IMG-LOGO
Esai

Surat Santriwati untuk Para Selebriti yang Terasing

Ahad 6 Januari 2019 9:30 WIB
Bagikan:
Surat Santriwati untuk Para Selebriti yang Terasing
(Foto: @IBTimes.co.uk)
Sobat perempuan! Kabar menarik datang dari dunia hiburan baru-baru ini. Seorang artis yang sudah memutuskan memakai pakaian jilbab kembali lagi memutuskan membuka jilbabnya. Dia adalah Nikita Mirzani.

Hal yang menarik dari pengamatan kita adalah alasan yang disampaikannya, sebagaimana disampaikan dalam wawancara sebuah acara di stasiun televisi swasta (5/1). Alasan yang disampaikannya adalah alasan klise, yaitu tidak kuat iman dan tidak kuat menahan rundungan (bully) dari para netizen. Alangkah patut disayangkan, bukan?

Sebenarnya apa yang terjadi pada artis Nikita Mirzani ini tidak hanya terjadi sekali ini. Ada sosok Rina Nose yang juga lebih dahulu melakukan hal serupa. Jauh sebelum Rina Nose, ada artis Tri Utami, Dewi Hughes dan sejumlah artis lainnya.

Untuk Rina Nose, sebagaimana diketahui dalam beberapa wawancaranya di dunia maya, dengan presenter Deddy Corbuzier, ia menyampaikan alasan tersebut secara rahasia dalam bentuk tulisan dan tidak dipublikasikan. Ekspresi yang ditunjukkan dalam wawancara menunjukkan semacam tekanan batin yang tidak bisa diungkapkan. Pemirsa bertanya, apakah itu gerangan?

Sobat perempuan! Kita tidak bisa menduga-duga apa yang menjadi alasan dari Rina Nose dalam mengambil putusannya. Kita fokus saja pada sikap keterusterangan Nikita Mirzani, ya? Sebuah alasan yang sebenarnya bisa kita duga sebelumnya, yaitu tidak kuat iman dan tidak kuat menghadapi hujatan netizen. Alangkah patut disayangkan, bukan?

Sahabat perempuanku! Mari kita coba menyelami dunia keartisan. Seorang artis, dalam dunianya, akan senantiasa disibukkan oleh aktivitas kesehariannya. Pernah terlontar dari seorang pemeran komedi tunggal Dodit Mulyanto dari Surabaya bahwa dulu ia tidak pernah menduga bahwa pekerjaan artis itu melelahkan.

Dodit mengira bahwa dunia artis adalah dunia yang serba enak, hanya mempelajari skenario lalu shooting dan mengikuti arahan sang sutradara, kemudian istirahat, pulang, dan tinggal tunggu honor atas keartisannya. Eh, ternyata ia salah duga.

Dunia keartisan adalah dunia yang benar-benar melelahkan. Sebelum acara, ia harus menyiapkan proses tapping, sibuk memilih kostum, menghadapi juru rias, lalu segudang arahan sutradara dan skenario.

Kesibukan itu belum selesai. Mereka harus berhadapan dengan proses shooting yang harus diulang dan diulang sebab kekeliruan. “Melelahkan sobat!” ujar Dodit Mulyanto, pemenang Kompetisi Stand-Up Comedy dari stasiun TV.

Segudang aktivitas kaum artis menyebabkan banyak artis mengalami keterasingan. Keterasingan itu diawali dari keterasingan sosial dan budaya. Jangankan waktu untuk berangkat mengaji, berangkat dan kumpul bersama dengan keluarganya saja kadang sulit untuk ditemui oleh mereka.

Inilah jiwa dan psikologi artis. Di tengah humoria dan glamor kehidupan mereka, ternyata mereka mengalami keterasingan (alienasi) secara rohani.

Ada banyak kasus artis yang kecanduan narkoba. Ada juga artis yang mengalami kecelakaan akibat sebelumnya bersenda gurau dari diskotek. Ada juga artis yang terjebak dalam kasus perselingkuhan dan lain sebagainya. Itu semua merupakan bagian dari indikasi keterasingan jiwa itu.

Suatu saat, mungkin terlintas dalam benak kita, jika benar-benar memilih tobat, bukankah bisa pergi bergabung dan membaur dengan pengajian? Pertanyaan ini sebenarnya tidak salah, namun tidak tepat. Ketidaktepatan itu disebabkan karena kita menilai mereka dari sudut pandang lingkungan kita dan tidak mencoba menilai dari sisi lingkungan mereka. Itulah sebabnya, banyak netizen yang menyerbu akun artis lalu bebas merundungnya. Alangkah tidak bijaksananya hal yang sedemikian ini.

Jika tahu dan sadar akan hal ini, lantas kenapa kita lantas ikut-ikutan merundung mereka yang baru memutuskan diri untuk menjauh dari dunia sebelumnya lalu mencebur ke dunia baru yang menutup aurat?

Allah SWT Maha Penerima Tobat bagi hamba-Nya. Allah SWT juga Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dia yang memberikan hidayah dalam jiwa kecil hati kalangan artis yang jauh dari seruan para kiai dan ustadz atau pendakwah. 

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya, “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan mampu menghadirkan hidayah ke orang yang engkau cintai. Tetapi, Allah yang menunjukkan orang-orang yang dikehendaki. Dia Maha Mengetahui dengan orang-orang yang diberi hidayah,” (Surat Al-Qashash ayat 56).

Sobat perempuanku! Kita tidak bisa memberi hidayah terhadap orang yang ada di sekeliling kita. Allah SWT yang berperan dalam memberi hidayah itu. Dalam Al-Qurân Surat Al-Baqarah ayat 272, Allah SWT berfirman:

ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء

Artinya, “Tiada bagimu kuasa untuk memberi hidayah kepada mereka, melainkan Allah yang memberi hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya,” (Surat Al-Baqarah ayat 272).

Jika akibat rundungan kita, lantas para artis ini kemudian nekat memutuskan kembali untuk melepas hijab atau pakaian kurung mereka, maka apa bedanya kita dengan setan yang menggoda jiwa manusia sehingga berujung sesatnya sebagian manusia dan lebih memilih jalur frustasi?

Padahal kita diperintah untuk menyeru umat manusia dan mengajak kaum kita untuk bersama-sama masuk ke dalam jannah, yaitu surga Allah SWT. Kita diperintah untuk senantiasa menyampaikan tutur dalam bentuk nasihat-nasihat yang baik serta hikmah. Allah SWT berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ

Artinya, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat-nasihat yang baik.”

Jika ada perintah untuk menyeru dengan rangkaian hikmah, lantas mengapa ada banyak orang yang merundung (bully)?

Saudariku! Marilah kita bertobat! Jangan-jangan, terjerumusnya orang lain dari jalan hidayah, sehingga menyebabkan mereka tetap berkutat dalam kubang dosa, sebagian di antaranya adalah disebabkan oleh kita dan lisan kita. Astaghfirullâh al-adzhîm.

Saudariku! Semoga kita semua selamat di jalan hidayah, di jalan yang diridhai oleh Allah SWT, di jalan rasul-Nya, sebagaimana yang dituntunkan oleh para ulama-ulama kita dan junjungan kita semua! Amin ya rabbal ‘alamin!

اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعود السلام وحينا ربنا بالسلام وأدخلنا الجنة دار السلام. تباركت ربنا وتعاليت ياذاالجلال والإكرام

Artinya, “Ya Allah, Engkau Maha Penguasa Keselamatan. Dari-Mu keselamatan. Kepada-Mu pula kembali keselamatan. Hidupkan kami dalam keselamatan. Masukkan kami dalam surga, tempatnya keselamatan. Maha memberi berkah Engkau, dan Maha Luhur Engkau, Wahai Zat Yang Maha Agung dan lagi Maha Mulia.”


Oleh Santriwati Forum Kajian Fikih Kewanitaan Pondok Pesantren Hasan Jufri Pulau Bawean di bawah pimpinan Ustadz Muhammad Syamsudin.
Bagikan:
Sabtu 5 Januari 2019 18:45 WIB
Jalan Dzikir Kiai Musthofa Aqil
Jalan Dzikir Kiai Musthofa Aqil
KH Musthofa Aqil (Foto: khaskempek.com)
Oleh Sobih Adnan

Fa in dzakaranî fi nafsihi, dzakartuhu fi nafsî. Siapa yang mengingat-Ku di dalam hati, maka akan kusimpan namanya di dalam "sanubari" (Hadits Qudsi).

Kiai Muh, begitu kebanyakan orang menyapanya. Putra ketiga Mbah Aqil Siroj Kempek Cirebon, Jawa Barat ini punya tempat tersendiri di benak para santri dan alumni. 

KH Muhammad Musthofa Aqil Siroj, menjelma pujaan banyak hati. Terlebih, bagi santri yang memiliki angan-angan untuk menjadi mubalig atau dai. 

Suaranya merdu, intonasinya empuk, redaksi rapi, guyonan yang renyah, serta retorika nan gagah menjadi ciri khas dakwah pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini. Ditambah kecerdasan tema yang melulu baru, membuat nama Kiai Muh bak tiada tandingannya.

Alhasil, amatlah wajar jika angka-angka dalam kalender Kiai Muh nyaris terlingkari setahun penuh. Hanya saja, banyak pula yang penasaran, bagaimana cara Kiai Muh membagi jiwa dan badan dalam seabrek pengabdian?

Ragam amal, satu tujuan

Menyampaikan tausiyah, bukan satu-satunya amanah. Kiai Muh memiliki banyak tanggung jawab yang tak sekali-dua mesti memprioritaskan satu ketimbang yang lainnya.

Selain mengasuh ribuan santri, Kiai Muh juga mengemban tugas tak sederhana sebagai salah satu rais syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Belum lagi, dalam dua tahun terakhir, ia dipercaya memimpin Majelis Dzikir Hubbul Wathan (MDHW), komunitas pemecah rekor yang mampu melaksanakan dzikir dan selawat massal pertama di Istana Negara. 

Sekali waktu, penulis mendapatkan keberkahan lantaran berkesempatan semobil dalam sebabak perjalanan. Iseng-iseng, kepada Kiai Muh penulis bertanya, bagaimana cara seseorang agar tetap mampu menjaga kepekaan di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian dipenuhi kesemrawutan.

Pertanyaan ini meluncur bukan tanpa sebab. Penulis merasa perlu mengajukan itu karena pengalaman pribadi sekian tahun hidup di Jakarta terasa makin menantang dan menggoyahkan rasa kepedulian.

Mendengar itu, dengan penuh senyum Kiai Muh dawuh; tak ada yang salah untuk selalu mengikuti ritme dan tuntutan kehidupan. Ibarat jalan, apa yang ditekuni dalam keseharian memang beragam. Yang terpenting tetap pada satu tujuan, yakni, kata Kiai Muh, selalu diniatkan meraih keridaan Allah subhanahu wata’ala.

"Apa pun profesi dan bidang yang dilakoni, asal tak lepas mengingat ayat-ayat Tuhan, niscaya selamat dunia akhirat," nasihat Kiai Muh, menggenapi.

Dalam kesimpulannya, masing-masing orang punya kewajiban mensyukuri hal-hal yang sudah ditakdirkan baik dalam kehidupannya. Namun usaha untuk menggapai kerelaan Tuhan niscaya tak boleh lepas dikandung badan.

Ada banyak cara mensyukuri takdir. Ambil misal, kata Kiai Muh, seseorang yang ditakdirkan sebagai santri tak perlu memikirkan jalan dzikir yang lain-lain. Jalan dzikir santri cukup sederhana. Yaitu, melakukan sesuatu yang bisa kian meningkatkan amalan dan status yang dikandungnya. 

Persisnya, Kiai Muh berpesan, dzikir santri adalah cukup dengan mendaras Al-Qur’an dan menelaah kitab kuning tak berkesudahan.

Silaturahmi sebagai laku spiritual

Banyak yang membagi, selain sebagai makhluk spiritual yang mengemban penghambaan penuh kepada Tuhan, manusia juga makhluk sosial. Namun menurut Kiai Muh, tidak. Niat baik yang mendasari kerja-kerja sosial itu justru akan mengembalikan seseorang kepada laku spiritual.

Gemar bersilaturahmi, misalnya, nilai ibadahnya bisa besar tak terkira. Asalkan memenuhi satu syarat, yakni selalu ditekadkan untuk melaksanakan mandat manusia sebagai khalifah. Yang sudah barang tentu, berkewajiban penuh untuk menjaga nilai-nilai persaudaraan antarsesama manusia.

Bukan sekadar nasihat. Ihwal wejangan Kiai Muh satu ini, bolehlah diuji dengan sekali waktu sowan ke Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Bagi siapa pun yang pernah berkunjung, niscaya akan mendapatkan kesan sambutan dan penerimaan yang begitu hangat.

Kiai Muh, akan memperlakukan dengan baik setiap yang datang. Siapa pun, lepas dari urusan kelas sosial, profesi, maupun latar-belakang.

Pada Oktober lalu, penulis berkesempatan merekam kesan beberapa "orang kota" yang -tidak memiliki banyak pengalaman bersentuhan dengan pesantren- sepulang diantar sowan ke Kiai Muh. Berulang kali mereka mengaku terkagum, tradisi pesantren yang di luar terdengar kering dan kaku, ternyata menyimpan kehangatan dan semangat kekeluargaan tiada tara.

Jelas saja. Karena penulis ingat betul, sewaktu kami tiba dan menunggu beberapa waktu di beranda rumah, Kiai Muh menyambut para tamunya dengan semringah. Sekali-dua obrolan pun tak lupa disisipi kelakar, menjadikan suasana kian cair dan menambah keakraban.

Inilah jalan dzikir dunia pesantren. Laku keislaman khas Indonesia yang tak banyak dimiliki belahan dunia lainnya. Tak ada lagi pemisah kala manusia berperan dalam ruang domestik atau pun sosial. Kuncinya di dalam niat, semua yang dilakukan harus bernilai kebaikan.


Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS (Ikhwan KHAS) Kempek Cirebon. Bekerja sebagai editor konten di Metro TV dan redaktur Medcom.ID

Kamis 3 Januari 2019 3:0 WIB
Cara Mengetahui Kapan Kitab Kuning Selesai Ditulis
Cara Mengetahui Kapan Kitab Kuning Selesai Ditulis
Oleh Zaim Ahya

Kemarin salah seorang teman menanyakan kapan sebuah kitab yang sedang ia teliti ditulis. Tertera tahun di sampul kitab tersebut, namun ia bingung, apakah itu tahun diterbitkannya, atau tahun selesai penulisannya. Karena kitab itu sudah lama hilang dari peredaran pengajian di pesantren-pesantren dan baru dicetak baru-baru ini. 

Kebingungan teman penulis adalah hal yang wajar, apalagi akan digunakan sebagai data penelitiannya.

Beberapa hari kemudian penulis menelaah kitab tersebut. Saat membaca halaman akhir kitab itu, sebelum sang pengarang kitab mengakhiri dengan pujian kepada Allah dan shalawat atas Nabi, ada keterangan kapan kitab itu selesai ditulis, lengkap dengan hari, tanggal dan tahun menurut kalender Hijriah. 

Temuan di atas penulis sampaikan ke teman tadi dan ia langsung mengajak diskusi. Di sela-sela diskusi yang saling belajar itu, terbersit dalam pikiran penulis, jangan-jangan ulama yang lain pun demikian. Lamat-lamat penulis juga ingat beberapa kitab mencantumkan kapan kitab itu ditulis.

Setelah mengecek beberapa kitab, rata-rata mengakhiri dengan pujian kepada Allah dan shalawat atas Nabi atau hanya shalawat atas Nabi. Namun tak semua mencantumkan kapan karyanya selesai ditulis. 

Kitab Bidayatul Hidayah dan Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali adalah contoh yang tak menyebutkan waktu kapan selesai ditulis di halaman akhir kitab. Sedangkan contoh kitab yang menyebutkan kapan selesai ditulis yakni seperti kitab Murah Labib atau Tafsir Munir karya Syekh Nawawi Banten. Beliau menulis di akhir kitabnya, "telah selesai apa yang dianugerahkan Allah kepada kami, dari makna-makna dan lafaz-lafaz yang dimudahkan, pada hari kelima bulan Rabiul Akhir malam Rabu tahun 1305 H...." lalu beliau mengakhiri dengan shalawat atas Nabi, keluarga dan sahabat Nabi, seluruhnya, lalu pujian Atas Allah.

Di karya yang lain, yakni kitab Maroqil Ubudiyyah, Syekh Nawawi juga menulis kapan karyanya selesai ditulis, namun setelah ia memuji Allah dan membaca shalawat atas Nabi, kebalikan dengan Tafsir Munir.

Selain Syekh Nawawi, ada Syekh Abdurahman al-Akhdhori. Dalam kitab Sulam Munaroq fi Ilmil Mantiq, yang berbentuk bahar rajaz, yang beliau tulis saat umur dua puluh satu tahun itu, sebelum mengakhirinya dengan shalawat atas Nabi, beliau mengatakan, "penulisan (kitab berbentuk) bahar rajaz yang dinadhamkan ini terjadi pada awal-awal bulan Muharram 941 Hijriah."

Ada juga yang menyebutkan kapan karyanya selesai ditulis, namun bukan dengan tanggal, tapi dengan hari kelahiran ulama besar, misalnya Syekh Ibrahim Baijuri. Dalam akhir kitabnya Hasyiah Baijuri penjelas dari kitab Fathul Qorib, beliau menulis, "penulisan ini selesai bertepatan dengan hari kelahiran (maulid) tuanku Ahmad al-Badawi r.a.

Kenapa ada yang menyebutkan kapan karyanya selesai ditulis, ada pula yang tidak? Tentu ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, yang mendalam. Namun ada beberapa dugaan penulis, hal tersebut berhubungan dengan masa dan tempat para ulama itu hidup. 

Misalnya Imam Ghazali yang hidup kisaran tahun 500-an Hijriah (Imam al-Ghazali wafat tahun 505 H.), tak menyebutkan kapan kedua karyanya, yang telah disinggung di atas, selesai ditulis. Berbeda dengan Syekh Abdurrahman Akhdhori yang hidup tahun 900-an H. atau Syekh Nawawi Banten yang hidup di tahun 1300-an H. Mereka berdua menyebutkan kapan karyanya ditulis atau selesai ditulis.

Di kalangan ulama Nusantara, tradisi menulis kapan sebuah karya selesai ditulis, tak hanya dilakukan oleh Syekh Nawawi Banten. Contoh Kiai Anwar Batang, yang menulis kitab Aisyul Bahri. Beliau menyebutkan kitabnya selesai ditulis pada malam Ahad (Minggu) dua puluh empat bulan Safar tahun 1339 H.


Penulis pernah jadi santri di berbagai pesantren, founder takselesai.com







Selasa 1 Januari 2019 5:0 WIB
Gus Dur dan Tukang Ketoprak
Gus Dur dan Tukang Ketoprak
Oleh Abdullah Alawi

Sekitar dua bulan lalu, Pak Warjo meninggal dunia. Ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang tukang ketoprak yang berjualan di samping gedung PBNU. Namun, ia pensiun menjadi tukang ketoprak sejak 2011. Ia tinggal di kampung halamannya, Tegal. Maklum usianya sudah 80 tahun. Ketopraknya kemudian dilanjutkan salah seorang cucunya. Ya, dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang tukang ketoprak. 

Namun, dia adalah orang yang mengenal orang-orang PBNU sebab ia mangkal di situ sejak tahun 1980-an, masa-masa terakhir kepemimpinan KH Idham Chalid. Kemudian dilanjutkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

***
Tahun 2011, awal kepemimpinan Kiai Said Aqil Siroj, PBNU menggelar peringatan harlah NU ke-85 secara besar-besar di Gelora Bung Karno. Dalam hitungan panitia, waktu itu, hampir seratus ribu orang hadir dari berbagai daerah.

Beberapa hari sebelum puncak peringatan, saya sempat makan ketoprak Pak Warjo. Sembari mengunyah, saya ngobrol dengan orang yang selalu berpeci hitam itu.

"Tahu enggak besok harlah NU yang ke-85?” tanya saya. 

Mendengar pertanyaan itu, Pak Warjo terdiam beberapa saat. Bahkan termenung di belakang gerobaknya. Tangannya yang sedang mengelap piring terhenti.

Lalu ia membuka mulut, tapi bukan menjawab pertanyaan saya, melainkan bercerita tentang perjalanan hidupnya. Menurutnya, dia ke Jakarta tahun 1960. Berjualan ketoprak di samping Sarinah atau sekitar Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Lalu pindah ke samping Gedung Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Dia hijrah dari satu tempat ke tempat lain untuk memperbaiki pendapatan. 

Lalu dia mangkal di sisi kanan kantor PBNU sejak tahun 80-an. Artinya, dia mengalami kepemimpinan KH Idham Chalid, Gus Dur, KH Hasyim Muzadi, dan KH Said Aqil Siroj.

Dia terdiam lagi. Saya menduga dia akan menjawab pertanyaan saya. Dan saya yakin tahu jawabannya. Dia tinggal menengok ke spanduk-spanduk di seberangnya yang melambai-lambai yang menyatakan Harlah Ke-85 NU. Ternyata ia tak menjawabnya.

Sejurus kemudian, dia buka mulut lagi. Namun lagi-lagi bukan menjawab, melainkan bercerita lagi. Cerita yang menjauh dari pertanyaan itu. Karena mungkin, baginya, tidak terlalu penting sudah berapa tahun NU berdiri.

“Di kampung saya, di Tegal, penduduknya NU semua,” katanya.

“Tapi saya tidak ikut-ikutan karena harus mencari uang. Makanya sejak tahun 60, saya pergi ke Jakarta. Saya jualan ketoprak. Sepiring 15 rupiah harganya,” lanjut kakek kelahiran 1935 ini.

Tiap Lebaran dia pulang, kemudian ke Jakarta lagi. Begitu dan begitu, ritme hidupnya. Pada tahun 1965 dia sempat pulang, tapi bukan saat Lebaran. Pada saat pulang itulah ia diinterogasi pemuda Ansor.

“Saya ditanya Pandu Ansor. Kamu Pemuda Rakyat atau bukan?”

“Saya warga NU.”

Dengan jawaban seperti itu, dia selamat.

Kemudian dia ke Jakarta berjualan ketoprak lagi.

Kemudian ceritanya meloncat yaitu bercerita seseorang yang berkaca mata tebal, bertubuh pendek dan gemuk. Pria itu sering makan di gerobaknya. Kadang minta diantar ke ruangannya. Belakangan, dia kenal orang yang sering nongkrong itu ternyata Ketua Umum PBNU, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Menurut pengamatannya, kemeriahan gedung yang berlantai dua itu berubah dari sebelumnya. Halaman tak pernah sepi. Banyak tamu yang datang. Dari pakaiannya, mereka berasal dari berbagai kalangan. Anak muda, perempuan, dan orang tua. Berpeci dan bersarung, bertopi, berdasi, dan entah apa lagi. Kehadiran mereka membawa berkah baginya. Isi kantongnya bertambah karena sering ada tamu gedung itu mengisi perut di gerobaknya. 

“Lama kelamaan, saya juga kenal dengan Bu Nuriyah dan anak-anaknya. Saya kenal Yenny. Kalau Yenny ke sini, biasanya dia ngasih uang. Kalau habis pulang, dan uang saya habis di kampung, saya minta modal sama Bu Nuriyah,” kenangnya.

Kemudian ia menceritakan dialog antara dia dan istri Gus Dur itu. 

“Butuh berapa Sampean, Pak?” tanya Bu Nuriyah.

“Dua ratus ribu.”

“Oh iya. Ini,” jawab Bu Nuriyah. 

Suatu ketika, gerobak ketopraknya digaruk Satpol PP Pemerintah DKI Jakarta. Dia hanya pasrah ketika gerobaknya digotong orang-orang berseragam itu. Namun, tanpa diketahuinya, dari belakang terdengar suara orang marah-marah menghardik orang-orang berseragam itu.

“Jalanan ini memang milik DKI, tapi ini halaman kami. Pedagang di sini adalah urusan rumah tangga kami. Dia yang ngasih makan kami,” kata orang itu. Ternyata suara itu keluar dari mulut Gus Dur. Dia ngotot mempertahankan gerobak itu dan memarahi mereka.

“Bilang sama atasan kamu! Jangan sekali-kali lagi ke sini,” kata Gus Dur. 

Dan gerobaknya pun akhirnya selamat.




IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG