IMG-LOGO
Daerah

Akibat Tidak Menghormati Orang Tua, Empat Generasi Tak Berkah

Rabu 9 Januari 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Akibat Tidak Menghormati Orang Tua, Empat Generasi Tak Berkah
Jombang, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur KH Mohammad Djamaludin Ahmad menjelaskan bahayanya menyakiti orang tua. 

''Allah berkata kepada Nabi Uzair, ‘orang yang menyakiti orang tua, akan memperoleh laknat dan marah Allah sehingga empat generasi keturunannya tidak akan manfaat dan berkah. Sebaliknya, orang yang memuliakan orang tua, anak keturunannya akan manfaat berkah sampai empat generasi’," katanya saat mengisi pengajian di Bumi Damai Al-Muhibbin, Selasa (8/1).

Kiai Djamal lalu menceritakan kisah Nabi Yusuf. Ketika Nabi Yusuf sudah diangkat menjadi raja, ayahnya yakni Nabi Yakub pernah datang silaturahim. Kala didatangi Nabi Yakub, posisi Nabi Yusuf sedang duduk di singgasana. Melihat ayahnya datang, Nabi Yusuf tidak berdiri untuk memberi penghormatan. Allah langsung menegur nabi Yusuf dan berkata, ‘anak keturunanmu wahai Yusuf, tidak akan ada yang jadi nabi.'

"Ini benar terjadi. Tidak ada anak keturunan Nabi Yusuf yang jadi nabi,'' tambah Kiai Djamal. 

Dikatakannya, Nabi Muhammad SAW setiap kedatangan tamu, selalu berdiri untuk memuliakan. Para sahabat juga demikian, ketika Nabi datang, selalu berdiri. Nabi mengatakan kepada para sahabat, kalau beliau datang, tidak usah berdiri. Namun esoknya, ketika Nabi datang, sahabat tetap berdiri dan Nabi diam. Sahabat menyambut kedatangan Nabi dengan berdiri karena hormat kepada Nabi. 

"Makanya kalau shalawatan, pas mahalul qiyam, kita disuruh berdiri untuk menghormati, karena saat itu ada Nabi rawuh (datang)," ujarnya.

Kiai Djamal lalu menjelaskan penyebab tradisi di pesantren dalam menghormati guru. Saat guru atau kiai datang, santri diajari menyambut penuh hormat dengan berdiri. Demikian pula ketika seorang hamba kedatangan tamu orang tua. Maka harus menghormat dengan berdiri. 

"Suatu ketika, Abu Ghasan jalan sejajar dengan orang tuanya. Abu Hurairah yang melihat itu langsung mengingatkan, ‘Anak kalau berjalan dengan orang tua, jangan sejajar. Anak harus di belakang orang tua. Di belakangnya tepat, tanpa diselingi orang lain agar kalau ada sesuatu dengan orang tua, anak menjadi yang pertama menolong’," bebernya.

Lebih rinci Kiai Djamal menjelaskan ketika orang tua di lantai bawah, anak jangan naik ke tempat yang lebih tinggi. Ketika orang tua sudah memandang makanan, anak jangan mengambilnya. Bisa jadi makanan itu dikehendaki oleh orang tua. Kalau kita ambil duluan, nanti orang tua merasa didahului dan kecewa.

"Kalau bicara, nadanya tak boleh lebih tinggi dibanding orang tua.Tak boleh  memotong saat orang tua bicara. Tak boleh banyak bicara tak penting di depan orang tua. Orang tua baru ngomong sak kecap, kita sudah berkecap-kecap," pungkas Kiai Djamal. (Syarif Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Rabu 9 Januari 2019 22:0 WIB
Deden Al-Farhan Terpilih Jadi Ketua Cabang GP Ansor Lebak
Deden  Al-Farhan Terpilih Jadi Ketua Cabang GP Ansor Lebak
Serang, NU Online
Deden Al-Farhan terpilih menjadi Ketua Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lebak-Banten untuk periode 2019-2022. Deden Al-Farhan ditetapkan  sebagai pimpinan baru GP Ansor Lebak melalui Konferensi Cabang (Konfercab) IX di Gedung PCNU Lebak, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Senin (6/12) malam.

Deden terpilih secara aklamasi setelah 28 Pengurus Anak Cabang (PAC) dan 345 Pimpinan Ranting bermusyawarah secara mendalam. Dengan melihat kriteria yang ada, akhirnya keputusan sakral tersebut jatuh pada seorang Deden Al-Farhan.

Deden Al-Farhan menuturkan, Pengurus Cabang GP Ansor Kabupaten Lebak  masa khidmah 2019-2022 yang dipimpinnya itu akan fokus terhadap penataan ideologi kader. Menurutnya, harus ada transformasi ideologi yang sampai kepada jati diri kader agar ketika didistribusikan di masyarakat kader tersebut benar benar memahami ruh dari Nahdlatul Ulama.

“Melalui racikan reproduksi dan distribusi kader inilah kami akan coba menyajikan, bahwa Ansor adalah penjaga ulama dan bangsa,” ujarnya kepada NU Online.

Ia mengajak kepada seluruh pemuda Kabupaten Lebak dan Masyarakat agar menjadi ummatan washatan (umat yang moderat) dengan tidak mabuk simbol agama dan terkena candu kekuasaan.

Diketahui, sebelum Konfercab dimulai ratusan kader muda NU dan masyarakat Lebak melakukan istighotsah bersama yang dipimpin ulama sepuh Nahdlatul Ulama, Abuya Muhtadi. Dalam rangka mendoakan bangsa termasuk musibah yang belakangan terus menyerang sejumlah wilayah di Provinsi Banten.

Ketua Demisoner GP Ansor Lebak, Ade Bujaeremi menjelaskan, pada Konfercab IX tersebut telah dibahas rumusan kaderisasi, penguatan struktur organisasi, akreditasi organisasi, penguatan amaliah Nahdlatul Ulama, penguatan pencegahan radikalisme dan intoleransi. Ade mengungkapkan pada kepemimpinannya telah dibangunn pondasi struktur kaderisasi dengan memperbanyak kegiatan pendidikan dan latihan.

“Pada saat ini kami sudah bangun pondasi struktur kader Ansor Banser baik ditingkat PC maupun PAC melalui PKD dan DTD, dan Diklatsar untuk membangun sinergi dengan berbagai pihak termasuk pemerintah. Harapan kedepan kader Ansor Banser lebih meningkatkan militansinya,” tuturnya. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)

Rabu 9 Januari 2019 21:30 WIB
Capai Kedamaian Dengan Hindari 3 Hal Ini
Capai Kedamaian Dengan Hindari 3  Hal Ini
Habib Jindan duduk di tengah

Jember, NU Online
Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan menegaskan pentingnya bangsa Indoesia menjaga kerukunan dalam keadaan apapun. Salah satu syarat untuk mencapai kerukunan dan kedamaian adalah menghindari 3 hal. Yaitu mengganggu, membicarakan keburukan   dan mencari-cari atau kesalahan orang lain.  

Menurutnya,  sejak lama Nabi  Muhammad telah mewanti-wanti agar seorang muslim  tidak melakukan tiga hal itu. Jika peringatan Nabi Muhammad itu  tidak dihiraukan maka kedamaian sulit  terwujud.

“Ciri-ciri muslim yang Islamnya  hanya di kerongkongan, belum masuk ke hati, ya itu. Suka mengganggu sesama Muslim, membicarakan keburukan sesama Muslim,  dan mencari-cari aib Muslim lainnya. Itu Hadits Nabi Muhamamad SAW,”  ujarnya saat menjadi nara sumber dalam  Seminar Kebangsaan di gedung Soetarjo, Kampus Universitas Jember, Selasa (8/1).

Dikatakannya,  Hadits tersebut harus dipahami dan diajadikan  referensi dalam kondisi apapun. Sehingga perpecahan bisa dihindari dan kedamaian dapat dicapai. Untuk motif apa saja  baik politik,  kekuasaan atau apapun, Hadits itu harus  tetap dipegang teguh.

“Hadits itu sudah ada jauh sebelum Indonesia lahir. Mau ada Pemilu, Pilpres dan sebagainya, Hadits itu  sudah melarang seperti itu,” jelasnya.

Sementara itu, nara sumber lain, Nurul Ghufron menegaskan bahwa kedewasaan berpolitik masyarakat sangat menentukan kualitas demokrasi. Kedewasan berpolitik itu harus ditopang oleh independensi. Dan indpendensi bisa dicapai jika kesejahteraan masyarakat sudah terpenhi.

“Kalau perut masih keroncongan, maka suaranya akan ikut perut. Kalau perut sudah kenyang, maka otaknya berpikir sesuai hati nuraninya,” urai Dekan Fakultas Hukum, Universitas Jember itu (Red: Aryudi AR)

Rabu 9 Januari 2019 21:0 WIB
Usai Menang Soal Tambang, Warga Silo Diharap Bersatu
Usai Menang Soal Tambang, Warga Silo Diharap Bersatu
Wakil Rais PCNU Jembet, KIai Imam Habibul Haromain (nomor 3 dari kiri) ikut hadir di sidang Nonlitigasi

Jember, NU Online
Perjuangan  tak kenal lelah warga Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur untuk menolak tambang emas, akhirnya terbayar setelah sidang Nonlitigasi di kantor Kemenhum HAM di Jakarta, Rabu (9/1) merekomendasikan agar izin penambangan Blok Silo dicabut.  

Kabar gembira tersebut bagaikan angin semilir yang berhembus menyejukkan warga Silo dan para aktifis penolak tambang. Sebab selama sekian tahun, kabar eksploitasi tambang emas Blok Silo selalu timbul tenggelam, dan sempat menimbulkan pro kontra di kalangan warga Silo. Bahkan terakhir, rencana  eksploitasi itu semakin nyata menyusul terbitnya Keputusan Menteri Energi Sumberdaya  Mineral (ESDM) Nomor 180/30/MEM/2018, yang membolehkan Blok Silo ditambang.

Namun dengan putusan sidang Nonlitigasi itu, kandas sudah harapan investor untuk mengeksploitasi tambang emas di ujung timur wilayah Kabupaten Jember itu.

Tak kurang dari Katib Syuriyah PCNU Jember, MN Harisudin turut merasa gembira atas putusan sidang Nonlitigasi tersebut. Apalagi PCNU Jember juga maksimal memberikan pendampingan penolakan tambang emas Blok Silo.

Menurutnya, saat ini  warga Silo  tak  perlu waswas atau disibukkan dengan urusan tambang lagi. Ia berharap, kedepan warga Silo tinggal fokus membangun daerahnya dengan potensi yang ada.

“Yang juga penting adalah menjalin  kebersamaan dan kerukunan sesama warga Silo. Kalau selama ini mungkin sudah terjadi friksi, maka kini saatnya warga Silo bersatu,” harapnya kepada NU Online di kantor PCNU Jember.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Barikade Gus Dur Kabupaten Jember, H Abdul Hadi berharap agar warga Silo melupakan pro-konta yang pernah terjadi diantara mereka gara-gara tambang emas. Rektor Universitas Islam Jember (UIJ) itu berharap  agar warga Silo mengawal daerahnya agar tetap steril dari tambang emas.

“Jadi yang menentukan nasib warga Silo adalah mereka sendiri,” ujarnya (Red: Aryudi AR)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG