IMG-LOGO
Cerpen

Punya Anak Perempuan Seperti Punya Warung?

Senin 31 Desember 2018 3:0 WIB
Bagikan:
Punya Anak Perempuan Seperti Punya Warung?
ilustrasi: harian.analisadaily.com
Oleh Abdullah Alawi

"Min, sekarang aku ingin anak perempuan, aku sudah bosan punya dua anak laki-laki," kata Jalu sambil membelai-belai perut Mimin, isterinya yang sedang hamil.

Mimin yang sedang menjahit pakaian yang dipesan tetangganya itu menghentikan kegiatannya. Meski dalam keadaan hamil, dia kebanjiran order, dan dia telus mengerjakannya. Lumayan menambah penghasilan, daripada mengandalkan hasil ngojek suaminya yang hasilnya tak seberapa, kadang juga tak membawa hasil.

"Kenapa?" tanya Mimin sambil mematikan stroom mesin jahit.

Jalu tidak menjawab. Dia terus membelai perut Mimin yang menggelembung seolah sedang bercakap dengan jabang bayi yang menghuni di dalamnya. Pikiran Jalu masih terpaut pada kata-kata mang Dasim ketika ngobrol di warung mang Kardi tadi pagi saat menunggu penumpang. 

"Sekarang kalau punya anak mendingan perempuan. Punya anak perempuan, berarti nantinya kita punya warung," kata mang Dasim. 

Jalu yang hendak minum kopi meletakkan kembali gelasnya di atas meja. "Kenapa?" tanyanya penasaran.

"Kalau sudah menjadi gadis, tiap malam minggu pemuda-pemuda datang. Apel! Biasanya kan mereka bawa makanan. Sekeluarga kebagian. Aku juga biasanya dapat jatah rokok barang sebungkus atau dua bungkus. Jadi, beberapa hari aku tak perlu beli rokok. Nah, rokok yang kau hisap itu adalah rokok pemberian dari pacar anakku. 

“Tapi tidak semua pemuda itu punya duit kan?”

“Kalau sudah tak berduit, suruh putusin saja. Gampang! Gonta-ganti pacar nggak apa-apa." 

Di sini orang tua harus berperan. Kita harus pandai mencarikan orang kaya. biasanya royal dalam urusan perempuan. Seperti anak tetanggaku. Konon sekarang sudah tunangan. Pengikatnya adalah cincin yang bisa membeli satu hektar tanah dan sepasang kerbau. Bagaimana tidak senang? Ayahnya, haji Dulah, disebut-sebut sebagai calon orang kaya baru di kampung ini. 

Mang Dasim menghisap rokok dengan nikmat sekali dan tanpa beban. 

"Apalagi kalau anaknya cantik, akan jadi rebutan!

"Tapi kasihan calon suaminya itu setua haji Dulah, dan konon, dijadikan isteri ketiga."

"Masalah tua atau muda, atau dijadikan isteri ke berapa, itu urusan lain. Kalu suaminya mati, nanti dapat warisan. Yang penting orang tua makmur." 

"Bagaimana kalau anaknya tidak mau?"

"Kita paksa saja sampai dia mau. Memaksa itu tidak selamanya jelek. Kita para orang tua lebih tahu dan berpengalaman. Lagi pula itu untuk kesenangan masa depan anak kita juga. 

Jalu mengangguk-angguk. "Tapi bukankah anak perempuan itu banyak memerlukan uang, untuk dandan. Misalnya beli lipstik, bedak atau pakaian yang bagus-bagus?"

"Memang. Tapi itu sebentar. Perempuan itu cepat dewasa, tidak seperti anak laki-laki. Selepas sekolah, tunggu saja beberapa tahun, nanti juga ada jodohnya. Kita cuma modal bedak dan lipstik supaya dia mau dandan. Selain itu, keringanannya punya anak perempuan bisa dihitung berdasar agama. Aqiqahnya, cuma satu ekor kambing atau domba. Kalau laki-laki harus dua! Dan nanti kalau saat pembagian warisan, dia hanya kebagian setengah dari laki-laki. 

Jalu baru mendengar penejelasan seperti itu.

Selain itu, sekarang lapangan kerja buat perempuan itu banyak sekali. Pabrik-pabrik garmen buka lowongan kerja ribuan hanya untuk perempuan. Kamu lihat satpam sekarang ada anak perempuan, bahkan di SPBU. 

Katanya gaji perempuan itu lebih rendah dari  laki-laki. Lagi pula perempuan tak pernah demo. Dan mereka ulet dan mudah diatur. Kalaupun sekolahnya rendah, dia bisa menjadi TKW ke luar negeri. Atau sederhannya dia menjadi pembantu rumah tangga di kota-kota besar. Banyak makelar-makelar yang datang ke kampung kita. Coba perhatikan saja mang Karta, dia enak saja di rumah. Isterinya jadi TKW di Arab Saudi. atau si Juned yang kerjanya mengantar anak-anak sekolah. yang membiayai ya isterinya dari saudi. Padahal aku tahu kalau malam hari dia ada main dengan janda tetangga sebelah.

Jalu mengangguk-anggukkan kepala.

Begitulah cara pandang meraka terhadap perempuan. Kalau pada masa jahiliyah orang Arab tak menginginkan anak perempuan karena mereka tak bisa perang, tapi di sini sebaliknya. Perempuan itu diharap kelahirannya. Karena punya anak perempuan berarti punya tambang emas. Perbedaannya kalau jaman jahiliyah ketidakhadirannya karena tidak bisa perang, di sini kehadirannya untuk diperas dan dimanfaatkan. beda tipis. 

"Kenapa kang, kok melamun?" Kata Mimin karena Jalu kelihatan melamun.

Min, aku ingin anak perempuan. Tadi malam aku bermimpi anak yang terlahir itu adalah perempuan. Cantik sekali. Persis seperti yang kita inginkan. Aku telah mempersiapkan nama untuknya. Kalau punya anak perempuan, kita punya warung.

Anak itu, laki-laki atau perempuan sama saja. Sama-sama titipan tuhan. Harus dipelihara dan dididik dengan baik-baik.

Tidak! Punya anak laki-laki itu benalu. Pendidikannya harus tinggi. Setelah lulus, belum tentu dapat kerja. Ini repot. Belum lagi kalau dia minta kawin. Dia akan masin tergantung pada orang tuanya.

Mimin mengerenyitkan dahi.

***

Ternyata anak yang lahir itu adalah laki-laki. Beberapa hari Jalu kelihatan murung. Kerjaannya uring-uringan. Warung yang ditunggunya tidak datang. 

Min, aku ingin anak perempuan. Kamu harus cepat hamil kembali," begitu kata Jalu setelah 40 hari Mimin masa nifasnya selesai.

Mimin terdiam. Dia tak habis pikir dengan keinginan Jalu. Tapi Mimin tak bisa menolak, karena Jalu pasti membentak. Beberapa bulan kemudian, Mimin hamil kembali. Tapi ketika anal itu lahir, ternyata laki-laki. Jalu makin jengkel saja. Dia langsung minta Mimin untuk hamil kembali. Mimin sudah pasrah saja akan kelakuan makhluk yang diberi nama suami itu. Dia sebenarnya ingin menunda melahirkan. Capek sekali rasanya. Dari perutnya telah keluar empat manusia. Melahirkan itu bukan masalah gampang. Nyawa jadi taruhannya. Antara hidup dan mati itu sangat tipis jaraknya. Atau bahkan mungkin tidak berjarak. Tentu saja Jalu tak pernah tahu dan tak mau tahu apa yang dirasakannya. Sementara Mimin harus bekerja membantu suaminya menghidupi keluarga. Tapi dia tak punya pilihan karena jalu memaksanya untuk cepat hamil kembali. Dan, kalau bisa punya anak perempuan. Kalau tidak punya anak perempuan, jalu akan menikah lagi denga perempuan lain. Sempat juga dia diancam akan dimadu kalau tidak punya anak perempuan. dan dia menangis setelah tahu ada misi yang tak jelas bila anknya lahir. kalau mau dimadu boleh, kalau tidak mau, ya berarti cerai saja. 

siapa yang bisa menentukan kelahiran jenis kelamin seseorang. bahkan dokter yang palin genius pun dan alt tercanggih pun. ilu kedokteran cuma bisa menebak apakah dalam perut itu adalah jenis kelamin laki-laki atau perempuan. dan itu pun bisa saja salah. akhirnya isterinya itu pun menyerah. dia terpaksa harus hamil lagi, dan kemudian mesti melahirkan dengan sakitnya setengah mati.

Untuk mencapai cita-citanya, Jalu diam-diam bertanya kepada tetangga-tetangga bagaimana cara-cara supaya mendapat anak perempuan. tidak puas keterangan dari tetangga, dia bertanya pada paraji, kiai dan bahkan dukun. Doa-doa, mantera-mantera, tirakat dan bahkan puasa lakukan. Sampai cara senggama dia tanyakan. dia pun melakukan shalat malam yaang jaran sekali dia lakukan.

Pada saat nujuhbulan, dia tidak meminta kiai untuk membaca surat Yusuf, tetapi surat Maryam. Seolah yakin bahwa bayi yang ada dalam perut isterinya adalah perempuan. 

Dan saat-saat mendebarkan itu pun datang. Dia gelisah  seolah murid SD yang mengintip raportnya di akhir tahun pelajaran. Harap-harap cemas, apakah akan naik kelas atau tidak. Dia seperti terdakwa menunggu vonis hakim. Kerjaannya bolak-balik ke kamar itu seperti seekor kucing mengintip peda dia menyaksikan isterinya. proses melahirkan yang paling lama yang dia saksikan. entah berapa kali peraji itu melapalkan mantera. mertuanya telah berkali-kali datang ke kiai setempat supaya minta didoakan. tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. dalam pikirannya berdoa supaya anak itu lahir perempuan. itu saja! 

Dan lahirlah bayi itu. betapa sumringahnya dia ketika dikabari bahwa anak itu perempuan. dia seperti anak kecil yang mendapat hadiah sepeda di hari ulang tahunnya. dia tak memperhatikan orang yang paling berjasa dalam proses melahirkan itu: Mimin. seandainya tak dilarang oleh peraji, dia ingin langsung membopongnya seperti Abdul Muthalib mengelilingi ka'bah ketika Muhammad, cucunya lahir. dia ingin mengarak ke kampung dan mengabarkan bahwa anaknya adalah perempuan. dia hampir lupa azan dan iqamah di telinga anak yang nantinya akan membawa warung. 
dia ingin berlari sekencang-kencangnya ke rumah mang dasim kemudian berkata, mang, aku punya anak perempuan. aku punya warung. kemudian lari kembali sekencang-kencangnya kembali ke rumahnya. Dia ingin berteriak eureka! 

tetangga-tetangganya mengucapkan selamat.

"Wah, kamu sekarang sebentar lagi punya warung," kata mang Dasim.


Ciputat, Desember 2007

Bagikan:
Ahad 16 Desember 2018 7:0 WIB
Senja di Pulau Gus Dur
Senja di Pulau Gus Dur
Ilustrasi: saatchiart.com
Oleh Hilmi Abedillah

Alkisah, tergenang di tengah samudera sebuah pulau yang amat damai. Nyiur-nyiur berdiri menjulur ke langit melambai. Awan dan hujan kebahagiaan berarak seperti dua mempelai. Ombak yang lirih di tepinya mengelus halus bibir pantai. Muka-muka manis bertabur senyum tanpa seringai. Jantung berdegup pun terdengar iramanya di tengah tarian berjuntai.

Masih seperti apa yang diwariskan oleh nenek moyangnya, Tumba tetap membuat ritual di pulau terpencil itu. Ritual pemadaman api kejahatan dengan menyulut api unggun di tengah gelapnya malam. Kemudian para penduduk bersama-sama memadamkan api itu sebagai simbol terusirnya arwah jahat dan jiwa yang khianat. Sebagai pemimpin wilayah Barat, Tumba memimpin doa di dekat kobaran api yang masih menyala-nyala.

Di pulau itu, api adalah kesombongan yang terus meluap-luap mencari tempat yang tinggi, menjauhi tanah dimana ia dilahirkan. Namun, kesombongan api tidak akan sampai ke puncak langit, karena ia terlanjur menjadi asap hitam yang menyebar lalu menghilang. Tidak ada ia ingin menjadi air yang selalu mencari tempat terendah walau melalui celah-celah.

Di akhir doanya, Tumba berkata, “Kami hamba yang lahir dari air mani yang hina, hidup membawa kotoran yang cela, dan mati menjadi bangkai yang nista. Adakah Engkau untuk melenyapkan segala keangkuhan dari dalam diri, dan melimpahkan kebesaran hati untuk saling berbagi?”

Kemudian gerimis turun dan dingin serentak menyelimuti lingkaran warga. Semua menangkupkan kedua telapak tangan dengan dua tujuan, mengurangi hawa dingin dan berdoa. Walaupun berasal dari suku yang berbeda-beda, doa mengalir bersama-sama dari mulut-mulut yang tak ternoda. “Kami semua hidup rukun seperti setangkai batang yang lebat daunnya.”

Pagi harinya, mereka saling bertemu kembali di dalam kesibukan masing-masing. Semua orang melempar senyum kepada sesamanya. Ada yang menanam pohon, ada yang mencuci pakaian di sungai, ada yang mandi di bawah air terjun, ada pula yang membuat permainan panah-panahan.

Tiba-tiba ada sebuah hati yang gelisah. Hati itu benar-benar bertanya, “Apakah ini akan kekal abadi?” Hati itu tak lain hati Tumba sendiri, pemilik tanah Barat pulau itu. “Bukankah kau telah percaya, bahwa tidak ada daki di dalam hati orang-orang sini?” tegur seseorang.

“Hati itu tersembunyi. Hati orang siapa tahu?”

Cerahnya pagi itu memaksa orang-orang untuk giat bekerja. Kesejukan yang terpancar dari batang-batang pohon memberikan energi tersendiri. Cahaya matahari keluar hangat seperti senter yang tak terhitung jumlah banyaknya. Hari pagi ialah hari yang paling damai untuk mereka semua.

Di wilayah Timur, Murba memimpin sebagaimana yang nenek moyang katakan. Api tetaplah simbol keangkuhan. Namun, Murba dan kaumnya berbeda dengan orang Barat dalam memahami itu. Orang Barat beragama Rohani, orang Timur beragama Rohalus. Barat dan Timur terpisahkan oleh sungai kecil yang membelah pulau itu.

“Tidak ada api, dan tidak akan pernah ada api,” ujar Murba. Kecuali api-api kecil yang digunakan untuk memasak. 

Seperti di belahan yang lain, orang-orang di sini tidak pernah berbuat onar dan kemarahan. Mereka adalah orang yang ramah-ramah. Bertamu dan mengetuk pintu dengan sangat lembut, hingga sang pemilik rumah yang sedang bekerja di belakang tidak mendengar. Senyum sopan saling sapa mengakar kuat menjadi budaya setempat.

Anak-anak menghormati orang tua, dan orang tua menyayangi anak-anak. Banyak sekali kutipan kata nenek moyang yang terpahat di dinding gua, dan sebagian yang lain habis di papan-papan kayu yang menua. Dari situlah orang-orang belajar memaknai hidup dari para pendahulu. Apakah berterima kasih dan meminta maaf itu perlu, ataukah tidak perlu. Karena keduanya sebentar akan berlalu.

“Berterima kasihlah untuk hal kecil. Meminta maaflah untuk hal sepele. Sungguh seekor kuman bisa saja membunuh seorang raja yang telah berkuasa berabad-abad.” 

Tentu Murba yang seorang pemimpin juga harus berterima kasih atas seteguk air minum yang diberikan oleh seorang putranya yang masih bocah, walaupun air itu bisa diambilnya sendiri di sungai yang mengalir di pinggir kediamannya. 

Suatu kali, orang-orang berteriak-teriak. Membangunkan Murba yang sedang beristirahat. Ada apa? “Ada seseorang yang mencelakai nenek moyang.” Orang-orang itu melihat asap mengepul di atas pulau itu. Murba segera bangkit dan mencari tahu asal-usul asap itu dari mana datangnya. Ia mengira tidak ada orang selain Murba yang memimpin.

Akhirnya, diutuslah sekelompok orang untuk pergi ke bagian Barat pulau. Memastikan penyebab asap yang mengganggu ketenangan jiwa penduduk itu. Tidak ada alat penyeberangan. Sungai tak bisa dilompati. Beberapa pemuda berenang menuju seberang. Mungkin sekitar enam orang.

Setelah menelusuri jalan bersemak, enam pemuda itu menemukan pemukiman dengan di tengahnya kayu-kayu besar yang telah terbakar. Mereka bertanya siapa yang memperbuat semua ini, dengan nada marah-marah. “Kami tak akan marah bila hati kami disinggung, tapi kami akan marah bila nenek moyang kami dilukai.”

Tumba keluar dari balik tirai, dan menyambut mereka berenam dengan lapang hati. “Adakah yang mengusikmu siang ini, Tuan?” tanya Tumba.

“Pemimpin kami mengutus kami untuk memadamkan api itu,” kata salah satu dari mereka.

Tumba mengira kalau tidak ada pemimpin selain dirinya. “Bukankah api itu telah padam?”

“Namun kayu-kayu itu membuktikan kalau kalian telah membuat api yang besar. Lihatlah, asapnya mengotori langit pulau ini. Kalian sebaiknya berhenti memainkannya.”

“Itu adalah ritual kebesaran. Bagaimana mungkin kau mencegahnya? Kau telah menyalahi ajaran nenek moyang,” elaknya.

“Bukankah yang menyalahi nenek moyang adalah kau? Pergilah dari sini!”

Satu dari mereka berenam ditahan, sementara yang lain dibiarkan Tumba kembali ke daerah asal. Mereka melapor kepada Murba tentang kejadian ini. Mendengar hal itu, Murba marah besar, lalu seluruh penduduk dikerahkan untuk menyerang wilayah Barat.

“Ini menyangkut kebesaran nenek moyang kita. Kita harus mempertahankan kata-kata yang terukir jelas pahatannya. Ini adalah pulau damai. Jangan biarkan sekelompok orang merusak kedamaian itu.” Murba menggerakkan massanya dengan cepat.

“Bukankah kita sebaiknya berunding dulu?” usul Tumba.

Tumba dan Murba bertemu laksana sepasang keadilan yang saling berebut. Mulut-mulut berserabut mengatasnamakan nenek moyang masing-masing. Apakah nenek moyang mereka sama? Mungkin tak ada yang bisa menjawabnya, selain dinding-dinding gua, aliran sungai, dan pohon yang menjulang yang telah berumur ribuan tahun. Tumba dan Murba pun tak tahu siapa yang disebut-sebut nenek moyang itu. Apalagi mereka telah lama mati.

Bukankah Noah? Bukankah Adam? Atau adakah manusia yang lebih tua lagi?

Dan jika itu ada, mungkin ia tak tinggal di pulau terpencil ini. “Kau telah menghina nenek moyang kami, dan sekarang kau menjelek-jelekkan tanah leluhur kami?” kata Murba.

“Hari hampir senja, aku benar-benar sudah tidak sabar dengan perundingan yang tak berujung ini. Menghormati leluhurmu sama saja dengan mencela leluhur kami. Sekarang kita tentukan di mana kita akan berperang,” ucap Tumba mengakhiri perundingan.

“Di perbatasan. Aku harap pendudukmu siap untuk mati sia-sia.”

Matahari yang tadinya kuning kini telah menjadi jingga. Terlihat siluet camar pulang dari melaut. Sebentar-sebentar mentari tertutupi awan-awan kemelut. Sungai yang tadinya jernih, kini tidak lagi. Satu per satu ikan mengambang mati. Teracuni. 

Semua orang telah berbaris berhadap-hadapan. Berseberangan. Seolah sungai perbatasan itu adalah wasitnya. Masing-masing telah menggenggam senjatanya. Berharap hari ini bisa berburu nyawa. Murba berteriak. Tumba menyalak.

Matahari yang tadinya jingga kini telah menjadi merah. Lalu meneteskan darah dari balik gunung. Suara-suara bergaung. Tombak mulai dilempar ke arah lawan. Dan tiba-tiba, dari depan, sebuah panah menusuk ulu hati kawan. Murba berteriak. Tumba menyalak.

Semua orang menunggu, apakah matahari yang merah itu pada akhirnya akan menjadi hitam. Namun sekian lama menunggu, matahari itu tetap saja merah. Merah yang marah. Tidak ada damai lagi, tidak ada sapa lagi. Barangsiapa menyeberangi sungai, ia akan mati.

Tiba-tiba, sebuah perahu mainan terbawa arus sungai. Mengalir begitu cepat menuju muara. Semua mata tertuju padanya.

Di atas perahu itu, terputar sebuah kotak musik. Kotak musik yang masih bernyanyi lirih: Di atas kedamaian masih ada kedamaian. Manusia dari tanah yang sama walaupun berbeda warna. Manusia dari udara yang sama sekalipun berlainan bahasa. Bukankah kita saudara?

Perang berhenti sejenak. Semua mata mengarah ke hulu, mencari tahu siapa yang melayarkan perahu mainan itu. Oh, seorang anak kecil dekil berkacamata. Sarung di pundaknya tersampir, dan pecinya sedikit miring. Anak itu berkata, “Lantas, apakah kita biarkan senja menjadi malam yang kelam, ataukah kita kembalikan menjadi pagi yang terang benderang?”


Penulis tinggal di Pesantren Tebuireng Jombang. Cerpen yang disajikan ini merupakan bagian dari antologi Trik Ahli Neraka (2018)


Ahad 25 November 2018 23:36 WIB
Warta Cinta
Warta Cinta
Ilustrasi: pixabay.com
Oleh Muchamad Aly Reza

Aku tersentak ketika seorang bocah laki-laki bertubuh gempal berlari sambil berseru haru-kegirangan dari bibir pantai. Kabar apakah kiranya yang dia bawa dari negeri seberang sana? bisikku dalam hati. Betapa dari raut bocah berkulit sawo langsat itu terpancar rona bahagia. Sekejap saja dan bocah laki-laki itu dikerumuni nelayan, pedagang, dan para saudagar. 

“Aku membawa kabar dari salah seorang saudagar Arab,” ucapnya mantap dengan mengangkat tingggi-tinggi selembar kertas berwarna cokelat kekuningan. Kecuali aku, semua yang hari itu berada di dermaga termangu dan menyimak seksama. Sementara aku masih sibuk mendempul perahu. 

Persis setelah bocah laki-laki itu membacakan warta di tangannya, lamat-lamat terdengar puji-pujian dalam tradisi Hindu, Budha, dan seruan syukur dalam bahasa kepercayaan orang-orang Nusantara. Aku terhenyak—tiba-tiba aku teringat pada suatu kali ketika kakekku mengajakku melaut, pada sebuah purnama ketika usiaku baru terhitung belasan. Dia bercerita, bahwa akan tiba hari di mana akan terbit cahaya terang dari Arab. Cahaya kedamaian, cahaya yang dirindukan kaum miskin, cahaya yang akan menghapus jejak-jejak kelaliman dari muka bumi. Malam itu aku tidak banyak bertanya, aku tidak pernah tertarik dengan rahasia-rahasia langit. Namun hari ini, dari sinar di wajah bocah laki-laki itu, sungguh aku ingin tahu, kira-kira ada pesan apa dari langit?

Aku berdiri, mencoba mendekati kerumunan yang masih hanyut dalam doa dan puji-pujian. “Dia telah dilahirkan, oh sungguh ini adalah saat yang aku tunggu seumur hidupku,” teriak salah seorang nelayan tua. Semakin aku mendekati kerumunan, semakin aku yakin tentang ramalan itu. Dari kakekku aku sering mendengarnya—sebuah kabar baik ketika di negeri Arab diliputi kegelapan, ketika dunia dipenuhi awan kelabu. 

“Hei anak muda, tidakkah kau turut bahagia? Penutup para nabi itu telah dilahirkan, hari ini, menjelang fajar.” 

Kali ini aku tidak kuasa menopang tubuhku sendiri. Aku terduduk, tubuhku bergetar hebat, aliran darahku mengalir deras, detak jantungku berpacu dua kali lebih kencang dari batas normalnya. Kemudian aku mendengar bocah laki-laki tadi kembali membcakan warta di tangannya. Sepersekian detik sebelum aku jatuh tidak sadarkan diri, sempat aku tangkap dari suaranya yang berat, bahwa ada sepasukan gajah yang mencoba merobohkan bangunan suci di Mekah, namun batal-digagalkan oleh sekawanan burung-burung. Aku tidak sanggup membayangkan, betapa dimuliakan manusia itu? Penutup para nabi, manusia suci yang lahir yatim, yang kelak akan membangun dunia dengan kasih sayangnya, yang kelak akan menyelamatkan manuisa dari petaka kebodohan. Sementara pikiran-pikiran berkelebat di kepalaku—aku pingsan.

***

Aku terbangun di atas padang rumput yang dipenuhi domba-domba gembala. Di mana aku?. “Warta cinta sudah sampai di negeri kita, Nak, pesisir yang jauh ini.” 

“Siapa itu?” sergahku. 

Kemudian yang ku dengar justru suara tawa. 

“Bersabarlah, Nak, ketika semua ramalan itu terpenuhi, akan ada banyak guncangan di muka bumi. Dia akan datang dengan kejujuran.” Aku berdiri, mencari-cari dari mana sumber suara itu. 

Kakek? Itukah kau? 

Kemudian kulihat cahaya besar merekah dari langit. Sekejap dan kemudian aku terbangun dari ketidaksadaranku. Aku terbangun ketika hari sudah petang, dermaga sudah sepi. Tinggal aku dan bocah laki-laki yang memeluk erat warta di tangannya. 

“Kau pingsan cukup lama,” ucap bocah laki-laki di sebelahku. Tatapannya tajam ke sudut laut. “Kita akan menjadi saksi bagi terwujudnya sebuah ramalan agung,” ucapnya lagi dengan nada dramatis. Aku bangkit tertatih, rasanya masih gemetar seluruh tubuhku. Tiba-tiba ada kerinduan luar biasa yang muskil kumaknai. 

***

Sementara di belahan bumi lain, di sebuah negeri bernama Mekah, seorang bayi laki-laki yatim menjemput takdrinya. Bersiap memenuhi ramalan besar, menjadi penutup para Nabi, menjadi juru perdamaian, pembawa lentera dalam kegelapan. Sementara bayi itu menunggu masanya tiba, sementara itu aku berdoa, semoga aku mati setelah risalahnya sampai ke telingaku. 


Surabaya, 2018, 12 Maulid

biasa dipanggil Kang Aly.
Kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Merupakan mahasiswa aktif Prodi Sejarah
Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.
Aktif sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon
Adab UINSA sekaligus menduduki Divisi Intelektual di Himpunan Mahasiswa
Jurusan Sejarah Peradaban Islam UINSA. Sebelumnya, pengirim adalah
alumnus dari Pondok Pesantren An-Nur, Lasem, Rembang, asuhan KH. Abdul
Qoyyum Manshur (Gus Qoyyum).







Senin 5 November 2018 21:30 WIB
Surau Pojok Desa
Surau Pojok Desa
Ilustrasi (via grid.id)
Lelaki itu bertubuh tinggi kecil. Badannya kurus seperti tidak makan berhari-hari. Tampilannya selalu memakai peci dan sarung kumuh yang belum dicuci berbulan-bulan. Pecinya pun berwarna hitam kemerah-merahan. Dia kurang beruntung mungkin hidupnya, masih muda tapi pakaiannya tidak seperti pemuda lainnya yang necis, harum, dan rapi. Tidak hanya di tampilannya, bahkan cara hidupnya pun berbeda. Pandangannya selalu kosong. Berbicaranya juga tidak semua orang bisa memahamninya, butuh jarak waktu untuk menafsirkan maksud yang dia omongkan.

Arif namanya, konon katanya pemuda ini misterius. Tidak ada seorang pun yang mengetahui asal usulnya. Pada malam jum’at, warga kampung seperti biasa membaca yasin dan tahlil di surau yang lumayan besar di pojok desa. Meskipun surau itu tidak dirawat, tapi setiap kamis paginya para warga gotong royong membersihkannya untuk acara pada malamnya. Maklum karena surau itu berguna pada saat malam Jum’at. 

Ketika para warga dengan seksama membaca yasin dan tahlil, ada seorang warga keluar dari surau dan bertemu dengan pemuda, dia si Arif namanya. Warga itu bingung, karena bertemu anak muda yang tak jelas pakaiandan omongannya.Ada semacam rasa takut dan bingung. Yang diucapkan di mulut pemuda itu hanya untaian-untaian syair memuja Rasulullah SAW. Warga sedikit bisa menangkap syairnya.
Ya Allah, Ya Rasulullah. Aku rindu kepadamu. Aku cinta kepadamu
Aku ingin bertemu. Langit tak cukup mampu memandang wajahmu Ya Rasulallah.
Kecuplah keningku ya Rasul, tak ada yang mengalahkan keindahanMu
Aku berharap syafaatmu, terimalah aku sebagai umatMu
Aku bersujud bersimpuh kepadaMu.

Bunyi itu yang selalu diucapkan Arif. Dengan berpakaian compang-camping dan saat mulutnya berucap syair itu, tangannya menadah, wajahnya menghadap ke atas. Seakan-akan ada suatu harapan yang sangat ingin dia harapkan. Air matanya deras keluar dari kedua matanya. Warga tersebut semakin bingung melihat tingkah laku Arif. Dia seperti orang gila tapi kegilaannya sambil memuja Rasul.

Setelah itu keluarlah para warga yang sebelumnya khusu’ pengajian di surau. Karena mereka mendengar suara berisik di luar. Kejadian itu tidak jauh dari surau, maka dengan keras suara Arif bisa menjalar sampai ke dalam surau. 

“Kenapa kau pemuda, apa kau gila. Dari mana kau berasal?” tanya dari perwakilan warga.

“Ha ha ha ha, aku tidak gila. Aku ini sedang memuja-muja Rasul, karena aku semalam bertemu dengannya di surau ini. Beliau tersenyum kepadaku. Sepertinya aku tidak salah melangkah. Aku disuruh menjaga dan merawat surau ini,” jawab si Arif.

“Apa kalian percaya dengan pemuda ini?” terdengar bisik-bisik warga.

Sebenarnya para warga tidak terlalu percaya dengan Arif. Tetapi kultur di desa ini masih sangat kental agama, semua yang berbau agama, apalagi islam, gampang sekali mereka percaya. Ada satu orang di desa tersebut yang dipanggil Abah. Kalau di desa ini Abah sama seperti ayah jika dilihat dalam lingkup keluarga.

Tapi Abah bisa mengandung makan luas, seperti orang yang kental agamanya atau orang yang dihormati. Biasanya mereka memanggil dengan sebutan Abah Yusuf. Apa kata beliau, pasti semua warga menurutinya. Sebab biasanya jika ada sebuah persoalan di desa yang membutuhkan jawaban, pasti Abah Yusuf menjadi patokannya.

Abah Yusuf adalah orang yang bijak, dia tidak bisa menolak Arif karena alasan seperti itu. Terkadang apa yang diputuskan olehnya berbalik dengan usulan para warga. Meskipun begitu, tapi putusan dia sampai saat ini selalu untung, malah tidak ada orang yang dirugikan sama sekali. Jadi keputusan yang diambil olehnya adalah mencoba menerima Arif dengan ikhlas, sembari tinggal di surau itu, itung-itung surau ada yang merawat. Karena sudah beberapa tahun belakangan surau tidak ada yang bisa merawat. 

“Biarkan dia tidur sambil menjaga surau ini. Kita harus menerima siapapun yang ingin berbuat baik. Kita lihat saja nanti, andaikan dia berbuat jahat, kita boleh mengusirnya," kata Abah Yusuf.

Sontak para warga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Keputusan sudah seperti itu. Terima atau tidak berterima harus berterima. Bahkan terkadang Abah Yusuf itu orang yang lebih tahu dari pada para warga. Dia kan orangnya pintar. Jadi warga nurut saja dengannya. 

***
Si Arif seperti biasa, dia melakukan sesuai tugasnya, yaitu membersihkan surau yang penuh dengan daun kering rontok. Tapi ada satu yang tidak boleh dilakukan oleh para warga, yaitu jangan mengajak dia berbicara.

Bahasanya sulit mengerti, bahkan kalau didengar dengan teliti, bahasanya tidak bahasa Indonesia, bahkan tidak bahasa Jawa pula. Bahasanya mirip-mirip bahasa Arab. Entah apa yang dia ucap, semua orang tidak ada yang mengerti dengan bahasanya. Sering kali dia melamun sendiri.

Setelah dia menyelesaikan tugasnya, pasti dia keluar surau, dia duduk bersila sambil melamun dengan pikiran kosong. Warga yang melihatnya pun tidak berani menyapanya. Bagaimana cara menyapa yang lebih pantas, jika bahasanya pun sulit dimengerti. Paling-paling warga cuma menyapanya dengan mengucap salam. Tidak lebih.

Pernah sesekali pada saat beberapa warga ronda keliling desa, mereka menjumpai Arif keliling desa juga sambil memungut sampah. Tidak lupa bibirnya mengucap syair yang dilantunkan ketika awal dia menginjak mengunjungi desa. Tidak hentinya dia berucap, berulang kali, mungkin sudah beribu kali dia mengucap syair tersebut. 

Di punggungnya dia membawa karung yang lumayan besar sambil sedikit membungkuk badannya. Waktu itu tepat pukul satu pagi, dia berkeliling desa sambil memungut sampah. Mulutnya komat-komit tiada henti. Syair terus dilantunkan sampai menjelang subuh. Kemudian dia kembali ke surau sambil membawa karung tersebut.

Ternyata selama dia tinggal di desa itu, dia sudah mengumpulkan beberapa karung sampah di belakang surau. Para warga pun juga tidak pernah tau apa sebenarnya isi karung yang dia bawa terus-menerus, yang mereka tahu hanya sampah, karena pada saat itu dia membawa karung tersebut saat mencari sampah. 

Yang mempunyai asumsi aneh kepada si Arif hanya para warga. Abah Yusuf melihatnya seperti barang lumrah. Karena dia sudah banyak pengalaman dengan hak-hal aneh seperti itu. Menurutnya, tingkah laku Arif adalah tingkah laku orang yang tidak bisa di nalar. Yang bisa menalar hanyalah orang-orang yang paham dengannya. 

Kalau dalam duia Islam, perilaku tersebut adalah perilaku Zuhud, perilaku zuhud adalah perilaku seperti para wali Allah, kekasih-kekasih Allah. Orang awam sulit untuk menerima dengan logika manusia. Karena bukan sembarang orang bisa melakukannya, hanya orang-orang pilihan yang diberi kekuatan Allah untuk bisa menjalankannya. 

Ada untungnya Arif tinggal di surau itu, surau semakin bersih, wangi. Biasanya kalau malam jum’at para warga harus kerepotan dengan kecoak, dengan cicak-cicak yang tiba-tiba jatuh di kepala. Suasana yang mulanya khusu’ menjadi ribut karena ada gangguan-gangguan itu. Semenjak ada Arif, surau menjadi beda. Orang semakin kerasan lama-lama di surau, mereka bisa khusyu’ menjalankan ibadahnya. 

***
Pada suatu malam, para warga sedang mencari Arif. Dia beberapa hari tak terlihat di desa. Di tengok ke surau pun tidak ada batang hidungnya. Semua warga mencarinya. Lalu warga memanggil Abah yusuf. Warga tidak ingat jika di dalam surau ada sebuah kamar kecil tempat tidur si Arif. Dibuka pintu itu, lalu warga terkejut dengan bau harum yang bersumber dari kamar.

Terlihat tubuh Arif tergeletak dengan wajah tersenyum. Bau tubuhnya mendadak wangi. Ternyata diteliti, Arif meninggal sejak dua hari yang lalu, namun tubuhnya tetap memunculkan bau-bau wangi, mirip seperti bunga kenanga putih. 

Setelah para warga selesai menguburkan jenazah Arif. Ke esokan harinya datanglah segerombolan orang memakai mobil nampak mengunjungi desa itu. Orang-orang tersebut memakai jubah-jubah putih, tubuhnya tinggi besar, dan wajahnya kearab-araban. Semua warga bingung siapa orang ini, kenapa datang kesini. Langsung saja mereka diantar salah satu warga ke rumah Abah Yusuf, mereka menceritakan semuanya, jika Arif adalah saudaranya. 

Mereka berasal dari pondok pesantren yang tak jauh dari desa. Arif adalah anak kesayangan Ayahnya, pemangku pondok pesantresn tersebut. Sedangkan yang datang adalah para saudaranya yang diutus oleh ayahnya.

“Dia memang tampak berbeda di keluarga. Tingkah lakunya pun berbeda, apa yang dia mau harus dia jalankan sesuai kehendaknya. Namun dalam keluarga tidak ada yang protes terhadap perilakunya, semuanya sudah paham dengannya, dari apa yang diucap sampai apa yang dilakukannya.Memang akhir-akhir ini dia tidak pulang.

Dia berpamit terakhir kalinya untuk keluar mencari surau, keluarga pun turut bingung kenapa dia mencari surau. Kemudian saya cari-cari ternyata dia ada di sini “Cerita dari salah satu kakanya.”

Tapi Abah Yusuf hanya tersenyum mendengarnya, dia sebenarnya sudah paham dengan Arif, maka dari itu sejak awal dia menerimanya. Dan semenjak Arif meninggal, surau menjadi ramai, semakin indah, anak-anak kecil senang berkumpul di situ.

Memang ada sedikit yang direnovasi ketika keluarga Arif memberi sedikit bantuan uang. Namun surau itu tetap menjadi surau. Sedangkan kuburan Arif dipindah dimakamkan di belakang surau. Tidak hanya itu, ternyata karung-karung yang dikumpulkan Arif di belakang surau berisi uang juga.

Kiranya para warga adalah berisi sampah atau dedaunan. Tapi tidak disangka, sampah itu berubah jadi uang yang bisa dimanfaatkan untuk pemberdayaan para warga. Untuk mengenang jasa si Arif, warga memindah kuburannya di belakang surau.

Ada tempat kecil khusus untuk peristirahatan terkahirnya. Warga pun ikut beruntung dan bahagia karena mungkin Arif adalah kekasih Allah yang dimakamkan di desa itu.


Ahmad Baharuddin Surya, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, anggota Pers Kampus Gema Unesa.
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG