IMG-LOGO
Esai

Jalan Dzikir Kiai Musthofa Aqil

Sabtu 5 Januari 2019 18:45 WIB
Bagikan:
Jalan Dzikir Kiai Musthofa Aqil
KH Musthofa Aqil (Foto: khaskempek.com)
Oleh Sobih Adnan

Fa in dzakaranî fi nafsihi, dzakartuhu fi nafsî. Siapa yang mengingat-Ku di dalam hati, maka akan kusimpan namanya di dalam "sanubari" (Hadits Qudsi).

Kiai Muh, begitu kebanyakan orang menyapanya. Putra ketiga Mbah Aqil Siroj Kempek Cirebon, Jawa Barat ini punya tempat tersendiri di benak para santri dan alumni. 

KH Muhammad Musthofa Aqil Siroj, menjelma pujaan banyak hati. Terlebih, bagi santri yang memiliki angan-angan untuk menjadi mubalig atau dai. 

Suaranya merdu, intonasinya empuk, redaksi rapi, guyonan yang renyah, serta retorika nan gagah menjadi ciri khas dakwah pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini. Ditambah kecerdasan tema yang melulu baru, membuat nama Kiai Muh bak tiada tandingannya.

Alhasil, amatlah wajar jika angka-angka dalam kalender Kiai Muh nyaris terlingkari setahun penuh. Hanya saja, banyak pula yang penasaran, bagaimana cara Kiai Muh membagi jiwa dan badan dalam seabrek pengabdian?

Ragam amal, satu tujuan

Menyampaikan tausiyah, bukan satu-satunya amanah. Kiai Muh memiliki banyak tanggung jawab yang tak sekali-dua mesti memprioritaskan satu ketimbang yang lainnya.

Selain mengasuh ribuan santri, Kiai Muh juga mengemban tugas tak sederhana sebagai salah satu rais syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Belum lagi, dalam dua tahun terakhir, ia dipercaya memimpin Majelis Dzikir Hubbul Wathan (MDHW), komunitas pemecah rekor yang mampu melaksanakan dzikir dan selawat massal pertama di Istana Negara. 

Sekali waktu, penulis mendapatkan keberkahan lantaran berkesempatan semobil dalam sebabak perjalanan. Iseng-iseng, kepada Kiai Muh penulis bertanya, bagaimana cara seseorang agar tetap mampu menjaga kepekaan di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian dipenuhi kesemrawutan.

Pertanyaan ini meluncur bukan tanpa sebab. Penulis merasa perlu mengajukan itu karena pengalaman pribadi sekian tahun hidup di Jakarta terasa makin menantang dan menggoyahkan rasa kepedulian.

Mendengar itu, dengan penuh senyum Kiai Muh dawuh; tak ada yang salah untuk selalu mengikuti ritme dan tuntutan kehidupan. Ibarat jalan, apa yang ditekuni dalam keseharian memang beragam. Yang terpenting tetap pada satu tujuan, yakni, kata Kiai Muh, selalu diniatkan meraih keridaan Allah subhanahu wata’ala.

"Apa pun profesi dan bidang yang dilakoni, asal tak lepas mengingat ayat-ayat Tuhan, niscaya selamat dunia akhirat," nasihat Kiai Muh, menggenapi.

Dalam kesimpulannya, masing-masing orang punya kewajiban mensyukuri hal-hal yang sudah ditakdirkan baik dalam kehidupannya. Namun usaha untuk menggapai kerelaan Tuhan niscaya tak boleh lepas dikandung badan.

Ada banyak cara mensyukuri takdir. Ambil misal, kata Kiai Muh, seseorang yang ditakdirkan sebagai santri tak perlu memikirkan jalan dzikir yang lain-lain. Jalan dzikir santri cukup sederhana. Yaitu, melakukan sesuatu yang bisa kian meningkatkan amalan dan status yang dikandungnya. 

Persisnya, Kiai Muh berpesan, dzikir santri adalah cukup dengan mendaras Al-Qur’an dan menelaah kitab kuning tak berkesudahan.

Silaturahmi sebagai laku spiritual

Banyak yang membagi, selain sebagai makhluk spiritual yang mengemban penghambaan penuh kepada Tuhan, manusia juga makhluk sosial. Namun menurut Kiai Muh, tidak. Niat baik yang mendasari kerja-kerja sosial itu justru akan mengembalikan seseorang kepada laku spiritual.

Gemar bersilaturahmi, misalnya, nilai ibadahnya bisa besar tak terkira. Asalkan memenuhi satu syarat, yakni selalu ditekadkan untuk melaksanakan mandat manusia sebagai khalifah. Yang sudah barang tentu, berkewajiban penuh untuk menjaga nilai-nilai persaudaraan antarsesama manusia.

Bukan sekadar nasihat. Ihwal wejangan Kiai Muh satu ini, bolehlah diuji dengan sekali waktu sowan ke Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Bagi siapa pun yang pernah berkunjung, niscaya akan mendapatkan kesan sambutan dan penerimaan yang begitu hangat.

Kiai Muh, akan memperlakukan dengan baik setiap yang datang. Siapa pun, lepas dari urusan kelas sosial, profesi, maupun latar-belakang.

Pada Oktober lalu, penulis berkesempatan merekam kesan beberapa "orang kota" yang -tidak memiliki banyak pengalaman bersentuhan dengan pesantren- sepulang diantar sowan ke Kiai Muh. Berulang kali mereka mengaku terkagum, tradisi pesantren yang di luar terdengar kering dan kaku, ternyata menyimpan kehangatan dan semangat kekeluargaan tiada tara.

Jelas saja. Karena penulis ingat betul, sewaktu kami tiba dan menunggu beberapa waktu di beranda rumah, Kiai Muh menyambut para tamunya dengan semringah. Sekali-dua obrolan pun tak lupa disisipi kelakar, menjadikan suasana kian cair dan menambah keakraban.

Inilah jalan dzikir dunia pesantren. Laku keislaman khas Indonesia yang tak banyak dimiliki belahan dunia lainnya. Tak ada lagi pemisah kala manusia berperan dalam ruang domestik atau pun sosial. Kuncinya di dalam niat, semua yang dilakukan harus bernilai kebaikan.


Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS (Ikhwan KHAS) Kempek Cirebon. Bekerja sebagai editor konten di Metro TV dan redaktur Medcom.ID

Tags:
Bagikan:
Kamis 3 Januari 2019 3:0 WIB
Cara Mengetahui Kapan Kitab Kuning Selesai Ditulis
Cara Mengetahui Kapan Kitab Kuning Selesai Ditulis
Oleh Zaim Ahya

Kemarin salah seorang teman menanyakan kapan sebuah kitab yang sedang ia teliti ditulis. Tertera tahun di sampul kitab tersebut, namun ia bingung, apakah itu tahun diterbitkannya, atau tahun selesai penulisannya. Karena kitab itu sudah lama hilang dari peredaran pengajian di pesantren-pesantren dan baru dicetak baru-baru ini. 

Kebingungan teman penulis adalah hal yang wajar, apalagi akan digunakan sebagai data penelitiannya.

Beberapa hari kemudian penulis menelaah kitab tersebut. Saat membaca halaman akhir kitab itu, sebelum sang pengarang kitab mengakhiri dengan pujian kepada Allah dan shalawat atas Nabi, ada keterangan kapan kitab itu selesai ditulis, lengkap dengan hari, tanggal dan tahun menurut kalender Hijriah. 

Temuan di atas penulis sampaikan ke teman tadi dan ia langsung mengajak diskusi. Di sela-sela diskusi yang saling belajar itu, terbersit dalam pikiran penulis, jangan-jangan ulama yang lain pun demikian. Lamat-lamat penulis juga ingat beberapa kitab mencantumkan kapan kitab itu ditulis.

Setelah mengecek beberapa kitab, rata-rata mengakhiri dengan pujian kepada Allah dan shalawat atas Nabi atau hanya shalawat atas Nabi. Namun tak semua mencantumkan kapan karyanya selesai ditulis. 

Kitab Bidayatul Hidayah dan Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali adalah contoh yang tak menyebutkan waktu kapan selesai ditulis di halaman akhir kitab. Sedangkan contoh kitab yang menyebutkan kapan selesai ditulis yakni seperti kitab Murah Labib atau Tafsir Munir karya Syekh Nawawi Banten. Beliau menulis di akhir kitabnya, "telah selesai apa yang dianugerahkan Allah kepada kami, dari makna-makna dan lafaz-lafaz yang dimudahkan, pada hari kelima bulan Rabiul Akhir malam Rabu tahun 1305 H...." lalu beliau mengakhiri dengan shalawat atas Nabi, keluarga dan sahabat Nabi, seluruhnya, lalu pujian Atas Allah.

Di karya yang lain, yakni kitab Maroqil Ubudiyyah, Syekh Nawawi juga menulis kapan karyanya selesai ditulis, namun setelah ia memuji Allah dan membaca shalawat atas Nabi, kebalikan dengan Tafsir Munir.

Selain Syekh Nawawi, ada Syekh Abdurahman al-Akhdhori. Dalam kitab Sulam Munaroq fi Ilmil Mantiq, yang berbentuk bahar rajaz, yang beliau tulis saat umur dua puluh satu tahun itu, sebelum mengakhirinya dengan shalawat atas Nabi, beliau mengatakan, "penulisan (kitab berbentuk) bahar rajaz yang dinadhamkan ini terjadi pada awal-awal bulan Muharram 941 Hijriah."

Ada juga yang menyebutkan kapan karyanya selesai ditulis, namun bukan dengan tanggal, tapi dengan hari kelahiran ulama besar, misalnya Syekh Ibrahim Baijuri. Dalam akhir kitabnya Hasyiah Baijuri penjelas dari kitab Fathul Qorib, beliau menulis, "penulisan ini selesai bertepatan dengan hari kelahiran (maulid) tuanku Ahmad al-Badawi r.a.

Kenapa ada yang menyebutkan kapan karyanya selesai ditulis, ada pula yang tidak? Tentu ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, yang mendalam. Namun ada beberapa dugaan penulis, hal tersebut berhubungan dengan masa dan tempat para ulama itu hidup. 

Misalnya Imam Ghazali yang hidup kisaran tahun 500-an Hijriah (Imam al-Ghazali wafat tahun 505 H.), tak menyebutkan kapan kedua karyanya, yang telah disinggung di atas, selesai ditulis. Berbeda dengan Syekh Abdurrahman Akhdhori yang hidup tahun 900-an H. atau Syekh Nawawi Banten yang hidup di tahun 1300-an H. Mereka berdua menyebutkan kapan karyanya ditulis atau selesai ditulis.

Di kalangan ulama Nusantara, tradisi menulis kapan sebuah karya selesai ditulis, tak hanya dilakukan oleh Syekh Nawawi Banten. Contoh Kiai Anwar Batang, yang menulis kitab Aisyul Bahri. Beliau menyebutkan kitabnya selesai ditulis pada malam Ahad (Minggu) dua puluh empat bulan Safar tahun 1339 H.


Penulis pernah jadi santri di berbagai pesantren, founder takselesai.com







Selasa 1 Januari 2019 5:0 WIB
Gus Dur dan Tukang Ketoprak
Gus Dur dan Tukang Ketoprak
Oleh Abdullah Alawi

Sekitar dua bulan lalu, Pak Warjo meninggal dunia. Ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang tukang ketoprak yang berjualan di samping gedung PBNU. Namun, ia pensiun menjadi tukang ketoprak sejak 2011. Ia tinggal di kampung halamannya, Tegal. Maklum usianya sudah 80 tahun. Ketopraknya kemudian dilanjutkan salah seorang cucunya. Ya, dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang tukang ketoprak. 

Namun, dia adalah orang yang mengenal orang-orang PBNU sebab ia mangkal di situ sejak tahun 1980-an, masa-masa terakhir kepemimpinan KH Idham Chalid. Kemudian dilanjutkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

***
Tahun 2011, awal kepemimpinan Kiai Said Aqil Siroj, PBNU menggelar peringatan harlah NU ke-85 secara besar-besar di Gelora Bung Karno. Dalam hitungan panitia, waktu itu, hampir seratus ribu orang hadir dari berbagai daerah.

Beberapa hari sebelum puncak peringatan, saya sempat makan ketoprak Pak Warjo. Sembari mengunyah, saya ngobrol dengan orang yang selalu berpeci hitam itu.

"Tahu enggak besok harlah NU yang ke-85?” tanya saya. 

Mendengar pertanyaan itu, Pak Warjo terdiam beberapa saat. Bahkan termenung di belakang gerobaknya. Tangannya yang sedang mengelap piring terhenti.

Lalu ia membuka mulut, tapi bukan menjawab pertanyaan saya, melainkan bercerita tentang perjalanan hidupnya. Menurutnya, dia ke Jakarta tahun 1960. Berjualan ketoprak di samping Sarinah atau sekitar Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Lalu pindah ke samping Gedung Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Dia hijrah dari satu tempat ke tempat lain untuk memperbaiki pendapatan. 

Lalu dia mangkal di sisi kanan kantor PBNU sejak tahun 80-an. Artinya, dia mengalami kepemimpinan KH Idham Chalid, Gus Dur, KH Hasyim Muzadi, dan KH Said Aqil Siroj.

Dia terdiam lagi. Saya menduga dia akan menjawab pertanyaan saya. Dan saya yakin tahu jawabannya. Dia tinggal menengok ke spanduk-spanduk di seberangnya yang melambai-lambai yang menyatakan Harlah Ke-85 NU. Ternyata ia tak menjawabnya.

Sejurus kemudian, dia buka mulut lagi. Namun lagi-lagi bukan menjawab, melainkan bercerita lagi. Cerita yang menjauh dari pertanyaan itu. Karena mungkin, baginya, tidak terlalu penting sudah berapa tahun NU berdiri.

“Di kampung saya, di Tegal, penduduknya NU semua,” katanya.

“Tapi saya tidak ikut-ikutan karena harus mencari uang. Makanya sejak tahun 60, saya pergi ke Jakarta. Saya jualan ketoprak. Sepiring 15 rupiah harganya,” lanjut kakek kelahiran 1935 ini.

Tiap Lebaran dia pulang, kemudian ke Jakarta lagi. Begitu dan begitu, ritme hidupnya. Pada tahun 1965 dia sempat pulang, tapi bukan saat Lebaran. Pada saat pulang itulah ia diinterogasi pemuda Ansor.

“Saya ditanya Pandu Ansor. Kamu Pemuda Rakyat atau bukan?”

“Saya warga NU.”

Dengan jawaban seperti itu, dia selamat.

Kemudian dia ke Jakarta berjualan ketoprak lagi.

Kemudian ceritanya meloncat yaitu bercerita seseorang yang berkaca mata tebal, bertubuh pendek dan gemuk. Pria itu sering makan di gerobaknya. Kadang minta diantar ke ruangannya. Belakangan, dia kenal orang yang sering nongkrong itu ternyata Ketua Umum PBNU, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Menurut pengamatannya, kemeriahan gedung yang berlantai dua itu berubah dari sebelumnya. Halaman tak pernah sepi. Banyak tamu yang datang. Dari pakaiannya, mereka berasal dari berbagai kalangan. Anak muda, perempuan, dan orang tua. Berpeci dan bersarung, bertopi, berdasi, dan entah apa lagi. Kehadiran mereka membawa berkah baginya. Isi kantongnya bertambah karena sering ada tamu gedung itu mengisi perut di gerobaknya. 

“Lama kelamaan, saya juga kenal dengan Bu Nuriyah dan anak-anaknya. Saya kenal Yenny. Kalau Yenny ke sini, biasanya dia ngasih uang. Kalau habis pulang, dan uang saya habis di kampung, saya minta modal sama Bu Nuriyah,” kenangnya.

Kemudian ia menceritakan dialog antara dia dan istri Gus Dur itu. 

“Butuh berapa Sampean, Pak?” tanya Bu Nuriyah.

“Dua ratus ribu.”

“Oh iya. Ini,” jawab Bu Nuriyah. 

Suatu ketika, gerobak ketopraknya digaruk Satpol PP Pemerintah DKI Jakarta. Dia hanya pasrah ketika gerobaknya digotong orang-orang berseragam itu. Namun, tanpa diketahuinya, dari belakang terdengar suara orang marah-marah menghardik orang-orang berseragam itu.

“Jalanan ini memang milik DKI, tapi ini halaman kami. Pedagang di sini adalah urusan rumah tangga kami. Dia yang ngasih makan kami,” kata orang itu. Ternyata suara itu keluar dari mulut Gus Dur. Dia ngotot mempertahankan gerobak itu dan memarahi mereka.

“Bilang sama atasan kamu! Jangan sekali-kali lagi ke sini,” kata Gus Dur. 

Dan gerobaknya pun akhirnya selamat.




Ahad 30 Desember 2018 13:0 WIB
The Great Man Gus Dur
The Great Man Gus Dur
Oleh Muhammad Sholahuddin

Apakah ada hubungan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dengan Skotlandia, negara dengan deretan tokoh hebat, ada Adam Smith, James Watt, Graham Bell hingga Alex Ferguson itu? 

Saya bilang, ada! Paling tidak, Gus Dur pernah memprediksi dengan jitu pada Piala Dunia 1998 antara tim Brazil melawan Skotlandia, dengan skor 2-1 untuk kemenangan Brazil. 

***

Andai Thomas Carlyle hidup di zaman now dan sempat nyekar atau ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bisa jadi warga yang juga asal Skotlandia, itu makin percaya akan kebenaran teorinya. Yakni, the great man. Teori tentang manusia hebat. Agung.

Sayangnya, Carlyle hidup di abad jadul, abad ke-19. Era Britania Raya. Belum ada Muslim Cyber Army. Kata Carlyle, pemimpin besar itu dilahirkan (given). Bukan hasil, produk atau buatan pendidikan dan keterampilan. Manusia hebat itu yang memiliki "sesuatu" yang tidak dimiliki sembarang orang. 

Pendidikan, keterampilan, atau faktor lingkungan lain mungkin penting. Tapi, bukan faktor itu yang membuat seseorang menjadikannya sebagai great man. Carlyle yang pernah jadi guru matematika serta penulis sejarah itu pun berkata:

"The history of the world is but the biography of great man," Sejarah dunia adalah biografi orang-orang besar.

The great man tersebut memicu kontroversi. Tokoh, penulis, dan teoritikus dunia kala itu bertempur. Beda pendapat, tapi bukan pendapatan. 

Adu riset dan argumen. Perdebatan itu terjadi hingga sekarang. Orang hebat itu by nature atau by nurture. Bakat alami atau faktor lingkungan. Given atau berkat sekolah? Anda setuju mana? Yang pasti, kayaknya kita bukan min jumlati great man dech! 

Nah, Gus Dur adalah great man seperti disebut Carlyle. Bagaimana bisa? Yang belum pernah ke makam beliau di Tebuireng, Jombang, silakan sempatkan. Mumpung masih ada nyawa di tubuh kita. Yang sudah, datanglah lagi dan lagi. Juga ziarahi lagi the great man-great man lain di Bumi Nusantara ini. Yakin akan menemukan sinyal-sinyalnya.

***

Beruntunglah, saya yang sudah sangat lama menganggap Gus Dur sebagai the great man, telah dibantu August Turak, guru besar sejarah Rusia, seorang penulis hebat di Mepkin, AS. Selama ini, saya selalu bilang pokoknya Gus Dur hebat. Mati-urip. Wali. 

Nah, August Turak telah memberi matan sekaligus  sarah  the great man theory tersebut. August Turak yang juga penganut Trappist, sebuah aliran tarekat religius Katolik Roma ini telah menulis 8 ciri atau indikator the great man. 

Pertama, panggilan. Pemimpin besar semuanya merasa "'dipanggil" oleh sesuatu yang jauh di dalam diri mereka, yang mendesak mereka untuk mengambil risiko di saat kebanyakan orang menghindari.

Gus Dur pun begitu. Cucu pendiri NU itu menghabiskan hidupnya sebagai sebuah vacation atau panggilan seperti tulisan August Turak. Panggilan untuk masyarakat, panggilan untuk umat,  bangsa, bukan untuk dirinya sendiri. Pada saat banyak orang menghindari, Gus Dur terpanggil selama untuk kemaslahatan umat, nusa dan bangsa.

Kedua, self confidence. Setiap pemimpin besar, the great man, percaya pada dirinya sendiri dan kemampuannya untuk "membuat perbedaan."  Gus Dur dalam setiap kali kesempatan sering menyatakan, selama apa yang dibelanya dan disuarakannya adalah sebuah tata nilai, kalaupun harus berjuang sendirian pun tidak gentar. Dilengserkan pun tidak ada masalah. Peduli setan. Kepercayaan dirinya luar biasa. Berkorban demi sebuah kepentingan lebih besar.

Ketiga, superstition. Dalam KBBI (kamus besar Bahasa Indonesia) kata itu diterjemahkan sebagai takhayul. Superstition itu lawan dari mazhab rasional. Sesuatu yang tidak masuk.akal. Orang awam tidak mampu menjangkaunya. Karena itu, mereka bilang mengada-ada. 

August Turak menyatakan, the great man memiliki perasaan percaya yang oleh orang biasa tidak masuk akal tersebut. Bahwa itulah takdir untuk sebuah kesuksesan. Kepercayaan itu pada gilirannya memberikan "skill" luar biasa untuk menangkal kebisingan lingkungan, pakar, dan "pakar" yang mungkin berpendapat sebaliknya atau tidak sependapat. 

Bagi sebagian orang, Gus Dur itu bahkan dinilai bagian dari "superstition" itu sendiri. Banyak cerita sahih bagaimana beliau tahu dan paham, padahal sedang tidur. Cerita cerita Keris Kolomunyeng lekuk sembilan, dan cerita tidak masuk akal lain bagi kita, tapi itu terjadi. Ada pada diri Gus Dur. Itu buanyak-nyak...bahasa pesantren mungkin demikian yang dinamakan karamah.

Keempat, chellenge. Setiap pemimpin besar mencari tantangan. The great man seringkali tampak menyimpang, sepintas menyulitkan diri mereka sendiri dengan menumpuk hambatan daripada berupaya menghindarinya.

Bagaimana perjuangan Gus Dur membuka hubungan diplomasi dengan Israel di saat banyak orang menganggap aneh dan berisiko terhadap dirinya sendiri. Cacian, makian, umpatan. Tidak peduli. Itulah tantangan yang tidak dimiliki pemimpin biasa. Hanya ada pada the great man. Tantangan dengan sebuah keyakinan dan tujuan semata mata untuk kemaslahatan. 

Belakangan, baru banyak orang tersadar bahwa betul kata Gus Dur, harus ada jalan lain untuk menghadapi Israel. Tidak sebatas nglebat-ngelebetno gendero berlafazkan kalimat tahlil. 

Kelima, persistence. Setiap pemimpin besar memiliki penghormatan atas keajaiban kerja keras dan tekad. Kegigihan.  Pemimpin besar bukan hanya tidak tahu kapan waktunya untuk berhenti, tetapi mereka sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Sebab, telah tertanam sebuah prinsip religi seperti siapa giat pasti dapat. 

Thomas Alfa Edison melakukan percobaan berkali-kali dan seringkali mengalami kegagalan. Namun karena adanya dorongan untuk terus berusaha, akhirnya dapat menghasilkan penemuan besar seperti lampu pijar. Itulah yang disebut persistence.

Seirama dengan August Turak, David Mc Clelland pun mengemukakan salah satu ciri individu yang memiliki Need for Achievement yang tinggi adalah memiliki persistence. Nah, Gus Dur juga seorang yang memiliki persistence. Bagaimana cerita Gus Dur mengibarkan bendera nilai-nilai demokrasi di era Orde Baru dengan gigih dan sungguh. Gagal, coba lagi, gagal, berjuang lagi. Akhirnya, bendungan kuat Orde Baru itu pun tumbang juga. 

Keenam, action bias. Pemimpin besar bertindak agresif. Kebanyakan orang menunggu, menunggu, dan menunggu beraksi sampai ada petunjuk dari lingkungan sekitar, sampai ada orang yang memberitahu apa yang harus dilakukan, the great man seperti Gus Dur tidak bergantung pada keraguan. Orang hebat bukan tipologi yang safety player. Pemimpin besar itu set-set, wet-wet. Das-des.

Action bias, berkecenderungan untuk bertindak atau memutuskan tanpa analisis biasa atau informasi yang cukup 'lakukan saja' dan merenungkan nanti. Banyak mikir, membuat tidak tangkas. Action bias ini juga dipopulerkan oleh Tom Peters, penulis Search For Excellence.

Ketujuh, optimisme. Pemimpin besar selalu optimistis. Mereka terus-menerus berpikir tentang apa yang bisa dilakukan agar orang-orang menjadi lebih baik, apakah itu secara individu atau sebagai sebuah kelompok masyarakat/umat. Gus Dur bergerak bukan hanya untuk warga NU, Islam, Jawa,  tetapi untuk Indonesia sebagai negara bangsa. Bukan negara agama. Karena itu, beliau melangkah untuk semua. Menembus batas suku, antargologan  agama, dan ras, dalam bingkai rahmat untuk seluruh alam. 

Delapan, faith. Semua ciri atau indikator di atas mungkin termasuk dalam satu istilah, iman. Pemimpin besar semua percaya, benar atau salah, bahwa melalui usaha mereka sendiri dan pengikutnya percaya, semua hal dalam hidup dapat tercapai dan hampir semua tantangan dapat diatasi karena ada iman. Maka, Gus Dur pun biasa bilang: Gitu saja kok repot ...

Sama dengan August Turak, saya pun bilang, Anda boleh tidak setuju atau abstain. Tapi, saya juga percaya bahwa pendulum telah berayun begitu jauh dari mitos "American Dream" dan pemimpin buatan sendiri. 

Mari terus berdoa agar Tuhan mengirimkan banyak the great man untuk kita seperti kata Carlyle ratusan tahun lalu. Bukan seperti lirik sebuah lagu Ahmad Dani, Tuhan kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati, yang mencintai aku, apa adanya...

Saya mau bilang Jokowi itu juga the great man, tapi khawatir disebut cebong. 

Alfatihah untuk almarhum Gus Dur 


Penulis adadalah mahasiswa Pascasarjana PSDM Universitas Airlangga (Unair) Surabaya

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG