IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Pemikiran dan Pengalaman Imam Ghazali Berzikir dan Berdoa

Rabu 9 Januari 2019 8:0 WIB
Bagikan:
Pemikiran dan Pengalaman Imam Ghazali Berzikir dan Berdoa
Imam Ghazali adalah salah seorang pemikir Muslim terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Sebagian besar kaum Muslim menempatkan Imam Ghazali sebagai pemikir genius yang berhasil memadukan fiqih dan tasawuf secara mengesankan dan paling luas diterima. Semasa hidup, ia telah menuangkan pemikirannya ke dalam beberapa karya monumentalnya. Selain itu, tulisan dari orang lain sesudahnya juga tak kalah banyak.

Jika demikian, lalu apa yang membedakan buku ini dengan karya lain?

Meski pemikiran Imam Ghazali telah banyak dikaji, namun karya yang satu ini tetap memiliki beberapa kebaruan. Pertama, buku Metode Zikir dan Doa al-Ghazali ditulis bukan oleh seorang Muslim. Kojiro Nakamura adalah seorang pemeluk agama Buddha berkebangsaan Jepang yang bergiat dalam bidang studi Islam. Buku ini tak lain merupakan revisi dari desertasinya tahun 1970 di Universitas Harvard. Kini ia mengajar di Universitas Obirin dan menjadi profesor di sana.

Kedua, Metode Zikir dan Doa al-Ghazali secara ekstensif mengkaji pemikiran dan pengalaman Imam Ghazali tentang zikir dan doa. Dari penelitian Nakamura, ditemukan bahwa Imam Ghazali menggolongkan penggunaan zikir ke dalam lima kategori. Kategori pertama, zikir sebagai upaya untuk selalu mengingat Tuhan, kemudian mengalihkan perhatian utama kita dari dunia kepada Tuhan dan akhirat.Kategori kedua, zikir sebagai semacam olah meditasi atau mental yang memupuk kondisi jiwa tertentu atau sikap batin yang saleh. 

Zikir kategori ketiga melibatkan pelafalan kalimat suci secara terus-menerus sambil selalu mengingatnya untuk memupuk cinta seperti yang dilafalkan dan diingatnya. Kategori zikir keempat menggambarkan situasi manusia ideal yang dicapai melalui praktik zikir mental dan lisan yang panjang. Kategori zikir kelima sekaligus terakhir merupakan metode pengonsentrasian pikiran yang paling intensif dengan cara pengulangan frasa suci yang sederhana, tanpa melibatkan aktivitas lain yang bisa mengganggu konsentrasi ini (hal. 98-99).

Tak beda dengan zikir, Imam Ghazali berpendapat bahwa doa merupakan elemen esensial dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Maka dari itu, sudah semestinya manusia melakukannya sesering mungkin tanpa menunggu datangnya musibah. Sebab selama seseorang masih manusia, ia tidak bisa mengenyahkan doa kepada Tuhan.

Meski begitu, Imam Ghazali menetapkan sejumlah persyaratan bagi pendoa untuk bersikap rendah hati (tadharru’), rindu (raghbah), takut (rahbah), kemutlakan, ketulusan, serta kemurnian hati dan penyesalan atas dosa-dosa (hal. 107-110). 

Mengingat posisinya yang cukup vital ini, berbagai doa indah telah diturunkan dari para nabi, sahabat nabi, dan para wali. Lafal-lafal doa yang mereka ajarkan sangat dianjurkan untuk kita gunakan setiap kali memohon pada Allah. Karena dengan demikian, paling tidak kita dapat belajar tentang sikap batin yang benar.

Namun, Imam Ghazali pun mengakui bahwa pada tingkatan tasawuf yang tertinggi, tidak ada lagi doa karena tidak ada perbedaan antara pemohon dan Tuhan. Pada tahap ini, doa dalam pengertian yang kaku tidak diperlukan lagi (hal. 105). 

Buku ini, selain cocok dibaca para pengagum sosok dan pemikiran Imam Ghazali, sangat pas pula dimiliki oleh mereka yang sedang konsen melakukan studi komparatif antara Islam dengan Buddha. Nakamura telah melakukan perbandingan antara ritual ibadah pada kedua tradisi agama yang sekilas tampak berbeda dari segi doktrin namun terdapat sedikit kemiripan bila ditinjau dari praktik utama dan basis psikologis dari suatu ibadah.

Di sini, Nakamura memfokuskan penelitiannya pada zikir dalam tasawuf, kóan dalam Buddhisme Zen, dan nembutsu dalam tradisi Jodo-shu (Tanah Murni) yang ternyata merepresentasikan praktik inti dari masing-masing tradisi.

Kóan adalah metode yang sangat efektif untuk mengarahkan orang-orang yang baru belajar Zen pada situasi Pencerahan atau penyatuan dengan cara mendorong akal pada titik ekstrem hingga ia mengalami kebuntuan total. Sekilas, kondisi konsentrasi ini sama dengan kondisi yang berusaha dicapai oleh sufi melalui zikir sebagai persiapan untuk menerima berkah dan kasih Tuhan (hal. 118). Namun dalam zikir, titik puncaknya ada pada kebisuan konsentrasi pemikiran dan harapan untuk mendapat nikmat tuhan melalui penyerahan diri.

Lain halnya dengan nembutsu yang secara teknis berarti terus mengingat Buddha yang ideal dan meditasi tentang kebaikan-Nya, jasa-jasa-Nya, atau sosok-Nya, dan kemudian menancapkan nama tersebut dalam pikiran dengan “hasrat untuk mengalihkan perhatian tentang Buddha yang mulia kepada hamba yang bergelimang dosa” (hal. 121).

Nembutsu lebih menyerupai cara berpikir orang-orang yang mempraktikkan sesuatu karena yakin akan kegunaannya. Sedangkan zikir sendiri menurut Imam Ghazali adalah metode menggapai keyakinan sejati. Dengan demikian, dapat ditarik persamaan bahwa keduanya sama-sama menolak memberikan nilai positif pada dunia fana ini dan menganggapnya sebagai sesuatu yang nista.

Selain berkutat pada metode, kelebihan berikutnya dari buku ini adalah disajikannya praktik wirid yang biasa dibaca ketika Imam Ghazali berzikir dan berdoa dalam kesehariannya. Pembahasan tentang wirid-wirid Imam Ghazali tersebut terbilang cukup lengkap karena meliputi segala aktivitas manusia dari bangun tidur sampai tidur lagi yang disarikan langsung dari kitab Ihya’ Ullumuddin.

Lalu seperti apa zikir dan doa tersebut serta bagaimana pula cara mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari? Biarkanlah ia menjadi alasan mengapa Anda harus membaca buku ini. 

Peresensi adalah Ach. Khalilurrahman, pecandu buku yang kini bermukim di Sumenep

Identitas Buku 

Judul Buku          : Metode Zikir dan Doa al-Ghazali
Penulis               : Kojiro Nakamura
Penerbit               : Mizan
Cetakan                : I, Juni 2018
Tebal Buku           : 206 hal.
ISBN                      : 978-602-441-040-7

Bagikan:
Sabtu 5 Januari 2019 16:15 WIB
Gagasan Fiqih Disabilitas dengan Paradigma Kritis
Gagasan Fiqih Disabilitas dengan Paradigma Kritis
Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) meluncurkan buku Fiqih Disabilitas pada Kamis, 29 November 2018 lalu di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta Pusat.

Kehadiran buku ini menjadi penting sebagai panduan keislaman yang bersifat praktis bagi kalangan disabilitas. Kehadiran buku ini sangat ditunggu karena situasi Indonesia saat ini belum ramah terhadap kalangan disabilitas.

Peluncuran buku ini menjadi awal untuk memberikan penyadaran kepada publik baik masyarakat maupun pemerintah. Pihak LBM PBNU dengan buku ini menyuguhkan pandangan keagamaan dari khazanah keislaman sebagai bentuk perhatian NU untuk kalangan disabilitas.

Komunitas disabilitas di Indonesia dengan tulus mengucapkan terima kasih kepada NU yang mengangkat isu disabilitas netra dan isu disabilitas secara umum dalam diskursus fiqih. Hal ini menunjukkan bahwa ormas sosial-keagamaan memberikan perhatian terhadap kalangan disabilitas.

Ketua Umum Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia Gufroni Sakaril menyatakan terima kasih atas kehadiran buku fiqih tersebut. Menurutnya, kalangan disabilitas selama ini menunggu kehadiran buku keislaman dengan tema tersebut.

“Buku ini ditunggu-tunggu oleh kalangan disabilitas karena terus terang kami gelisah apakah ibadah kami diterima. Pasalnya, ibadah kami tidak masuk syarat dalam teks-teks agama yang beredar di tangan masyarakat,” kata Gufroni Sakaril.

Ia mengapresiasi kehadiran buku fiqih disabilitas ini. Menurutnya, buku ini sangat bermanfaat karena belum ada buku agama yang spesifik membahas masalah disabilitas ini.

Buku ini tidak hanya penting untuk kalangan disabilitas. Kehadiran buku ini bermanfaat bagi kalangan disabilitas, pengurus masjid, pemerintah dan pembuat kebijakan publik, dan kampus-kampus Islam.

Gagasan dalam buku ini merupakan sebuah terobosan dan lompatan dalam pemikiran keislaman karena buku ini bukan sekadar tuntunan praktis kalangan disabilitas, tetapi menempatkan mereka secara adil. Kalangan disabilitas sebelumnya dianggap warga negara kelas dua.

Teks-teks keagamaan juga tidak memberikan mereka perhatian secara khusus. Hal ini yang membuat kalangan disabilitas kesulitan menemukan buku panduan agama keseharian yang menyangkut ibadah, muamalah, perkawinan, hingga siyasah.

Kehadiran buku ini membalik posisi mereka yang selama ini terabaikan. Buku ini menghadirkan mereka sejajar dengan warga negara lainnya.

Dalam wacana keagamaan selama ini, kalangan disabilitas tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Sejalan dengan itu konstruksi sosial, budaya, ekonomi, dan politik meminggirkan mereka.

Buku Fiqih Disabilitas ini mencoba menawarkan paradigma baru dalam memandang kalangan disabilitas dengan potensi dan peluang yang sama dalam dunia sosial, politik, ekonomi, dan agama.

Meski negara telah memiliki semangat baik untuk penguatan hak-hak kalangan disabilitas melalui UU Nomor 8 Tahun 2016, semangat perubahan ini belum terwujud maksimal karena pelaksana UU masih memegang paradigma lama yang memosisikan kalangan disabilitas sebagai masyarakat kelas dua terkait hak-hak sipil mereka.

Buku ini menawarkan paradigma kritis dalam memandang kalangan disabilitas. Paradigma ini menempatkan kalangan disabilitas setara sebagai warga negara sehingga mereka tidak lagi dinilai sebagai warga negara kelas dua. Paradigma ini melihat mereka memiliki hak sipil yang sama dengan mereka yang bukan kalangan disabilitas, baik dalam soal hukum, sosial, politik, dunia ketenagakerjaan, maupun dalam soal infrastruktur.

Paradigma kritis ini merupakan paradigma baru yang ditawarkan dari dua paradigma, yaitu paradigma mistis dan paradigm naïf, yang selama ini mendominasi masyarakat dalam memandang mereka. Paradigma mistis adalah cara pandang yang menempatkan disabilitas seseorang sebagai takdir tuhan sehingga cukup diterima dengan sabar, tabah, dan pasrah pada kenyataan. Sementara masyarakat diminta untuk menyantuni mereka. Paradigma ini “mematikan” semua potensi kalangan disabilitas.

Adapun paradigma naif menempatkan disabilitas sebagai masalah penyakit, turunan, kecelakaan, penuaan, atau sebab duniawi lainnya. Paradigma ini menempatkan kalangan disabilitas sebagai kelompok yang memeiliki keterbatasan dan kelemahan yang harus disantuni dan dibelaskasihani. Kelemahan mendasar dari dua paradigma ini adalah menempatkan kalangan disabilitas sebagai warga negara kelas dua. Dengan kata lain, paradigma mistis dan naif mendiskriminasi kalangan disabilitas

Rumusan buku fiqih ini dirancang sebelum Munas NU 2017 di Lombok. Pihak LBM PBNU telah mengadakan sejumlah diskusi yang melibatkan pemerintah terkait dan komunitas disabilitas. Buku ini terselenggara atas kerja sama LBM PBNU, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), dan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD-UB).

Buku ini jauh dari kata sempurna. LBM PBNU memununggu masukan dan catatan dari semua pihak untuk merevisi buku fiqih disabilitas ini.

Peresensi adalah Alhafiz Kurniawan, pemerhati masalah keislaman.

Identitas Buku:
Judul buku: Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas 
Penulis     : Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), dan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD UB).
Editor       : Sarmidi Husna
Penerbit   : LBM PBNU
Cetakan I : 25 November 2018
Tebal        : 219 Halaman
Sabtu 5 Januari 2019 3:0 WIB
Istana Prawoto Pusat Kerajaan Demak?
Istana Prawoto Pusat Kerajaan Demak?
Belum genap dua bulan, sebuah buku yang cukup menarik berjudul 'Istana Prawoto: Jejak Pusat Kesultanan Demak' diterbitkan. Menarik, karena sang penulis, Ali Romdhoni, tidak memakai tanda tanya (?) di belakang judul.

Ada dua hal yang bisa dicermati dalam pemakaian judul yang tanpa tanda tanya (?) itu. Pertama; sebagai penegas. Buku karya Wakil Rais Syuriyah PCINU Tiongkok yang juga dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) ini ''seakan meyakini'' bahwa Istana Prawoto memang menjadi (salah satu) jejak pusat Kesultanan Demak, tempo dulu.

Kedua, klaim yang merangsang riset-riset lanjutan. Saya menduga, pemakaian judul dalam buku ini tidak sekadar ingin ''mengklaim'' Istana Prawoto sebagai jejak pusat Kesultanan Demak semata, melainkan hendak memancing penulis, akademisi dan peneliti lain, untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait Istana Prawoto itu.

Dengan kata lain, bukan klaim, sebenarnya, yang ingin dimunculkan dalam buku mantan jurnalis Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT di IAIN (kini: UIN) Walisongo Semarang itu, melainkan merangsang para pakar, akademisi, peneliti dan lainnya untuk melakukan penelitian lain, mencari bukti-bukti baru, tentang Istana Prawoto yang berada di wilayah Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Tidak mudah untuk menggali berbagai informasi dan data tentang Prawoto. Butuh ketekunan untuk melakukan kajian literatur secara mendalam, juga cerita-cerita lokal yang hidup (berkembang) di tengah masyarakat Prawoto. (hal. 7)

Dan melalui penggalian data yang melelahkan itu, Ali Romdhoni sampai pada pembacaan pada identitas Desa Prawoto, di mana menurut kepercayaan masyarakat setempat, setiap tempat, memiliki sejarah dan cerita yang mengiringi ''kelahiran'' tempat-tempat di desa tersebut. (hal. 16)

Brentolo, salah satunya. Oleh penulis buku ini, Brentolo diduga sebagai ''cikal bakal'' penyebutan dari ''Bintoro'', yang sangat terkait dengan kata ''Demak'' yang kemudian dikenal sebagai ''Demak Bintoro''.

Wallahu a'lam. Lepas dari apapun, kehadiran buku ''Istana Prawoto: Jejak Pusat Kesultanan Demak'' ini sangat menarik, selain memberikan wacana baru terkait jejak Kesultanan  Demak, juga menginspirasi para pihak untuk melakukan penelitian-penelitian lain. 


Peresensi adalah pemimpin redaksi Suaranahdliyin.com, anggota Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Kudus dan guru MA. NU. Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus

Data Buku
Judul Buku      : Istana Prawoto, Jejak Pusat Kesultanan Demak
Penulis             : Ali Romdhoni MA.
Penerbit           : Pustaka Compass
Cetakan I          :  November 2018
Tebal                 : 126 + xx
ISBN                 : 978-602-52458-2-4


Rabu 26 Desember 2018 12:35 WIB
Meluruskan Salah Paham Islam Nusantara
Meluruskan Salah Paham Islam Nusantara
Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin (2015-2018) mengatakan bahwa akhir-akhir ini Islam Nusantara menjadi wacana publik. Tidak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin), tetapi masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya. Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru.

Hal ini wajar karena NU adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangat positif, baik bagi Nahdlatul Ulama (NU) maupun bagi negeri ini.

Adapun buku Islam Nusantara merupakan dokumentasi keputusan resmi Bahtsul Masail Maudhu’iyyah PWNU Jawa Timur 13 Februari 2016 di Universitas Negeri Malang. Forum yang diabadikan di buku ini membahas berbagai isu seputar sejarah, dakwah, toleransi hingga kebangsaan.

Buku ini dapat menjadi rujukan strategis bagi warga Nahdliyyin, pengurus NU, peneliti, maupun masyarakat secara luas. Buku Islam Nusantara ini sangat penting dimiliki dan dibaca, khususnya bagi akitivis, pengurus dan warga NU untuk menetralisasi penyesatan informasi terkait Islam Nusantara yang sebenarnya merupakan identitas keberislaman ala NU sejak dahulu.

Kehadiran buku Islam Nusantara ini diharapkan dapat memberi manfaat yang luas bagi siapa saja yang menaruh perhatian atas eksistensi Ahlussunnah wal Jama’ah al-Nahdliyyah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai ideologi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita semua berharap kepada berbagai pihak yang selama masih ini berada di ujung kanan maupun di ‘ujung kiri’ dalam perdebatan tentang Islam Nusantara, mari sama-sama menengah menapaki manhaj moderat yang telah dita’sis oleh para pendiri NU.

Buku ini mengantarkan pembaca memahami dengan benar karakteristik Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu tawassuth, tawazun dan i’tidal dalam bersikap dan bertindak dalam urusan apapun, sehingga kekokohan ukhuwwah islamiyyah, ukhuwwah wathaniyyah, dan ukhuwwah Basyariyyah terjaga sepanjang masa.

Buku ini mencakup pemahaman Islam Nusantara sebagai praktik keislaman khas 

Nusantara dan sebagai metode dakwah Islam di Nusantara baik di masa walisongo maupun masa kini. Buku ini juga memuat landasan menyikapi tradisi, yaitu redaksi ayat Al-Qur'an dan hadits yang mengakomodir tradisi, tradisi jahiliyah yang mendapatkan legalitas dalam Agama Islam.

Buku ini secara jelas mengungkap pendekatan terhadap tradisi, pelestarian tradisi sebagai media dakwah, dan landasan toleransi terhadap pluralitas agama dan keagamaan di samping argumentasi teologis atas konsistensi menjaga persatuan bangsa.

Peresensi adalah Alhafiz Kurniawan, pemerhati masalah keislaman.

Identitas Buku:
Judul buku: Islam Nusantara Manhaj Dakwah Islam Aswaja di Nusantara 
Penulis: Tim PW LBM NU Jawa Timur
Editor: Ahmad Muntaha AM
Penerbit: PW LTN NU Jawa Timur, PW LBM NU Jawa Timur, dan Universitas Negeri Malang
Cetakan: 1, November 2018
ISBN: 978-602-50207-6-6
Tebal: 80 Halaman
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG