IMG-LOGO
Opini

Alternatif Ulama Betawi atas Polemik Perayaan Tahun Baru Masehi

Senin 31 Desember 2018 20:15 WIB
Bagikan:
Alternatif Ulama Betawi atas Polemik Perayaan Tahun Baru Masehi
(Foto: @pixabay)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Dalam memperingati pergantian tahun Masehi, para ulama memiliki pandangan dan sikap berbeda satu sama lain, ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan.

Ulama yang mengharamkannya bukan  saja atas nama individu, tetapi juga ada pula lembaga fatwa, seperti Dewan Fatwa Ulama Arab Saudi, Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta (Komite Permanen untuk Penelitian Islam dan Fatwa) yang termasuk paling depan dalam mengharamkan perayaan tahun baru Masehi.

Ulama yang membolehkannya, sampai saat ini, masih atas nama individu, belum ada atas nama lembaga, seperti  Yusuf Al-Qaradhawi, Musthafa Az-Zarqa, Ali Jumah, dan Quraish Shihab.

Namun, pendapat berbeda tentang alasan dan hukum memperingati Tahun Baru Masehi datang dari seorang ulama sufi Betawi terkemuka, KH Abdurrahim Radjiun bin Muallim Radjiun Pekojan, atau yang dikenal dengan panggilan Abie Bismillah.

Kiai Abdurrahim tidak menginginkan dirinya dan umat Islam terjebak dalam perdebatan boleh atau tidak bolehnya merayakan Tahun Baru Masehi.

Menurutnya, persoalan bukan pada perayaan tahun barunya, tapi pada kata Masehi yang melekat dalam sistem penanggalannya. Tidak dapat dibantah oleh siapapun bahwa kata Masehi M (Masehi) yang juga dikenal sebagai AD  berasal dari bahasa Latin Anno Domini yang berarti "Lahirnya Yesus Kritstus”, manusia yang dijadikan Tuhan oleh umat Kristiani.

Oleh karenanya, menurut Kiai Abdurrahim, tidak terbantahkan juga jika umat Islam merayakan Tahun Baru Masehi berarti merayakan Tahun Baru Kristiani yang berarti melakuan perbuatan tasyabuh (menyerupai) dan ini tentu dilarang bahkan diharamkan dalam ajaran Islam. 

Namun, menurutnya, tidak bisa dipungkiri juga bahwa kenyataanya mayoritas umat Islam masih menggunakan sistem penanggalan matahari (solar system) Masehi dalam aktivitasnya sehari-hari karena terikat dengan urusan pekerjaan, pendidikan, ekonomi dan sosial kemasyarakatan, terlebih sistem penanggalan Masehi telah menjadi kesepakatan bersama secara global.

Karenanya, ketika sebagian umat Islam merayakan Tahun Baru Masehi, maka yang dirayakan tidak terkait dengan perayaan tahun baru agama atau keyakinan tertentu, tetapi terkait dengan pergantian kalender untuk urusan kehidupan sehari-hari mereka.

Menurutnya, wajar pula ada ulama yang membolehkan umat Islam merayakan pergantian Tahun Baru Masehi berdasarkan alasan ini. Tetapi, baginya, mengharamkan atau membolehkannya bukanlah solusi, terlebih sebagai solusi untuk menyatukan umat Islam. Sebab pada  kenyataannya hampir di setiap akhir tahun Masehi persoalan ini selalu muncul menjadi polemik yang berulang-ulang.

Sebagai pendiri dan imam dari jamaah shalawat Istirham, ia kemudian memberikan solusinya dengan membuat kalender sendiri berbasis sistem matahari yang sama dengan Masehi dengan nama penanggalan Istirhamiah.

Perbedaan penanggalan Istirhamiah dengan penanggalan Masehi bukan hanya mengganti kata Masehi dengan Istirhamiah, tetapi juga awal tahunnya. Penanggalan Istirhamiah dimulai dari tahun 1998, tahun mulai disusunnya shalawat Istirham, maka tahun 2019 Masehi adalah tahun 21 Istirhamiah.

Begitu pula nama-nama bulan di penanggalan Istirhamiah diganti olehnya sebagai berikut: Rahmani (Januari), Rahimi (Februari), Miratsi (Maret), Turatsi (April), Miladi (Mei), Albaits (Juni), Ashfiya (Juli),  Najmi (Agustus), Shalli (September), Sallim (Oktober), Baarik (November), Samandi (Desember).

Kata Samandi untuk bulan ke-12 diambil dari nama leluhur Kiai Abdurrahim yang bernama Pangeran Samandi, Demak, Jawa Tengah. Ini adalah bukti dari kepeduliannya pada kearifan lokal.

Maka, pergantian tahun baru Masehi bagi seluruh jamaah shalawat Istirhamiah di seluruh dunia diperingati sebagai tahun baru Istirhamiah. Ia berharap pada umat Islam, khususnya jamaah shalawat Istirham, hanya punya dua sistem penanggalan saja, yaitu sistem penanggalan Hijriyah (lunar system) dan sistem penanggalan Istirhamiah (solar system). Selamat tahun baru Istirhamiah, 21 Istirhamiah. Alhamdulillah, shallu `alan nabi!


*) Peneliti dan Penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Kini ia diamanahi sebagai Sekretaris RMI NU DKI Jakarta.
Tags:
Bagikan:
Senin 31 Desember 2018 23:0 WIB
Makna Kematian Para Kiai
Makna Kematian Para Kiai
Oleh Abdullah Alawi

Tahun ini, yang terekam NU Online, situs resmi PBNU, hampir 30 kiai meninggal dunia. Mereka adalah pengurus atau tokoh NU baik di tingkat daerah maupun tingkat pusat. Mereka memiliki keahlian khusus misalnya dalam bidang fiqih, faroid, falak, khitabah (ceramah), bahkan matematika. Ada juga yang keahliannya menciptakan lagu dan menulis kitab.

Pada bulan Mei, warga NU ditinggal lima tokohnya yaitu pada waktu berdekatan NU. Secara beruntun NU ditinggal KH Sholeh Qosim (Sidoarjo) pada (10/5), KH Amin Chamid (Magelang) pada Kamis (10/5), dalang Ki Enthus Susmono (Tegal) pada Senin (14/5), KH Bukhori Masruri (Semarang) dan KH Maghfur Utsman Rabu (17/5). 

KH Sholeh Qosim (Sidoarjo), seorang laskar Sabilillah yang turut bertempur pada peristiwa 10 November di Surabaya, penasihat Masjid Agung Sunan Ampel dan JATMAN Wustho Jatim (banom tarekat NU).

KH Amin Chamid (Magelang), Penasihat Majelis Dzikir Rijalul Ansor. Dalang Ki Enthus Susmono (Tegal), pernah Satkorcab Banser Tegal, Wakil Ketua Lesbumi PBNU. 

KH Bukhori Masruri (Semarang) seorang penceramah dan pencipta lagu-lagu kasidah Nasida Ria, Ketua PWNU Jawa Tengah 1985-1995. Menurut Mustasyar PBNU Mustofa Bisri, almarhum merupakan seorang penceramah dengan hati. 

KH Maghfur Utsman, Pengasuh Pondok Pesantren As-Salam Cepu, Mustasyar PBNU 2010-2015

Di tahun ini ada dua kematian kiai yang membuat publik geger, pertama yaitu di Desa Noyontaan, Pekalongan Timur geger seorang imam meninggal saat shalat tarawih pada Selasa malam (29/5). Sang imam tersebut adalah Ustadz Nasrullah, Rais Syuriyah PRNU Noyontaan

Kedua, penceramah kondang NU di Malang, KH Buchori Amin meninggal dunia, Sabtu (15/12). Ia meninggal saat berceramah di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al Islahiyah Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia merupakan Wakil Rais Syuriyah Malang. 

Tentang kematian para kiai, Penjabat Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar berpendapat, meninggalnya para kiai merupakan kesedihan yang luar biasa. Menurut dia, meninggal seorang alim ibarat retaknya sebuah bangunan yang sempurna. Keretakan itu tidak akan pernah tersempurnakan lagi karena seorang alim tersebut membawa pergi ilmu, kelebihan, kebijaksanaannya, dan lainnya. 

Karena, ketika seorang alim wafat, yang ditinggalkannya paling juga hanya 10 persen. Sementara sisanya terbawa dengan sendirinya. 

Hal senada diungkapkan Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin dalam berbagai kesempatan. Menurutnya, mautul ‘alim, mautul alam. Wafatnya orang alim, itu matinya alam. Bahkan menurut dia, setiap ulama meninggal, segala kharisma bahkan ilmunya dibawa pergi. 

Dengan demikian, mendukung santri-santri di pesantren untuk tafaquh fid din adalah hal yang niscaya. Persemaian bibit-bibit santri merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab, semakin lama orang yang benar-benar paham soal agama atau ulama semakin berkurang karena dimakan usia. Nah, keberadaan santri diharapkan dapat menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan para ulama di masa yang akan datang 

Sebab, kalau tidak ada penerus para kiai yang alim, sangat berbahaya. Kalau sampai tidak tersisa orang alim, manusia akan mengangkat manusia zalim sebagai pemimpinnya, maka mereka semua sesat dan menyesatkan. (Abdullah Alawi)


Senin 31 Desember 2018 12:0 WIB
Menjaga Marwah di Malam Tahun Baru
Menjaga Marwah di Malam Tahun Baru
Ilustrasi (via Malang Times)
Oleh Moch. Rofi’i Boenawi

Tahun baru merupakan budaya yang selalu dirayakan di berbagai negara termasuk di Indonesia. Semua negara di dunia mengadopsi kalender Gregorian begitu juga Indonesia. Perayaan ini ditandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mengakar di Indonesia terjadi pada malam tahun baru, sejak matahari terbenam (petang) hingga tengah malam hari pada 31 Desember yang merupakan pucuk dari tahun pada kalender masehi. 

Pada malam tahun baru, masyarakat seluruh dunia termasuk di Indonesia merayakan dengan berbagai kegiatan. Kalau di desa, malam tahun baru diisi dengan bakar-bakar jagung di kampung, berkumpul dengan keluarga sambil menikmati menu makan malam, berkumpul bareng tetangga ditemani cemilan ringan seperti kacang lengkap dengan polo pendem (makanan yang diambil dari dalam tanah) dan karaoke di depan rumah hingga menutup jalan kampung.

Kondisi itu berbeda dengan masyarakat di perkotaan. Masyarakat kota lebih dikenal dengan istilah euforia (suatu perasaan senang yang berlebihan dan tidak beralasan atau rasa optimisme pada kekuatan yang tidak rasional–, KBBI). Masyarakat perkotaan lebih memilih keluar rumah dengan kelompoknya. 

Tidak sedikit generasi muda di perkotaan mengikuti gemgap gempita pada malam di penghunjung tahun. Seperti mereka menikmati suasana malam di jalanan, menikmati langit berhiasan kembang api, tak jarang di antara mereka juga ikut menghiasi gelapnya langit dengan kembang api. Sekian uang dibakar dengan sia-sia. Allah mengingatkan dalam QS Al-Israa ayat 27 yang artinya ‘Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya’.

Selain itu masyarakat ikut merayakan malam tahun baru dengan meniup terompet ketika jarum jam menunjukkan angka 12 malam atau nol nol secara bersamaan. Meniup terompet adalah perilakukan yang tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW.

Hadits Riwayat Abu Daud dan Al Baihaqi menjelaskan ketika Rasulullah meminta usulan kepada para sahabat bagaimana caranya mengumpulkan orang untuk shalat, di antara sahabat ada yang mengusulkan agar memakai terompet, lalu Nabi Muhammad SAW bersabda membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi. 

Jauh dari itu, generasi muda mudah terpancing dengan istilah perawan di jaman sekarang berarti tidak gaul, motor tak dimodif dengan kenalpot blong, ban standart diganti ban kecil itu namanya kurang pergaulan. Tidak sedikit pula generasi muda menghabiskan malam dipenghujung tahun itu dengan minum-minuman keras hingga mabuk, balapan liar pun terjadi. 

Tidak hanya itu, hampir seluruh mall dan pusat perbelanjaan mengartikan malam tahun baru sebagai malam gila-gilaan untuk meraih keuntungan yang lebih besar. Diskon besar-besaran hingga mencapai 50 sampai 70 persen. Konser musik digelar di mana-mana, mulai dari ruang terbuka hingga konser musik di ruang tertutup seperti club atau hiburan malam. 

Tidak ketinggalan beberapa tempat rekreasi, hotel maupun restoran pun berlomba-lomba menyemarakkan malam tahun baru dengan membuat acara yang dapat menghipnotis pengunjung agar mendatangi tempat mereka. 

Tak salah kalau ada yang mengatakan bahwa momment pergantian tahun (seperti yang akan segera terjadi), terutama generasi muda dijadikan alasan untuk menginap di hotel, berfoya-foya, bahkan pesta seks di vila. Kalau ini yang terjadi maka agama Islam jelas melarang perayaan tahun baru dengan pesta seks, pesta minuman, dan perilaku negatif lainnya. 

Dalam Al-Quran Allah sangat jelas melarang berbuatan keji dan mendekati zina. Allah berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS Al Isra ayat 32).

Muhasabah Kunci Sukses Pelajar NU

Pelajar NU harus menjaga marwah malam tahun baru. Stop, segala kegiatan yang negatif. Mari kita menjadi pelopor. Stop perayaan malam tahun baru di jalan, tempat wisata, hotel, hiburan malam. Mari kita rayakan malam pergantian tahun dengan muhasabah (intropeksi) diri. Maimun bin Mahran Rahimahullah berkata: “Tidaklah seorang hamba menjadi bertaqwa sampai dia melakukan muhasabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit yang membuat perhitungan dengan temannya”.

Sungguh muhasabah adalah sesuatu yang baik, terlebih apabila hal itu bisa menjadi kebiasaan, karena muhasabah adalah kunci sukses kehidupan manusia unggul, seperti generasi terbaik umat ini, para sahabat. Sejarah mencatat, kehidupan mereka tidak pernah sepi dari muhasabah.

Selain itu, Pelajar NU harus mengisi malam tahun baru dengan taqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah dengan memperbanyak dzikir. Allah berfirman dalam hadist Qudsi, “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepadanya; tidaklah hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan nafilah-nafilah (nawafil) hingga aku mencintainya.” (HR Al-Bukhari & Muslim).

Dua perilaku itu lebih baiknya dilakukan di musholla atau Masjid secara bersamaan. Generasi NU harus menjadi pelopor gerakan malam tahun baru di masjid dengan mengajak masyarakat sekitar. Kegiatan yang sederhana tapi bisa muhasabah dan mengingat kebesaran Allah. Seperti berdzikir bersama, membaca doa akhir dan awal tahun, shalat malam, shalat hajat dan ditambai shalat tasbih di sepertiga malam. 

Terakhir, sebagai generasi NU di awal tahun harus punya perencanaan agar ada target yang harus dicapai. Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr 18).

Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.

Mari di akhir tahun lakukanlah hal yang positif dengan kegiatan yang produktif di penghujung tahun. Mari songsong tahun baru 2019 dengan lebih baik lagi, agar kehidupan ini lebih bermanfaat, terlebih di media sosial. Apalagi di tahun politik, banyak hoaks berterbangan di jagat maya. Pemuda harus menjadi pelopor malam tahun baru di masjid.


Penulis adalah Koordinator Lembaga Pers dan Media PW IPNU Jatim dan Pengurus Remaja Masjid Nasional Al Akbar Surabaya
Senin 31 Desember 2018 5:30 WIB
Bulan Ke-13: Penjelasan tentang Hijriah dan Masehi
Bulan Ke-13: Penjelasan tentang Hijriah dan Masehi
Ilustrasi (ist)
Oleh A. Khoirul Anam

Tidak benar sepenuhnya bahwa kalender masehi ini milik non-Muslim dan kalender hijriah milik Muslim. Ihwal penanggalan hijriah dan masehi sebenarnya tidak selalu terkait dengan urusan agama. Dia berkaitan dengan gejala alam yang distrukturkan melalui ilmu pengetahuan (astronomi) menjadi penanda masa. 

Tahun 1 Hijriyah juga ditandai dengan peristiwa hijrah, bukan lahirnya Nabi Muhammad SAW, peristiwa isra' mi'raj atau turunnya wahyu pertama. Hijrah dari Makkah ke Madinah adalah sebuah peristiwa sosial, berkaitan dengan perubahan sebuah peradaban besar.

Nama-nama bulan dalam kalender hijriah sendiri diambil dari nama-nama musim dan sesuai dengan padanannya dalam kalender masehi ketika itu, kecuali bulan Muharram dan Dzulhijjah. Muharram artinya bulan yang dihormati. Orang-orang ketika itu tidak diperbolehkan berperang di bulan ini, dan di tiga bulan lainnya. Dzulhijjah artinya bulan untuk berhaji.

Nama-nama sepuluh bulan lainnya adalah nama-nama musim. Shafar artinya kuning, tumbuhan mulai menguning. Rabiul awal dan Rabiuts tsani artinya musim gugur pertama dan kedua. Jumadil ula danJumadits tsani artinya musim dingin pertama dan kedua (jumud artinya beku). Rajab artinya cair, es sudah mulai mencair.

Sya'ban artinya lembah, orang-orang Arab sudah mulai ke ladang untuk bercocok tanam. Ramadhan artinya pembakaran, mulai masuk musim panas. Syawal berarti peningkatan suhu, panas sekali. Puncaknya adalah bulan Dzulqa'dah, artinya saat orang duduk-duduk tidak keluar rumah. Terakhir Dzulhijjah waktunya orang berhaji.

Bulan Muharram dan seterusnya sampai Dzulhijjah ketika itu disesuaikan dengan padanannya dalam kalender masehi, secara berurutan mulai September.

Pada masa awal Islam, sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Arab adalah penggabungan antara penanggalan bulan (lunar) dan solar (matahari), qamariyah dan syamsiyah, atau hijriah dan masehi: Penggabungan dua sistem penanggalan sekaligus. Jadi pengitungan perbulannya mengikuti sistem qamariyah (29 atau 30 hari), tapi jumlah setahunnya mengikuti sistem syamsiyah (365/366 untuk kabisat).

Masalahnya, jumlah hari dalam sistem qamariyah adalah 354 hari, sehingga ada selisih 11 hari. Karena itu, dalam beberapa tahun sekali terdapat penambahan bulan (bulan ke-13) yang dalam ilmu falak disebut interkalasi. Penambahan bulan ini bertujuan agar kalender qamariyah bisa sejajar kalender syamsiyah, secara teknis juga sejajar dengan perubahan musim.

Namun kapan tepatnya penambahan bulan ini tidak disepakati sehingga memunculkan masalah yang rumit. Bangsa Arab (warisan Nabi Ibrahim) sudah menyepakati untuk tidak berperang pada empat bulan khusus: Muharram, Rajab, Dzulqa'dah dan Dzulhijjah. Tapi ketidakpastian penambahan bulan ke-13 ini menyebabkan jadwal gencatan senjata jadi kacau, rawan kecurangan.

Sampai akhirnya turun Surat at-Taubah ayat 36. إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا... “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan.. Setelah itu orang Arab mulai memakai kalender bulan murni, lunar.

Dampaknya (karena perbedaan jumlah hari dalam dua sistem penanggalan), bulan-bulan dalam hijriah tidak lagi sepadan dengan masehi, berubah-ubah. Tapi hikmahnya, misalnya, orang Arab juga Eropa atau kawasan dengan banyak musim tidak selalu berpuasa pada musim panas. Juga, kadang berpuasa sampai 18 jam, kadang cuma 10/11 jam.

Nah Indonesia adalah kawasan tropis dengan perubahan musim yang normal-normal saja, sangat berbeda dengan kawasan dengan banyak musim. Apalagi jika dibandingkan dengan misalnya daerah di kawasan negara bagian Alaska yang selama 65 hari (November-Januari) tidak menemukan matahari, selalu malam.

Kenormalan ini mungkin yang menyebabkan kita santai-santai saja. Kita tidak punya tantangan alam. Namun, dengan melihat perubahan masa sebagai gejala alam (ilmiah) ditambah kejadian bencana alam silih berganti mudah-mudahan membuka mata kita untuk terus berbenah. Erupsi gunung berapi, gempa dan tsunami adalah gejala alam juga.

Jangan sampai (naudzubillah) gejala alam dianggap sebagai adzab bagi suku atau penduduk tertentu atau periode kepemimpinan tertentu. Setelah berucap "subhanallah" selanjutnya, gejala alam harus disikapi dengan serangkaian riset. Gejala alam harus menjadi rahmat, bukan musibah.


Penulis adalah Redaktur Senior NU Online
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG