IMG-LOGO
Tokoh

Riwayat Singkat KH Abdullah Mubarok atau Abah Sepuh

Selasa 1 Januari 2019 2:0 WIB
Bagikan:
Riwayat Singkat KH Abdullah Mubarok atau Abah Sepuh
KH Abdullah Mubarok berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia lebih dikenal sebagai Abah Sepuh, ajengan pendiri dan pemimpin pesantren Suryalaya, Pagerageung, Tasikmlaya. Selain itu, dia juga seorang mursyid Tarekat Qodiriyyah Naqsababandiyah (TQN) yang diangkat sebagai mursyid tahun 1908.

Abah Sepuh lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang. Sekarang, kampung tersebut masuk ke dalam Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Waktu kecil ia belajar mengaji kepada ayahnya, R. Nurapraja yang bekerja sebagai upas kecamatan.

Ia kemudian dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kiai Jangkung. Sejak kecil, sudah gemar mengaji dan mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. 

Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya, ia melanjutkan menimba ilmu agama ke pesantren Sukamiskin Bandung. Di Pesantren Sukamiskin, ia mendalami fiqih, nahwu, dan shraf. Selain di pesantren tersebut, ia juga belajar tarekat kepada pada Syekh Tolhah di Trusmi, Cirebon dan dan Syekh Kholil Bangkalan, Madura. 

Pada tahun 1890, ketika usianya setengah abad, ia membuka pengajian. Mula-mula di kampung Tundangan, kemudian ke kapung Cisero. Dan baru tahun 1902, ia pindah ke kampung Godebag. Karena itulah ia dikenal dengan sebutan Ajengan Godebag. Pada tahun 1905, ia mendirikan pesantren Suryalaya yang ternyata menarik minat masyarakat dan kemudian berkembang subur dan masih berdiri dan berkembang hingga sekarang. 

Pada tahun 1907, guru tarekatnya dari Cirebon, Syekh Tolhah, sempat mengunjungi pesantren Godebag. Gurunya tersebut melihat pesantren sebagai masa depan cerah untuk mengembangkan ilmu agama, termasuk tarekat. Maka, sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun,  ia diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah.

Di dalam tarekat itu, ia juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.  Sejak diangkat menjadi mursyid, ia semakin dikenal sebagai kiai dan pemimpin tarekat.  

Pada tahun 1950, ketika usianya memasuki 114 tahu, Abah Sepuh mengangkat salah seorang putranya, KH Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin, sebagai pendamping yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. 

Pada tahun 1952, karena menghebatnya gangguan keamanan disamping usianya yang sudah uzur, Abah Sepuh bertetirah di Kota Tasikmalaya. Setelah menjalani masa yang cukup panjang, Abah Sepuh wafat pada tangal 25 Januari 1956 dalam usia yang cukup panjang, yaitu 120 tahun.

Ia meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia. Pesantren tersebut dilanjutkan putranya yang sudah dipersiapkan sejak awal, Abah Anom. Putranya yang kelima tersebut juga melanjutkan dan menggantinya dalam mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Senin 31 Desember 2018 14:0 WIB
Riwayat KH Muhammad Masthuro dan Wasiatnya
Riwayat KH Muhammad Masthuro dan Wasiatnya
Ajengan KH Muhammad Masthuro adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Masthuriyyah, Babakan Tipar, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat. Ia lahir di Kampung Cikaroya, Tipar, Sukabumi pada tahun 1901. 

Masa kanak-kanak Masthuro belajar kepada ayahnya bernama Kamsol, seorang amil atau lebe yang bertugas mengurusi masalah keagamaan di desa. Kemudian ia berguru kepada kiai-kiai di Sukabumi diantaranya: H. Asy’ari (dari tahun 1909 sampai 1911) K.H. Katobi (dari 1911 sampai 1914) KH Hasan Basri (tahun 1914 sampai 1915) K.H. Muhammad Kurdi (tahun 1914 sampai 1915), K.H. Ghazali (dari 1915-1916) K.H. Muhammad Sidiq (tahun 1916-1916) KH Ahmad Sanusi (tahun 1918 sampai 1920).

Kemudian ia belajar kepada Habib Syekh bin Salim Al Atthas, guru para ajengan Sukabumi. KH Masthuro merupakan santrinya yang paling disayang, sehingga sebelum wafat, Habib Syekh berpesan supaya dikebumikan di samping KH Masthuro. Kedua ulama tersebut dimakamkan berdampingan di Pesantren Al-Masthuriyah.

KH Masthuro memiliki 13 putra dan putri. Salah seorang putranya, almarhum KH E. Fachrudin Masthuro, pernah menjabat Wakil Rais ‘Aam PBNU, hingga wafatnya menjadi salah seorang Mustasyar PBNU. 

Sebagai seorang yang hidup di masa penjajahan Belanda, KH Masthuro memperlihatkan keberaniannya. Ia melindungi para pejuang dan rakyat Indonesia. Sering penjajah memeriksa pesantrennya, tetapi KH Masthuro tidak menyerahkan mereka yang meminta perlindungan itu, sekalipun penjajah menodongkan senjata kepadanya.

Sebelum wafat, KH Masthuro mewasiatkan 6 hal kepada anak-anak dan mantu-mantunya, yaitu:

1. Kudu ngahiji dina ngamajukeun pesantren, madrasah. Ulah pagirang-girang tampian. (harus bersatu untuk kemajuan pesantren)
2. Ulah hasud (jangan hasud)
3. Kudu nutupan kaaeban batur (harus menutupi aib orang lain)
4. Kudu silih pika nyaah, (saling mengasihi)
5. Kudu boga karep sarerea hayang mere (suka memberi)
6. Kudu mapay tarekat anu geus dijalankeun ku Abah (harus mengikuti tarekat KH Masthuro)

Wasiat tersebut, hingga kini menjadi pegangan keturunan dan penerus KH Masthuro di pesantren Al-Masthuriyah. Terutama yang poin pertama, dalam keberlangsungan lembaga pendidikan memiliki makna penting untuk menanamkan dan memperkuat lembaga yang dirintisnya. Wasiat ini diungkapkan dengan jelas agar para pewaris perjuangan KH Masthuro tidak sulit menafsirkan maknanya.

Hampir seluruh putra-putri KH Masthuro tinggal di kompleks pesantren tersebut untuk turut serta mengembangkan Al-Masthuriyah. Hanya sekitar 20% cucunya yang tidak tinggal di pesantren yang kini sudah lengkap mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi.. 

KH Masthuro mengarang kitab berjudul Kaifiyatus Shalat, tebal 89 halaman, yang ditulis dengan bahasa Arab yang mudah dipahami. Kitab ini merupakan tukilan dari berbagai kitab yang membahas bab shalat, mulai dari Safinatun Naja, Sulam Munajat, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, tapi lebih banyak dari kitab Bajuri. (Abdullah Alawi)



Rabu 19 Desember 2018 13:0 WIB
Sa’ad bin Abi Waqqash, Sahabat Nabi yang Mendakwahkan Islam di China
Sa’ad bin Abi Waqqash, Sahabat Nabi yang Mendakwahkan Islam di China
Masjid Sa'ad bin Abi Waqqash di Ghuangzhou. Foto: Andini/detikTravel
Oleh: A Muchlishon Rochmat

Sa’ad bin Abi Waqqash memiliki peran dan kontribusi yang besar dalam dakwah Islam. Bersama Rasulullah, dia hampir mengikuti semua peperangan untuk menegakkan Islam. Sa’ad bin Abi Waqqash juga adalah orang pertama yang melepaskan anak panah dalam peperangan membela Islam. Begitu pun menjadi orang pertama yang terkena anak panah.

Sa’ad bin Abi Waqqash memeluk Islam ketika usianya baru 17 tahun. Ia termasuk golongan yang pertama masuk Islam (assabiqunal awwalun). Sa’ad memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan. Diantaranya menjadi satu dari 10 orang yang dijamin Rasulullah masuk surga, orang yang doanya diterima –karena suatu ketika Rasulullah pernah berdoa agar doa Sa’ad selalu dikabulkan Allah, menjadi pasukan berkuda di Perang Bada dan Uhud.

Sebagaimana keterangan dalam buku Ash-Shaffah (Yakhsyallah Mansur, 2015), Sa’ad juga menjadi sebab turunnya (asbabun nuzul) tiga wahyu Allah kepada Rasulullah. Pertama, QS. Luqman ayat 15. Ayat ini turun setelah kejadian ibunda Sa’ad bin Abi Waqqash tidak mau makan karena tahu anaknya memeluk agama Islam. Kedua, QS. Al-An’am ayat 52-52. Menurut Sa’ad, ayat tersebut berkaitan dengan enam orang sahabat. Dan dirinya adalah salah satunya. 

Ketiga, QS. Al-Anfal ayat 1. Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil membunuh orang yang telah membunuh saudaranya, Umair, dalam Perang Badar. Sa’ad juga berhasil mengambil pedang orang tersebut sebagai ghanimah. Namun Rasulullah memerintahkannya agar pedang tersebut disimpan di tempat rampasan perang. Ini membuat Sa’ad sedih. Lalu turunnya ayat tersebut dan Rasulullah kemudian memberikan pedang tersebut kepada Sa’ad.

Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah satu sahabat yang memiliki umur panjang. Ia wafat pada usia 83 tahun. Ia hidup di era Rasulullah, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, dan Khalifah Utsman bin Affan. Pada saat kekhalifahan Umar bin Khattab, Sa’ad diangkat untuk memimpin pasukan umat Islam melawan Persia dalam Perang Kadisiah. Pasukan umat Islam dibawah komando Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Persia. Kemenangan ini sekaligus menjadi ‘pintu masuk’ dalam mendakwahkan Islam di bumi Persia.

Sementara pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash ditugaskan untuk memimpin delegasi ke China. Merujuk buku Perkembangan Islam di Tiongkok (Ibrahim Tien Ying Ma, 1979), ini menjadi tonggak pertama dakwah Islam di negeri tirai bambu. 

Sebetulnya ada banyak versi tentang awal dan proses masuknya Islam ke China. Ada yang menyebut Islam masuk ke China dibawa oleh sahabat Rasulullah yang menetap di Abyssinia (Ethiopia) setelah hijrah yang pertama. Mereka menetap di sana dan tidak kembali lagi ke Makkah setelah peristiwa hijrah itu. Kemudian beberapa tahun setelahnya, mereka berlayar dari Abyssinia ke China untuk mendakwahkan Islam.

Ada juga yang menyebut kalau Islam masuk ke China dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Hampir sama dengan versi yang pertama, Sa’ad bin Abi Waqqash berlayar dari Abyssinia ke China untuk menyebarkan Islam pada tahun 616 M. Setelah beberapa saat berada di China, Sa’ad balik ke Arab. Dan sekitar 20 tahun setelahnya Sa’ad kembali lagi ke China untuk meneruskan dakwahnya.

Dari semua versi yang ada, Ibrahim Tien Ying Ma menyebut bahwa yang paling valid adalah versi yang pertama. Dimana Sa’ad dikirim Khalifah Utsman bin Affan untuk memimpin delegasi  ke China untuk mendakwahkan Islam pada tahun 615 M, atau sekitar 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah. 

Dalam buku History of China (Ivan Taniputera, 2008), rombongan Muslim itu diterima dengan baik oleh Kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang. Kaisar China juga menunjukkan toleransinya. Dia memperbolehkan delegasi umat Islam tersebut tidak melakukan tradisi penyembahan di hadapan kaisar. Sang Kaisar paham bahwa umat Islam tidak melakukan penyembahan terhadap manusia.   

Tidak hanya itu, Sang Kaisar China juga mengizinkan delegasi yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash itu untuk mendirikan tempat ibadah, masjid. Maka dibangun lah sebuah masjid agung pada 742 M. Masjid itu bernama Masjid Huaisheng atau dikenal dengan Masjid Sa’ad bin Abi Waqqash di Provinsi Guanzhou. Masjid yang dibangun di atas lahan seluas 5 hektare itu menjadi salah satu masjid tertua di China. 

Konon, Sa’ad bin Abi Waqqash menyebarkan Islam kepada masyarakat China hingga akhir hayatnya. Makamnya dikenal dengan Geys' Mazars. Versi lain menyebutkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash wafat di Aqiq –sekitar 18 mil dari Madinah- dan dimakamkan di Baqi'.
Kamis 13 Desember 2018 22:0 WIB
KH Oding Muhammad Abdul Qodir dan Lima Amalan Hidupnya
KH Oding Muhammad Abdul Qodir dan Lima Amalan Hidupnya
KH Oding Muhammad Abdul Qodir
Kiai Haji Oding Muhammad Abdul Qodir atau yang biasa akrab disapa dengan Engkang atau Apa, merupakan sesepuh Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Mulyasari Tamansari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia dilahirkan dari pasangan Ahmid dan Encum di Tasikmalaya pada tanggal 8 Agustus 1942.

KH Oding menuntut ilmu agama di beberapa pondok pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Al Ihsan, Pesantren Al-Ihsan Ashorfiyah Ciharashas Tasikmalaya, Pondok Pesantren Bantar Gedang, Pondok Pesantren Cihaji, Pondok Pesantren Sadang Garut, Pondok Pesantren Darul Qur’an Cianjur.

Semasa hidupnya Engkang aktif berorganisasi, di antaranya di Gerakan Pemuda (GP) Anshor, di Kecamatan Tamansari sebagai Ketua Pendidikan dan di MUI Mulyasari sebagai ketua. Pada tahun Tanggal 8 Agustus 1970, Engkang menikah dengan Epon Muhlisatul Anwariyah, yang kemudian mempunyai tujuh anak. Ketujuh putra-putrinya Ai Nuraisyah (almarhum), Ade Ida Nurfarida, Rosyad Nurdin, Iip Nafisah, Ujang Alawil Hadad Abdussalam, Ali Maemuham (Almarhum), dan Cucu Mahmudah.

Engkang juga mempunyai peran dan andil yang besar baik di Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum maupun di masyarakat. Di Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum, selain sebagai sesepuh, ia juga yang sekaligus sebagai Dewan Kiai Pengajar. Adapun di masyarakat, selama 48 tahun menjadi Ketua DKM. Selain itu ia juga menjadi Kepala Madrasah Diniyah selama 23 tahun.

Peranannya dalam bermasyarakat selama hidupnya selalu diabdikan untuk keumatan. Tidak hanya di lingkugan masyarakat Desa Mulyasari yang menjadi tempat tinggalnya, melainkan juga ke lingkungan masyarakat sekitar, seperti Desa Babakan Jati, Ciburuyan, Salamitan, Sumur Haur, Bojong Herang, Sumur Dago dan Sukasirna.

Amaliah yang selalu dibiasakan oleh Engkang adalah shalat awal waktu dan khatam Qur'an dalam seminggu sebanyak dua hingga tiga kali. Beberapa ungkapan hikmah dan nasihatnya adalah Rek di mana wae  gaul, ulah jauh jeng masjid (Di mana saja bergaul, jangan jauh dari masjid); Sing gede pangampura ka jalma anu bodo (Berbesar maaflah kepada orang yang bodoh).

Nasihat lainnya, Tong cape mikiran urusan dunia (Jangan lelah memikirkan urusan duniawi); Sing jaradi ahli kahadean naon bae anu mampu (Jadilah ahli kebaikan apa saja yang mampu); Saalitken carios, seerken damel (Sedikitkanlah berbicara, perbanyaklah kerja).

Engkang wafat pada hari Jumat 7 Desember 2018 pukul 19:05 WIB pada usia 78 tahun di Rumah Sakit Jasa Kartini Tasikmalaya. Berita kewafatannya yang tersebar di grup Whatsapp Info Muqimin Muqimat MU yang menjadi media interaksi dan informasi bagi para alumnus Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Mulyasari Tamansari Tasikmalaya.

Berita tersebut mengundang kesedihan yang mendalam bagi para murid, keluarga dan masyarakat yang mengenalnya. Mereka berdoa, KH Oding Muhammad Abdul Qodir wafat dalam keadaan khusnul khatimah, diampuni semua dosanya, dan diterima amal ibadahnya. Alfatihah.

Muhammad Azis, alumnus Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Mulyasari Tamansari Tasikmalaya.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG