IMG-LOGO
Esai

Kedekatan KH Abdurrahman Nawi dan Habib Munzir

Kamis 10 Januari 2019 18:0 WIB
Bagikan:
Kedekatan KH Abdurrahman Nawi dan Habib Munzir
Abuya dan Habib Munzir
Oleh Ahmad Rifaldi 

Peran KH Abdurrahman Nawi –sapaan akrab Abuya- dalam berdakwah memberikan banyak manfaat dan kesan baik bagi kaum Muslimin yang ada di Jakarta. Kesan publik dalam melihat kealiman Abuya sudah tidak diragukan, terutama karena produktivitasnya dalam menghasilkan banyak karya. 

Karya-karya yang lahir dari berbagai macam cabang keilmuan seperti tauhid bernama Sullamul Ibad, nahwu bernama Nahwu Melayu, fiqh yang spesifik menjelaskan tentang tata cara berhaji bernama Manasik Haji, dan lain-lain yang kemudian karya tersebut ditulis dengan bahasa yang sederhana sehingga masyarakat awam dapat memahami dengan lebih mudah. Sehingga banyak kalangan asatidz di Jakarta yang timbul kala ini sebab berkah mengaji kepada Abuya KH Abdurrahman Nawi.

Dikatakan oleh murid Abuya bahwa dahulu saat Abuya masih aktif dalam berdakwah, Abuya bukan hanya dianggap milik Al-Awwabin yakni pesantren yang didirikannya, akan tetapi lebih dari itu, ia sudah dianggap milik sejuta umat. Sehingga sosok karismatik Abuya sudah sangat mewarnai kehidupan banyak orang.

Bahkan bukan hanya dikalangan asatidz dan kiai, sosok karismatik Abuya sangat disegani oleh para habaib, baik di Jakarta maupun lintas daerah. Salah satunya adalah Almarhum Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa. Ia merupakan pendiri Majelis Rasulullah yang sampai kini majelisnya masih tetap eksis “bergerilya” di sekitaran Jabodetabek meskipun Habib Munzir sudah tiada.

Diceritakan oleh Ustadzah Diana Rahman yang merupakan salah satu putri KH Abdurrahman Nawi yang kini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Awwabin khusus putri Bedahan, Depok bahwa kedekatan Abuya dengan Habib Munzir mengalir bagaikan kedekatan seorang anak kepada orang tuanya. Jika ada masalah tentang kesulitan berdakwah ataupun beberapa kesulitan lainnya yang menimpa umat muslim khususnya di Jakarta, Habib Munzir datang untuk meminta nasehat dan solusi dari Abuya. Lebih dari itu, Habib Munzir sendiri meminta izin kepada Abuya untuk diangkat sebagai anak. Lantas Abuya pun mengizinkan hal tersebut. 

Hal seperti ini menjadi keunikan tersendiri dalam kisah hubungan seorang murid dengan gurunya. Habib Munzir melihat bahwa Abuya merupakan ulama sepuh yang sangat disegani banyak orang. Sehingga Habib Munzir merasa perlu belajar banyak kepada Abuya tentang berbagai hal, terutama yang menyangkut dalam dakwah di Jakarta.

Sampai kini, hubungan pengasuh Majelis Rasulullah dengan Abuya KH Abdurrahman Nawi masih berjalan baik. Abuya terkadang masih suka didatangi oleh Habib Nabiel Al-Musawa yang merupakan saudara Habib Munzir.

Cara Abuya dalam berdakwah adalah melakukan pendekatan yang menyesuaikan karakter orang. Di satu sisi Abuya bisa bergaul dengan para habaib, namun disisi lain hubungan Abuya dengan para kiai dan juga tokoh bangsa tetap erat. Artinya menjadi seorang pendakwah bukan untuk mengotak-kotakan golongan, namun justru untuk menyatukan semuanya. Baik untuk kalangan ulama dan umaro agar tidak terpecah. Akan tetapi kedekatan itu tentu saja harus dilakukan dengan metode yang lembut, sopan, dan tegas dalam ketidaksesuaian.

Hal seperti ini senyalir dengan konsep golongan masyarakat di zaman Wali Songo yang dalam sebuah keterangan termasuk dalam bagian dari ajaran Sunan Kali Jaga. Bahwa terdapat tujuh golongan masyarakat yang diukur dari keterikatan seseorang dengan kebutuhan duniawi. Yaitu golongan brahmana, golongan ksatria, golongan waisya, golongan sudra, golongan candala, golongan mleca, dan golongan tuja

Golongan brahmana itu merupakan golongan paling tinggi karena memiliki kewibawaan yang kuat dan meresap bagi setiap orang. Mereka dikenal suci yakni mengosongkan diri dari kebutuhan duniawi yang berlebihan. Golongan ini termasuk diantaranya adalah ulama. Tugas ulama adalah untuk menyambungkan hubungan bagi golongan-golongan di bawahnya, terutama adalah golongan ksatria.

Golongan ksatria merupakan orang-orang yang membangun jalan, mengusahakan agar rakyat tidak kelaparan, menjalankan hubungan dengan wilayah lain. Mereka tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi tapi kehidupannya dijamin oleh institusi Negara. Mereka adalah pemimpin rakyat atau umaro. Maka menjadi seorang brahmana tidaklah mudah. Ia harus selalu memberikan kesan baik bagi semua orang dan juga selalu membantu orang untuk menyelesaikan masalahnya dengan pendekatan ketuhanan. Sehingga ada koneksi yang sifatnya linear dari atas ke bawah dan senantiasa bersambung secara dinamis.

Dengan demikian, dapat terlihat bahwa esensi seorang ulama adalah untuk merangkul, memberikan perangai yang sederhana, dan selalu terbuka kepada siapapun. Itulah yang membuat Abuya KH Abdurrahman Nawi dianggap milik umat. 


Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Tags:
Bagikan:
Kamis 10 Januari 2019 5:30 WIB
Perjalanan Warga Kendal Menjemput Grasi Kiai Mereka
Perjalanan Warga Kendal Menjemput Grasi Kiai Mereka
Jakarta, NU Online
Rabu siang (9/1), tiga warga Kendal, Kaswanto, M Khasan Bisri, dan Sutrisno mendatangi kantor Kementerian Sekretariat Negara untuk menemui sang menteri, Pratikno untuk meminta bantuan sang menteri agar upaya pengajuan grasi untuk kiai mereka dikabulkan presiden Jokowi. 

Mereka datang ke kantor Mensesneg di Jalan Veteran Jakarta Pusat ini dengan pakaian terbaik yang bisa mereka bawa; baju batik, peci dan sandal. Mereka datang ditemani Ketua YLBHI Bidang Advokasi Muhamad Isnur, Direktur LBH Semarang Zainal Arifin, dan aktivis muda NU Hamzah Sahal. 

Kiai mereka, Kiai Nur Aziz ditahan bersama dengan seorang warga lain Sutrisno Rusmin. Keduanya yang merupakan petani miskin di Desa Surokonto Wetan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, divonis kurungan penjara selama delapan tahun dan denda 10 miliar rupiah berdasarkan Putusan Kasasi Mahkamah Agung. Mereka dianggap telah mengorganisir orang untuk memasuki kawasan hutan serta menggunakan kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana diatur dalam Pasal 94 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Padahal kawasan yang mereka masuki itu adalah tanah yang dikelola oleh masyarakat sejak tahun 1970.

Kaswanto memohon pada Pratikno untuk membantu proses pengajuan grasi pada presiden untuk kiai mereka. “Kiai Nur Aziz saat ini menjadi tumpuan warga. Kami mewakili seluruh warga berharap pada Pak Pratikno untuk membantu kiai kami dan Sutrisno untuk mendapat grasi,” katanya dengan terbata-bata pada Pratikno di kantor Mensesneg, Rabu (9/1).

Semenjak ditahan pada bulan Maret 2017, Kyai Nur Aziz yang merupakan tulang punggung keluarga dengan harus meninggalkan istri, empat orang anaknya beserta para santri yang diasuhnya dalam keadaan ‘terlantar’. Sementara Sutrisno Rusmin yang merupakan Lansia berusia 66 tahun, harus menghabiskan masa senjanya di penjara dan meninggalkan istrinya. Menurut penuturan Kaswanto, saat ini, kebutuhan ekonomi kedua keluarga itu ditanggung bersama oleh rekan-rekannya sesama petani ‘dengan segala kekurangannya’.

Sementara, Muhamad Isnur dan Zainal Arifin yang mengadvokasi masalah ini sejak awal, secara bergantian menjelaskan kronologis kejadian hingga kondisi terkini. “Kami telah melakukan langkah-langkah yang semestinya untuk mengajukan grasi. Tapi sepertinya pengajuan grasi untuk Kiai Nur Aziz dan Sutrisno Rusmin mandeg. Makanya kami (melakukan) audiensi ke sini tujuannya meminta bantuan pak Menteri agar grasi ini dibantu sehingga bisa segera dikabulkan Presiden Jokowi,” ujar Isnur. 

Zainal menambahkan bahwa permohonan grasi Kyai Nur Aziz dan Sutrisno Rusmin sudah diajukan melalui Lembaga Pemasyarakatan Kendal tertanggal 21 Juni 2018 dengan menyertakan persyaratan sebagaimana diatur oleh Permenkumhan Nomor 49 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Grasi. Permohonan tersebut kemudian telah ditindaklanjuti dengan dikirimkan kepada Menteri Hukum dan HAM. Namun karena dalam waktu yang cukup lama tidak menghasilkan progres yang baik, maka ia dan tim memutuskan untuk melakukan audiensi ini.

Aksi semacam ini bukan yang pertama kali dilakukan oleh warga Kendal. “Ini kali kelima saya menemani bapak-bapak ini sejak 2017,” kata Hamzah pada Menteri Pratikno dengan nada suara yang terjaga. Hamzah lalu menjelaskan bahwa upaya mendorong agar grasi dikabulkan sudah dilakukan sejak tahun 2017 lalu. Selain sejumlah diskusi di PBNU, advokasi juga dilakukan dengan Menemui Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly. Namun pertemuan demi pertemuan itu belum membuahkan hasil. 

Menurut Hamzah, putusan penahanan Kiai Nur Aziz dan Sutrisno Rusmin ini terkesan dibuat-buat bahkan lebih mirip pada kriminalisasi, karena lahan yang diperkarakan itu telah dikelola warga sejak puluhan tahun lalu. Argumen Hamzah ini sejalan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 95/PUU-XII/2014, yang menegaskan bahwa “masyarakat yang hidup secara turun temurun di dalam kawasan hutan tidak dapat dipidana karena menebang pohon, memanen, memungut hasil hutan, menggembalakan ternak tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang, sepanjang tidak ditujukan untuk kepentingan komersial”.

Kasus ini sendiri, lanjut Hamzah, sudah dikaji berkali-kali secara serius oleh tim PBNU. Kesimpulan dari kajian tersebut adalah; tidak ada kesalahan yang substansial dari bapak-bapak yang divonis itu. 

Menteri Pratikno sendiri menerima dengan baik audiensi warga tersebut. Saat itu ia ditemani oleh empat orang stafnya. Dalam kesempatan itu ia berjanji untuk memperhatikan dan membantu proses tersebut. 

Usai pertemuan, dalam perjalanan pulang, ketiga warga Kendal ini merasa senang dengan perkembangan yang dihasilkan dari pertemuan tersebut. “Alhamdulillah, kami jadi lega setelah ketemu Pak Menteri. Semoga (Kiai Nur Aziz dan Sutrisno Rusmin) segara dapat grasi,” kata mereka berharap. (Ahmad Rozali)
Rabu 9 Januari 2019 5:0 WIB
'Al-Muallaqat': Pintu Mini Peradaban Arab Jahiliyah
'Al-Muallaqat': Pintu Mini Peradaban Arab Jahiliyah
Oleh Muhammad Harir 

Jauh sebelum diturunkannya Al-Qur'an sebagai karya sastra tertinggi di muka bumi ini, bangsa Arab pra-Islam lewat budayanya telah mengenal tradisi penulisan puisi, pelantunannya, dan penghargaan yang agung terhadapnya. Saking getolnya gubah-menggubah syair dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga lahirlah semboyan asy-syi’ru diwanul arab (puisi adalah rumah bagi bangsa Arab) yang menganggap bahwa puisi-puisi buah pena sang penyair yang ditulis ulang merupakan bentuk puncak peradaban dan warisan budaya berharga bangsa Arab.

Di samping kentalnya budaya seni menulis dan seni berpuisi ternyata hal ini tidak dibarengi dengan kondisi perilaku dan etika yang berjalan. Tak ayal jika label “kaum jahiliyah” disematkan bagi mereka. Pemaknaan kata jahiliyah sebelum Islam datang tidak diartikan sebagai jahala-yajhilu (bodoh) sebagaimana kebalikan kata dari alima-ya’lamu (mengetahui). Dinamakan demikian karena menggambarkan karakter orang Arab yang penuh dengan kemarahan, kedendaman, dan lemahnya moral berkelakuan bukan bertumpu pada olah akal mereka akan ilmu pengetahuan.

Banyak orang Arab meyakini, orang yang lihai mencipta puisi dan melisankanya mempunyai kedudukan dan pangkat yang begitu dihormati di lingkungannya. Selain kemujuran yang didapat bagi sang penyair secara personal, fungsi puisi juga mampu berpengaruh dalam cakupan yang cukup luas. Pasalnya puisi mampu menjadi sarana menyampaikan ilmu, kebijaksanaan, dan pengalaman yang berada di luar logika pengetahuan manusia.

Sejarah mencatat ada peristiwa besar dalam kehidupan bangsa Arab perihal capaian peradaban di bidang kesusastraan. Peristiwa ini umum disebut Al-Muallaqat, merupakan amsal penganugerahan nobel sastra di zaman sekarang ini. Gubahan syair pada zaman jahiliyah datang kepada kita dulunya lewat tradisi lisan (karena memang kebanyakan dari mereka buta huruf), terkecuali beberapa lembar syair-syair terpilih yang memang diperintahkan untuk ditulis dengan tinta emas guna digantungkan di dinding Ka'bah.

Tidak asal-asalan uji keabsahan dan keindahan karya-karya puisi ini diselenggarakan, penyair yang diuji mesti melengkapi berkas dan persyaratan estetis yang sudah ditentukan oleh dewan juri. Dalam prosesinya penyair mengalunkan bait-bait puisinya di tempat terbuka. Selain dewan juri yang menjadi penilai, khalayak umum juga turut serta menjadi saksi pentas pembacaan puisi paling bergengsi ini. Yang hanya ada sekali dalam sejarah bangsa Arab.

Alhasil dewan juri menetapkan tujuh penyair sebagai pemenangnya. Dan menempatkan Umru Ul-Qais sebagai raja penyair bangsa Arab dan dinyatakan sebagai penyair utama dalam kebudayaan jahiliyah. Adapun daftar nama lainya adalah Tarafah bin Abid, Harits bin Killizah, Amru bin Kultsum, Zuhair bin Abu Sulma, Antarah bin Syadad dan Labid bin Rabiah. Dalam perjalanannya sekumpulan puisi terpilih dari para pemenang kebanyakan orang menyebutnya al-muallaqat (puisi yang digantungkan) atau diwan al-muallaqat (kumpulan puisi yang digantungkan) dan lebih seringnya al-muallaqat as-sab’u (kumpulan puisi tujuh penyair yang digantungkan).

Membaca syair-syair Al-Muallaqat dari baris demi baris yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, membawa saya menyelami ceruk-ceruk kedalaman ide dan gagasan dari sang penyair. Siapa pun pembacanya, saya kira akan diseret paksa memasuki ranah kejiwaan yang dialami penyair tentang apa itu keterasingan, ritme gejolak perang antar kabilah (suku), kegetiran ditolak sang kekasih, dan ratapan memilukan pembuangan.

Dari kehidupan nomad (berpindah-pindah) dan keprimitifan inilah yang justru menjadi telaga inspirasi kandungan isi dari karya puisi penyair-penyair Arab. Tak cukup berhenti di situ untuk membuat saya terpukau dan berdecak kagum, dari keluguan hidangan yang disajikan kesemua-muanya bersifat natural. Lihat saja, tanpa memandang tabu para penyair mengindahkan tubuh dan kecantikan perempuan dengan sangat mengalir bebas, agak sedikit vulgar tapi asyik dan lagi-lagi kebengalan adalah ciri khasnya.

Seperti dituliskan dalam penggalan syair Amru bin Kultsum yang berjudul Sang Permaisuri

Ketika aku bersembunyi untuk menemuinya/ Dan menjaga rahasia pribadinya/ Dia singkap lengan langsatnya yang muda/ Hingga terlihat puting susunya yang kenyal/ Lalu ditutupi dengan jari jemari/ Dan menggoyangkan pinggulnya dengan gemulai.

Kebiasaan buruk bangsa Arab juga sangat tergambar kentara dalam puisi Antarah bin Syadad yang berjudul Biarkan Aku Mabuk

Biarkan aku mabuk!/ Sampai terhuyung lupa daratan/ Sebab engkau tahu, aku ini keturunan darah biru/ Dan engkau pun juga tahu, tabiat buruk dariku/ Biarkan aku terkapar dan mengigau/ Karena ditampar ole lelaki yang menceracau/ Biarkan aku terguling di atas tanah/ Seperti bibir sumbing yang mendesah.

Pesan akan moral dan kearifan seperti yang sudah saya sebutkan di muka juga tak kehilangan ruang dan identitas dari karakter kuat syair-syair Arab. Hal ini sangat gamblang dalam penuturan syair Zuhair bin Abu Sulma yang berjudul Pesan untuk Manusia.

(1)
Demi keabadian hidupmu
Demi tombak-tombak yang bisu
Tak akan ada kabilah
Yang membunuh kabilah
Mereka saling menghormat dan membayar denda
Dengan unta yang sehat dan siap belajar mengembara

Sungguh, setiap kota harus melindungi warganya
Dari segala ancaman yang mengintai di gelap malam
Yang dengki tak ada jalan yang membenci
Yang jahat tak ada jalan yang selamat

Aku bosan pada beban kehidupan 
Bagai usia delapan puluh tahun
Yang berjalan dengan tongkat pikun
Meski yang kutahu terjadi hari ini
Kemarin atau kemarinnya lagi
Tak ada tanda bagi peristiwa esok hari
Hanya maut yang dapat kulihat
Mencari dan menerjang pada sasaran
Yang luput dari genggamannya 
Akan hidup dalam renta dan sia-sia

(2)

Barang siapa tidak berbuat untuk manusia/ Akan disiksa oleh tapal-tapal kuda
Barangsiapa tidak menjaga kehormatan/ Akan diperdaya oleh cercaan
Barangsiapa kikir pada hartanya/ Akan tersingkir dari kaumnya
Barangsiapa menangkar kebajikan/ Akan terhindar dari penderitaan
Barangsiapa yang takut pada penyebab maut/ Akan dikejar olehnya sampai terpagut
Barangsiapa melaknat perdamaian/ Akan dilumat oleh peperangan
Barangsiapa menabur kejahatan/ Akan dikubur oleh kekejaman
Barangsiapa mengembara tanpa tujuan/ Akan dipenjara oleh musuh yang mengaku kawan

(3)

Walau pekertimu bersembunyi dalam dada/ Tak mungkin lepas dari pandangan manusia
Walau kekagumanmu terpatri dalam diam/ Tak mungkin lepas dari tali percakapan
Walau separuhmu hati dan separuhnya lagi lidah/ Tak mungkin lepas dari bentuk daging dan darah
Walau kebodohanmu tidak melahirkan kesopanan/ Tak mungkin lepas dari kesopanan yang terpendam
Walau engkau selalu memberi dan aku selalu meminta/ Yang meminta tidak akan pernah mendapatkan apa-apa

Demikian sekelumit bentuk dan contoh syair Arab serta sejarah peradaban sastranya. Tentu kepesatan perkembangan sastra sekarang ini banyak pula dipengaruhi oleh keberadaan sastra sebelum-sebelumnya dan penyair yang lalu-lalu. Karena baik sastra (khusunya) dan ilmu pengetahuan (umumnya) adalah pertalian yang saling menghubungkan satu dengan yang lainnya.


Penulis adalah Kepala Suku Gubuk Gabut, Mahasiswa UNNES. Sumber tulisan di atas adalah buku Syair-Syair Arab Pra-Islam All-Muallaqat


Senin 7 Januari 2019 18:0 WIB
Pelacur dan Anjing, Kiai dan Burung
Pelacur dan Anjing, Kiai dan Burung
Oleh KH Abdurrahman Wahid 

Mereka yang terbiasa membaca kisah-kisah para sufi, tentu langsung dapat menebak ke mana arah tulisan ini. Bagi mereka, silakan baca hal-hal lain saja, dan tulisan ini dapat ditinggalkan atau dilewatkan.

Bagi yang belum tahu, harap bersabar membacanya hingga selesai.

Alkisah, seorang pelacur tua, mungkin tinggal seonggok daging penuh dengan kuman penyakit kotor, tertatih-tatih menempuh perjalanan di padang pasir. Perbekalan tinggal air sekendi belaka, padahal perjalanan masih jauh. Tiba-tiba dilihatnya seekor anjing tergeletak begitu saja di tempat sepanas itu. Tiada harapan lagi untuk hidup, karena sudah tidak kuasa berjalan lagi. Tinggal menunggu saat kematian. Tak sampai hatinya melihat penderitaan anjing itu, pelacur tersebut lalu meminumkan airnya yang tinggal sedikit itu ke mulut makhluk sial dangkalan itu.

Makhluk hina itu lalu mampu meneruskan perjalanan, dan menyelamatkan diri dari kematian.

Menurut cerita itu, sang pelacur akhirnya mati kehausan, sang anjing selamat sampai di kota dan berhasil memelihara kelangsungan hidupnya.

Tetapi, kematian pelacur itu berujung pada kebahagiaan abadi, karena ia langsung masuk sorga abadi. Sorga tertinggi. Karena keibaannya yang tiada terhingga kepada makhluk lain, hingga melupakan keselamatan diri sendiri, ia memberikan darma bakti tertinggi kepada kemanusiaan. Ini yang disebut kebahagiaan tanpa batas, dan dengan itu ia bermodal cukup masuk sorga. Walaupun sebelum itu, ia sudah begitu rupa bergelimang dengan dosa.

Lain lagi kisahnya sang kiai.

Sewaktu akan bepergian ke kota lain, kiai bujangan yang berdiam seorang diri di rumahnya, samar-samar ingat akan kebutuhan burung peliharaannya kepada air minum.

Rasa malasnya timbul. Ah, biarkan saja, tidak apa-apa, binatang kan tahan haus. Itu pun hanya sehari. Ternyata kiai yang saleh dan berpengetahuan agama sangat mendalam itu terhambat perjalanannya, kembali ke rumah beberapa hari kemudian. Didapatinya burung tersebut sudah mati. Karena burung toh bukan makhluk berharga tinggi, ia pun segera melupakan akan hal itu. Biasanya saja, ada makhluk lahir dan ada makhluk mati, soal kehausan hanyalah sebab belaka.

Bagaimana nasib kiai tersebut di akhirat kelak? Menurut cerita sufi itu, ia masuk Neraka Wail, neraka terdalam. Pasalnya? Karena ia menganggap sepele keselamatan makhluk yang ada di dunia ini. Setiap makhluk, dari yang sebesar- besarnya hingga yang sekecil-kecilnya sekalipun, memiliki nilainya sendiri. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi siklus kehidupan secara umum. Bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi.

Dengan kata sederhana, sikap pak kiai saleh dan berilmu agama mendalam itu adalah sikap meremehkan pentingnya arti kehidupan secara keseluruhan. Sikap tidak menghargai keagungan dan kehebatan kreasi Allah yang sangat menakjubkan itu. Sikap meremehkan kehendak Allah akan perlunya kehidupan dilestarikan sebagai tanda pengakuan akan keagungan dan kebesaran-Nya sendiri.

Dua dimensi dari cinta dan kasih sayang sesama makhluk, seperti dipaparkan cerita sederhana di atas. menunjukkan dengan jelas bahwa keberagamaan secara formal semata-mata belum menjamin adanya rasa keberagamaan dalam arti sesungguhnya.

Masih jauh nian, jarak antara formalitas kehidupan beragama dan kedalaman kehidupan beragama itu sendiri. Masih sangat lebar jurang antara religi dan religiusitas, antara hidup beragama dan rasa keberagamaan.

Tuntutan bagi kita sudah tentu adalah bagaimana menjembatani antara keduanya. Semata-mata mengandalkan religi, atau formalitas keagamaan belaka; kita tidak akan mencapai religiusitas. atau rasa keberagamaan, yang cukup mendalam untuk menyelamatkan diri dari godaan melupakan kebesaran Allah dan keagungan-Nya.

Ternyata tidak mudah menjadi seorang beragama yang benar-benar dapat dinamakan beragama, bukan?


Penulis adalah Ketua Umum PBNU 1984-1999, Presiden RI keempat. Tulisan ini pernah dimuat di Harian Pelita, 20 Juli 1988

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG