IMG-LOGO
Internasional

Rashida Tlaib dan Ilhan Omar Buka Era Baru bagi Muslimah AS

Sabtu 12 Januari 2019 18:30 WIB
Bagikan:
Rashida Tlaib dan Ilhan Omar Buka Era Baru bagi Muslimah AS
Ilhan (Kiri) dan Rashida (kanan). Foto: Dok. Michigan House Democrats via Detroit Free Press dan Dok. AFP
Washington, NU Online
Rashida Tlaib dan Ilhan Omar merupakan dua anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang baru saja terpilih dan dilantik. Rashida merupakan seorang Muslimah keturunan Palestina, sementara Ilhan Omar adalah Muslimah keturunan Somalia. Keduanya merupakan Muslimah pertama yang duduk di DPR AS.  

Terpilihnya kedua Muslimah tersebut sebagai anggota Konggres AS menjadi era baru bagi Muslimah AS. Terutama dalam kancah perpolitikan AS. Keduanya berhasil meyakinkan bahwa Muslimah AS lainnya juga bisa seperti mereka. 

“Perempuan muda kita sekarang percaya bahwa tempat mereka adalah di ruang parlemen,” kata Rashida, ketika berbicara dalam sebuah acara jamuan yang diselenggarakan Dewan Hubungan Islam Amerika, Kamis (10/1), dikutip dari laman Anadolu dan CNN. 

“Kami berusaha menceritakan kisah yang berbeda mengenai Muslimah di sini di AS,” kata Ilhan Omar.

Rashida Tlaib dan Ilhan Omar sama-sama dari Partai Demokrat. Rashida Tlaib berhasil menang telak di pemilu sela AS di distrik 13 Michigan pada November tahun lalu. Ia kemudian dilantik pada Kamis 3 Januari lalu.

Rashida Tlaib merupakan wanita keturunan Palestina-Amerika. Ia dikenal sebagai seorang pekerja sosial. Saat kampanye, Rashida Tlaib mengampanyekan tiga program unggulannya. Yaitu menjaga upah minimum 15 dolar AS, reformasi regulasi imigrasi, dan perawatan medis untuk semua warga.

Sementara, Ilhan Omar merupakan seorang keturunan Somalia. Ia lahir dan menghabiskan masa kecil di Somalia. Pada saat terjadi perang saudara di negaranya pada 1991, Ilhan Omar (umur 12 tahun) dan keluarganya kemudian mengungsi ke AS.

Sama seperti Rashida Tlaib, Ilhan Omar juga menang telak di wilayah pemilihannya, di distrik Kongres ke-5 di Minnesota. Dalam kampanyenya, Ilhan Omar menyampaikan beberapa programnya. Seperti menyediakan biaya pengobatan yang terjangkau, upah minimum 15 dolar AS, kuliah gratis, dan memberikan kesetaraan kepada semua rakyat di wilayahnya. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Sabtu 12 Januari 2019 17:30 WIB
Aturan Baru, Suku Badui di Israel Dilarang Berpoligami
Aturan Baru, Suku Badui di Israel Dilarang Berpoligami
Foto: AP
Negev, NU Online
Otoritas Israel membuat aturan baru tentang larangan berpoligami bagi Suku Badui yang tinggal di wilayah Negev, Israel. Menurut peraturan baru itu, laki-laki dewasa Suku Badui hanya diperbolehkan memiliki satu istri. Jika diketahui memiliki istri lebih dari satu, maka mereka akan dituntut. Namun demikian, tidak ada penjelasan lebih detil mengenai larangan berpoligami itu. 

Ini menjadi langkah pertama Israel untuk melarang warganya untuk berpoligami. Peraturan ini tentu saja mendapat tentangan dari Suku Badui Israel. Mereka menuduh, pemerintah Israel berusaha untuk menahan laju pertumbuhan populasi Suku Badui dengan menggunakan peraturan diskriminasi itu. Mereka juga menilai kalau peraturan ini hanya lah cara untuk mengkriminalisasi Suku Badui.

Emi Palmor dari Kemnterian Keadilan Israel menjelaskan, pihaknya telah melakukan penelitian selama dua tahun untuk mengkaji masalah itu. Ia mengatakan, pihaknya selalu terbuka untuk menerima masukan dari masyarakat. 

Emi merupakan orang yang memelopori kampanye larangan poligami itu. Ia mengatakan, dirinya hanya bertekad untuk menegakkan hukum. Demikian laporan yang dikutip dari laman english.alarabiya.net, Sabtu (12/1).

Sebagaimana diketahui, ada sekitar 200-210 ribu orang Badui yang tinggal di Israel. Sekitar 90 ribu orang Badui tinggal di 46 desa di seluruh wilayah Israel. Mereka adalah pemeluk agama Islam. 

Data pemerintah Israel menunjukkan bahwa di desa jumlah laki-laki dari Suku Badui yang melakukan praktik poligami mengalami peningkatan hingga 60 persen. Perlu diketahui juga, sekitar 20-30 persen laki-laki dewasa Suku Badui memang melakukan praktik poligami. (Red: Muchlishon)
Jumat 11 Januari 2019 23:0 WIB
100 Hari Berlalu, Belum Ada Titik Terang soal Jenazah Khashoggi
100 Hari Berlalu, Belum Ada Titik Terang soal Jenazah Khashoggi
Foto: Murad Sezer/Reuters
Washington, NU Online
Jurnalis asal Arab Saudi dan kolumnis The Washington Post, Jamal Khashoggi (59), dibunuh di Gedung Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018 lalu ketika hendak mengurus dokumen pernikahannya dengan Hatice Cengiz, tunangannya. 

Kejadian itu menarik perhatian komunitas internasional. Berita tentang kemajuan penyelidikan kasus pembunuhan Khashoggi terus ditunggu. Fakta-fakta dan barang bukti yang terkait dengan pembunuhan Khashoggi mulai terungkap sedikit demi sedikit. Pengadilan Arab Saudi juga sudah memulai mengadili para terdakwa. 

Sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Saudi, SPA, ada 11 terdakwa pembunuh Khashoggi hadir bersama pengacaranya masing-masing dalam sidang perdana pada Kamis (3/1) lalu. Namun demikian, tidak disebutkan secara rinci siapa saja nama dari 11 terdakwa tersebut. Pada kesempatan itu, Jaksa Agung Arab Saudi menuntut lima orang dari 11 terdakwa dengan hukuman mati. Belum diketahui apa tuntutan bagi enam terdakwa sisanya. 

Namun demikian, keterangan mengenai dimana jenazah Khashoggi hingga hari ini, 100 hari setelah ia dibunuh, belum ada titik terang. Menteri Luar Negeri Saudi pada saat itu Adel Al-Jubeir mengaku, pihaknya tidak mengetahui dimana jenazah Jamal Khashoggi. Sebagaimana diketahui, posisi Al-Jaber sebagai Menteri Luar Negeri kemudian diganti oleh Ibrahim al-Assaf pada 25 Desember 2018.

"Kami tidak tahu di mana jenazahnya (Jamal Khashoggi). Kami bertekad untuk mengungkapkan semuanya. Kami bertekad untuk menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini,” kata Al-Jubeir kepada Fox News, sebagaimana dilansir Reuters, Senin (22/10). 

Sementara ada laporan kalau jenazah Khashoggi dilarutkan dengan menggunakan zat asam. Lalu larutannya dibuang di pipa-pipa saluran di komplek Konsulat Saudi. Laporan ini diturunkan media propemerintahan Turki, Sabah, sebagaimana dikutip AFP, Sabtu (10/11).

Di hari ke-100 kematian Khashoggi, parlemen Amerika Serikat, teman-teman jurnalis, para pengacara, dan komunitas kebebasan pers menyelenggarakan upacara untuk mengenang sang jurnalis pada Kamis (10/1). Upacara dimulai dengan hening. 

“Pembunuhan Khashoggi merupakan kekejaman dan penghinaan terhadap kemanusiaan,” kata Ketua DPR AS Nancy Pelosi, dikutip AFP. 

Sementara CEO Washington Post Fred Ryan menuturkan, kematian Khashoggi bukan hanya pembunuhan terhadap seorang jurnalis yang tidak bersalah. Namun, pembunuhan Khashoggi merupakan bagian dari serangan yang meningkat terhadap kebebasan pers yang dilakukan oleh para tirani di seluruh dunia.

Jamal Khashoggi merupakan jurnalis yang banyak mengkritisi kebijakan Saudi, terutama dalam hal kebebasan berpendapat, hak asasi manusia di Saudi, dan keterlibatan Saudi pada Perang Yaman. (Red: Muchlishon)
Jumat 11 Januari 2019 21:45 WIB
Masjidil Haram ‘Diserbu’ Ribuan Ekor Serangga
Masjidil Haram ‘Diserbu’ Ribuan Ekor Serangga
Foto: Morocco World News
Makkah, NU Online
Ribuan ekor serangga menyerbu kawasan Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi. Serangga-serangga itu bertebaran di lantai dan di dinding-dinding kompleks Masjidil Haram. Bahkan, dilaporkan serangga itu menempel di pakaian ihram para jamaah yang tengah berada di kompleks Masjidil Haram dan merayap hingga ke area di sekitaran Ka’bah.

"Pada Sabtu (5/1) malam, saya sedang salat di Masjidil Haram dan serangga ada di mana-mana, masjid dimasuki serangga-serangga, tidak hanya di halaman, tapi juga di sekitar Ka'bah," ujar Abdulwhab Soro (64), dilansir The National, media Uni Emirat Arab (UEA). 

Dari beberapa foto dan video yang tersebar di media sosial, serangga tersebut berupa jangkrik. Sebagaimana dilaporkan Gulf Business dan The National, Jumat (11/1), kejadian itu membuat situasi dan kondisi di Masjidil Haram tidak kondusif dan porak poranda. 

Peristiwa ‘yang mengganggu’ itu langsung direspons cepat oleh otoritas setempat. Emirat Province Makkah langsung mengerahkan petugas-petugasnya untuk membersihkan kompleks Masjidil Haram dari jangkrik-jangkrik tersebut. Dilaporkan ada 22 tim yang beranggotakan 138 orang yang diterjunkan untuk membasmi ribuan jangkrik itu. Mereka juga melakukan pengasapan disinfeksi di saluran-saluran air di kompleks Masjidil Haram. 

“Kami fokus pada area-area reproduksi dan pengembangbiakan serangga-serangga, saluran air dan sumber air terbuka di sekitar halaman Masjidil Haram dan di dalam toilet yang tersebar di halaman masjid," kata Emirat Province dalam pernyataannya.   

Pada Agustus tahun lalu, umat Islam di seluruh dunia juga dikejutkan dengan badai yang menerjang wilayah Makkah. Pasalnya, badai tersebut sampai menyebabkan kiswa (kain penutup) Ka’bah tersingkap dan merusak tenda-tenda jamaah. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG