IMG-LOGO
Nasional

Lewat Humor, Gus Dur Kritik Suharto dan Lee Kuan Yew

Ahad 6 Januari 2019 18:0 WIB
Bagikan:
Lewat Humor, Gus Dur Kritik Suharto dan Lee Kuan Yew
Jakarta, NU Online
Di antara yang melekat pada sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, ialah tentang humornya. Humor Gus Dur menjadi semacam legacy atau warisan bagi bangsa Indonesia. Orang-orang yang dekat dengannya dipastikan menyimpan arsip humornya, termasuk KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Pada acara ‘Tadarus Humor Gus Dur’ di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Ahad (6/1), Gus Yahya berbagi humor Gus Dur yang berisi kritik kepada penguasa, Suharto dan Perdana Menteri Singapura 1955-1990, Lee Kuan Yew. 

Singapura merupakan negara maju dan kaya, namun tidak demokratis karena rakyatnya dibungkam atau tidak boleh mengkritik kebijakan pemerintah.

Dalam humor tersebut, Suharto dan Lee Kuan Yew mempunyai hobi yang sama: mancing. Keduanya kerap mengadakan mancing bersama dari kapal. Namun ketika mincing, Lee Kuan Yew selalu gagal mendapatkan ikan, sementara Suharto selalu dapat ikan. Perbedaan nasib itu membuat Lee Kuan Yew iri kepada Suharto. 

“Ini gimana ceritanya, sampean dapet terus, saya gak pernah dapet,” keluh Lee Kuan Yew kepada Suharto.

“Loh ya gimana kamu mau dapat ikan. Wong semua mulut kamu tutup, termasuk mulutnya ikan-ikan. Ikan-ikan gak pernah bisa makan umpanmu karena mulutnya kamu tutup,” kata Suharto merespons.

Lee Kuan Yew pun terus merangsek Suharto dengan sebuah pertanyaan.

“Sampean gimana, kok sampean bisa dapet terus?” tanya Lee Kuan Yew penasaran.

“Ya yang namanya bejo ya gak bisa dilawan,” jawab Suharto.

Rasa penasaran Lee Kuan Yew tidak berhenti di situ. Sebagai orang yang sedang berkuasa, ia memerintahkan Badan Intelijennya untuk menyelidiki sebab Suharto selalu dapat ikan.

Setelah badan intelijennya melakukan investigasi selama berbulan-bulan, jawaban atas atas rasa penasaran pun terjawab. Ternyata, setiap Suharto naik kapal untuk mancing, pasukan yang ada di belakangnya, yang disebut dengan pasukan orang katak Angkatan Laut langsung menceburkan diri ke laut. Mereka menyelam di bawah kapal dengan membawa keranjang yang berisi ikan. Setelah itu, ikannya dikaitkan ke kail Suharto.

Menurut Gus Yahya, humor ini sangat serius karena bisa ditafsirkan untuk menggambarkan realitas politik kedua negara: Singapura dan Indonesia. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Ahad 6 Januari 2019 21:0 WIB
NU PEDULI BANTEN-LAMPUNG
Rehabilitasi Mental dan Fisik Korban Tsunami Terus Diberikan NU Peduli
Rehabilitasi Mental dan Fisik Korban Tsunami Terus Diberikan NU Peduli
PC Fatayat NU Lampung Selatan Bermain Bersama Anak-Anak Korban Tsunami

Lampung Selatan, NU Online
Kurang lebih 60 anak-anak berkumpul di salah satu rumah warga di Desa Way Muli Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Ahad (6/1). Anak-anak ini adalah para korban selamat dari terjangan tsunami yang telah memporak-porandakan daerah tersebut di penghujung tahun 2019 lalu.

Hari itu, Pimpinan Cabang Fatayat NU Lampung Selatan yang bersinergi dengan NU Peduli Lampung mengajak anak-anak ini bermain bersama dengan berbagai macam aktivitas. Mereka tampak bahagia dengan aktifitas seperti menggambar dan bercerita bersama.

Ketua PC Fatayat Lampung Selatan Lilik Khotimatul Azkiya mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya NU Peduli untuk menumbuhkan semangat dan memunculkan kembali keceriaan para anak-anak setelah dilanda trauma akibat tsunami.


Foto: Ketua PC Fatayat Lampung Selatan Lilik Khotimatul Azkiya


"Kita melakukan kegiatan Trauma Healing (penyembuhan trauma) berupa pendampingan anak-anak yang terdampak tsunami yang trauma akibat tsunami. Kita berharap dengan kegiatan-kegiatan bermain, menggambar, bercerita mampu menghilangkan trauma mereka," kata Lilik saat terjun langsung membimbing para anak-anak tersebut.

Selain bermain bersama, NU Peduli bersama Fatayat juga memberikan bantuan berupa buku dan alat tulis bagi mereka yang nantinya bisa digunakan saat sudah aktif belajar di sekolah esok.

Selain rehabilitasi mental bagi para korban terdampak tsunami, NU Peduli juga terus memberikan bantuan rehabilitasi fisik berupa pembangunan Hunian Sementara (Huntara) di beberapa titik lokasi pengungsian.


Foto: Pembangunan Huntara di Desa Banding


Untuk tahap awal, 20 unit Huntara saat ini sedang dibangun di Desa Banding. Selanjutnya akan dibangun juga 55 unit di Desa Way Muli dan 82 unit di Desa Kunjir.

"Mohon dukungan dan partisipasi dari semua pihak untuk mewujudkan program Huntara bagi para korban yang kehilangan rumah akibat disapu tsunami ini," kata Ketua PCNU Lampung Selatan KH Mahfudz Attijani terkait pembangunan Huntara yang setiap unitnya diperkirakan menelan biaya sebesar 8,5 juta Rupiah ini.

Saat ini pembangunan 22 unit Huntara di Desa Banding sudah mulai dilaksanakan dengan dibantu puluhan anggota TNI dari  Kodim 0421 Lampung Selatan. Para anggota TNI ini saling bahu-membahu dengan para relawan NU Peduli membangun cluster Huntara yang bakal diberi nama Kampung NU.


Foto: Anggota TNI Membantu Pembangunan Huntara di Desa Banding


"NU Peduli berusaha mewujudkan hunian sementara untuk para korban bencana tsunami agar saudara kita yang kehilangan rumahnya bisa hidup normal pascabencana tsunami. Bukan cuma logistik sembako yang dibutuhkan akan tetapi juga logistik batin suami-istri harus bisa berjalan normal," pungkasnya. (Muhammad Faizin)

Ahad 6 Januari 2019 20:30 WIB
Rahasia Keikhlasan Gus Dur Sejak Usia Belasan Tahun
Rahasia Keikhlasan Gus Dur Sejak Usia Belasan Tahun
Jakarta, NU Online
KH Hodri Ariev mengemukakan tentang sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mempunyai sikap penuh dengan keikhlasan. Ia pun mengaku sering dinasihati kiai yang Ketua Umum PBNU 1984-1999 tersebut agar bersikap ikhlas. 

Nasihat itu, menurut kiai yang pernah jadi juru baca Gus Dur ini, kamu jangan sungkan-sungkan untuk membantu orang lain. Kalau kamu membantu orang lain, Allah yang akan membantu kamu.

“Itu sangat melekat kuat kepada diri saya,” kata Hodri pada saat menjadi pembicara pada ‘Tadarus Humor Gus Dur’ di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Ahad (6/1).

Menurut Hodri yang mendapat cerita langsung dari Gus Dur, sejak usia belasan tahun, Gus Dur telah tertarik kepada Ibnu Atha’illah al-Iskandari. 

Kutipan dari kitab Al-Hikam yang sering disampaikan Gus Dur, sambungnya, agar bersikap ikhlas, seperti kuburkanlah dirimu di tanah kerendahan karena sesuatu yang tumbuh tanpa dikubur hasilnya kurang sempurna.

“Artinya perbuatan-perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlas maka tidak akan memberikan hasil yang sempurna. Itu yang selalu Gus Dur sampaikan baik secara pribadi maupun di forum-forum terbatas dengan beberapa orang, pengagum beliau,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, Gus Dur sering mengingatkan dengan mengutip bait lain dalam Al-Hikam yang berbunyi ‘amal itu seumpama jasad, sedangkan keikhlasan adalah ruhnya.

Ia mengaku merasakan, sekalipun jasad Gus Dur telah wafat, namun hingga kini perbuatan-perbuatannya tetap hidup.

“Sekarang betapa banyak pikiran Gus Dur yang dikaji hingga humor pun dipelajari. Dan saya menduga kuat, ini adalah hasil dari keikhlasan Gus Dur. Setiap kali beliau melakukan apa pun, hingga humor-humor yang dilakukan, bukan untuk menertawakan orang lain, tapi untuk kritik, tes, gaya diplomasi dan sebagainya,” terangnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Ahad 6 Januari 2019 20:0 WIB
KH Yusuf Chudlori: Jihad Tidak Selalu Bermakna Perang
KH Yusuf Chudlori: Jihad Tidak Selalu Bermakna Perang
KH Yusuf Chudlori (kiri) dan KH Hanif Muslih (Pengasuh Pesantren Futuhiyah Mranggen)
Demak, NU Online 
Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, KH Yusuf Chudlori menjelaskan bahwa keislaman seseorang belum sempurna sebelum melakukan jihad. Namun, ia juga menegaskan bahwa jihad tidak selalu bermakna perang.

“Jihad tidak selalu bermakna perang,” tegasnya.

Hal itu disampaikan KH Yusuf Chudlori dalam acara Temu Alumni Futuhiyyah se-Kabupaten Demak dan Ijazah Kubro Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jilani di Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak Jawa Tengah pada Ahad (6/1). 

Dalam acara yang dihadiri ratusan jamaah, para kiai, dan santri Mranggen itu, KH Yusuf Chudlori juga menuturkan bahwa setiap orang bisa melakukan jihad sesuai dengan kemampuannya. Bisa dengan biaya, tenaga, atau ilmu. Bahkan, menurutnya, bagi santri, jihad yang utama adalah dengan ilmu.

“Kewajiban utama santri itu nasyrul ilmi (menyebarkan ilmu),” ujarnya.

Jihad dengan ilmu, menurut KH Yusuf Chudlori menjadi sangat penting dan relevan dengan kondisi keagamaan masyarakat saat ini. Sebab, kata dia, masyarakat butuh agama.

“Sayangnya, banyak masyarakat yang belajar agama lewat YouTube, Google, dan media sosial,” ucapnya.

Bagi KH Yusuf Chudlori, ini adalah tantangan yang besar untuk santri. Karenanya, ia berpesan kepada para santri agar tidak bosan-bosan mendakwahkan Islam moderat.

“Begitu lulus dari pesantren, santri harus mengajar meskipun hanya alif ba ta,” pungkasnya. (Moh. Salapudin/Abdullah Alawi)

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG