IMG-LOGO
Nasional

Indonesia Perlu Usulkan Gencatan Senjata Konflik Yaman

Senin 7 Januari 2019 23:0 WIB
Bagikan:
Indonesia Perlu Usulkan Gencatan Senjata Konflik Yaman
Foto: Bendera Yaman dan Indonesia (Ist.)
Jakarta, NU Online
Konflik Yaman tak kunjung reda. Pertempuran masih bergejolak. Korban makin banyak tergeletak. Indonesia sebagai negara anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) punya peran penting untuk menghentikan permasalahan tersebut.

Pengamat Timur Tengah Sarah Hajar Mahmudah mengungkapkan, Indonesia perlu mengusulkan gencatan senjata antara dua kubu yang berseteru.

"Mungkin Indonesia bisa mengusulkan untuk adanya mediasi dan genjatan senjata di antara dua pihak bertikai," ujarnya, Senin (7/1).

Di samping perlu menyuarakan perdamaian ke luar, Indonesia juga perlu memberi pemahaman yang betul kepada masyarakat terkait konflik yang terjadi di sana. Pasalnya, tak sedikit rakyat Indonesia yang memahami konflik di sana akibat sekte keagamaan tertentu.

"Kita juga perlu meluruskan pemahaman masyarakat awam untuk tidak terjebak dalam isu-isu perang antar sekte keagamaan. Sehingga menimbulkan provokasi antar golongan," jelasnya.

Alumnus Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyatakan bahwa di Yaman merupakan tragedi kemanusiaan sehingga harus diselesaikan.

"Bagaimana pun konflik harus diselesaikan karena kehidupan banyak manusia dalam hal ini masyarakat sipil Yaman terancam," pungkas Sarah.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj juga mengajak seluruh Muslim untuk bersama menghentikan konflik di sana.

"Mari kita sama-sama umat Islam agar mampu menghentikan konflik ini. Jangan sampai itu semua dijadikan kepentingan pihak-pihak tertentu," kata Kiai Said di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (31/12). (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Senin 7 Januari 2019 23:25 WIB
Gus Muwafiq: Mau Punya Keturunan Hebat? Jangan Sakiti Perempuan
Gus Muwafiq: Mau Punya Keturunan Hebat? Jangan Sakiti Perempuan
Gus Muwafiq dan Nyai Ella (Istimewa)
Jakarta, NU Online
Tak bisa dipungkiri bahwa semua orang ingin memiliki keturunan yang baik. Baik dalam arti dikaruniai kesehatan jasmani, kecerdasan fikiran, dan kebaikan lainnya. Untuk mendapatkan itu, KH Ahmad Muwafiq memiliki tip khusus.

Menurut kiai yang kerap disapa Gus Muwafiq ini, kunci memiliki keturunan yang baik adalah memperlakukan istri dengan baik. Dengan memperlakukan istri dengan baik maka sang istri akan merasa bahagia, dan kebahagiaan itu akan berdampak positif pada anak. 

Bagaimanapun, kata Gus Muwafiq, suasana hati seorang ibu sangat berpengaruh pada suasana hati sang anak, dan dengan modal kesenangan itu sang ibu akan lebih semangat menemani dan mendidik anak. 

"Ketika seorang ibu hatinya tenang, maka ibu akan mengeksplorasi bagaimana mendidik anak yang hebat. Anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu, maka hati inu harus riang gembira, tenang dan tidak terbebani masalah-masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab suami," kata Gus Muwafiq di laman facebook resminya.

Gus Muwafiq juga menuturkan bahwa tanggung jawab seoran ibu begitu besar. Untuk melahirkan generasi penerus seorang ibu harus melewati fase yang tidak sederhana dan bahkan berbahaya karena bisa terancam kehilangan nyawa. 

"Yang sudah dilakukan oleh perempuan untuk mencetak generasi penerus kita bukan perkara sepele. Hamil 9 bulan, melahirkan sambil bertaruh nyawa, menyusui dua tahun. Mendampingi anak 24 jam sehari tanpa lelah," jelas Gus Muwafiq.

Gus Muwafiq lalu membandingkan kekuatan seorang ibu dan ayah dalam menggendong anak. "Sederhana saja; ibu menggendong 2-3 jam kuat-kuat saja, sementara bapak menggendong anak 5 menit sudah pegel-pegel," pungkasnya. Dengan itu Gus Muwafiq ingin menunjukkan bahwa kedekatan anak lebih pada ib, umumnya lebih erat dibanding dengan ayahnya. (Ahmad Rozali)
Senin 7 Januari 2019 22:55 WIB
Tidak Semua yang Ada di Medsos Benar
Tidak Semua yang Ada di Medsos Benar
Kampanye Anti Hoaks (Ant)
Jakarta, NU Online
Maraknya konten hoaks dan ujaran kebencian tidak hanya menjadi perhatian kalangan tertentu seperti aktivis, akademisi, pemerintah dan organisasi nonpemerintah, namun telah menjadi perhatian seluruh kalangan termasuk kalangan artis. 

Artis dan presenter kenamaan, Olga Lydia juga mengkhawatirkan hal yang sama. Untuk itu ia mengingatkan agar selalu waspada pada setiao konten media sosial. Dengan bersikap demikian ia yakin netizen bisa terhindar dari konten negatif di media sosial yang makin marak.

“Tahun 2019 ini kalau bicara merefleksikan diri kita harus berhati-hati dalam menghadapi berita yang terdengar mengerikan atau bombastis. Kita harus lebih bijaksana untuk memikirkan ulang semua berita yang masuk ke dalam telinga, mata dan bahkan pikiran kita bahwa tidak semua yang disiarkan itu adalah kebenaran. Ini penting agar medsos bersih dari ujaran kebencian dan hoaks ,” ujar Olga Lydia di Jakarta, Senin (7/1).
 
Ia mengingatkan untuk tidak meremehkan dampak dari ujaran kebencian dan berita hoaks. Ujaran kebencian yang dibiarkan berkembang tanpa penindakan bisa melukai banyak orang. Hoaks juga bisa menyebabkan jutaan khawatir karena dampak buruk dari sebuah berita hoaks. Dalam skala besar, jika hoaks dibuat sedemikian rupa, tak mustahil bisa menyebabkan hilangnya rasa aman dan menimbulkan keresahan dalam skala besar.
 
“Tentunya bisa merusak iklim investasi dan sebagainya. Ini yang akan sangat berbahaya kalau dibiarkan,” ujarnya
 
Apalagi, lanjutnya hoaks begitu muda dibuat di tengah situasi politik yang semakin memanas jelang Pilpres 2019. “Kita harus berhati-hati dalam membaca berita yang dapat membuat kita takut, marah, benci, emosi. Mungkin perlu dicek lagi kebenaran berita itu, jadi masyarakat harus bisa menahan diri juga, jangan mudah terpancing,” ajak Olga yang juga aktivis anti hoaks ini. (Ahmad Rozali)
Senin 7 Januari 2019 20:44 WIB
Selain Wawasan Mendalam, Kiai Juga Harus Bisa Menulis
Selain Wawasan Mendalam, Kiai Juga Harus Bisa Menulis
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berharap, program 5000 kiai yang akan digulirkan Kementerian Agama pada 2019 ini tidak hanya berhenti pada pemberian wawasan yang mendalam, tetapi juga menekankan program menulis.

“Saya kira di antaranya harus diajarkan tentang metodologi penulisan kepada kiai-kiai,” kata Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (7/1).

Kiai Manan melihat masih sedikit kiai yang moderat lalu aktif dalam dunia tulis-menulis. Melihat fakta demikian, program penulisan pun dinilainya sangat tepat untuk para kiai.

"Jadi nantinya kiai-kiai tidak hanya tradisi lisan, tapi juga diungkapkan melalui tulisan. Saya kira itu penting,” kata Kiai Manan.

Ia mengaku bahwa hingga kini jumlah kiai yang aktif menulis masih sedikit. Di antara kiai moderat yang aktif menulis itu Pakar Tafsir Al-Qur’an Indonesia KH Muhammad Quraish Shihab dan Guru Besar Ushul Fiqih Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo KH Afifuddin Muhajir.

“Sampai sekarang memang masih sedikit kiai yang menulis,” ucapnya.

Program menulis dinilai menjadi lebih penting lagi karena di toko-toko buku didominasi oleh kelompok radikal. Padahal, sambungnya, keilmuan para kiai jauh lebih luas.

“Apalagi kini buku-buku lebih dikuasai kelompok lain (radikal), Padahal ilmu kiai-kiai kita kan lebih luas,” ucapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG