IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Pintu Masuk Mengenal Keragaman Indonesia

Kamis 10 Januari 2019 14:33 WIB
Bagikan:
Pintu Masuk Mengenal Keragaman Indonesia
Indonesia begitu kaya akan segala hal. Dengan penduduk yang kini lebih dari 260 juta jiwa, Indonesia terdiri dari 1.340 suku dan 652 bahasa. Mereka tinggal di 17.503 pulau yang disatukan dengan laut yang luasnya mencapai 3,25 juta km2. Bangsa Indonesia juga tidak seragam untuk agamanya. Mereka menganut salah satu dari enam agama, yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di antara mereka juga ada yang menganut aliran kepercayaan.

Keragaman itu merupakan kekayaan tak terhingga yang dimiliki negara ini. Di tengah perbedaan yang begitu kontras, baik dilihat dari suku, bahasa, hingga keyakinan, mereka bersatu atas nama kebangsaan sebagai bangsa Indonesia, bersatu dengan bahasa persatuan bahasa Indonesia, berpegang teguh tanah air Indonesia sebagai wilayah tinggal mereka yang perlu dipertahankan.

Disparitas tentu saja muncul mengingat banyak unsur yang berbeda. Namun, ada satu hal yang harus menjadi pegangan masing-masing individu maupun kelompok, yakni upaya saling memahami terhadap satu sama lain sehingga tidak menimbulkan konflik horizontal. Hal inilah yang selama ini terus dijaga, meskipun di satu dua tempat, peristiwa yang tidak diinginkan terkadang terjadi.

Hal itulah yang diupayakan oleh Ibn Ghifarie melalui bukunya, Merayakan Keragaman. Ia menguraikan hal penting terkait agama yang kerap kali dijadikan alasan oleh sebagian orang untuk menyerang kelompok lain. Dengan dalih agama, mereka melakukan teror yang bahkan hal itu menyasar saudara sendiri.

Di bukunya itu, ia menjelaskan sejak mula kedatangan setiap agama ke Indonesia. Ghifarie juga menerangkan hal pokok setiap agama, yakni akidah atau keimanan, syariat atau ritual peribadatan, dan aturan hubungan sosial kemasyarakatan masing-masing.

Dengan penuh gambar dan penuh warna, buku ini sangat cocok bagi kalangan pelajar yang hari ini menjadi sasaran utama radikalisme dan paham ekstrem atas dasar pemahaman agama. Survei Alvara Research Center menyebut lebih dari 23 persen pelajar Indonesia sudah terpapar virus radikalisme. Hal ini ternyata seirama dengan temuan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyebut lebih dari 30 persen guru Muslim ingin melakukan aksi teror.

Kehadiran buku ini tentu sangat penting guna menjadi pintu masuk saling mengenal satu sama lain agar ancaman terhadap keretakan negara yang begitu kompleks dengan segala macam perbedaannya ini bisa teratasi. Konflik horizontal rawan sekali terjadi. Terlebih tahun 2019 menjadi tahun politik dan suasana masih memanas.

Peresensi Syakir NF, mahasiswa Program Magister Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.

Identitas Buku
Penulis : Ibn Ghifarie
Judul : Merayakan Keragaman, Religious Literacy Series
Halaman         : xiii + 184
Tahun Terbit : 2018
Penerbit         : Expose

Bagikan:
Kamis 10 Januari 2019 9:0 WIB
Menengok Isi Kitab Ushul Fiqh 'al-Burhan' Karya Imam Haramain
Menengok Isi Kitab Ushul Fiqh 'al-Burhan' Karya Imam Haramain
Kitab al-Burhan fi Ushûl al-Fiqh merupakan salah satu kitab karya Imam al-Juwaini atau biasa dikenal dengan sebutan Imam Haramain. Kitab ini menduduki posisi yang signifikan, sebagai salah satu kitab yang orisinil di dalam membahas teori jurisprudensi mazhab Syafi’i. Dalam rangka menghargai karya tokoh bernama lengkap Abu al-Ma’âlî Abd al-Mâlik Ibn Abdillâh Ibn Yûsuf al-Juwainî ini, Ibnu Khaldun sampai menuliskan dalam kitab Muqaddimah-nya: 

 وأحسن ما كتبه المتكلمون في الأصول كتاب البرهان للجويني إمام الحرمين ، والمستصفي للغزالي تلميذ الجويني . وهما معا من الأشعرية ، وكتاب العهد للقاضي عبدالجبار المعتزلي ، وقام تلميذه أبو الحسن البصري بشرح كتاب العهد

Artinya: “Di antara kitab terbaik yang disusun oleh kaum mutakallimun adalah kitab al-Burhan karya al-Juwaini dan al-Mustashfa karya al-Ghazâli dan keduanya dari aliran kalam Asy’ariyah, serta kitab al-‘Ahd karya Abd al-Jabbar al-Mu’tazily, lalu tampil muridnya Abu al-Hasan al-Bashrî memberikan syarahnya (dalam kitab al-Mu’tamad).” (Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah li ibn Khaldûn, Mesir: Mathba’ah Musthafa Muhammad, tt: 455)

Syekh Tâj al-Dîn al-Subki, selaku orang yang menyusun biografi ulama-ulama Syafi’iyah menegaskan bahwa al-Burhân yang disusun oleh al-Juwaini memiliki metode dan gaya yang unik yang belum ditemui di kalangan sebelumnya. Karena kitab ini dinisbatkan dengan mazhab Syafi’i, maka jadilah ia menjadi salah satu kitab penting untuk dipelajari di kalangan mazhab tersebut.

Secara garis besar, kitab al-Burhân diawali dengan pembahasan mengenai metode mempelajari suatu disiplin ilmu. Ia mengatakan:

حق على كل من يحاول الخوض في فن من فنون العلوم أن يحيط بالمقصود منه وبالمواد التي منها يستمد ذلك الفن وبحقيقته وفنه وحده إن أمكنت عبارة سديدة على صناعة الحد وإن عسر فعليه أن يحاول الدرك بمسلك التقاسيم 

Artinya: “Wajib bagi setiap individu yang ingin mendalami disiplin ilmu tertentu untuk (1) mengetahui tujuan disiplin ilmu itu, (2) konsentrasi materi yang dipelajari, dan (3) jika memungkinkan maka harus mengetahui hakikat/batasan dari disiplin ilmu itu sendiri. Namun jika hal tersebut dirasa sulit, maka ia mesti menguasai pembagian-pembagian cabang disiplinnya.” (Abu al-Ma‘ali al-Juwayni, al-Burhan fī Usul al-Fiqh, Jilid 1, Qatar: Matba‘at al-Dawhah al-Hadīthah, 1399 H: 83)

Sesuai dengan yang disampaikan tersebut, al-Juwaini menjelaskan pertama kalinya dalam kitab al-Burhan karyanya tentang pengertian ushûl fiqh, sumber-sumbernya serta tujuan mempelajarinya. Menurut al-Juwaini, materi dasar bangunan ushul fiqh adalah al-kalam (ilmu kalam/teologi, red), yang didefinisikannya sebagai pengetahuan tentang alam, pembagian-pembagian dan hakikat-hakikatnya, pengetahuan tentang al-Khâliq dan sifat-sifat-Nya yang wajib, mustahil dan jâiz, pengetahuan tentang kenabian dan lainnya. Bahasa Arab merupakan materi kedua setelah al-kalam. Berikutnya materi ketiga terdiri dari fiqih. Penempatan fiqih sebagai materi ketiga adalah dengan alasan bahwa ia merupakan ilmu produk dari dalil-dalil ushuliyah dalam bidang fiqih. 

Secara umum, kitab al-Burhân terdiri dari delapan sub pembahasan. Kedelapan sub tersebut meliputi pembahasan: (1) al-bayân, (2) al-ijma’, (3) al-qiyâs, (4) al-istidlâl, (5) al-tarjîhât, (6) al-naskh, (7) ijtihad dan (8) al-fatwa.

Menurut Abd al-Adhîm al-Dib, al-Burhân termasuk salah satu kitab yang secara komprehensif menjelaskan berbagai pendapat ulama ushul fiqh yang hidup sebelum al-Juwaini. Meskipun saat ini kitab karya para ulama sebelum al-Juwaini sulit ditemukan kembali, namun berbekal kitab al-Burhân, kita bisa menjadi tahu sekilas mengenai gambaran pendapat-pendapatnya. Salah seorang ulama yang juga turut disitir pendapatnya oleh al-Juwaini adalah Abu Bakar al-Baqilâny (w. 403 H), Ibn Fawrak, Al-Qâdli Abd al-Jabbâr, dan bahkan Abu ‘Ali al-Juba-i. 

Perbedaan al-Burhân dengan al-Waraqât yang juga karyanya adalah: jika di kitab al-Waraqât, al-Juwaini menjelaskan tentang kesesuaian antara aliran kalam dan mazhab fiqih dalam bab kaidah–kaidah fiqih dan ushul fiqih, maka dalam al-Burhân ini ia justru bersikap sebaliknya. Di dalam al-Burhân, ia mengelaborasi secara rinci dan panjang lebar aspek-aspek perbedaan dari setiap aliran kalam dan mazhab fiqih dibandingkan aspek kesesuaiannya. Masing-masing perbedaan diuraikan dengan dalil yang rinci. Seolah, menurutnya dalil adalah media bagi perbedaan tersebut dan bukan malah sebaliknya, yaitu perbedaan justru menghilangkan dalil. Itulah sebabnya, dengan berbekal kitab ini maka akan tampak kesan bahwa ada korelasi antara ushul fiqh sebagai pedoman pokok mazhab fiqih dan ushul al-dîn sebagai mazhab ilmu kalam. 

Di dalam kitab ini, juga disebutkan bahwa ia tidak hanya merujuk ke sejumlah ulama lain. Al-Juwainî juga melakukan hal yang sama terhadap sejumlah kitab karyanya sendiri sehingga ada kesinambungan manhaj (metode) pemikiran. Mungkin ini sebabnya, ulama pada masanya menggelarinya sebagai mujtahid mazhab disebabkan konsistensi pendapatnya.

Mengingat adanya korelasi yang erat antara kalam dan ushul serta konsentrasi teoritis-murni, maka kitab al-Burhân juga masuk dalam kategori kitab ushul yang mengikuti kecenderungan pola pembahasan mutakallimun (para ahli ilmu kalam). Mereka adalah satu aliran ushul fiqih yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Memiliki konsentrasi khusus yang murni sebagai wahana menyediakan wacana teoritis terhadap mazhab yang dipegangnya. Dengan demikian al-Burhân merupakan teoritisasi manhaj mazhab Syafi’i dan sekaligus Asy’ariyah.

2. Imbas dari upaya teoritisasi ini, terkadang ada pendapat yang kurang lebihnya dinilai sebagai agak tidak bersesuaian dengan mayoritas pemahaman mazhab Syafi’i.

3. Kaidah ushul tidak dipergunakan untuk memberikan justifikasi terhadap masalah-masalah furu’ sebagai yang paling benar dan harus diikuti, melainkan ia menempatkan kaidah furu’ sebagai yang menerima untuk didiskusikan. 

Wallahu a’lam bi al-Shawâb

Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean dan saat ini menjabat sebagai Tim Peneliti dan Pengkaji Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU JATIM dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBM PWNU Jatim

Rabu 9 Januari 2019 8:0 WIB
Pemikiran dan Pengalaman Imam Ghazali Berzikir dan Berdoa
Pemikiran dan Pengalaman Imam Ghazali Berzikir dan Berdoa
Imam Ghazali adalah salah seorang pemikir Muslim terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Sebagian besar kaum Muslim menempatkan Imam Ghazali sebagai pemikir genius yang berhasil memadukan fiqih dan tasawuf secara mengesankan dan paling luas diterima. Semasa hidup, ia telah menuangkan pemikirannya ke dalam beberapa karya monumentalnya. Selain itu, tulisan dari orang lain sesudahnya juga tak kalah banyak.

Jika demikian, lalu apa yang membedakan buku ini dengan karya lain?

Meski pemikiran Imam Ghazali telah banyak dikaji, namun karya yang satu ini tetap memiliki beberapa kebaruan. Pertama, buku Metode Zikir dan Doa al-Ghazali ditulis bukan oleh seorang Muslim. Kojiro Nakamura adalah seorang pemeluk agama Buddha berkebangsaan Jepang yang bergiat dalam bidang studi Islam. Buku ini tak lain merupakan revisi dari desertasinya tahun 1970 di Universitas Harvard. Kini ia mengajar di Universitas Obirin dan menjadi profesor di sana.

Kedua, Metode Zikir dan Doa al-Ghazali secara ekstensif mengkaji pemikiran dan pengalaman Imam Ghazali tentang zikir dan doa. Dari penelitian Nakamura, ditemukan bahwa Imam Ghazali menggolongkan penggunaan zikir ke dalam lima kategori. Kategori pertama, zikir sebagai upaya untuk selalu mengingat Tuhan, kemudian mengalihkan perhatian utama kita dari dunia kepada Tuhan dan akhirat.Kategori kedua, zikir sebagai semacam olah meditasi atau mental yang memupuk kondisi jiwa tertentu atau sikap batin yang saleh. 

Zikir kategori ketiga melibatkan pelafalan kalimat suci secara terus-menerus sambil selalu mengingatnya untuk memupuk cinta seperti yang dilafalkan dan diingatnya. Kategori zikir keempat menggambarkan situasi manusia ideal yang dicapai melalui praktik zikir mental dan lisan yang panjang. Kategori zikir kelima sekaligus terakhir merupakan metode pengonsentrasian pikiran yang paling intensif dengan cara pengulangan frasa suci yang sederhana, tanpa melibatkan aktivitas lain yang bisa mengganggu konsentrasi ini (hal. 98-99).

Tak beda dengan zikir, Imam Ghazali berpendapat bahwa doa merupakan elemen esensial dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Maka dari itu, sudah semestinya manusia melakukannya sesering mungkin tanpa menunggu datangnya musibah. Sebab selama seseorang masih manusia, ia tidak bisa mengenyahkan doa kepada Tuhan.

Meski begitu, Imam Ghazali menetapkan sejumlah persyaratan bagi pendoa untuk bersikap rendah hati (tadharru’), rindu (raghbah), takut (rahbah), kemutlakan, ketulusan, serta kemurnian hati dan penyesalan atas dosa-dosa (hal. 107-110). 

Mengingat posisinya yang cukup vital ini, berbagai doa indah telah diturunkan dari para nabi, sahabat nabi, dan para wali. Lafal-lafal doa yang mereka ajarkan sangat dianjurkan untuk kita gunakan setiap kali memohon pada Allah. Karena dengan demikian, paling tidak kita dapat belajar tentang sikap batin yang benar.

Namun, Imam Ghazali pun mengakui bahwa pada tingkatan tasawuf yang tertinggi, tidak ada lagi doa karena tidak ada perbedaan antara pemohon dan Tuhan. Pada tahap ini, doa dalam pengertian yang kaku tidak diperlukan lagi (hal. 105). 

Buku ini, selain cocok dibaca para pengagum sosok dan pemikiran Imam Ghazali, sangat pas pula dimiliki oleh mereka yang sedang konsen melakukan studi komparatif antara Islam dengan Buddha. Nakamura telah melakukan perbandingan antara ritual ibadah pada kedua tradisi agama yang sekilas tampak berbeda dari segi doktrin namun terdapat sedikit kemiripan bila ditinjau dari praktik utama dan basis psikologis dari suatu ibadah.

Di sini, Nakamura memfokuskan penelitiannya pada zikir dalam tasawuf, kóan dalam Buddhisme Zen, dan nembutsu dalam tradisi Jodo-shu (Tanah Murni) yang ternyata merepresentasikan praktik inti dari masing-masing tradisi.

Kóan adalah metode yang sangat efektif untuk mengarahkan orang-orang yang baru belajar Zen pada situasi Pencerahan atau penyatuan dengan cara mendorong akal pada titik ekstrem hingga ia mengalami kebuntuan total. Sekilas, kondisi konsentrasi ini sama dengan kondisi yang berusaha dicapai oleh sufi melalui zikir sebagai persiapan untuk menerima berkah dan kasih Tuhan (hal. 118). Namun dalam zikir, titik puncaknya ada pada kebisuan konsentrasi pemikiran dan harapan untuk mendapat nikmat tuhan melalui penyerahan diri.

Lain halnya dengan nembutsu yang secara teknis berarti terus mengingat Buddha yang ideal dan meditasi tentang kebaikan-Nya, jasa-jasa-Nya, atau sosok-Nya, dan kemudian menancapkan nama tersebut dalam pikiran dengan “hasrat untuk mengalihkan perhatian tentang Buddha yang mulia kepada hamba yang bergelimang dosa” (hal. 121).

Nembutsu lebih menyerupai cara berpikir orang-orang yang mempraktikkan sesuatu karena yakin akan kegunaannya. Sedangkan zikir sendiri menurut Imam Ghazali adalah metode menggapai keyakinan sejati. Dengan demikian, dapat ditarik persamaan bahwa keduanya sama-sama menolak memberikan nilai positif pada dunia fana ini dan menganggapnya sebagai sesuatu yang nista.

Selain berkutat pada metode, kelebihan berikutnya dari buku ini adalah disajikannya praktik wirid yang biasa dibaca ketika Imam Ghazali berzikir dan berdoa dalam kesehariannya. Pembahasan tentang wirid-wirid Imam Ghazali tersebut terbilang cukup lengkap karena meliputi segala aktivitas manusia dari bangun tidur sampai tidur lagi yang disarikan langsung dari kitab Ihya’ Ullumuddin.

Lalu seperti apa zikir dan doa tersebut serta bagaimana pula cara mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari? Biarkanlah ia menjadi alasan mengapa Anda harus membaca buku ini. 

Peresensi adalah Ach. Khalilurrahman, pecandu buku yang kini bermukim di Sumenep

Identitas Buku 

Judul Buku          : Metode Zikir dan Doa al-Ghazali
Penulis               : Kojiro Nakamura
Penerbit               : Mizan
Cetakan                : I, Juni 2018
Tebal Buku           : 206 hal.
ISBN                      : 978-602-441-040-7

Sabtu 5 Januari 2019 16:15 WIB
Gagasan Fiqih Disabilitas dengan Paradigma Kritis
Gagasan Fiqih Disabilitas dengan Paradigma Kritis
Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) meluncurkan buku Fiqih Disabilitas pada Kamis, 29 November 2018 lalu di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta Pusat.

Kehadiran buku ini menjadi penting sebagai panduan keislaman yang bersifat praktis bagi kalangan disabilitas. Kehadiran buku ini sangat ditunggu karena situasi Indonesia saat ini belum ramah terhadap kalangan disabilitas.

Peluncuran buku ini menjadi awal untuk memberikan penyadaran kepada publik baik masyarakat maupun pemerintah. Pihak LBM PBNU dengan buku ini menyuguhkan pandangan keagamaan dari khazanah keislaman sebagai bentuk perhatian NU untuk kalangan disabilitas.

Komunitas disabilitas di Indonesia dengan tulus mengucapkan terima kasih kepada NU yang mengangkat isu disabilitas netra dan isu disabilitas secara umum dalam diskursus fiqih. Hal ini menunjukkan bahwa ormas sosial-keagamaan memberikan perhatian terhadap kalangan disabilitas.

Ketua Umum Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia Gufroni Sakaril menyatakan terima kasih atas kehadiran buku fiqih tersebut. Menurutnya, kalangan disabilitas selama ini menunggu kehadiran buku keislaman dengan tema tersebut.

“Buku ini ditunggu-tunggu oleh kalangan disabilitas karena terus terang kami gelisah apakah ibadah kami diterima. Pasalnya, ibadah kami tidak masuk syarat dalam teks-teks agama yang beredar di tangan masyarakat,” kata Gufroni Sakaril.

Ia mengapresiasi kehadiran buku fiqih disabilitas ini. Menurutnya, buku ini sangat bermanfaat karena belum ada buku agama yang spesifik membahas masalah disabilitas ini.

Buku ini tidak hanya penting untuk kalangan disabilitas. Kehadiran buku ini bermanfaat bagi kalangan disabilitas, pengurus masjid, pemerintah dan pembuat kebijakan publik, dan kampus-kampus Islam.

Gagasan dalam buku ini merupakan sebuah terobosan dan lompatan dalam pemikiran keislaman karena buku ini bukan sekadar tuntunan praktis kalangan disabilitas, tetapi menempatkan mereka secara adil. Kalangan disabilitas sebelumnya dianggap warga negara kelas dua.

Teks-teks keagamaan juga tidak memberikan mereka perhatian secara khusus. Hal ini yang membuat kalangan disabilitas kesulitan menemukan buku panduan agama keseharian yang menyangkut ibadah, muamalah, perkawinan, hingga siyasah.

Kehadiran buku ini membalik posisi mereka yang selama ini terabaikan. Buku ini menghadirkan mereka sejajar dengan warga negara lainnya.

Dalam wacana keagamaan selama ini, kalangan disabilitas tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Sejalan dengan itu konstruksi sosial, budaya, ekonomi, dan politik meminggirkan mereka.

Buku Fiqih Disabilitas ini mencoba menawarkan paradigma baru dalam memandang kalangan disabilitas dengan potensi dan peluang yang sama dalam dunia sosial, politik, ekonomi, dan agama.

Meski negara telah memiliki semangat baik untuk penguatan hak-hak kalangan disabilitas melalui UU Nomor 8 Tahun 2016, semangat perubahan ini belum terwujud maksimal karena pelaksana UU masih memegang paradigma lama yang memosisikan kalangan disabilitas sebagai masyarakat kelas dua terkait hak-hak sipil mereka.

Buku ini menawarkan paradigma kritis dalam memandang kalangan disabilitas. Paradigma ini menempatkan kalangan disabilitas setara sebagai warga negara sehingga mereka tidak lagi dinilai sebagai warga negara kelas dua. Paradigma ini melihat mereka memiliki hak sipil yang sama dengan mereka yang bukan kalangan disabilitas, baik dalam soal hukum, sosial, politik, dunia ketenagakerjaan, maupun dalam soal infrastruktur.

Paradigma kritis ini merupakan paradigma baru yang ditawarkan dari dua paradigma, yaitu paradigma mistis dan paradigm naïf, yang selama ini mendominasi masyarakat dalam memandang mereka. Paradigma mistis adalah cara pandang yang menempatkan disabilitas seseorang sebagai takdir tuhan sehingga cukup diterima dengan sabar, tabah, dan pasrah pada kenyataan. Sementara masyarakat diminta untuk menyantuni mereka. Paradigma ini “mematikan” semua potensi kalangan disabilitas.

Adapun paradigma naif menempatkan disabilitas sebagai masalah penyakit, turunan, kecelakaan, penuaan, atau sebab duniawi lainnya. Paradigma ini menempatkan kalangan disabilitas sebagai kelompok yang memeiliki keterbatasan dan kelemahan yang harus disantuni dan dibelaskasihani. Kelemahan mendasar dari dua paradigma ini adalah menempatkan kalangan disabilitas sebagai warga negara kelas dua. Dengan kata lain, paradigma mistis dan naif mendiskriminasi kalangan disabilitas

Rumusan buku fiqih ini dirancang sebelum Munas NU 2017 di Lombok. Pihak LBM PBNU telah mengadakan sejumlah diskusi yang melibatkan pemerintah terkait dan komunitas disabilitas. Buku ini terselenggara atas kerja sama LBM PBNU, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), dan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD-UB).

Buku ini jauh dari kata sempurna. LBM PBNU memununggu masukan dan catatan dari semua pihak untuk merevisi buku fiqih disabilitas ini.

Peresensi adalah Alhafiz Kurniawan, pemerhati masalah keislaman.

Identitas Buku:
Judul buku: Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas 
Penulis     : Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), dan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD UB).
Editor       : Sarmidi Husna
Penerbit   : LBM PBNU
Cetakan I : 25 November 2018
Tebal        : 219 Halaman
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG