IMG-LOGO
Anti-Hoaks

Habib Lutfhi: Hoaks Memecah Belah Persatuan dan Kesatuan

Senin 7 Januari 2019 15:30 WIB
Bagikan:
Habib Lutfhi: Hoaks Memecah Belah Persatuan dan Kesatuan
Foto: Habib Luthfi bin Ali Yahya
Brebes, NU Online
Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Muktabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Ali Yahya sangat prihatin dengan kondisi saat ini di mana hoaks (berita bohong) merajalela dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hoaks dan fitnah sangat berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

“Dimana pun dan kapan pun kita harus bangga dan cinta tanah air dan tumpah darah Indonesia. Jangan sampai goyah oleh apapun, hanya karena berita hoaks,” tegasnya saat menyampaikan mauidzah hasanah dalam kegiatan Polres Brebes Bershalawat, di halaman Mapolres setempat, Ahad (6/1) malam

Habib Luthfi menegaskan perlunya segenap elemen bangsa mengingat kembali sejarah perjuangan bangsa. Dalam mendirikan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), banyak peristiwa heroik yang mengorbankan harta, jiwa dan raga. Hasil perjuangan para syuhada harus diapresiasi sedalam mungkin. Maka itu ia menegaskan untuk jangan pernah melupakan sejarah Indonesia.  

“Pelajaran ilmu bumi perlu diangkat kembali, pelajaran sejarah perlu dibangunkan kembali, supaya kita selaku anak bangsa, generasi penerus pejuang para ulama, penerus umat, semakin kokoh demi tegaknya kembali merah putih,” ujar  Habib Lutfhi .

Habib Luthfi juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami berbagai macam permasalahan yang bisa menjerumuskan kepada perpecahan. Banyak umat bertengkar hanya karena berbeda pandangan. Terlebih jelang pemilihan umum (Pemilu).

“Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu untuk hal semacam itu walaupun baju berbeda, pilihan berbeda. Bolehlah bendera ormas ataupun bendera partai banyak, namun merah putih tetap satu,” tegas sosok Habib yang terkenal kecintaannya terhadap NKRI ini.

Ia bertekad akan tetap menggaungkan NKRI harga mati meskipun dalam suasana Pemilihan Presiden (Pilpres), Pemilihan Legislatif (Pileg), maupun Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).

Sedangkan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak masyarakat untuk menggunakan hak politiknya secara cerdas dan tidak mudah termakan hoaks.

Hoaks, kata Idza, termasuk salah satu ancaman yang berpotensi menimbulkan keretakan bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Jangan hanya karena beda pilihan jadi bermusuhan,” ujarnya.

Untuk situasi dan kondisi di Brebes, Idza pun mengungkapkan secara umum masih dalam keadaan kondusif. Semuanya tidak lepas dari kerja keras jajaran Polres Brebes dan kesadaran yang tinggi dari masyarakat Brebes.

“Mari kita bertekad untuk menjaga kondusifitas di Kabupaten Brebes demi terciptanya Pemilu 2019 yang aman, damai, dan sejuk,”” ajaknya.  

Turut hadir Jajaran Forkopimda, Kepala SKPD Brebes, camat Brebes, alim-ulama, tokoh agama dan masyarakat, Ansor, Banser, serta para santri dari berbagai pondok pesantren di Brebes. (Wasdiun/Muhammad Faizin)   

Tags:
Bagikan:
Ahad 6 Januari 2019 23:0 WIB
Jadi Panutan, Tokoh Agama Jangan Ikut Sebar Hoaks
Jadi Panutan, Tokoh Agama Jangan Ikut Sebar Hoaks
KH Marsudi Syuhud, Ketua PBNU
Kota Banjar, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Marsudi Syuhud mengajak para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk tidak ikut terbawa arus dengan fenomena hoaks atau berita bohong yang saat ini sedang melanda di media sosial. Para kiai atau ustadz harus mampu meminimalisasi hoaks dengan tidak ikut-ikutan menebar hoaks.

"Pada dasarnya sebagai kiai, ustadz atau tokoh agama yang terpenting adalah mestinya meminimalisasi kabar-kabar berita hoaks. Bukan ikut-ikutan menyebarkan berita hoaks karena kiai, ustad, tokoh-tokoh agama itu adalah panutan yang menjaga bagaimana umat, masyarakat, bangsa untuk tidak melakukan hoaks," jelasnya, Sabtu (5/1).

Masyarakat dan khususnya para tokoh lanjutnya, seharusnya melakukan tabayun (klarifikasi) tentang kebenaran sebuah informasi agar tidak menjadi agen penyebar hoaks.

"Salah-salah nanti dia sendiri (tokoh) yang menjadi penyebar hoaks," kata Kiai Marsudi saat hadir di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al azhar Citangkolo Banjar Jawa Barat dalam rangka persiapan Munas dan Konbes ke-2 NU tahun 2019.

Itulah yang menjadi kehati-hatian para kiai dan ulama. Jika tidak bisa menyampaikan sesuatu yang tidak dipahami dan belum jelas kebenarannya maka diam adalah emas dan menjadi cara yang terbaik.

"Diam itu adalah emas dan diam itu adalah lebih baik. Namun jika bisa menyampaikan, sampaikanlah hal-hal yang lebih produktif, lebih baik, lebih manfaat. Jangan ikut-ikutan menyebarkan," tandasnya. (Red: Muhammad Faizin)
Kamis 3 Januari 2019 19:30 WIB
Berita Hoaks, Kiai Said Jadi Komisaris Perusahaan
Berita Hoaks, Kiai Said Jadi Komisaris Perusahaan
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj kembali diterjang isu yang tidak sedap. Kali ini, kiai alumnus Universitas Ummul Qurra Mekkah, Arab Saudi itu diisukan menjadi komisaris di sebuah perusahaan.

Kabar itu pun langsung dibantah Sekretaris Pribadi (Sespri) KH Said Aqil Siroj, Mochammad Sofwan Erce. Sofwan dengan tegas menyebut bahwa isu tersebut tidak benar.

“Isu yang menyebutkan Kiai Said menjadi komisaris di perusahaan, ini tidak benar,” kata Sofwan kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (3/1).

Sofwan pun kemudian melontarkan candaannya terhadap pihak-pihak yang menyebar isu. Menurutnya, Kiai Said tidak pantas menjadi komisaris hanya di satu perusahaan, tetapi harusnya menjabat di puluhan perusahaan. 

“Sekelas beliau kalau mau mimpin perusahaan ya tidak satu, tapi puluhan perusahaan,” ucapnya diikuti senyum.

Ia mencurigai bahwa penyebar isu ini bertujuan membuat NU pecah atau menjadikan warganya menjadi bingung atas sikap dan putusan PBNU. Oleh karena itu, ia berpesan kepada siapa pun agar tidak mencoba-coba merusak NU.

“Kita sebagai nahdliyin percaya bahwa NU ini keramat. Jadi siapa pun yang berniat buruk saja kepada NU mereka akan kualat, apalagi sampai bertindak menyakiti NU,” tegasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Kamis 6 Desember 2018 20:13 WIB
Ketum Ansor: Isu Geruduk Kedubes Arab Saudi adalah Hoaks
Ketum Ansor: Isu Geruduk Kedubes Arab Saudi adalah Hoaks
Jakarta, NU Online
Sejak beberapa hari lalu tersebar poster digital (e-poster) di media sosial tentang rencana demonstrasi yang akan dilakukan Gerakan Pemuda Ansor terhadap kantor kedutaan Arab Saudi untuk memprotes ciutan Dubes Osamah Muhammad Al Shuaibi. Dalam poster itu tertulis bahwa '10 juta massa PBNU dan Ansor akan mengepung Kedubes Saudi'.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum GP Ansor menyatakan dengan tegas bahwa informasi yang menyebar itu adalah berita bohong. "Itu berita bohong. Kita tidak mungkin melakukan hal semacam itu," kata Ketum Ansor Yaqut Cholil Qoumas pada NU Online, Kamis malam (6/12).

Ia menjelaskan bahwa Ansor bukan organisasi yang terbiasa menggunakan demonstrasi sebagai satu-satunya jalan keluar atas sebuah masalah. "Kita ini organisasi yang tahu aturan main dalam bernegara dan kita patuhi aturan main tersebut. Ini bedanya kita dengan organisasi yang 'sedikit-sedikit demo, sedikit-sedikit demo'. Kita pakai jalur yang sudah disediakan oleh negara hukum ini," terangnya.

Menurutnya, pengambilan langkah ini yang menunjukkan kedewasaan berpikir Ansor dan sekaligus membedakannya dengan kelompok lain. Sebab dalam konteks yang lebih luas, Ansor meyakini bahwa setiap masalah memiliki pendekatan dan jalan keluar yang berbeda-beda, yang 'tidak melulu dengan demonstrasi'.

Atas ciutan Dubes Osama, Ansor secara kelembagaan telah melayangkan surat resmi kepada Kementerian Luar Negeri untuk melakukan langkah diplomatik pada kerajaan Arab Saudi. Dalam hal ini menilai bahwa langkah diplomatik adalah langkah terbaik untuk menyelesaikan masalah antar negara.

"Kita menempuh jalur diplomatik, meminta Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk meminta klarifikasi atas pernyataan Dubes Arab Saudi," kata Gus Yaqut. Ia mengaku hingga saat ini masih menunggu klarifikasi resmi dari Osamah dan Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia mengenai ciutan yang telah dihapusnya itu. 

Sebelumnya, dalam sebuah ciutan di twitter, Dubes Kerajaan Arab Saudi, Osamah Muhammad Al Shuaibi yang secara eksplisit menyebut Ansor sebagai 'Organisasi Sesat'. Ia mengaitkan bahwa Aksi 212 di kawasan Monumen Nasional pada 12 Desember lalu merupakan aksi protes atas pembakaran bendera HTI yang dilakukan oleh 'jamaah almunharifah' yang berarti organisasi yang sesat atau menyimpang.

Ciutan itu memancing reaksi GP Ansor dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). PBNU Menilai DubesArab Saudi ini telah menyebarkan fitnah atas organisasi Ansor dan di saat yang bersamaan ia melanggar etika politik dengan terlalu ikut campur urusan dalam negeri. Terdapat beberapa tuntutan oleh PBNU antara lain permintaan maaf hingga tuntutan agar Osamah 'dipulangkan' ke Arab Saudi. (Ahmad Rozali)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG