan Orang Tewas, Jutaan Lainnya Mengungsi dan Kelaparan
Krisis Yaman: Ribuan Orang Tewas, Jutaan Lainnya Mengungsi dan Kelaparan
Anak-anak Yaman sedang menukarkan kupon makanan. Foto: Hani Mohammed/AP
Sana’a, NU Online
Yaman didera perang sejak 2014 silam. Sejak saat itu, kehidupan di Yaman menjadi kacau balau. Ribuan orang meninggal. Jutaan orang meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi. Puluhan juta lainnya tengah menghadapi kerawanan makanan. 

UNICEF, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah anak-anak, mencatat, lebih dari tujuh juta anak-anak Yaman tengah menghadapi rawan pangan, dibandingkan dengan ancaman langsung kelaparan. Sementara jutaan anak Yaman lainnya mengalami kekurangan gizi.

“Hari ini, 1,8 juta anak-anak di bawah usia lima tahun menghadapi kekurangan gizi akut, dan 400.000 dipengaruhi oleh gizi buruk akut,” kata Direktur regional UNICEF Geert Cappelaere, dikutip dari laman AFP, Jumat (2/11).

Data yang sama juga disampaikan PBB melalui World Food Program (WFP). Dilaporkan bahwa ada sekitar 12 juta penduduk Yaman tengah menghadapi bencana kelaparan. Data ini membuat krisis yang terjadi di Yaman menjadi yang terparah di dunia.

“Saat ini Yaman tengah menghadapi krisis kelaparan terparah di dunia, di mana hampir 18 juta orang di seluruh penjuru negeri bahkan tak tahu-menahu bagaimana mereka akan mendapatkan makanan selanjutnya," kata juru bicara WFP Herve Verhoosel, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (17/10).

Lebih miris lagi, Perwakilan UNICEF di Yaman Meritxell Relano mengungkapkan, dari total populasi Yaman yang mencapai 28 juta jiwa, 22 juta orang tergantung dengan bantuan luar. Sementara 8,4 juta orang diyakini tengah berada di ambang kelaparan.
Krisis kemanusian di Yaman tersebut disebabkan perang yang tak kunjung selesai, blokade –barang, makanan, dan lainnya ke dan dari Yaman, dan sanksi yang dikenakan –oleh pihak-pihak yang tengah bertikai- kepada penduduk sipil Yaman.   

Sebetulnya, Yaman memiliki tanah yang subur. Berbagai macam tanaman, biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, dan lainnya tumbuh di sana. Begitu pun dengan sektor peternakan. Banyak produk yang dihasilkan mulai dari unggas hingga unta. Namun akibat perang, semuanya menjadi terkendala. 

Krisis kemanusiaan yang melanda Yaman selama empat tahun lebih itu juga telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang. Sementara dua ribu orang meninggal akibat wabah kolera yang melanda wilayah Yaman. Tidak lain, wabah kolera dipicu kurangnya air bersih. Sementara kekurangan air bersih disebabkan air tanah yang terkuras dan kerusakan infrastruktur.

Ribuan sekolah hancur

Berbagai macam fasilitas umum seperti rumah sakit, bandara, pelabuhan, pasar, hingga sekolah juga rusak. Menurut laporan UNESCO, ada sekitar 2.500 sekolah di Yaman yang rusak dan hancur semenjak perang meletus. Akibatnya, sedikitnya dua juta anak Yaman putus sekolah.   

Keadaan seperti itu tidak membuat sebagian warga Yaman berhenti untuk menyediakan akses pendidikan ke anak-anaknya. Seorang guru Yaman Adel al-Shorbagy mengubah rumahnya di kota Taiz menjadi ‘sekolah dadakan’ bagi ratusan anak Yaman korban perang. Setiap harinya, sekitar 700 anak Yaman mengantri di luar rumahnya untuk menunggu gilirannya diajar.  

Pada tahun pertama, ada sekitar 500 anak-anak Yaman –baik laki-laki maupun perempuan- yang berusia antara enam hingga 15 tahun yang mendaftar untuk sekolah di rumah al-Shorbagy.

“Kami membuka gedung ini sebagai inisiatif masyarakat. Itu adalah tugas nasional dan kemanusiaan saya terhadap lingkungan saya,” kata al-Shorbagy, dikutip lama Reuters, Ahad (30/10).

Fasilitas yang ada di dalam rumah al-Shorbagy begitu sederhana. Dinding dari bata, jendela lebar, papan tulis kecil, dan tirai robek untuk membagi ruang kelas satu dengan lainnya. Ruangannya pun sempit untuk menampung semua sekitar 700 anak. Bahkan hampir tidak ada ruang untuk bergerak.

Total, ada 16 guru sukarelawan yang mengajar di rumah al-Shorbagy. Untuk kurikulum, al-Shorbagy mengikuti kurikulum Yaman sebelum perang. Sehingga ia juga menyelenggarakan kelas matematika, sains, dan bahasa Inggris.

Mengapa dunia bungkam?

Perang Yaman telah mengakibatkan ribuan orang meninggal, jutaan orang lainnya mengungsi dan kelaparan, namun mengapa dunia –khususnya negara-negara Islam- bungkam?

Direktur Indonesian Muslim Crisis Center, Robi Sugara, mengemukakan, ada tiga alasan atau faktor mengapa masyarakat Muslim saat ini tidak bersuara atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Yaman.

Pertama, isu perdamaian dan kemanusiaan belum populer di kalangan Muslim. Hal ini berdampak pada pandangan mereka yang melihat konflik hanya dari sisi Muslim dan non-Muslimnya, bukan dari sisi kemanusiaannya.

“Kenapa di Myanmar berisik sekali karena pelaku kekerasannya non-Muslim. Kenapa di Palestina berisik karena aktornya non-Muslim,” kata Robi, Selasa (10/1).

Kedua, konflik antaraliran dalam suatu agama dianggap sebagai perselisihan biasa. Sebab itulah, Yaman tak dipedulikan oleh dunia. Konflik yang terlihat di negara tersebut adalah konflik Sunni dan Syiah, konflik dalam agama. Hal ini yang tidak menarik mata dunia untuk melihatnya.

“Ketika Muslim saling berantem gitu, saling bunuh-bunuhan misalkan, itu dianggap sebagai sebuah perselisihan,” katanya.

Ketiga, diamnya Muslim dunia atas konflik Yaman adalah karena posisi Sunni sebagai pihak yang menyerang Syiah atau posisi Syiah sebagai pihak yang tertekan. 

“Yaman seakan respons dari Suriah. Di Suriah kenapa ramai, karena masyarakat Indonesia umumnya Muslim Sunni. Narasi yang dikembangkan adalah Sunni dibantai oleh Syiah. Itu yang dinarasikan sehingga timbul kepedulian,” jelasnya. (Red: Muchlishon)
Jumat 28 Desember 2018 14:0 WIB
Kilas 2018: Jamal Khashoggi Dibunuh, Saudi Rombak Kabinet
Kilas 2018: Jamal Khashoggi Dibunuh, Saudi Rombak Kabinet
Foto: Jamali/AP
Jakarta, NU Online
Pembunuhan Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu menjadi salah satu pembicaraan dunia internasional yang ‘paling hangat’ sepanjang 2018. Pada saat itu, Khashoggi datang ke Konsulat Saudi di Istanbul pada siang hari untuk mengurus dokumen pernikahannya. Namun, hingga sore hari ia tidak kunjung keluar.

Hatice Cengiz, tunangan Khashoggi, yang menunggu di luar Konsulat bertanya kepada para penjaga keamanan Konsulat Saudi, namun mereka mengatakan kalau Khashoggi sudah keluar beberapa jam setelah memasuki Konsulat. Sejak saat itu, Khashoggi dinyatakan ‘hilang’. Dan beberapa saat setelahnya, ada kabar kalau Khashoggi dibunuh.

Profil Khashoggi

Khashoggi adalah salah satu dari jurnalis dan komentator politik Arab Saudi yang paling terkemuka. Khashogi pernah dekat dengan Kerajaan Arab Saudi. Ia merupakan mantan penasihat penasihat media untuk Pangeran Turki bin Faisal.

Khashoggi pernah kuliah jurnalisme di Universitas Indiana. Ia pernah berkarir di beberapa media dan surat kabar seperti Saudi Gazette, kabar Asharq Al-Awsat, Al-Wathan, dan Al-Arab.   

Kritis terhadap kebijakan Kerajaan

Khashoggi dikenal sangat kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Saudi. Diantaranya soal intervensi Saudi pada konflik yang terjadi di Yaman, penangkapan para aktivis dan ulama Saudi, kebebasan berpendapat, dan Ikhwanul Muslimin yang dinilai sebagai organisasi teroris.

Ia menyuarakan kritik-kritiknya terhadap pemerintah Saudi melalui beberapa tulisan. Dia menulis di banyak media, salah satunya di The New York Times. Khashoggi kemudian mengasingkan diri ke Amerika Serikat untuk menghindari penangkapan dari pihak Kerajaan Saudi atas segala komentar kritisnya. 

Dibunuh di Istanbul

Pihak Turki menyatakan, Jamal Khashoggi telah dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul. Salah satu pejabat Turki menyebut kalau Khashoggi meninggal dibunuh oleh 15 orang agen khusus Saudi di dalam Kedutaan Saudi di Istanbul. Dia juga mengatakan, pembunuhan Khashoggi telah direncanakan.

“Dia telah dibunuh dan tubuhnya dipotong-potong,” kata Kepala Asosiasi Media Arab-Turki, Turan Kislakci, dilansir The New York Times, Ahad (7/10). 

Saudi menyangkal

Konsul Jenderal (Konjen) Arab Saudi di Istanbul, Turki, Mohammad Al-Otaibi membantah tuduhan Turki tersebut bahwa Khashoggi dibunuh di dalam Konsulat Saudi. Dia mengatakan, Khashoggi langsung keluar gedung Kedutaan selepas menyelesaikan urusannya pada hari itu juga, Selasa 2 Oktober.

“Saya juga ingin mengonfirmasi bahwa Jamal tidak ada di konsulat maupun di Kerajaan Arab Saudi, dan pihak Konsulat juga Kedutaan Besar berupaya untuk mencarinya,” kata Al-Otaibi, dikutip dari laman Arab News, Senin (8/10).

Khashoggi dibunuh atas permintaan ‘pimpinan tertinggi’ Saudi

Setelah melakukan serangkain penyelidikan, seorang pejabat senior di Otoritas Keamanan Turki menyimpulkan bahwa Khashoggi dibunuh atas permintaan ‘pimpinan tertinggi’ Saudi. Pembunuhan Khashoggi dilakukan oleh agen khusus Saudi dengan cepat, dua jam setelah ia memasuki gedung Konsulat.

“Ini seperti Pulp Fiction,” kata pejabat tersebut menggambarkan peristiwa pembunuhan Jamal Khashoggi dengan film kriminal Amerika Serikat yang tayang pada 1994 tersebut, dilansir The NewYork Times, Rabu (10/10).

Dilaporkan bahwa Khashoggi dibunuh 15 orang agen khusus Saudi yang datang tepat pada hari dimana sang jurnalis hilang. Beberapa jam kemudian, 15 agen khusus Saudi tersebut meninggalkan gedung Konsulat Saudi. Disebutkan bahwa mereka berasal dari dinas keamanan Saudi.

Kedatanangan den kepergian 15 agen Saudi

Merujuk Sabah –surat kabar berbahasa Turki- sebagaimana dilaporkan Reuters, Rabu (10/10), 15 agen Saudi itu tiba di Turki pada 2 Oktober dengan menggunakan jet sewaan milik Sky Prime Aviation, sebuah maskapai untuk pesawat sewaan yang bermarkas di Riyadh.

Diberitakan bahwa 15 agen Saudi tersebut menginap di dua hotel yang terpisah, meski demikian letaknya berdekatan dengan gedung Konsulat Saudi di Istanbul. Sembilan orang menginap di Hotel Movenpick, sementara sisanya tidur di Hotel Wyndham Grand. 

Mereka terlihat meninggalkan gedung Konsulat beberapa jam setelah Jamal Khashoggi masuk ke dalam gedung. Saat meninggalkan Turki, mereka juga menggunakan pesawat yang sama, dengan penerbangan Sky Prime Aviation, dengan empat jadwal penerbangan yang berbeda. 

Kontra-narasi

Tunangan Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz, mengaku heran dengan kontra narasi yang berkembang terkait kasus Khashoggi. Misalnya narasi yang meragukan kalau Jamal Khashoggi benar-benar masuk gedung Konsulat Saudi di Istanbul. Hatice menuduh, kontra narasi dan fitnah yang dialamatkan kepada dirinya dilakukan oleh media-media yang didukung Kerajaan Saudi. 

“Hal ini tentu sangat menyedihkan. Respons seperti ini sendiri menunjukkan bahwa ada banyak kecurigaan soal kasus ini,” kata Hatice, kantor berita Turki, Anadolu Agency, Kamis (11/10).

Mendagri Saudi bantah keterlibatan ‘pimpinan Saudi’

Kasus ‘pembunuhan’ membuat banyak spekulasi, salah satunya adalah tuduhan bahwa ‘pimpinan Saudi’ terlibat dalam operasi ‘pembunuhan’ Khashoggi.

Menteri Dalam Negeri Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Saud bin Naif bin Abdulaziz, membantah secara tegas bahwa Jamal Khashoggi dibunuh atas perintah ‘pimpinan Saudi’ di dalam gedung Konsulat. Baginya, tuduhan tersebut adalah sebuah hal yang tidak benar dan tidak berdasar. Demikian kata Pangeran Abdulaziz bin Saud sebagaimana diberitakan kantor berita Saudi, SPA, Sabtu (13/10). 

Konjen Saudi dicopot

Konsul Jenderal Arab Saudi di Istanbul Turki Muhammad al-Otaibi dicopot dari jabatannya. Rencananya, ia juga akan diselidiki dan dimintai keterangan perihal hilangnya jurnalis asal Saudi, Jamal Khashoggi (59), yang hilang di Konsulat pada 2 Oktober lalu.

Pencopotan al-Otaibi tersebut diberitakan oleh surat kabar daring Saudi, Sabq, sebagaimana dilaporkan media Turki, Hurriyet Daily, Kamis (18/10). Al-Otaibi dicopot saat dia tengah berada di Saudi. Buntut dari kasus Khashoggi ini, Saudi juga memecat penasihat Kerajaan al-Qahtani dan wakil kepala intelijen Ahmed al-Asiri.

Boikot konferensi investasi di Saudi

Para bos perusahaan besar dan pejabat asing secara berjamaah membatalkan keikutsertaannya dalam acara konferensi investasi yang akan digelar di Riyadh Arab Saudi pada 23-25 Oktober.

Pejabat yang memboikot acara konferensi investasi di Saudi diantaranya Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde dan Menteri Perekonomian Prancis Bruno Le Maire.

“Saya tak akan pergi ke Riyadh pekan depan," tegasnya pada saluran televisi Prancis, Public Senat TV, dilansir Press TV, Kamis (18/10).

Sementara para bos perusahaan besar yang tidak hadir dalam acara tersebut adalah CEO MasterCard Ajay Banga, bos HSBC John Flint, dan CEO Credit Suisse Tidjane Thiam. Kemudian ada CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon, CEO London Stock Exchange David Schwimmer, bos BNP Paribas Jean Lemierre, CEO Uber Dara Khosrowshahi, bos Ford Bill Ford, dan miliarder Inggris Richard Branson. 

Tidak hanya para bos dan pejabat, beberapa media internasional seperti The New York Times, CNBC dan Financial Times, CNN, Bloomberg, dan The Economist yang memboikot agenda konferensi tersebut. Mereka menarik eksekutif atau jurnalisnya yang seharusnya bertugas di acara tersebut.

Saudi akui Khashoggi terbunuh

Otoritas Saudi mengakui bahwa Jamal Khashoggi meninggal di Konsulat setelah terlibat perkelahian. Namun demikian, Saudi tidak menyebutkan dimana jenazah Jamal Khashoggi saat ini.

Jaksa Agung Saudi Sheikh Saud al-Mojeb mengatakan, Jamal Khashoggi tewas setelah ‘diskusi’ dengan orang-orang di Konsulat. Namun diskusi tersebut berubah menjadi pertengkaran. 

“Investigasi masih terus berlangsung dan 18 warga Saudi telah ditangkap," kata al-Mojeb, dilansir laman Aljazeera, Sabtu (20/10), sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Kerajaan, SPA.

Mencari jenazah Khashoggi

Saudi telah mengakui kalau Khashoggi terbunuh di dalam Konsulat. Namun, hingga hari ini jenazah tidak diketahui dimana. Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir mengatakan, pihaknya tidak mengetahui dimana jenazah Jamal Khashoggi. Ia menegaskan akan mengungkap kasus Jamal Khashoggi dan menghukum orang-orang yang terlibat.

"Kami tidak tahu di mana jenazahnya (Jamal Khashoggi). Kami bertekad untuk mengungkapkan semuanya. Kami bertekad untuk menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini,” kata Al-Jubeir kepada Fox News, sebagaimana dilansir Reuters, Senin (22/10).

Otoritas Turki menduga, jasad sang jurnalis dibuang ke dua lokasi yang dicurigai; kawasan hutan Belgrad di pinggir Istanbul atau pinggiran dekat kota Yalova, 90 kilometer sebelah selatan Istanbul.

Elite Saudi ramai-ramai ucapkan belasungkawa

para elite Saudi ramai-ramai mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Jamal Khashoggi yang ada di Jeddah. Dikutip laman Arab News, Senin (22/10), kantor berita resmi Kerajaan, SPA, melaporkan bahwa Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman menelepon anak laki-laki Jamal Khashoggi untuk menyampaikan simpatinya atas meninggalnya Jamal Khashoggi.

“Kami merasakan kepedihan mereka. Saya berharap hal ini tidak pernah terjadi dan seharusnya bisa dihindari. Namun sayangnya ada sebuah kesalahan besar yang terjadi. Saya pastikan mereka akan bertanggung jawab untuk kematian Khashoggi,” kata Menteri Luar Ngeri Saudi, Adel al-Jubeir, dikutip laman CNN, Senin (22/10).

Saudi akui pembunuhan Khashoggi terencana

Sebelumnya Saudi membantah pembunuhan Khashoggi. Bebera hari setelahnya, Saudi mengakui Khashoggi terbunuh di dalam Konsulat. Kemudian, Saudi mengakui kalau pembunuhan Khashoggi telah direncanakan. Demikian disampaikan Jaksa penuntut umum Arab Saudi.

“Investigasi masih terus berlangsung dan 18 warga Saudi telah ditangkap," kata Jaksa Agung Saudi Sheikh Saud al-Mojeb, dilansir laman Aljazeera, Sabtu (20/10), sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Kerajaan, SPA.

Turki-Saudi rebutan mengadili tersangka pembunuh Khashoggi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan agar Saudi mengekstradisi para tersangka dalam pembunuhan Jamal ke Turki. Menurutnya, para tersangka tersebut harus dihukum atas tidak kriminal yang terjadi di Turki.

“Insiden ini terjadi di Istanbul. Jadi, serahkan mereka (para tersangka) kepada kami dan biarkan kami mengadili mereka," tegas Erdogan, dikutip laman Reuters, Sabtu (27/10).

Sementara, Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir menegaskan kalau para tersangka pembunuhan Jamal Khashoggi akan diadili di Saudi. 

“Untuk isu ekstradisi, para individu-individu ini merupakan warga negara Saudi. Mereka ditahan di Arab Saudi dan penyelidikannya di Arab Saudi dan mereka akan diadili di Arab Saudi," tegas Al-Jubeir, dilansir AFP, Sabtu (27/10).

Inggris tahu operasi pembunuhan Khashoggi

Intelijen Inggris, MI6, dilaporkan mengetahui adanya rencana pembunuhan Jamal Khashoggi. Disebutkan,Inggris mengetahui hal itu beberapa pekan sebelum operasi tersebut dilaksanakan di Konsulat di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu. Pihak intelijen Inggris mengetahui operasi tersebut pada pekan pertama September. Inggris juga dikabarkan mencegah operasi tersebut, namun tidak dihiraukan Saudi.

Laporan tersebut diberitakan sebuah tabloid di Inggris, The Sunday Express, via kantor berita Anadolu dan Hurriyet, Senin (29/10). Laporan tersebut ditulis oleh Marco Giannangeli.

Jenazah Khashoggi, dimutilasi dan dilarutkan

Sebuah media propemerintahan Turki, Sabah, sebagaimana dikutip laman Aljazeera, Senin (5/11), melaporkan bahwa jenazah Jama Khashoggi dimutilasi. Kemudian potongan-potongan tubuhnya ditempatkan di lima koper berbeda. 

Koper-koper yang diduga berisi potongan tubuh Jamal Khashoggi tersebut dibawa dari gedung Konsulat Saudi di Istanbul ke rumah dinas Konsul Jenderal (Konjen) Saudi pada 2 Oktober, hari dimana Khashoggi terbunuh. Jarak antara gedung Konsulat dan rumah Konjen Saudi hanya berjarak sekitar 200-an meter.

Dikabarkan juga kalau jenazah Jamal Khashoggi dibuang ke pipa saluran usai dibunuh dan dilarutkan dengan zat asam. Laporan ini diturunkan media propemerintahan Turki, Sabah, sebagaimana dikutip AFP, Sabtu (10/11).

Sabah menyatakan kalau ada zat asam di pipa-pipa saluran di komplek Konsulat Saudi. Zat asam tersebut ditemukan dari sampel yang diambil dari pipa-pipa tersebut. Sebelumnya, tim penyelidik Turki juga menduga kalau jenazah Jamal Khashoggi dilarutkan sehingga menjadi cairan dan dibuang ke pipa-pipa.

Saudi akui jenazah Khashoggi dimutilasi

Wakil Jaksa Penuntut Umum dan juru bicara kantor jaksa Saudi, Shaalan al-Shaalan, mengatakan kalau Jamal Khashoggi tewas setelah disuntik bius dengan dosis mematikan di gedung Konsulat Saudi di Istanbul Turki pada 2 Oktober lalu. 

Tidak hanya itu, Shaalan juga menyebutkan kalau jenazah Jamal Khashoggi dimutilasi, setelah dibunuh. Kemudian jenazahnya dibawa keluar dari gedung Konsulat. Demikian laporan terbaru sebagaimana yang diberitakan Reuters, Kamis (15/11). Shaalan menambahkan, potongan-potongan tubuh Jamal Khashoggi lalu diserahkan kepada agen lokal Turki di luar halaman Konsulat.

Shalat ghaib untuk Khashoggi digelar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Shalat ghaib untuk Khashoggi digelar di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah. Di Masjid Nabawi, shalat ghaib untuk Jamal Khashoggi diadakan pada waktu subuh. Salah Khashoggi, anak dari Jamal Khashoggi, hadir dalam shalat di Masjid Nabawi tersebut.

Sementara, di Masjidil Haram shalat ghaib untuk Jamal diselenggarakan setalah Shalat Jumat. Tidak hanya itu, shalat ghaib juga digelar di Masjid Fatih Istanbul Turki, kota dimana Jamal Khashoggi dihabisi. Demikian dilaporkan Aljazeera, Jumat (16/11).

CIA: MBS 'dalang' pembunuhan Khashoggi

Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat, CIA, melaporkan kalau Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman adalah orang yang memerintahkan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Seorang pejabat anonim CIA mengemukakan, perintah pembunuhan Jamal Khashoggi datang langsung dari Putra Mahkota Saudi. Demikian laporan yang diberitakan The New York Times, Sabtu (17/11). CIA juga menyimpulkan kalau pembunuhan Jamal Khashoggi tidak akan terjadi tanpa persetujuan dari Muhammad bin Salman. Mengapa? Karena Muhammad bin Salman adalah orang memiliki kekuasaan yang besar atas Saudi.

CIA mengungkapkan kesimpulan tersebut setelah meneliti berbagai data intelijen. Diantaranya sadapan percakapan telepon antara Jamal Khashoggi dan Khalid bin Salman, adik Muhammad bin Salman yang merupakan Dubes Saudi untuk AS. 


Sean Penn buat film pembunuhan Khashoggi

Seorang aktor Hollywood dan aktivis Sean Penn dilaporkan tengah membuat film dokumenter tentang pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi, yang dibunuh di Kedutaan Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Sebagaimana diberitakan kantor berita Anadolu dan Aljazeera Penn bersama dengan 10 orang timnya, termasuk pengawalnya, datang ke Konsulat Saudi untuk syuting pada Rabu (5/12). Penn dan timnya juga terlihat di depan rumah resmi Konsul Jenderal Saudi.

Film dokomenter yang dibuat Penn ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran publik internasional terkait pembunuhan Jamal Khashoggi.

Raja Salman rombak kabinet

Raja Salman merombak kabinet Kerajaan Arab Saudi secara besar-besaran. Pada Selasa (25/12), Raja Salman mengangkat mantan menteri keuangan, Ibrahim al-Assaf, untuk menjadi untuk menjadi menteri luar negeri yang baru, menggantikan Adel al-Jubeir.

Sebagaimana laporan Reuters, Jumat (28/12), pergantian menteri luar negeri itu dimaksudkan untuk memperbaiki citra Arab Saudi setelah tercoreng kasus pembunuhan Jamal Khashoggi dan kebijakan Saudi terhadap Perang Yaman. 

Raja Salman juga menunjuk Pangeran Abdullah bin Bandar bin Abzulaziz untuk menjadi Kepala Garda Nasional, menggantikan Pangeran Miteb bin Abdullah. Sementara Jenderal Kalid bin Qirar al-Harbi diangkat menjadi kepala keamanan umum dan Musaed al-Aiban ditunjuk sebagai penasihat keamanan nasional.  

Sebelumnya, Saudi mengumumkan pembentukan tiga badan pemerintah baru pada 20 Desember lalu. Ketiga badan pemerintah baru tersebut adalah yakni, strategi dan pengembangan, urusan legal dan hukum, serta evaluasi operasional dan internal. 

Tiga departemen ini bertugas untuk menyesuaikan keamanan kebijakan nasional, regulasi HAM, dan hukum internasional. Disinyalir, perombakan di badan intelijen Arab Saudi dilakukan setelah kasus pembunuhan Jamal Khashoggi terungkap. (Red: Muchlishon)
Jumat 28 Desember 2018 11:0 WIB
Raja Salman Rombak Kabinet untuk Perbaiki Citra Arab Saudi
Raja Salman Rombak Kabinet untuk Perbaiki Citra Arab Saudi
Foto: arabianbusiness
Riyadh, NU Online
Raja Salman merombak kabinet Kerajaan Arab Saudi secara besar-besaran. Pada Selasa (25/12), Raja Salman mengangkat mantan menteri keuangan, Ibrahim al-Assaf, untuk menjadi untuk menjadi menteri luar negeri yang baru. Dengan demikian, al-Assaf menggantikan Adel al-Jubeir yang sebelumnya menduduki posisi menteri luar negeri Saudi.   

Al-Assaf adalah mantan menteri keuangan Saudi yang menjabat selama 20 tahun. Ia juga pernah mewakili Saudi di Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank). 

Sebagaimana laporan Reuters, Jumat (28/12), pergantian menteri luar negeri itu dimaksudkan untuk memperbaiki citra Arab Saudi setelah tercoreng kasus pembunuhan Jamal Khashoggi dan kebijakan Saudi terhadap Perang Yaman. 

Sebagaimana diketahui, Saudi mendapatkan tekanan dari dunia internasional secara bertubi-tubi setelah kasus pembunuhan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul 2 Oktober lalu. Khashoggi adalah jurnalis asal Saudi yang kritis terhadap kebijakan yang dikeluarkan Saudi seperti keterlibatan Saudi di Yaman, penangkapan sejumlah aktivis, dan lainnya.  

Konflik di Yaman juga menyebabkan Saudi mendapatkan ‘tekanan’ dunia internasional. Krisis kemanusiaan dengan korban jutaan orang yang terjadi di Yaman membuat dunia meragukan kredibilitas koalisi Arab yang dipimpin Saudi. 

Raja Salman juga menunjuk Pangeran Abdullah bin Bandar bin Abzulaziz untuk menjadi Kepala Garda Nasional, menggantikan Pangeran Miteb bin Abdullah. Sementara Jenderal Kalid bin Qirar al-Harbi diangkat menjadi kepala keamanan umum dan Musaed al-Aiban ditunjuk sebagai penasihat keamanan nasional.  

Sebelumnya, Saudi mengumumkan pembentukan tiga badan pemerintah baru pada 20 Desember lalu. Ketiga badan pemerintah baru tersebut adalah yakni, strategi dan pengembangan, urusan legal dan hukum, serta evaluasi operasional dan internal. 

Tiga departemen ini bertugas untuk menyesuaikan keamanan kebijakan nasional, regulasi HAM, dan hukum internasional. Disinyalir, perombakan di badan intelijen Arab Saudi dilakukan setelah kasus pembunuhan Jamal Khashoggi terungkap. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG