IMG-LOGO
Daerah

PCNU Pamekasan Dukung Pemkab Tutup Karaoke

Rabu 2 Januari 2019 8:32 WIB
Bagikan:
PCNU Pamekasan Dukung Pemkab Tutup Karaoke

Pamekasan, NU Online
Dengan sikap tegas tanpa mengenyampingkan pendekatan kekeluargaan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan sukses menutup tempat-tempat karaoke yang berbau maksiat, Selasa (1/1). Bupati Baddrut Tamam yang juga A'wan PWNU Jatim memimpin langsung proses penutupan rumah bernyanyi itu.

Langkah tegas tersebut mendapat dukungan penuh dari PCNU Kabupaten Pamekasan. Sebab, keberadaan tempat karaoke tersebut ditengarai tidak sekedar menjadi tempat bernyanyi, tapi juga menjadi ajang perbuatan maksiat. PCNU Pamekasan dan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) se-Kabupaten Pamekasan sudah lama menyoroti itu.

"PCNU sejak dulu sudah berusaha  menutup tempat-tempat yang disinyalir mengarah pada kemaksiatan, baik itu yang berizin yang disalahgunakan, lebih-lebih yang ilegal," ungkap Ketua PCNU Pamekasan, KH Taufik Hasyim kepada NU Online.

Menurutnya, PCNU bersama ormas yang tergabung dalam FOKUS (Forum Komunikasi Ormas Islam), telah beberapa kali membahas dan merumuskan beberapa poin dan langkah-langkah untuk menertibkan tempat-tempat karaoke tersebut, namun belum berhasil direalisasikan.

“Baru kali ini bisa. Kemaksitan itu sudah mencederai Gerbang Salam (slogan Pemkab Pamekasan)," tegas Pengasuh Pesantren Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan tersebut.

Dikatakannya, PCNU mendukung langkah-langkah penutupan dengan cara baik, santun, tanpa kekerasan dan tanpa teriakan caci maki. Karena bagi NU, amar makruf harus dengan cara makruf dan nahi mungkar juga harus lewar cara yang makruf.

"Itu prinsip perjuangan dan dakwah NU," tambah Kiai Taufik.

Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada pemkab khususnya bupati, polres, dandim, dan seluruh ormas yang bersatu untuk penutupan karaoke.

"Selanjutnya, kami harap ada kerja sama dari pihak-pihak terkait. Kita akan kawal terus hingga terbitnya perda yang mengatur tentang ini," tukasnya. (Hairul Anam/Aryudi AR)

Bagikan:
Rabu 2 Januari 2019 23:0 WIB
Menjaga Al-Qur'an di Rumah Petakan
Menjaga Al-Qur'an di Rumah Petakan
Santri Pesantren Al Husna Pringsewu
Pringsewu, NU Online
Sekilas tidak ada yang berbeda dari komplek perumahan warga yang berada di Kelurahan Pringsewu Barat Kabupaten Pringsewu, Lampung ini.  Bangunan rumah berarsitektur minimalis-futuristik mencerminkan gaya hidup modern dipadu warna warni cat tembok ini dihuni oleh para pegawai dan pekerja lepas. Ditambah lagi lahan tanah dan badan jalan yang sempit menjadikan lokasi perumahan ini terasa padat.

Namun suasana terasa berbeda saat memasuki jalan utama perumahan tersebut. Tidak seperti biasanya perumahan yang banyak terparkir mobil di bahu jalan. Diperumahan ini banyak ditemui anak-anak muda berpeci dan bersarung hilir mudik masuk dari rumah satu ke rumah lain.

Rumah yang ditempati mereka tampak berbeda karena hanya rumah petak yang disekat menjadi beberapa ruang. Sebagian dari mereka duduk membaca Al-Qur'an sambil sesekali menutup mata mereka.

Para pemuda ini adalah para santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al Husna asuhan KH Abdul Hamid Al Hafidz yang berlokasi di komplek perumahan tersebut. Para santri ini terpaksa tinggal di sebuah rumah petakan berupa kos-kosan yang disewa untuk mereka tinggali.

"Di sini lahannya terbatas. Rumah saya pun sudah saya modifikasi. Bagaimana caranya para santri yang putri bisa tinggal nyaman dan khusyuk untuk menghafal Al-Qur'an," kata KH Abdul Hamid yang juga seorang hafidz Al-Qur'an ini kepada NU Online, Rabu (2/1).

Kiai muda ini pun mengisahkan awal mula ia bersama istrinya yang juga seorang hafidzah, tinggal di perumahan tersebut bersama para santrinya.

"Tadinya saya tinggal di Masjid Sunan Giri Pringsewu Barat yang tak jauh jaraknya dari sini. Saya dan istri mengajar anak-anak di TPA masjid tersebut. Setelah itu beberapa orang tua datang dan ingin menitipkan anaknya untuk belajar dan tinggal bersama saya. Saya sudah sampaikan saya tidak punya rumah. Namun mereka tidak mempermasalahkannya dan tetap ingin anaknya bersama saya," katanya.

Semakin hari, semakin banyak para santri yang ikut dengan pria yang saat ini tercatat sebagai Rais Syuriyah Ranting NU Pringsewu Barat ini. Kondisi ini pun "memaksanya" untuk memiliki tempat sendiri untuk menampung para santri.

Dengan tabungan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun akhirnya ia bisa membeli satu kapling tanah perumahan yang saat ini ia tinggali bersama istri, anak dan para santrinya. Tidak mudah menabung uang di tengah kehidupan yang pas-pasan hanya sebagai penunggu masjid. Keinginan kuat untuk hidup mandiri dan rumah sendiri, membuat Kiai Hamid berjuang dengan melamar sebagai guru honor di beberapa sekolah. Dengan ini, ia berhasil juga membangun rumah sederhana di atas tanah yang ia beli.

"Untuk santri putra terpaksa saya sewakan rumah tetangga yang dibuat berpetak-petak ukuran 3x3 meter persegi. Alhamdulillah selalu saja ada rezeki saatnya jatuh tempo membayar sewa rumah," ungkapnya.

Ada lima puluh lebih santri yang sekarang tinggal bersama kiai muda penyandang doktor hafidz pertama dari UIN Raden Intan Lampung ini. Dari sejumlah para santri yang harus tinggal berdesak-desakan di rumah petakan tersebut, ada 11 santri diantaranya yang sudah menyelesaikan hafalan 30 juz.

"Secara pribadi saya bersyukur bisa mendidik dan membimbing para hafidz dan hafidzah ini. Namun di sisi lain saya kasihan dengan mereka yang harus tinggal dengan kondisi seadanya," tuturnya.

Melihat kondisi semakin banyaknya santri yang mendaftarkan diri ke pesantrennya, Kiai Hamid pun sedang berusaha untuk mencari lokasi tepat untuk pengembangan pesantrennya.

"Minta doa dan dukungan mudah-mudahan niatan untuk terus mengembangkan pesantren tahfidz ini diijabah oleh Allah SWT," pintanya.

Kedepan Kiai Hamid memimpikan para santri asuhannya nanti memiliki tempat yang nyaman untuk menjaga Al-Qur'an dengan menghafalkannya. Sekarang ia harus bersabar bersama para santrinya menjaga Al-Qur'an di rumah petakan. (Muhammad Faizin)
Rabu 2 Januari 2019 22:30 WIB
Banser dan Denwatser Harus Lebih Militan Jalankan Tugas
Banser dan Denwatser Harus Lebih Militan Jalankan Tugas
Pringsewu, NU Online
Tujuan dari setiap diadakannya Diklat Terpadu Dasar atau DTD Barisan Ansor Serbaguna dan Detasemen Wanita Banser (Denwatser) selain menggenjot dari segi kuantitas anggota, segi kualitas anggota juga harus digenjot agar seimbang. Tentu melalui materi dan latihan fisik yang sudah didapat selama mengikuti kegiatan. 

Sunarman selaku Komandan Banser Pringsewu, Lampung mengatakan bahwa perlunya pembinaan bagi anggota baru pasca Diklat. “Hal ini untuk lebih menjadikan Banser dan Denwatser baru lebih militan lagi dalam menjalan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan apa yang termaktub dalam Nawa Prasetiya Banser,” katanya, Selasa (1/1).

Hal tersebut disampaikannya usai penggemblengan selama empat hari sejak Sabtu (29/12) sampai Selasa (1/1) DTD Banser dan Denwatser Angkatan IX. Kegiatan dilaksanakan di gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Pringsewu dan diikuti puluhan anggota baru Banser dan Denwatser Kabupaten Pringsewu.

"Selama kegiatan penggemblengan, saya selalu mengingatkan dan meminta kepada anggota agar mereka lebih militan lagi dalam melaksanakan tugas sebagai Banser dan Denwatser," terang Sunarman.

Dirinya juga meminta agar peserta satu komando dengan instruksi yang diberikan Satkorcab, Satkorwil, maupun Satkornas. “Koordinasi dilakukan dengan masing-masing ketua Ansor sebagai pimpinan tertinggi di wilayahnya,” ungkapnya.

Menurutnya, siapapun pemimpinnya, yang menjadi komandan, maka sebagai anggota wajib mengikuti. “Serta melaksanakan instruksi pimpinan dan komandan,” imbuhnya.

Pembinaan usai DTD, akan dilakukan kegiatan bina mental bagi anggota Banser-Denwatser. “Kegiatan lebih kepada pembinaan secara mental agar anggota memiliki jiwa dan karakter kuat sebagai Banser dan Denwatser dalam menjalankan tugas,” urainya.

“Sedangkan jadwal pelaksanaan, menunggu koordinasi dengan Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pringsewu selaku organisasi induk Banser Pringsewu,” pungkasnya. (Henudin/Ibnu Nawawi

Rabu 2 Januari 2019 21:30 WIB
GP Ansor Simpenan Galang Bantuan untuk Korban Longsor
GP Ansor Simpenan Galang Bantuan untuk Korban Longsor
Sukabumi, NU Online 
Pimpinan Anak cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi menggalang bantuan untuk korban longsor di Kampung Garehong, Dusun Cimapag, Kecamatan Cisolok.

Ketua PAC Ansor Simpenan Satwansah mengatakan, pihaknya menerjunkan 20 orang anggota Ansor untuk melakukan penggalangan bantuan dalam bentuk apa pun.

Satwansah mengaku langsung terjun ke lapangan mendatangi rumah ke rumah, mengajak warga untuk menyisihkan sebagian harta dalam bentuk apa pun yang dibutuhkan untuk korban longsor.

Penggalangan dana dilakukan ke beberapa kampung di antaranya Padaasih, Sindangasih, Pasirmalang, Kalapa Dua, Babakan Sawah, Cimalaka, Cipicung dan Tangkolo Desa Mekar Asih.

“Alhamdulillah bukan hanya warga yang memberikan bantuan, bahkan lembaga pendidikan pun memberikan bantuannya di antaranya SMK Gentra Buana seluruh siswa memberikan bantuannya,” katanya.

Baca: Selain Beras, Ini yang Dibawa LAZISNU Kabupaten Sukabumi untuk Korban Longsor
Hasil dari penggalangan dana tersebut terkumpul berupa uang sebesar Rp. 2.392.000 dan 148 liter beras dan juga sejumlah pakaian layak pakai.

ini adalah sebagai bentuk kepedulian kami terhadap warga yang terkena musibah akan tetapi kami ingin memberikan sedikit bantuan untuk meringankan beban masyarakat yg terkena musibah. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG