IMG-LOGO
Daerah

Turba, Langkah Syuriyah PWNU Lampung Perkuat Aswaja

Ahad 13 Januari 2019 11:0 WIB
Bagikan:
Turba, Langkah Syuriyah PWNU Lampung Perkuat Aswaja
Turba Syuriyah PWNU Lampung di Kabupaten Pringsewu
Pringsewu, NU Online
Jajaran Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul ulama (PWNU) Provinsi Lampung melakukan kunjungan kerja ke 15 Kabupaten/Kota di provinsi berjuluk Sang Bumi Ruwai Jurai ini. Kunjungan turun ke bawah (Turba) ini dilaksanakan untuk menyosialisasikan program kerja syuriyah masa khidmah 2018-2023 sekaligus langkah nyata memperkuat paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di kalangan pengurus dan warga NU.

“Kegiatan ini dilaksanakan dengan terstruktur dan sistematis selama lebih kurang 8 hari. Kita awali kunjungan di Kabupaten Pesawaran, Tanggamus dan Pringsewu. Selanjutnya akan menyusul untuk kabupaten lain sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat,” kata Katib Syuriyah PWNU Lampung KH Basyaruddin Maisir saat mengunjungi Kabupaten Pringsewu, Sabtu (12/1) malam di aula gedung PCNU setempat.

Kiai Maisir menambahkan syuriyah merupakan pemegang kendali tertinggi sebagaimana diamanatkan dalam Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama. Syuriyah harus berperan dalam menentukan arah kebijakan tanfidziyyah khususnya terkait dengan masalah diniyyah (keagamaan). Sehingga langkah Turba ini menjadi hal yang penting untuk memastikan paham Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah terus dipegang teguh oleh seluruh warga NU.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung KH Khairuddin Tahmid yang juga hadir pada Turba di Kabupaten Pringsewu tersebut. Langkah Turba jajaran syuriyah ini menurutnya sangat strategis dalam upaya memperkuat dan membentengi Jama’ah serta Jam’iyyah Nahdlatul Ulama saat ini di tengah gempuran paham-paham radikal.

“NU memiliki tiga tanggung jawab yang harus terus dilakukan yakni Mas’uliyah Diniyah (Permasalahan Keagamaan), Mas’uliyah Ummatiyah (Permasalahan Keumatan), dan Mas’uliyah Wathaniyah (Permasalahan Kebangsaan). Ketiga hal ini tidak bisa dipisahkan  karena menyangkut eksistensi jama’ah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” jelasnya.

Apalagi di era saat ini, peran syuriyah semakin penting untuk menjadi solusi di tengah permasalahan agama yang oleh sebagian kelompok dijadikan komoditas politik yang mengancam sisi keumatan dan kebangsaan. Jika permasalahan keagamaan terus dipolitisir dan ditunggangi kepentingan lain maka lambat laun akan merusak sistem keumatan dan kebangsaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Apalagi banyak kelompok saat ini, ungkap kiai yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung ini, yang memanfaatkan media khususnya media sosial untuk melakukan propaganda terkait masalah agama.

“Secara kuantitas kecil jumlah pengikutnya. Namun di media sosial sangat ramai berbicara. Sehingga seolah-olah pengikutnya banyak,” ungkapnya.

Sehingga selain kegiatan Turba yang dilaksanakan jajaran Syuriyah PWNU Lampung ini, perlu juga dilakukan penguatan Aswaja di dunia maya dengan memperbanyak konten-konten Islam yang moderat melalui Konsep Islam Nusantara.

Dengan penguatan secara Offline (Turba) dan Online (Media Sosial) ini tetunya akan semakin memperkuat Aswaja di kalangan warga NU dan umat Islam di Indonesia sehingga aspek keagamaan, keumatan dan kebangsaan akan dapat terus dirawat dengan baik.

Hadir pada kunjungan Turba di Kabupaten Pringsewu, Ketua PBNU Bidang Ekonomi H Umarsyah, Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung KH Sholeh Bajuri, Ketua Jatman Provinsi Lampung Habib Yahya Assegaf, dan Jajaran Syuriyah serta Tanfidziyyah PCNU Pringsewu. Turba ke seluruh kabupaten/kota ini dijadwalkan rampung pada 20 Januari 2019. (Muhammad Faizin)
Bagikan:
Ahad 13 Januari 2019 21:0 WIB
Langkah Kader Muda NU Sukoharjo Jadi Wirausahawan
Langkah Kader Muda NU Sukoharjo Jadi Wirausahawan
Pelatihan Kewirausahaan Ansor Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah
Sukoharjo, NU Online
Sebagai upaya mengasah kemampuan wirausaha untuk bersaing menuju dunia usaha sekaligus meningkatkan taraf kehidupan ekonomi, Kader NU Sukoharjo, Jawa Tengah mengikuti pelatihan kewirausahaan membuat Nata De Coco di Pondok Pesantren Riyadus Sholihin Nguter, Sukoharjo, Ahad (13/1).

Koordinator pelatihan Nurus Shobah yang juga Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Nguter mengatakan, kegiatan pelatihan ini menjadi solusi dan alternatif dalam membentuk pola pikir dan jiwa seorang entrepreneur (wirausahawan).

"Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini bisa siap secara mental, pikiran serta finansial bersaing di pasar bisnis yang kian ketat," katanya kepada NU Online.

Selain itu lanjut Shobah, dalam pelatihan ini para peserta diberikan wawasan tentang bagaimana bersikap dalam menjalin hubungan baik seperti hubungan antara konsumen dengan pengusaha, karyawan dengan pengusaha, maupun pengusaha dengan rekan bisnis.

Nasetiawan, nara sumber pelatihan tersebut menjelaskan, untuk menjadi wirausahawan atau pengusaha harus melewati beberapa proses panjang dan tidak mudah.

“Selain itu harus menambah dan cari pengalaman dulu. Belajar tanya sana-sini. Barulah bisa mempraktikkannya untuk usaha sendiri,” ungkapnya kepada peserta.

Berlatih melalui pelatihan semacam ini lanjutnya, merupakan langkah yang tepat. Dengan ilmu dan pengalaman yang didapat, kader muda NU dapat bekerja secara optimal saatnya nanti benar-benar terjun berbisnis.

"Pelatihan pembuatan Nata De Coco ini mudah-mudahan membawa keberkahan buat rekan kader muda NU yang ikut. Kami berharap dapat menciptakan lapangan pekerjaan kedepannya," pintanya. (Mashri Zaini/Muhammad Faizin)
Ahad 13 Januari 2019 20:0 WIB
Anda Warga NU? Ini Empat Ciri Utamanya
Anda Warga NU? Ini Empat Ciri Utamanya
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Pesawaran, NU Online
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama merupakan organisasi kemasyarakatan terbesar didunia yang memegang teguh paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Namun semakin beragamnya aliran dalam Islam, banyak kelompok yang juga mengaku memiliki paham Aswaja. Hal ini pun memunculkan pertanyaan apa sebenarnya Aswaja dan bagaimana ciri utama Aswaja An-Nahdliyah yang dipegang oleh NU.

Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama (LBMNU) Provinsi Lampung Agus Mahfudz menjelaskan bahwa dalam ber-Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah terdapat 4 (empat) ciri utama seperti yang sudah diwariskan turun temurun oleh para pendiri Nahdlatul Ulama.

Yang pertama adalah terkait Amaliah (cara beribadah). Nahdlatul Ulama merupakan organisasi Islam yang mengusung ideologi Aswaja serta menjaga kemurnian islam dengan berpegang pada Al-Qur'an, sunah Nabi, dan para sahabat dengan sanad keilmuan yang jelas.

“Dalam persoalan fiqih bermadzhab pada salah satu madzhab empat, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali. Dalam beraqidah sesuai dengan aqidah Islam yang diajarkan Rasulullah yang sudah dikemas rapih dalam manhaj Imam Abu Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Dalam bertasawuf mengikuti pendapat-pendapat yang sudah dirumuskan oleh Imam Junaidi al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali,” jelas pria yang akrab disapa Gus Mahfudz ini kepada NU Online, Ahad (13/1).

Jadi tegasnya, bukan orang NU apabila amaliahnya tidak mengikuti kriteria ini walaupun mengaku Aswaja.

Yang kedua adalah Fikrah (pemikiran). Dalam cara pandang atau berfikir, Nahdlatul Ulama senantiasa mengusung nilai-nilai yang berhaluan pada konsep tasammuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang) dan ‘adalah (adil). Artinya, NU tidak condong pada pemikiran-pemikiran liberal ataupun pemikiran-pemikiran radikal.

“Jadi seharusnya orang NU itu bukanlah orang yang kagetan dengan mendengar beraneka ragam pendapat dan pemikiran. Karena orang NU adalah orang yang bijak dalam merespon segala bentuk pendapat dan pemikiran. Yang butuh ditindak sekarang ya ditindak sekarang. Yang hanya berupa bualan-bualan panggung ya tidak usah diterima agar bualan-bualan itu kembali lagi kepada pembualnya itu sendiri,” tegasnya.

Yang ketiga adalah Harakah (gerakan). Menjadi NU menurutnya harus bergerak sesuai dengan cara NU. Gerakan NU yang baik adalah gerakan yang selaras dan satu koordinasi dengan keorganisasian NU. Siapapun bisa bergerak untuk NU. Bisa berjuang bersama struktural maupun hanya sebagai kultural.

“Maka tidak dibenarkan jika ada orang mengaku NU namun malah masuk dalam gerakan atau organisasi yang justru bertentangan dengan gerakan NU. Terlebih masuk dalam gerakan yang ingin menghancurkan NU. Maka orang yang demikian itu adalah penghianat besar. Na'udzubillahi min zdalik,” ungkap salah satu Pengasuh Pesantren Al-HIdayat Pesawaran, Lampung ini.

Yang keempat adalah ghirah (semangat). Semangat ini adalah semangat juang yang menggelora dalam berkhidmat kepada NU.

“NU adalah rumah besar para kiai, ulama, habaib, santri dan hampir seluruh masyarakat muslim di Indonesia. Berkhidmat kepada NU berarti berkhidmat kepada kiai, ulama dan habaib. Karena mereka adalah pendiri Nahdlatul Ulama,” pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)
Ahad 13 Januari 2019 18:0 WIB
Masyarakat Desa Kepatihan Terbantu Kinerja UPZISNU
Masyarakat Desa Kepatihan Terbantu Kinerja UPZISNU
UPZISNU Kepatihan Jombang
Jombang, NU Online
Kinerja Unit Pengumpul Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur melalui kaleng koin sedekah yang dikelola mulai mendapat perhatian pemerintah setempat. Pasalnya, manfaat kaleng koin tersebut sudah mulai dirasakan sejumlah warga.

Hal ini sebagaimana disampaikan Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kepatihan, H Muhammad Mansur. Masyarakat yang berada di lingkungan RT 02 RW 04 di Desa Kepatihan yang sebelumnya sama sekali tidak terjamah kaleng koin, kini mulai meliriknya.

"Ternyata alhamdulillah Ketua RT, Pak Eko menyambut kaleng koin sedekah dengan sangat antusias karena melihat manfaat program tersebut," ujarnya, Ahad (13/1).

Sebelumnya, beberapa petugas UPZISNU Kepatihan memberikan bantuan uang Rp3 juta kepada warga setempat, yakni pasangan suami istri yang menjadi korban tabrak lari, Yudiono dan Khomsati, Jumat (11/1) malam lalu. Mereka dinilai masih tergolong sebagai warga yang kurang mampu dan sedang membutuhkan uluran tangan.

"Saat itu kami mengajak pak RT setempat untuk menyerahkan uang tersebut dengan harapan program kaleng berikutnya bisa berjalan dengan baik," ucapnya.

Manshur menuturkan, pembentukan UPZISNU Kepatihan masih tergolong baru, sekitar 3 bulan yang lalu. Ini bisa dibilang UPZISNU paling muda ketimbang UPZISNU di desa lainnya.

Dirinya bertekad untuk terus memaksimalkan program kaleng koin sedekah untuk bisa menebar manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan secara istiqamah. Sehingga, selain masyarakat merasa terbantu kebutuhannya, para muassis NU juga ikut sedikit bangga dan tersenyum menyaksikan pengurus NU bisa memberikan manfaat kepada sesama.

"Semoga program dari NU ini semakin membawa manfaat di msayarakat, dan akhirnya para muassis NU semuanya bisa tersenyum bahagia meskipun yang kami lakukan masih jauh untuk membuat beliau-beliau tersenyum. Dan harapan kami semua pengurus dapat diakui jadi santrinya Mbah Hasyim Asy'ari," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG