IMG-LOGO
Nasional

Peneliti Amerika Yakin Indonesia Mampu Hadapi Ancaman Populisme

Sabtu 12 Januari 2019 8:0 WIB
Bagikan:
Peneliti Amerika Yakin Indonesia Mampu Hadapi Ancaman Populisme
Robert W Hefner
Jakarta, NU Online
Fenomena populisme semakin marak di dunia. Amerika Serikat, Eropa, India, Myanmar mengalami hal ini. Tak terkecuali Indonesia sebagai negara demokratis. Menurut Guru Besar Antropologi Universitas Boston, Amerika Serikat Robert W Hefner, hal itu merupakan sebuah ancaman di Indonesia, terutama bagi Islam Nusantara dan cita-cita politik dan kultur Indonesia yang inklusif di tengah multiras dan agama.
 
Meskipun demikian, ia tetap yakin bahwa Indonesia mampu bertahan dari ancaman tersebut. Hal itu bukan berarti lepas begitu saja darinya.
 
"Indonesia akan tahan. (Tapi) Tidak berarti bebas dari ancaman populis. Itu pasti akan berlangsung sebagai salah satu bagian dari demokratisasi," kata Hefner saat mengisi kuliah umum di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (11/1).
 
Hefner masih percaya diri bahwa Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan akan tetap berlangsung. Namun, ia juga mengingatkan bahwa para peserta dan masyarakat pada umumnya juga harus merasa percaya diri juga.
 
"Ujian ini akan dirasa terus-menerus karena fenomena umum terutama negara yang mau demokratis. Kita akan terus melihat fenomena yang sama," terangnya.
 
Populisme, jelas Hefner, tidak berarti populer. Ia juga tidak berasal dari harapan rakyat sendiri. Justru sebaliknya, populisme menghancurkan kultur, nilai, dan institusi masyarakat yang memiliki jiwa hidup bersama.
 
"Populisme adalah sebuah strategi mobilisasi yang diterapkan oleh tokoh politik tertentu," ujar pria yang telah meneliti Indonesia sejak lebih dari 30 tahun lalu itu.
 
Penulis buku Civil Islam itu menyebutkan dua ciri populisme, yakni strategi mobilisasi dengan menciptakan musuh dan penganggapan diri sebagai tokoh. Ia menjelaskan bahwa penciptaan musuh itu dilakukan guna membuat ancaman sosial bagi semua. Dari situlah, politikus menarik dukungan mereka melalui imbauan yang sengaja dibuat selaras dengan aspirasi mereka.
 
"Harus ada perubahan untuk pekerjaan normatif, menemukan hal yang bisa dieksploitir untuk menciptakan musuh," terangnya.
 
Lebih lanjut, Direktur the Institute on Culture, Religion, and World Affairs (CURA) itu juga menegaskan bahwa penciptaan musuh itu juga guna membuat sang politikus itu menjadi tokoh. Tanpa memiliki basis massa yang kuat, dengan berdasar pada penciptaan musuh itu, ia ditampilkan menjadi sosok baru.
 
Hal itulah, katanya, yang dilakukan oleh Donald Trump dalam upayanya untuk menjadi orang nomor satu di negerinya. Trump, jelas Hefner, menciptakan banyak musuh. Dua di antaranya adalah imigran Amerika Latin dan komunitas Muslim.
 
Populisme, menurutnya, menciptakan ketegangan di antara masyarakat sipil. Ketegangan itu dibuat melalui kabar tak berdasar. Hal itulah yang menghancurkan hubungan mereka. "Lewat fakta-fakta yang sebetulnya tidak berdasar," terangnya.
 
Lebih terang, ia mencontohkan Polandia. Negara yang hampir tidak ada penduduk Muslimnya itu menjadikan Islam sebagai suatu ancaman. Masyarakatnya yang taat ke gereja itu juga dibuat memusuhi liberal.
 
Diskusi yang dipandu oleh Ahmad Suaedy, dosen Pascasarjana Unusia ini juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Mastuki HS, Ulil Abshar Abdalla, dan para dosen Unusia. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Sabtu 12 Januari 2019 22:30 WIB
Ali Masykur Musa: Kader ISNU Siap Kelola Dana APBN
Ali Masykur Musa: Kader ISNU Siap Kelola Dana APBN
Blitar, NU Online
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) H Ali Masykur Musa mengingatkan ada sejumlah hal yang harus menjadi prioritas perhatian pengurus di daerah. Penegasan disampaikan saat melantik Pengurus Cabang ISNU Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

“Di antaranya adalah meningkatkan  pemahaman tentang Aswaja,” katanya, Sabtu (12/1). Karena itu, menurutnya orang NU itu harus STMJ atau shalawat, tahlilan, manakiban dan jiarah.

Yang kedua menurut mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu, prioritas kedua adalah menjamiyahkan jamaah. Sebab orang NU selama ini hanya menjadi obyek, dipermainkan politik praktis, dan kepentingan partisan.

"Maka peningkatan pemahaman tentang manajemen organisasi atau jamiyah an-Nahdliyah sangat perlu ditingkatkan," ujarnya.

Lalu yang ketiga, lajut pria kelahiran Tulungagung itu adalah peningkatan kemandirian ekonomi. “Agar dengan kemampuan Anggaran Pendapatan Belanja Negara kita yang sudah di atas 2000 triliun ada kader NU yang siap mengelola potensi besar tersebut,” ungkapnya.

Sumber Daya Manusia NU dalam hal ini ISNU diharapkan mampu mengelola potensi ekonomi dalam skala besar itu. “Tentu dengan SDM intelektual yang dimiliki, ISNU sangat siap," ujar Ali.

Ali Masykur hadir dalam rangka pelantikan PC ISNU Kabupaten Blitar masa khidmat 2018 hingga 2022. Pada saat yang sama juga dilantik 22 Pengurus Anak Cabang ISNU se-Kabupaten Blitar yang dilakukan Ketua Pimpinan Wilayah ISNU Jatim HM Mas'ud Said didampingi sekretaris, M Daud.

Ikut memberikan sambutan yakni Bupati Blitar Riyanto. Hadir pula Kapolres Kota Blitar  dan Waka Polres Blitar. Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama KH Ardani Ahmad dan Ketua PC NU KH Masdain Rifai serta tamu undangan lain. (Imam Kusnin Ahmad/Ibnu Nawawi)

Sabtu 12 Januari 2019 18:0 WIB
TWEET TASAWUF
KH Luqman Hakim Ungkap Enam Kualifikasi Dzikir Menurut Ibnu Arabi
KH Luqman Hakim Ungkap Enam Kualifikasi Dzikir Menurut Ibnu Arabi
Jakarta, NU Online
Pakar Tasawuf KH M. Luqman Hakim mengungkapkan enam kualifikasi dzikir menurut sufi masyhur Ibnu Arabi. Dalam kualifikasi tersebut, Ibnu Arabi yang dinukil Kiai Luqman memaparkan tingkatan dzikir yang dilakukan oleh seorang hamba.

Berikut enam kualifikasi dzikir menurut Ibnu Arabi yang dikutip NU Online, Sabtu (12/1) dari twitter KH Luqman Hakim:

1. Dzikir Nafsu dengan Lisan dan merenungkan nikmat-Nya.

2. Dzikir Qalbu dengan melihat Sifat-sifatNya.

3. Dzikir Sirr dengan Munajat.

4. Dzikir Ruh dengan Musyahadah.

5. Dzikir Sunyi Jiwa dengan rindu.

6. Dzikrullah dengan fana’ di ‘dalam’-Nya.

“Dzikir jangan dinikmati dan jangan untuk mencari nikmat. Tapi nikmatilah kebersamaan-Nya padamu,” jelas Kiai Luqman saat ditanya bagaimana cara menikmati dzikir hingga pikiran juga larut di dalamnya. (Fathoni)
Sabtu 12 Januari 2019 16:0 WIB
Menristekdikti: Pilih Pemimpin dengan Rekam Jejak Terbaik
Menristekdikti: Pilih Pemimpin dengan Rekam Jejak Terbaik
Mohammad Nasir (Foto: Ist.)

Jombang, NU Online

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia Mohammad Nasir memberikan solusi bagi generasi muda yang ingin memilih pemimpin kedepan.

Menurutnya sebelum memilih pemimpin, generasi muda harus melihat rekam jejak pemimpin tersebut. Agar pilihan tersebut tidak salah alamat atau membuat kerusakan lebih besar lagi.

"Saya berharap para mahasiswa yaitu generasi milenial dalam menghadapi tahun politik untuk menggunakan hak pilih sebaik-baiknya. Pilih lah pemimpin yang punya rekam jejak yang baik. Itu penting. Kalau pemimpin itu semuanya punya track record baik maka pilih yang paling punya rekam jejak terbaik," katanya setelah mengisi orasi ilmiah di STKIP PGRI Jombang, Jumat (11/1).

Alumni Pondok Pesantren Al-Islah Kediri ini mengingatkan mahasiswa dan generasi muda termasuk akademisi untuk tidak golput. Ajakan Nasir ini secara khusus ia sampaikan kepada pemilih pemula agar menyalurkan hak pilihnya di pemilu 17 April 2019 mendatang.

"Maka mahasiswa saya persilakan menggunakan hak pilihnya dengan baik. Saya sarankan tidak perlu golput. Kalau golput yang rugi kita sendiri. Ooleh karena itu kita harus berpartisipasi dalam demokrasi," jelas Nasir

Penasehat Ikatan Sarjana NU Jawa Tengah ini juga menambahkan, memilih pemimpin harus revolusioner dan paham kondisi zaman. Layaknya mengelola kampus saat ini. Pimpinan kampus harus paham kebutuhan masyarakat dan tantangan kedepan.

"Seperti mengelola perguruan tinggi saat ini harus berubah, tidak bisa lagi kuno kayak dulu. Hal ini untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Maka saya berharap mahasiswa cari pemimpin yang baik. Pilih lah pemimpin yang bisa membangun Indonesia maju ke depan lebih baik," tandas Nasir. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG