IMG-LOGO
Nasional

Nabi Muhammad Mencintai Tanah Airnya

Selasa 8 Januari 2019 20:30 WIB
Bagikan:
Nabi Muhammad Mencintai Tanah Airnya
Bekasi, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Mustofa Aqil Siroj menerangkan, ketika akan meninggalkan Makkah untuk hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad SAW membicarakan Makkah.

“Kata Nabi, Ya Makkah wallahi innaki la-ahabbul ardli ilayya wa lawla anni ukhrijtu minki maa khorijtu. Wahai Makkah, sumpah demi Allah, engkau bumi yang paling aku cintai. Kalau saja aku tidak dizolimi. Aku tidak mungkin meninggalkan engkau. Hadits riwayat Imam Ahmad,” jelas Kiai Mustofa, mauidzah hasanah dalam peringatan Haul ke-9 Gus Dur, di Pesantren Motivasi Indonesia, Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi, Senin (7/1) malam.

Dari situ kemudian, imbuhnya, ia mengajak hadirin untuk memahami bahwa Nabi sangat mencintai Makkah. Bahkan sampai mengucap, wallahi.

“Kenapa mencintai Makkah? Karena Makkah adalah tempat tinggal. Berarti Nabi mencintai tempat tinggal alias Nabi mencintai tanah air,” terang Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini.

Kiai Mustofa melanjutkan, setibanya di Madinah Nabi kemudian berdoa, Allahumma habbib ilainal Madinah kamaa habbabta ilaina Makkata aw asyadda.

“Ya Allah jadikanlah saya bisa mencintai Madinah sebagaimana saya mencintai Makkah. Ini Nabi berusaha mencintai Madinah karena Madinah akan dijadikan tempat tinggal alias Nabi mencintai tanah air. Ini hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim,” jelas Kiai Mustofa.

Dari hadits ini, lanjutnya, ulama-ulama NU zaman pra-kemerdekaan Indonesia membuat jargon, Hubbul Wathon Minal Iman.

“Mencintai tanah air adalah unsur keimanan,” pungkas Ketua Umum PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) ini.

Dalam kesempatan Haul Gus Dur ke-9 ini, selain Kiai Mustofa, hadir juga beberapa tokoh. Di antaranya Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Agus Salim, salah seorang pendiri PMII KH Nuril Huda, dan perwakilan dari Katolik Romo Antonius Antara Pr.

Acara ini dihibur Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Bekasi, Musik Jalanan Center, dan cucu Mbah Surip sekaligus Penasihat Iwan Fals, Farid Surip. (Aru Elgete/Fathoni)
Bagikan:
Selasa 8 Januari 2019 22:0 WIB
Menjaga Negeri Hukumnya Wajib
Menjaga Negeri Hukumnya Wajib
KH Mustofa Aqil Siroj
Bekasi, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Mustofa Aqil Siroj menyayangkan sikap sebagian kecil anak-anak bangsa dari kelompok tertentu yang menyatakan bahwa cinta tanah air adalah haram.

“Kata mereka mencintai tanah air, haram dan musyrik. Karena yang harus dicintai hanyalah Allah dan Rasul-Nya,” sindir Kiai Mustofa, dalam kesempatan menghadiri peringatan Haul Gus Dur ke-9, di Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi, Senin (7/1) malam.

Ia lantas membenarkan pernyataan tersebut. Bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya memang termaktub di dalam Al-Qur’an dan itu wajib dilakukan melalui shalat, puasa, dzikir, baca Al-Qur’an dan tahajud.

“Nah saya mau tanya; shalat, dzikir, tahajjud itu tempatnya di awang-awang atau di mana? Kalau bisa di awang-awang, silakan. Tapi kan tempatnya di tanah. Kalau di tanah, maka tanahnya harus aman,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini.

Maka, lanjut Kiai Mustofa, menjaga tanah (negeri) supaya aman agar bisa mencintai Allah adalah wajib. Karenanya menurut para ulama, al-aman qobla al-iman. Iman di hati seseorang akan lahir jika keamanan sudah tercipta dengan baik.

Ketua Umum PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon ini berkisah, pernah tinggal beberapa hari di Palestina. Suatu ketika, ia ingin shalat. Di sana, mestinya langsung ke masjid. Karena malam, masjidnya terlihat sangat jelas. Namun, Kiai Mustofa ke hotel terlebih dulu.

“Di hotel, saya wudhu mau shalat. Saya panggil penjaganya untuk menanyakan arah kiblat. Dijawab oleh orang itu, buka saja jendela kalau terlihat masjid maka itu kiblatnya,” tutur Kiai Mustofa.

Dengan jawaban seperti itu, ia berkesimpulan bahwa orang Palestina tidak mengerti kiblat dan shalat. Karena Palestina perang dengan Israel sejak 1967 hingga sekarang tak kunjung usai.

“Orang Palestina itu setiap hari melihat pemboman. Indonesia pernah membuat rumah sakit di sana, tapi sudah dihancurkan oleh Israel. Jadi mereka di sana itu selalu dalam keadaan cemas. Pikiran mereka itu hanya mengurusi perang saja,” terang Kiai Mustofa.

Karena pikirannya hanya perang saja, maka tidak pernah terpikirkan untuk membangun negeri, belajar Al-Qur’an, dan salat.

“(Kejadian di Palestina) ini akibat tidak aman. Oleh karena itu para kiai, ulama, pesantren, dan NU semuanya dikerahkan untuk merebut kemerdekaan supaya kita bisa memiliki negara dan bertanggung jawab atas keamanannya,” pungkas Kiai Mustofa. (Aru Elgete/Fathoni)
Selasa 8 Januari 2019 21:30 WIB
KH Mustofa Aqil: Wafatnya Gus Dur Tanda Pengetahuan Berkembang
KH Mustofa Aqil: Wafatnya Gus Dur Tanda Pengetahuan Berkembang
KH Abdurrahman Wahid (Dok. istimewa)
Bekasi, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustofa Aqil Siroj menjelaskan alasan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur cepat wafat. Padahal, kontribusi dan perannya masih sangat dibutuhkan bangsa ini.

“(Gus Dur) sama dengan Al-Qur’an yang komplit dan perlu dijelaskan lebih lanjut,” katanya saat memberikan mauidzah hasanah dalam Peringatan Haul ke-9 Gus Dur, di Pesantren Motivasi Indonesia, Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi, pada Senin (7/1) malam.

Kiai Mustofa kemudian memberikan contoh, dalam Al-Qur’an, misalnya, perintah shalat hanya aqimush-sholah. Tidak ada penjelasan soal rakaat dan nama-nama salat.

“Begitu pula zakat yang hanya waatuzzakah. Tidak ada itu penjelasan mengenai jumlah zakat emas, zakat mal, dan lain sebagainya. Haji pun demikian. Tidak dijelaskan wukuf jam berapa dan tawaf berapa kali,” katanya.

Kenapa tidak komplit dan tidak rinci? “Sebab kalau rinci dan semuanya diterangkan berarti ilmu mati atau tidak berkembang. Maka tidak ada yang melakukan ijtihad,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini.

Karena Al-Qur’an tidak jelas itulah, maka membutuhkan penjelasan. Nabi Muhammad yang kemudian menjelaskan isi kandungan kitab suci tersebut secara terperinci.

“Allah memerintahkan Nabi, wahai Muhammad jelaskan Al-Qur’an. Nabi Muhammad posisinya untuk menjelaskan Al-Qur’an, tapi beliau sendiri terbatas usia. Sementara persoalan masih dan terus berkembang,” jelas Kiai Mustofa.

Jadi, lanjutnya, ketidaklengkapan solusi permasalahan di dalam Al-Qur’an untuk menghidupkan ilmu.

“Karena kalau dijelaskan semua, ilmu bakal mati. Demikian pula Gus Dur,” terang Ketua Umum PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon ini.

Menurutnya jika Gus Dur masih hidup, maka persoalan tidak akan berkembang. Namun dengan Gus Dur wafat, membuat banyak orang memahaminya dari berbagai sudut pandang.

Ada orang memahami Gus Dur dari segi politiknya, ada juga dari segi humornya, dari segi ngajinya, dan dari segi kesederhanaan hidupnya.

“Ini semua, persoalan-persoalan yang banyak itu dijadikan satu figur, yaitu Gus Dur sebagai guru bangsa. (Dan) ternyata yang lebih dipentingkan oleh Gus Dur bukan apa-apa tetapi kemanusiaan,” pungkas Kiai Mustofa. (Aru Elgete/Fathoni)
Selasa 8 Januari 2019 20:0 WIB
Tidak Yakin Kebenaran Sebuah Berita? Cukup Berhenti di Kita
Tidak Yakin Kebenaran Sebuah Berita? Cukup Berhenti di Kita
Menag Lukman Hakim Syaifuddin (Foto: Ist.)
Medan, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak masyarakat untuk tidak terbawa arus dengan ikut-ikut menyebarkan berita yang tidak jelas terlebih hoaks (berita bohong). Atmosfir wacana publik harus diisi dengan hal positif. Ruang publik yang berisi info negatif akan berdampak pada generasi muda Indonesia.

"Mari mawas diri. Kalau kita tidak yakin dengan kebenaran beritanya,  biar itu berhenti di kita. Tidak usah disebar," terangnya.

Kalaupun yakin dengan kebenaran berita tersebut, Menag mengingatkan untuk mempertimbangkan manfaat dan mudlaratnya jika berita tersebut tersebar apalagi tekait dengan keburukan orang lain.

"Kalaupun kita yakin itu benar,  tetap tidak perlu disebar. Sebab keburukan orang lain dilarang agama untuk disebar. Bisa ghibah," lanjutnya.

Apalagi di tahun politik saat ini, masyarakat harus mempererat persatuan dan kesatuan walaupun memiliki pilihan politik yang berbeda. Pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) adalah agenda rutin negara. Setiap lima tahun agenda tersebut digelar. Karenanya, tidak semestinya menjadi faktor pemecah persatuan.

"Kita jangan terpecah belah hanya karena persoalan pileg dan pilpres," ujarnya di Medan, Selasa (8/1).

Hal ini diungkapkan Menag saat bersilaturahim dengan para pengasuh pondok pesantren se-Sumatera Utara. Dilansir laman Kemenag, Silaturahim yang berlangsung di asrama haji Medan ini diinisiasi oleh Kanwil Kemenag Sumatera Utara. (Red: Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG