::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pemindahan Jenazah karena Beda Pilihan Politik, PBNU: Rasa Kemanusiaan Terkoyak

Ahad, 13 Januari 2019 13:34 Nasional

Bagikan

Pemindahan Jenazah karena Beda Pilihan Politik, PBNU: Rasa Kemanusiaan Terkoyak
Pemindahan jenazah (Foto: detikcom)
Jakarta, NU Online
Jelang Pemilu, peristiwa kontroversial datang dari Gorontalo, yakni pemindahan dua kuburan terjadi hanya karena perbedaan dukungan politik pada keluarganya untuk Pileg 2019. Dua kuburan tersebut di desa Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, pada Sabtu (12/1) dibongkar dan dipindahkan.

Ketua PBNU H Robikin Emhas mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut mengoyak rasa kemanusiaan dan menunjukkan bahwa tujuan politik telah disalahartikan, yakni dengan menghalalkan segala cara dalam meraih kekuasaan politik.

“Politik yang seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan justru mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri,” kata Robikin kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Ahad (13/1).

Ia menambahkan, kesan menghalalkan segala cara demi kekuasaan tidak hanya terjadi pada perbutan kekuasaan legislatif, namun juga dalam Pilpres: politisasi agama, penggunaan fake news dan hoaks sebagai mesin elektoral dapat disebut sebagai contohnya.

“Seakan tak peduli dampak yang ditimbulkan. Hubungan kekerabatan pecah, persahabatan retak, tetangga dikategorikan sebagai lawan. Semua disandarkan satu hal: kesamaan pilihan politik,” ucapnya. 

Menurutnya, perisitiwa seperti ini dapat merusak kohesivitas sosial dan harmoni masyarakat. Ujungnya, ketahanan sosial dan persatuan serta kesatuan bangsa menjadi taruhannya.

“Sebagai pesta demokrasi pemilu, seharusnya menjadi kegembiraan nasional. Layaknya pesta yang tak perlu ada satu pun gelas pecah,” ucapnya.

Ia berharap, ke depan, peristiwa serupa yang disebabkan perbedaan politik tidak terulang.

“Semoga peristiwa memilukan pemindahan kuburan akibat beda pilihan politik di Gorontalo menjadi satu-satunya kejadian dan tak terulang di kemudian hari. Toh, politik adalah sarana pemanusiaan manusia,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, dua kuburan di Desa Toto Selatan Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, dipindahkan keluarga. Pemilik tanah kuburan yang masih punya ikatan keluarga dengan almarhum, meminta keluarga memindahkan kuburan karena berbeda pilihan calon legislatif (caleg).

Kuburan yang dipindahkan adalah kuburan almarhum Masri Dunggio, yang sudah dimakamkan 26 tahun lalu, dan almarhumah Sitti Aisya Hamzah, yang baru setahun dimakamkan di halaman belakang milik warga bernama Awono. (Husni Sahal/Fathoni)