IMG-LOGO
Internasional

Tujuh Kesalahpahaman tentang Bangsa Arab Menurut Prof Sumanto Al Qurtuby

Senin 31 Desember 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Tujuh Kesalahpahaman tentang Bangsa Arab Menurut Prof Sumanto Al Qurtuby
Foto: dw.com
Jakarta, NU Online
Dosen Antropologi Budaya Universitas King Fahd of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, Prof Sumanto al Qurtuby menjelaskan, banyak masyarakat Indonesia, baik Muslim atau non-Muslim, yang salah paham atau gagal paham terhadap bangsa Arab. Kesalahpahaman itu lantas menyebabkan penilaian yang tidak akurat dan tidak valid terhadap bangsa Arab it sendiri.

Menurut Prof Sumanto, setidaknya ada tujuh kesalahpahaman tentang bangsa Arab. Pertama, bangsa Arab itu sebagai ‘bangsa Muslim’. Memang, mayoritas bangsa Arab adalah Muslim, namun ada juga yang non-Muslim. Sebagai bangsa lainnya, masyarakat Arab juga memeluk agama yang beragam. Mulai dari Kristen, Yahudi, Druze, Baha’i, bahkan ada yang ateis atau agnostik.

“Arab Kristen adalah kelompok non-Muslim Arab yang paling dominan,” kata doktor lulusan Universitas Boston itu, sebagaimana dikutip NU Online dari laman dw.com, Senin (31/12).

Meski Muslim, lanjut Prof Sumanto, bangsa Arab juga beragam. Ada yang Sunni, ada yang Syiah, dan ada juga yang Ibadi. Sunni menjadi mazhab dominan, tapi Syiah juga juga banyak sekali dan tersebar di Irak, Saudi, Libanon, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan lain sebagainya.

Kedua, bangsa Arab itu sama dengan Arab Saudi. Banyak yang menganggap kalau bangsa Arab itu adalah Arab Saudi dan menganggap Arab Saudi sebagai tolak ukur atas bangsa Arab secara umum. 

“Tentu saja persepsi ini sama sekali tidak akurat karena bangsa Arab bukan hanya di Saudi saja tetapi juga tersebar di berbagai negara,” tegasnya. 

Merujuk laporan Charter of the Arab League, ada sekitar 22 ‘negara Arab’ di Timur Tengah yang bahasa resmi atau bahasa nasionalnya adalah bahasa Arab. Yaitu Arab Saudi, Aljazair, Bahrain, Comoros, Djibouti, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Libanon, Libya, Mauritania, Maroko, Oman, Palestina, Qatar, Somalia, Sudan, Suriah, Tunisia, Uni Emirat Arab dan Yaman.

Ketiga, Arab sebagai bangsa monolitik atau homogen yang mempraktikkan tradisi dan budaya yang sama. Misalnya anggapan bahwa semua laki-laki Arab memakai jubah, berjenggot, sementara perempuannya memakai cadar. Bagi Prof Sumanto, pandangan seperti sangat fatal. Banyak juga orang Arab yang mengenakan pakaian ala Barat dan banyak perempuan yang tidak bercadar.

“Sebagaimana suku-bangsa lain di dunia ini, Bangsa Arab juga bangsa heterogen dalam segala aspek kehidupan bahkan bukan hanya soal adat-istiadat, tradisi dan budaya mereka saja tetapi sampai pada masalah teologi-keagamaan, pandangan perpolitikan, sistem pemerintahan, sistem perekonomian, dan lain sebagainya,” paparnya.

Keempat, bangsa Arab mengikuti sistem politik pemerintahan Islam. Prof Sumanto menjelaskan, negara-negara Arab memiliki sistem politik pemerintahan yang beragam. Ada yang menerapkan sistem monarki seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Maroko, Oman, dan lainnya. Ada yang sistem pemerintahannya republik seperti Mesir, Yaman, Sudan, Libanon, Aljazair, Suriah, Irak, dan lainnya.

“Sebagai negara-kerajaan pun mereka berlainan: ada yang mengikuti sistem kesultanan (seperti Oman), monarki konstitusional (seperti Kuwait), keamiran (Qatar), kerajaan federal (seperti Uni Emirat Arab), dan seterusnya,” jelasnya.

“Menariknya, negara-negara Arab menolak sistem politik-pemerintahan model khilafah yang oleh sebagian umat Islam di Indonesia justru didengung-dengungkan,” lanjutnya.

Kelima, negara-negara Arab itu kaya raya karena memiliki sumber minyak. Pandangan seperti ini juga tidak sepenuhnya benar. Banyak sekali negara Arab yang miskin, bahkan lebih miskin dari pada Indonesia.

“Negara-negara Arab yang cukup makmur dan kaya itu hanya kawasan Arab Teluk saja seperti Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Oman,” ungkapnya.

Keenam, Arab identik dengan Suku Badui yang hidup berpindah-pindah. Pandangan ini juga tidak tepat karena banyak masyarakat Arab yang tinggal dan menetap di kota-kota.  Ketujuh, bangsa Arab itu kolot dan konservatif yang gaya hidupnya konservatif dan kuno. Padahal banyak masyarakat Arab yang gaya hidup dan pola pikirnya modern dan maju. 

“Melihat keragaman dan kerumitan bangsa Arab ini, maka dengan demikian jelaslah bahwa jika ada sekelompok umat Islam di Indonesia yang seolah-olah meniru gaya ‘orang Arab’ dalam berpenampilan (dengan berjubah, berjenggot atau bercadar, misalnya), sebenarnya yang mereka tiru adalah ‘Arab imajiner’ atau ‘bangsa Arab’ seperti dalam ‘alam imajinasi’ sekelompok Islam itu, bukan Bangsa Arab di alam nyata,” tukasnya. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Senin 31 Desember 2018 18:30 WIB
Semua karena ISIS: Menteri Baru Irak Mundur, Kewarganegaraan Neil Prakash Dicabut
Semua karena ISIS: Menteri Baru Irak Mundur, Kewarganegaraan Neil Prakash Dicabut
Ilustrasi: Reuters
Mosul, NU Online
Menteri Pendidikan Irak, Shaima al-Hayali, mengundurkan diri setelah diterpa isu bahwa kakak laki-lakinya adalah seorang anggota kelompok Negara Islam Irak Suriah (ISIS). Shaima merupakan menteri baru. Pencalonan Shaima disetujui parlemen Irak dua pekan lalu.  

Shaima mengumumkan keputusannya itu melalui akun Twitternya. Dia juga mengaku sudah mengajukan surat pengunduran diri kepada Perdana Menteri (PM) Irak Adel Abdel Mahdi. 

“Saya telah mengajukan pengunduran diri kepada perdana menteri," tulis Shaima di akun Twitternya, seperti diberitakan AFP, Minggu (29/12). 

Ia mempersilahkan PM Mahdi apakah akan menerima atau tidak pengundurannya setelah memastikan hubungannya dengan ‘teroris’. Namun demikian, Shaima mengungkapkan bahwa kakaknya Layth al-Hayali dipaksa untuk bekerja di pemerintahan yang dikuasai ISIS. Menurutnya, kakaknya itu tidak pernah menyentuh senjata atau ikut serta dalam pembunuhan warga setempat.

“Dia dipaksa, di bawah ancaman senjata, untuk bekerja dalam pemerintahan yang dikendalikan oleh ISIS,” jelasnya.

Keputusan Shaima ini diambil setelah seorang anggota parlemen Irak melalui daring menuduh kakaknya, Layth al-Hayali, seorang anggota ISIS. Disematkan pula video yang diambil pada 2016 lalu. Di situ, Layth berada dalam video propaganda ISIS. Memang pada saat itu, Layth bekerja di pemerintahan provinsi Niniwe yang saat itu dikuasai ISIS. 

Kantor perdana menteri belum memberikan tanggapan atas keputusan mundur Shaima tersebut.

Sementara itu, pemerintah Australia mencabut kewaganegaraan Neil Prakash. Pria yang lahir di Melbourne ini diyakini sebagai perekrut ISIS. Di Australia sendiri, Prakash merupakan seorang buronan karena dinilai bertanggung jawab atas kejadian teror dan mendukung pendirian ISIS.

Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton mengatakan, Prakash adalah orang yang sangat berbahaya. Dutton juga menyebut kalau Prakash berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan ISIS di Timur Tengah. 

“Jika diberi kesempatan, Prakash akan membahayakan bahkan membunuh warga Australia. Negara kami menjadi tempat yang lebih aman setelah ia kehilangan kewarganegaraan Australia,” ujar Dutton, dilansir BBC, Ahad (30/12).

Saat ini Prakash tengah berada di Turki untuk menunggu hasil persidangan. Ia ditangkap otoritas Turki pada 2016 silam dengan melakukan kegiatan terkait terorisme. Pada Juli lalu, Turki menolak permintaan untuk mengekstradisi Prakash agar menjalani hukuman di negaranya sendiri, Australia.

Prakash pergi ke Suriah pada 2013 silam. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Abu Khaled al-Cambodi. Pada 2015, dia sempat dilaporkan tewas dalam sebuah serangan yang dilancarkan Amerika Serikat.

Sebetulnya Prakash memiliki dua kewarganegaraan; Australia dan Fiji. Ayahnya seorang berkewaraganegaraan Fiji, sementara ibunya warga negara Kamboja. Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Kewaraganegaraan Australia, seseorang bisa kehilangan kewarganegaraan negeri kanguru tersebut jika tindakannya bertentangan dengan peraturan negara. Salah satunya terlibat dalam aksi terorisme. Maka dengan demikian, Prakash adalah orang ke-12 yang kewarganegaraan Australia-nya dicabut. (Red: Muchlishon)
Ahad 30 Desember 2018 16:0 WIB
Di Hadapan Tokoh Politik Eropa, Gus Yahya Sampaikan Solusi atas Krisis Dunia
Di Hadapan Tokoh Politik Eropa, Gus Yahya Sampaikan Solusi atas Krisis Dunia
Gus Yahya (ketiga dari kiri). Foto: Istimewa
Ljubljana, NU Online
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya diundang untuk menjadi salah satu pembicara dalam diskusi panel di di Ljubljana, ibu kota Slovenia, pada Senin 17 Desember lalu. 

Diskusi yang mengangkat topik 'Migrasi, Terorisme, dan Kebebasan Berbicara’ itu juga menghadirkan sejumlah narasumber lainnya. Yaitu mantan Perdana Menteri Slovenia dan Ketua Partai Demokrasi Slovenia (SDS) Janez Jansa, Ketua Partai Rakyat Slovenia (SLS) Marjan Podobnik, Presiden VSO Aleš Hoys, Pakar dalam masalah keamanan Bostjan Perne, dan Iván Calabuig dari The Asimetric Group, Vienna. Hadir pula dalam forum diskusi itu tokoh-tokoh politik dari berbagai negara di Eropa. 

Dalam diskusi tersebut, Gus Yahya mengatakan bahwa Eropa –secara khusus- dan dunia –secara umum- tengah menghadapi krisis yang bertumpuk-tumpuk. Mulai dari banyaknya pengungsi dan pencari suaka, ancaman terorisme, hingga radikalisme atas nama agama kini menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Eropa dan dunia. 

“Norma sekularisme mengungkung masyarakat Eropa dengan rambu-rambu ‘political correctness’ (kepantasan politik) untuk tidak menyentuh soal-soal agama sehingga nyaris tidak ada lagi kebebasan berbicara dalam wacana publik tentang soal-soal ini,” jelas Gus Yahya.

Gus Yahya lantas menegaskan, krisis yang tengah menimpa negara-negara Eropa dan dunia tersebut merupakan tumpahan (spill over) dari kekacauan dunia Islam. Dimana negara-negara yang mayoritas berpenduduk Islam seperti Pakistan, Afghanistan, Suriah, Libya, Irak, dan lainnya masih terus bergolak hingga hari ini. 

Dia menjelaskan, untuk mencari solusi atas krisis tersebut maka peran dan pengaruh agama Islam sebagai ‘akar masalah’ harus dibedah. “Tidak mungkin mengatasi krisis di Eropa terkait hal ini kecuali dengan sekaligus mencapai jalan keluar dari kemelut dunia Islam,” ucapnya.

Terkait dengan pertentangan dan perdebatan krisis tersebut, Gus Yahya menyarankan agar orang Eropa memikirkan bagaimana mereka secara keseluruhan dapat selamat sebagai satu keutuhan dan tidak ikut tertulari oleh kekacauan yang tumpah dari Timur Tengah dan dunia Islam.

“Dalai Lama mengatakan: “Europe for Europeans”, tanah Eropa adalah haknya orang Eropa, maka yang harus diupayakan adalah mengatasi masalah di wilayah-wilayah asal sehingga orang-orang tidak lagi ingin lari dari sana dan yang sudah mengungsi bisa pulang,” jelasnya. 

“Saya katakan “Europeans for Europe”, seluruh masyarakat Eropa harus berkonsolidasi dengan mengesampingkan segala persaingan politik, demi keselamatan Eropa sebagai satu keutuhan dan itulah yang sedang kami perjuangkan pula ditengah bangsa Indonesia untuk keselamatan Indonesia,” paparnya.

Gus Yahya menegaskan, tidak ada solusi terbatas atas krisis tersebut. Misalnya solusi untuk Timur Tengah atau solusi untuk Eropa saja. Satu-satunya solusi adalah bagaimana seluruh masyarakat dunia mengupayakan solusi menyeluruh melalui konsolidasi global yang kokoh.

“Karena masalah ini telah menjelma menjadi krisis peradaban dunia, dengan ramifikasi (turunan dan dampak langsung tak langsung) pada hampir semua masalah ekonomi-politik dunia,” jelasnya.

Diwawancarai ‘Tednik Demokracija’

Setelah acara diskusi selesai, Gus Yahya diwawancarai ‘Tednik Demokracija’, sebuah majalah politik mingguan Slovenia. Dalam sesi wawancara yang berlangsung selama dua jam itu, Gus Yahya juga menyampaikan bagaimana Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi menuju solusi.

Gus Yahya kemudian menyinggung soal Islam Nusantara. Menurutnya, Islam Nusantara merupakan model peradaban Islam yang unik dengan karakter yang secara fundamental, berbeda dengan model peradaban Timur Tengah, anak benua Eropa (Turki), Afrika, dan Asia Tengah dan Selatan (Bukhara, Pakistan, dan Bangladesh).

Gus Yahya yakin, Islam Nusantara dapat menjadi rujukan alternatif untuk membangun peradaban Islam yang lebih mendorong harmoni di tengah heterogenitas masyarakat dunia saat ini.

Di samping itu, Gus Yahya juga membicarakan soal Pancasila dan Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945. Keduanya merupakan konsensus dari semua agama dan ideologi besar dunia dengan menyatukan unsur-unsur idealisme tentang kemuliaan peradaban dari masing-masing agama dan ideologi yang ada. 

“Sehingga formatnya dapat menjadi rujukan bagi cita-cita peradaban masa depan bagi seluruh umat manusia,” tukasnya. (Red: Muchlishon)
Jumat 28 Desember 2018 23:30 WIB
Krisis Yaman: Ribuan Orang Tewas, Jutaan Lainnya Mengungsi dan Kelaparan
Krisis Yaman: Ribuan Orang Tewas, Jutaan Lainnya Mengungsi dan Kelaparan
Anak-anak Yaman sedang menukarkan kupon makanan. Foto: Hani Mohammed/AP
Sana’a, NU Online
Yaman didera perang sejak 2014 silam. Sejak saat itu, kehidupan di Yaman menjadi kacau balau. Ribuan orang meninggal. Jutaan orang meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi. Puluhan juta lainnya tengah menghadapi kerawanan makanan. 

UNICEF, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah anak-anak, mencatat, lebih dari tujuh juta anak-anak Yaman tengah menghadapi rawan pangan, dibandingkan dengan ancaman langsung kelaparan. Sementara jutaan anak Yaman lainnya mengalami kekurangan gizi.

“Hari ini, 1,8 juta anak-anak di bawah usia lima tahun menghadapi kekurangan gizi akut, dan 400.000 dipengaruhi oleh gizi buruk akut,” kata Direktur regional UNICEF Geert Cappelaere, dikutip dari laman AFP, Jumat (2/11).

Data yang sama juga disampaikan PBB melalui World Food Program (WFP). Dilaporkan bahwa ada sekitar 12 juta penduduk Yaman tengah menghadapi bencana kelaparan. Data ini membuat krisis yang terjadi di Yaman menjadi yang terparah di dunia.

“Saat ini Yaman tengah menghadapi krisis kelaparan terparah di dunia, di mana hampir 18 juta orang di seluruh penjuru negeri bahkan tak tahu-menahu bagaimana mereka akan mendapatkan makanan selanjutnya," kata juru bicara WFP Herve Verhoosel, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (17/10).

Lebih miris lagi, Perwakilan UNICEF di Yaman Meritxell Relano mengungkapkan, dari total populasi Yaman yang mencapai 28 juta jiwa, 22 juta orang tergantung dengan bantuan luar. Sementara 8,4 juta orang diyakini tengah berada di ambang kelaparan.
Krisis kemanusian di Yaman tersebut disebabkan perang yang tak kunjung selesai, blokade –barang, makanan, dan lainnya ke dan dari Yaman, dan sanksi yang dikenakan –oleh pihak-pihak yang tengah bertikai- kepada penduduk sipil Yaman.   

Sebetulnya, Yaman memiliki tanah yang subur. Berbagai macam tanaman, biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, dan lainnya tumbuh di sana. Begitu pun dengan sektor peternakan. Banyak produk yang dihasilkan mulai dari unggas hingga unta. Namun akibat perang, semuanya menjadi terkendala. 

Krisis kemanusiaan yang melanda Yaman selama empat tahun lebih itu juga telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang. Sementara dua ribu orang meninggal akibat wabah kolera yang melanda wilayah Yaman. Tidak lain, wabah kolera dipicu kurangnya air bersih. Sementara kekurangan air bersih disebabkan air tanah yang terkuras dan kerusakan infrastruktur.

Ribuan sekolah hancur

Berbagai macam fasilitas umum seperti rumah sakit, bandara, pelabuhan, pasar, hingga sekolah juga rusak. Menurut laporan UNESCO, ada sekitar 2.500 sekolah di Yaman yang rusak dan hancur semenjak perang meletus. Akibatnya, sedikitnya dua juta anak Yaman putus sekolah.   

Keadaan seperti itu tidak membuat sebagian warga Yaman berhenti untuk menyediakan akses pendidikan ke anak-anaknya. Seorang guru Yaman Adel al-Shorbagy mengubah rumahnya di kota Taiz menjadi ‘sekolah dadakan’ bagi ratusan anak Yaman korban perang. Setiap harinya, sekitar 700 anak Yaman mengantri di luar rumahnya untuk menunggu gilirannya diajar.  

Pada tahun pertama, ada sekitar 500 anak-anak Yaman –baik laki-laki maupun perempuan- yang berusia antara enam hingga 15 tahun yang mendaftar untuk sekolah di rumah al-Shorbagy.

“Kami membuka gedung ini sebagai inisiatif masyarakat. Itu adalah tugas nasional dan kemanusiaan saya terhadap lingkungan saya,” kata al-Shorbagy, dikutip lama Reuters, Ahad (30/10).

Fasilitas yang ada di dalam rumah al-Shorbagy begitu sederhana. Dinding dari bata, jendela lebar, papan tulis kecil, dan tirai robek untuk membagi ruang kelas satu dengan lainnya. Ruangannya pun sempit untuk menampung semua sekitar 700 anak. Bahkan hampir tidak ada ruang untuk bergerak.

Total, ada 16 guru sukarelawan yang mengajar di rumah al-Shorbagy. Untuk kurikulum, al-Shorbagy mengikuti kurikulum Yaman sebelum perang. Sehingga ia juga menyelenggarakan kelas matematika, sains, dan bahasa Inggris.

Mengapa dunia bungkam?

Perang Yaman telah mengakibatkan ribuan orang meninggal, jutaan orang lainnya mengungsi dan kelaparan, namun mengapa dunia –khususnya negara-negara Islam- bungkam?

Direktur Indonesian Muslim Crisis Center, Robi Sugara, mengemukakan, ada tiga alasan atau faktor mengapa masyarakat Muslim saat ini tidak bersuara atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Yaman.

Pertama, isu perdamaian dan kemanusiaan belum populer di kalangan Muslim. Hal ini berdampak pada pandangan mereka yang melihat konflik hanya dari sisi Muslim dan non-Muslimnya, bukan dari sisi kemanusiaannya.

“Kenapa di Myanmar berisik sekali karena pelaku kekerasannya non-Muslim. Kenapa di Palestina berisik karena aktornya non-Muslim,” kata Robi, Selasa (10/1).

Kedua, konflik antaraliran dalam suatu agama dianggap sebagai perselisihan biasa. Sebab itulah, Yaman tak dipedulikan oleh dunia. Konflik yang terlihat di negara tersebut adalah konflik Sunni dan Syiah, konflik dalam agama. Hal ini yang tidak menarik mata dunia untuk melihatnya.

“Ketika Muslim saling berantem gitu, saling bunuh-bunuhan misalkan, itu dianggap sebagai sebuah perselisihan,” katanya.

Ketiga, diamnya Muslim dunia atas konflik Yaman adalah karena posisi Sunni sebagai pihak yang menyerang Syiah atau posisi Syiah sebagai pihak yang tertekan. 

“Yaman seakan respons dari Suriah. Di Suriah kenapa ramai, karena masyarakat Indonesia umumnya Muslim Sunni. Narasi yang dikembangkan adalah Sunni dibantai oleh Syiah. Itu yang dinarasikan sehingga timbul kepedulian,” jelasnya. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG