IMG-LOGO
Fragmen

Sebab Munculnya Kredo KH Wahab Chasbullah

Rabu 2 Januari 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Sebab Munculnya Kredo KH Wahab Chasbullah
KH Wahab Chasbullah (Dok. Perpustakaan PBNU)
Kekuatan organisasi NU bukan hanya terletak pada jumlah jamaahnya, tetapi juga sanad keilmuan dan gerakan-gerakan sosial yang telah jauh dilakukan, bahkan sebelum NU dilahirkan pada 31 Januari 1926. Namun, kekuatan di segala lini tersebut kerap tidak dipahami oleh sejumlah pengurus NU dan warganya sehingga membuat KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) menegaskan sebuah kredo (pernyataan keyakinan).

Dalam kredonya, Kiai Wahab mengatakan, “Banyak pemimpin NU di daerah-daerah maupun di pusat yang tidak yakin akan kekuatan NU.  Mereka  lebih menyakini kekuatan golongan lain. Orang-orang ini terpengaruh oleh bisikan orang yang menghembuskan propaganda agar tidak yakin akan kekuatan yang dimilikinya. Kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi digoncangkan hati mereka oleh propaganda luar yang menghasut seolah-olah senjata itu bukan meriam tetapi hanya gelugu alias batang pohon kelapa sebagai meriam tiruan. Pemimpin NU yang tolol itu tidak sadar siasat lawan dalam menjatuhkan NU melalui cara membuat pemimpin NU ragu-ragu akan kekuatannya sendiri.” (Sumber: KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, LKiS, 2013: 497)

Hal itu disampaikan oleh Kiai Wahab saat dirinya telah dipilih sebagai Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar di Jakarta tahun 1950. Kredo tersebut ditegaskan kembali pada Konferensi Dakwah yang berlangsung pada 29 September-1 Oktober 1951.

Kiai Wahab merupakan guru tidak tetap di Madrasah Muballighin yang didirikan Kiai Saifuddin Zuhri pada 1 Januari 1952. Madrasah ini didirikan sebagai hasil konkret Konferensi Dakwah tersebut. Lembaga ini juga merupakan salah satu upaya strategis untuk membangkitkan NU dalam bentuk pengkaderan.

Suatu kebanggaan, karena menjadi cerminan besarnya tanggung jawab dan kerja sama yang baik bahwa media pendidikan kader NU itu hanya disiapkan dalam tempo tiga bulan di tengah suasana membangun NU kembali pascaperang kemerdekaan dan revolusi bersenjata antara 1945-1950.

Kiai Saifuddin Zuhri menegaskan bahwa peran Konferensi Dakwah di Magelang tersebut besar dan berhasil menggali gairah dan semangat membangun kembali jam’iyah NU. ‘Semangat Magelang’ itu pula yang menghayati Konferensi Dakwah untuk mempelopori kebangkitan NU setelah perang kemerdekaan.

Sejumlah tokoh NU kala itu memberikan pengarahan di hadapan 131 juru dakwah  yang mewakili cabang-cabang NU di seluruh Indonesia, khususnya Jawa. Sebab, daerah di luar pulau Jawa masih sukar dicapai melalui jalur organisasi akibat perang kemerdekaan.

Tidak ada yang meragukan kemampuan KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) dalam setiap lini kehidupan bangsa dan agama. Kiai yang dikenal ahli di bidang Ushul Fiqih ini menjadi motor penggerak umat Islam Indonesia, terutama kalangan pesantren dalam menghadapi penjajah bersama Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai lain.

Dalam pergerakan nasional, Kiai Wahab berjasa menumbuhkan dan mewariskan sikap nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia hingga saat ini. Madrasah Nahdlatul Wathan yang dibentuknya sekitar tahun 1916 untuk membentuk generasi muda cinta tanah air membuahkan warisan manis bagi persatuan bangsa Indonesia berdasar keyakinan agama para pemeluknya. Sejak dulu, para ulama pesantren menekankan bahwa cinta tanah air dan menjaga negara adalah kewajiban agama.

Besarnya jasa dan peran Kiai Wahab Chasbullah dalam membawa setiap pergerakan keagamaan dan kebangsaan ke arah persatuan dan kedaulatan bangsa membuatnya disebut sebagai seorang ‘sopir’, pengemudi, pengendali. Meskipun dirinya juga pernah menjadi sopir beneran ketika membawa para kiai ke sebuah kota di Banyumas, Jawa Tengah.

Perjuangan keras Kiai Wahab dalam membangkitkan pergerakan kaum pesantren juga telah dilakukan ketika menginisiasi pendirian Nahdlatut Tujjar dan Tashwirul Afkar.

Ketiga perkumpulan tersebut (Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, dan Tashwirul Afkar) dikatakan oleh sejumlah pakar merupakan embrio pendirian Nahdlatul Ulama, yakni kebangkitan ulama yang didasari oleh cinta tanah air, kebangkitan ekonomi, dan tradisi pemikiran akademik pesantren. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Rabu 2 Januari 2019 21:0 WIB
Ketika Habib yang Alim Hormat kepada Kiai NU
Ketika Habib yang Alim Hormat kepada Kiai NU
(Foto: @aliyahya) KHM Syafi'i Hadzami saat berbicara di sebuah acara di Jakarta yang juga dihadiri gurunya, Habib Ali Cikini, habaib, dan umat Islam.
Habib Ali bin Husein Al-Aththas (1889 M-1976 M) terkenal sebagai salah satu dari tiga serangkai habib di Jakarta pertengahan abad ke-20 M. Habib Ali bermigrasi dari negeri kelahirannya Huraidhah di Hadhramaut ke Indonesia dan menetap di Jakarta.

Habib Ali Al-Aththas dikenal juga dengan panggilan Habib Ali Bungur (Senen) atau Habib Ali Cikini karena ia pernah tinggal di dua daerah tersebut. Habib Ali Cikini merupakan ulama besar yang sangat disegani. Ia memiliki banyak murid yang terdiri atas habaib dan para kiai berpengaruh di Jakarta, Jawa Timur, hingga Malaysia.

Berbeda dari habib lain yang menyampaikan ajaran Islam melalui ceramah, Habib Ali Cikini memilih jalur pengajian kitab. Ia mengajarkan banyak kitab induk hadits, tafsir, ushul fiqih, dan kitab-kitab fiqih yang dianggap sebagai “kitab besar” saat itu. Tidak heran kalau habaib di Indonesia memberikan julukan "lautan ilmu" kepadanya.

Suatu hari habib yang dikenal jarang berbicara ini tidak hadir di sejumlah majelis taklim untuk menjalankan aktivitasnya dalam pengajian. Ketidakhadiran Habib Ali Cikini di majelis taklim kemudian diketahui karena kondisi kesehatannya yang menurun.

KHM Syafi’i Hadzami (1931 M-2006 M) salah satu murid Habib Ali Cikini datang ke rumahnya untuk menjenguk. Muallim Syafi’i Hadzami (Rais Syuriyah PBNU 1994 M-1999 M) melepas sandalnya di muka rumah Habib Ali Cikini dan mengetuk pintu. Jawaban atas salam Muallim Syafi’i Hadzami terdengar sayup dari dalam rumah.

Sampai di dalam Muallim Syafi’i Hadzami menanyakan keadaan gurunya dan seterusnya. Tahu Muallim Syafi’i Hadzami telanjang kaki, Habib Ali meminta muallim untuk memakai sandalnya. Tentu saja Muallim Syafi’i Hadzami menolak permintaan gurunya karena sebuah praktik yang sangat tidak lazim mengenakan sandal hingga ke dalam rumah guru.

Permintaan Habib Ali bukan pemanis bibir belaka. Ia kembali meminta Muallim Syafi’i Hadzami untuk mengenakan sandalnya yang dilepas di luar. Tetapi lagi-lagi Muallim Syafi’i Hadzami menolaknya. Tidak berapa lama, Habib Ali meninggalkan kamarnya. Habib Ali mengambilkan sandal Muallim Syafi’i Hadzami dan meminta muridnya untuk mengenakan sandal di kamar sang guru.

“Kalau bukan kecintaan yang sangat besar kepada muridnya ini, rasanya Habib Ali tidak akan melakukan hal itu. Beliau mencintai semua muridnya, tetapi Muallim Syafi’i diperlakukan secara khusus olehnya. Kecintaan dan perhatian Habib Ali Bungur kepada Muallim juga diakui dan diketahui oleh murid-murid beliau yang lain. Murid-murid Habib Ali yang lain banyak yang mendengar cerita darinya tentang keistimewaan Muallim Syafi’i Hadzami,” (Ali Yahya, 2012: 44).

Habib Ali Cikini pernah membuat syair yang ditujukan untuk Muallim Syafi'i Hadzami yang lebih menonjol di antara murid-muridnya yang lain.

مَنْ لِي بِمِثْلِ سَيْرِكَ المُذَلَّلِ

تَمْشِي رُوَيْدَ وَتَجِي بِالأَوَّلِ                                    

Artinya, “Siapa yang dapat menunjukkan kepadaku seperti perjalananmu yang dimudahkan.

                        Engkau berjalan perlahan-lahan, tetapi engkau sampai terlebih dahulu.

Habib Ali Cikini melafalkan syair ini di hadapan sejumlah kiai dan habib yang menjadi sahabat mengaji Muallim Syafi’i Hadzami di saat Habib Ali tahu bahwa rekaman siaran tanya jawab agama asuhan Muallim Syafi’i Hadzami di Radio Cenderawasih pimpinan Sechan Al-Aththas dicetak dalam bentuk buku dengan judul Taudhihul Adillah jilid I pada 1971 M.

Taudhihul Adillah adalah kitab yang memuat 100 pertanyaan berbagai persoalan dari masyarakat dan fatwa keagamaan yang disiarkan di Radio Cenderawasih. Kitab Taudhihul Adillah terus keluar hingga berjumlah 7 jilid.

Kitab Taudhihul Adillah hampir sama dengan Kitab Ahkamul Fuqaha (saat itu belum dicetak), kumpulan putusan keagamaan yang berisi tanya-jawab dalam forum muktamar, munas, dan konbes NU sejak 1926 M hingga kini. Kitab ini menjadi rujukan masyarakat pada umumnya perihal keagamaan. Kitab ini cukup laku keras di pasaran karena buku semacam ini terbilang langka di zamannya. Kitab ini membuka akses bagi masyarakat yang tidak dapat atau memiliki kompetensi "ala kadarnya" terhadap kitab kuning sebagai rujukan keagamaan.

Kemiripan kedua kitab ini tampak pada format, corak, dan referensi yang digunakan. Bedanya terletak pada jumlah pengambil putusannya. Pengambil putusan dalam Ahkamul Fuqaha adalah peserta muktamar, munas, dan konbes NU dari cabang dan wilayah NU se-Indonesia. Sementara Kitab Taudhihul Adillah merupakan “ijtihad” seorang Betawi Muallim Syafi’i Hadzami.

Habib Ali Cikini senang mendengarkan siaran keagamaan asuhan Muallim Syafi’i Hadzami di radio. Ia kerap menyatakan kepuasan atas jawaban-jawaban Muallim Syafi’i Hadzami dan memuji murid kesayangannya itu.

Habib Ali juga kerap memberikan panggung kepada muridnya itu untuk menyampaikan ceramah agama di pelbagai kesempatan yang dihadiri oleh habaib, para kiai, dan umat Islam. Sepekan sebelum wafat, Habib Ali memberikan ijazah ilmu kepada muridnya itu dengan sanad yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

Profil Singkat Habib Ali Cikini
Habib Ali bermigrasi dari negeri kelahirannya Hadhramaut ke Indonesia dan menetap di Jakarta. Ia seorang traveller yang tidak berpikir untuk pulang ke tanah halamannya sebagai konon citra sufi zaman dulu. Ia telah mencapai makrifat yang tidak lagi memandang manusia dari bangsa dan keturunannya.

Habib Ali yang alim dan banyak karamahnya ini adalah salah satu dari tiga serangkai habib berpengaruh di Jakarta. Dua habib lainnya adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) dan Habib Salim bin Jindan.

Habib Ali Cikini lahir pada 1 Muharram 1309 H (1889 M) di Huraidhah, Hadhramaut. Ia wafat pada 16 Februari 1976 dan dimakamkan di dekat Masjid Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur.

Pada 1912 M, ia berangkat haji ke Mekkah dan menetap selama lima tahun untuk menuntut ilmu di dalamnya. Pada 1917 M, ia kembali ke tanah airnya, Huraidhah. Tiga tahun kemudian pada 1920 M, ia tiba di Jakarta. Ia dikenal sangat alim, terutama bidang fiqih perbandingan mazhab.

Tokoh terkemuka yang pernah berguru kepadanya antara lain adalah Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi Kwitang, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih (Malang), KH Abdullah Syafi‘i Tebet, KH Thohir Rohili Kp Melayu, KH Abdurrazak Makmun Mampang-Kuningan, KH M Naim Cipete, Prof KH Abubakar Aceh, KH Noer Ali Bekasi, Habib Abdurrahman Assegaf Tebet, KHM Syafi’i Hadzami Kebayoran Lama.

Habib Ali menulis Kitab Tajul A’ras fi Manaqib Al-Qutub Al-Habib Shaleh bin Abdullah Al-Attas, sebuah kitab sejarah para ulama Hadhramaut yang pernah ia jumpai, dari masa penjajahan Inggris di Hadhramaut, hingga sekilas perjalanan para ulama Hadramaut di Indonesia. Karyanya ini juga memuat beberapa kajian ilmu tasawuf dan Thariqah Alawiyah. (Alhafiz K)
Rabu 2 Januari 2019 18:0 WIB
Inilah Jadwal Harian Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari
Inilah Jadwal Harian Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari
KH Hasyim Asy'ari adalah sosok yang suka bekerja dengan sistematis dan teratur. Setiap ada sesuatu atau pekerjaan baru, beliau tidak terburu-buru untuk menyelesaikan, sebelum dipikir dan diperhitungkan secara masak-masak. Bahkan, kalau hal baru itu benar-benar pelik dan rumit, maka beliau shalat istikharah terlebih dahulu.

Demikian dikesaksian Akarhanaf – nama pena putra Sang Pendiri NU yaitu Abdul Karim dari ibu Nyai Nafiqoh – dalam bukunya Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy'ari Bapak Umat Islam Indonesia, yang baru diterbitkan Pustaka Tebuireng pada Agustus 2018. Dalam bukunya, ia menulis jadwal harian Sang Pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

"Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy'ari memulai bekerjanya pada pukul 06.00 pagi, yaitu sesudah beliau turun dari masjid," tulis putra Sang Pendiri NU.

Pada pukul 06.00 pagi tersebut, lanjut Akarhanaf, biasanya para kuli-kuli tetap, tukang batu dan tukang kayu sudah berkumpul di tempat pekerjaan, yakni di sebelah rumah atau di belakangnya. Setelah berjabat tangan dengan mereka, Sang Kiai kemudian membagikan pekerjaan kepada mereka, atau dengan kata-kata lain, memberikan perintah hariannya.

Pukul 06.30 pagi, beliau sudah mengajar di rumah, hingga pukul 10.00 pagi. Tingkatan pelajaran di pagi ini, biasanya untuk bagian santri tingkat atas (mahasiswa). "Kalau kebetulan beliau tidak berpuasa, maka baru minum air kopi dengan susu sapi secangkir," ungkapnya.

Pukul 10.00 pagi itu hingga jam 12.30 siang, digunakan Sang Kiai untuk agenda lain-lain, yakni menemui para tamu, membaca, menulis, dan lain-lain. Pukul 11.30 beliau istirahat tidur sebentar, dan pada pukul 12.30 beliau sudah shalat di masjid. Pukul 13.30 beliau mulai lagi mengajar di masjid hingga pukul 15.30.

Pada pukul 15.30 beliau memeriksa pekerjaan kuli-kuli dan tukang-tukang, lalu mandi. Pukul 16.00 beliau sudah di masjid lagi, dan lepas shalat asar, yakni pada pukul 16.30 mengajar pula di masjid sampai pukul 17.30. Sementara untuk menanti shalat maghrib, beliau selalu menelaah kitab-kitab untuk mengisi waktu.

Setelah shalat maghrib dipergunakan untuk menemui tamu-tamu, yang sebagian besar adalah para wali murid. Setelah shalat isya, beliau mengajar sampai pukul 11.00 malam.

"Pada pukul 11.00 malam itulah beliau baru makan, sebab beliau pada siang hari jarang sekali makan, sekali pun kebetulan beliau tidak berpuasa," tulis Akarhanaf. "Kecuali kalau karena menghormati tamu, baru beliau suka makan siang," imbuhnya.

"Jam 01.00 malam beliau istirahat tidur, dan entah dua jam atau satu jam. Sebelum pukul 04.00 beliau bangun pagi untuk qiyamullail (sembahyang tengah malam) dan membaca al-Quran,' ungkapnya.

Seminggu dua kali beliau istirahat, tidak mengajar, yaitu pada hari Selasa dan Jumat. Dan biasanya pada waktu istirahat itulah beliau pergi ke Desa Jombok, kira-kira 10 kilometer sebelah Selatan Tebuireng, guna memeriksa sawah dan ladangnya.

Dalam catatan Akarhanaf, rencana pekerjaan harian itu tetap dipakainya. Hanya pada bulan puasa biasanya terdapat perubahan rencana harian itu, karena dalam bulan tersebut, beliau menambah panjang jam mengajarnya. (Ahmad Naufa Kh. F.)

Selasa 1 Januari 2019 1:30 WIB
Gus Dur Penggerak Islam Indonesia
Gus Dur Penggerak Islam Indonesia
Di akhir tahun 1990, majalah Editor edisi No 15/THN IV/22 Desember, menobatkan KH Abdurrahman Wahid sebagai penggerak Islam Indonesia. Kulit muka majalah itu memuat potret kiai yang biasa disapa Gus Dur itu dengan kepala tulisan Tokoh 1990, Tahun Bergeraknya Islam Indonesia.

Proses penobatan dijelaskan pada rubrik Dari Editor. Menurut sidang redaksi yang berjumlah 18 orang keputusan yang menempatkan Ketua Umum PBNU waktu itu sebagai Tokoh Editor setelah mendapat nilai terbanyak (136) dan menyisihkan 6 finalis lain.

Beberapa kriteria nominator diantaranya, orang yang jadi berita (news maker) sepanjang tahun. Tak hanya itu, orang tersebut mesti tampil secara positif dalam pemberitaan pers secara nasional. Maksudnya, gagasannya orisinal, inovatif , kreatif dan, kontroversial. Yang juga penting, mestilah tokoh yang tahan dan tak takut menghadapi kritik.

Di tahun 1990-an, terdapat kasus-kasus yang mendapat perhatian banyak kalangan, misalnya kasus angket tabloid Monitor dan bukunya Salman Rusdhi, The Satanic Verses.

Angket Monitor
Umat Islam Indonesia marah atas hasil angket tabloid Monitor. Berdasarkan angket tersebut, Nabi Muhammad SAW berada di nomor sebelas, lebih tinggi dari Soeharto. 

Terkait kasus itu, Gus Dur dalam menanggapinya melalui esai berjudul Kasus Gila dan Gila Kasus di Editor edisi No. 8/THN. IV/3 November 1990. Dalam esai sepanjang dua halaman itu, Gus Dur berpendapat sederhana saja: kesembronoan dan kepekaan berlebih.

Kesembronoan Monitor dalam menentukan cara penyelenggaraan angket. Juga sembrono pengungkapan angket itu. Karena angket itu bisa jadi Kusni Kasdut (residevis tahun 80-an) lebih populer dari Pak Harto atau Bung Karno. 

Masalahnya, kesembronoan itu bertemu dengan kepekaan berlebih umat Islam, ada perasaan kuat bahwa Islam terpojok. Pangkalnya, kurang rasa percaya diri. Kesembronoan bertemu dengan kepekaan berlebih. Kasus gila bertemu gila kasus. Bagaikan api ketemu mesiu, meledaklah segalanya. SIUPP Monitor dicabut. Asrwendo dipecat dalam segala macam jabatan bisnis jurnalistik, termasuk dari keanggotaan PWI. Dia pun ditahan Polda Metro Jaya.

“Semua seolah-olah berlomba menjadi pahlawan pembela Islam,” ungkap Gus Dur.

Gus Dur melanjutkan, hebat benar anak muda (Arswendo) itu sampai harus dihadapi tokoh-tokoh seperti Mensesneg Moerdiono, Ketua Umum MUI KH Hasan Basri dan Nurcholish Madjid.

Gus Dur mengingatkan, Nabi Muhammad SAW tidak akan turun derajatnya karena angket Monitor. 

Kasus Salman Rusdhie
Majalah Editor edisi No 28/THN. II/11 Maret 1989 memuat berita semacam pengadilan in absentia terhadap Salman Rusdhie atas karya Ayat-Ayat Setan yang menggemparkan.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah waktu itu, Luqman Harun yang paling vokal dalam menanggapi kasus itu, sebagai jaksa penuntut umum. Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU, didaulat jadi pembela tanpa mandat. Sementara Quraish Shihab, ahli tafsir dan ketua MUI pusat, Syu’bah Asa dan Danarto, menjadi saksi. Majelis hakim berjumlah sepuluh orang, tim redaksi Editor.

Perdebatan berputar pada pertanyaan, perlukah Salman Rusdie dihukum mati? Perlukah bukunya dilarang, atau dibiarkan bebas beredar?

Menurut Editor yang termuat di kolom Berita Khusus, perdebatan berlangsung ketat, seru dan menarik. Apalagi antara Luqman Harun dan Gus Dur.

Menurut Luqman, buku itu jelas-jelas menghina umat Islam. Penggambaran tentang para istri Nabi yang dianggap pelacur sebagai kekurangajaran yang tak bisa ditolerir. Terlebih gambaran Aisyah. 

Menurut Editor, Gus Dur yang berkacamata lebih tebal daripada Luqman tenang-tenang saja. Menurutnya, Ayat-Ayat Setan merupakan novel indah dan orisinil. Mungkin novel terindah abad ini. Dari segi sastra, novel ini sangat bagus. Imajinasinya hebat.

Mendengar pendapatnya, kontan peserta sidang terperanjat. Sementara Gus Dur asik membolak-balik kopian novel itu.

“Mari kita lihat lebih lapang. Ini sebuah novel, karya sastra yang harus dipahami secara sendiri. Membaca novel tidak sama dengan membaca statement. Soal isinya yang menghina Nabi, saya sendiri juga tidak setuju,” ungkap Gus Dur sambil melirik Luqman di sebelahnya.

“Apa bedanya dengan Sidartha-nya Hella S. Hasse, Ernest Hemingway atau William Faulkner, yang juga berisi renungan. Plotnya sederhana. Namun kemudian ditarik melalui berbagai persoalan imigran yang lantas menjadi keruwetan tersendiri. Di situlah kemudian muncul imajinasi-imajinasi aneh yang melenceng dari fakta,” lanjut Gus Dur.

“Celakanya, keseluruhan novel itu jadi tidak fair terhadap Islam. Kelihatannya ia ingin memperlihatkan ketidakislamannya melalui novel itu,” tambahnya. 

Bagi Gus Dur, Salman diibaratkan orang gila yang melempar masjid. Apa orang macam itu harus dibunuh? Lebih baik diingatkan atau ditertawakan saja. Reaksi keras umat Islam disebabkan kondisi mereka labil hingga menjadikannya sensitif pada masalah-masalah.

Gus Dur mencontohkan, di Amerika Serikat pernah ada pengarang yang menulis Hagarisme, salah satu sekte Yahudi yang berdasar dari Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim. Dan orang Yahudi tidak ribut sebab mereka sudah mengonotasikan buku itu salah. Sama saja orang membaca buku Stalin tentang Tuhan. Orang hanya geli membacanya.

“Dengan cara itulah seharusnya kita melihat novel itu. Saya tidak percaya ada orang murtad karena membaca buku Satanic Verses.”

Pendapat Gus Dur yang demikian sebenarnya tidak aneh, karena ia memang menggandrungi novel. Tentu ia tahu bagaimana cara memahami dan memperlakukan karya sastra. Dalam liputan Editor edisi No 15/THN. IV/22 Desember, ada satu cita-cita Gus Dur yang belum kesampaian.

“Saya Ingin mengarang novel tentang keluarga besar Jombang. Tentang orang-orangnya, dengan desa-desanya, keislamannya,” ungkapnya.

Di tahun-tahun itu Gus Dur memang paling berani dalam mengemukakan gagasan dan pemikirannya seperti konsep pribumisasi Islam, rukun sosial, etika bermazhab. Jauh sebelumnya, ia memperkenalkan kiai dan dunia pesantren dalam perbincangan ilmu sosial. Ia juga mendorong NU jadi ormas pertama yang menerima Pancasila sebagai dasar negara. Dan anehnya, sebagai orang berpikiran luas, ia tak mau bergabung dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Dalam Editor edisi No 15/THN. IV/22 Desember, Gus Dur menjelaskan persoalannya. “Kenapa saya tidak hadir ke kongres ICMI di Malang? Lebih dikarenakan adanya pembatasan pada nama-nama yang diundang. Sepertinya hanya mereka yang 'Islam masjid' yang boleh masuk ICMI, sementara mereka yang disebut 'Islam alun-alun' sama sekali tidak diajak. Baik sebagai eksponen maupun pembawa makalah. Padahal siapa orang Islam di Indonesia yang sekarang bisa bicara tentang kebudayaan dengan meninggalkan Umar Kayam dan Mochtar Lubis?”

Gus Dur bersama sahabat-sahabatnya malah mendirikan Forum Demokrasi (Fordem).

Karena gagasan dan tindakan-tindakannya itu, Aswab Mahasin, Editor edisi No 15/THN. IV/22 Desember menulis Gus Dur, Pilihan untuk Sebuah Jembatan Budaya. Intinya Gus Dur menolak kekerasan terhadap siapa pun apalagi negara turut andil di dalamnya. Pilihannya yang demikian tentu saja risikonya tidak populer, dihujat banyak orang. Bahkan oleh kalangan NU sendiri. Suaranya yang bening, lenyap dalam riuh-rendah suara-suara lain yang lebih keras dan populer. (Abdullah Alawi)



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG