IMG-LOGO
Nasional

Pemindahan Jenazah karena Beda Pilihan Politik, PBNU: Rasa Kemanusiaan Terkoyak

Ahad 13 Januari 2019 13:34 WIB
Bagikan:
Pemindahan Jenazah karena Beda Pilihan Politik, PBNU: Rasa Kemanusiaan Terkoyak
Pemindahan jenazah (Foto: detikcom)
Jakarta, NU Online
Jelang Pemilu, peristiwa kontroversial datang dari Gorontalo, yakni pemindahan dua kuburan terjadi hanya karena perbedaan dukungan politik pada keluarganya untuk Pileg 2019. Dua kuburan tersebut di desa Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, pada Sabtu (12/1) dibongkar dan dipindahkan.

Ketua PBNU H Robikin Emhas mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut mengoyak rasa kemanusiaan dan menunjukkan bahwa tujuan politik telah disalahartikan, yakni dengan menghalalkan segala cara dalam meraih kekuasaan politik.

“Politik yang seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan justru mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri,” kata Robikin kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Ahad (13/1).

Ia menambahkan, kesan menghalalkan segala cara demi kekuasaan tidak hanya terjadi pada perbutan kekuasaan legislatif, namun juga dalam Pilpres: politisasi agama, penggunaan fake news dan hoaks sebagai mesin elektoral dapat disebut sebagai contohnya.

“Seakan tak peduli dampak yang ditimbulkan. Hubungan kekerabatan pecah, persahabatan retak, tetangga dikategorikan sebagai lawan. Semua disandarkan satu hal: kesamaan pilihan politik,” ucapnya. 

Menurutnya, perisitiwa seperti ini dapat merusak kohesivitas sosial dan harmoni masyarakat. Ujungnya, ketahanan sosial dan persatuan serta kesatuan bangsa menjadi taruhannya.

“Sebagai pesta demokrasi pemilu, seharusnya menjadi kegembiraan nasional. Layaknya pesta yang tak perlu ada satu pun gelas pecah,” ucapnya.

Ia berharap, ke depan, peristiwa serupa yang disebabkan perbedaan politik tidak terulang.

“Semoga peristiwa memilukan pemindahan kuburan akibat beda pilihan politik di Gorontalo menjadi satu-satunya kejadian dan tak terulang di kemudian hari. Toh, politik adalah sarana pemanusiaan manusia,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, dua kuburan di Desa Toto Selatan Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, dipindahkan keluarga. Pemilik tanah kuburan yang masih punya ikatan keluarga dengan almarhum, meminta keluarga memindahkan kuburan karena berbeda pilihan calon legislatif (caleg).

Kuburan yang dipindahkan adalah kuburan almarhum Masri Dunggio, yang sudah dimakamkan 26 tahun lalu, dan almarhumah Sitti Aisya Hamzah, yang baru setahun dimakamkan di halaman belakang milik warga bernama Awono. (Husni Sahal/Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Ahad 13 Januari 2019 19:0 WIB
Penguatan Ekonomi Warga NU untuk Kehidupan yang Berkualitas
Penguatan Ekonomi Warga NU untuk Kehidupan yang Berkualitas
Umarsyah, Ketua PBNU BIdang Ekonomi

Pringsewu, NU Online
Penguatan ekonomi warga NU menjadi hal penting dalam menghadapi persaingan kehidupan yang semakin ketat di era industri saat ini. Kekuatan ekonomi mampu memberikan pengaruh dalam peningkatan kualitas hidup. Poin ini juga merupakan salah satu amanah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Jombang yang terus digiatkan oleh PBNU dalam rangka peningkatan kesejahteraan warga NU.

Berbagai program sudah dilakukan PBNU untuk mewujudkan hal ini di antaranya di sektor pertanian. Sektor ini penting digarap karena mayoritas warga NU tinggal di pedesaan dan berkecimpung di sektor pertanian. Langkah nyata adalah dengan program tanam jagung yang merupakan kerjasama PBNU dengan Kementerian Pertanian.

Menurut Ketua PBNU Bidang Ekonomi H Umarsyah, program ini ditujukan untuk meningkatkan taraf ekonomi warga NU dengan bentuk penyediaan permodalan, benih, pupuk, alat mesin pertanian seperti pengering, hingga akses pasar.

“Beberapa waktu lalu kita sudah melakukan penanaman jagung di Kabupaten Pringsewu yang dihadiri oleh Menteri Pertanian. Kita berharap program ini mendapatkan hasil maksimal yang pada akhirnya mampu meningkatkan taraf hidup ekonomi warga NU khususnya di Kabupaten Pringsewu,” katanya saat ikut serta pada kunjungan kerja jajaran syuriyah PWNU Lampung di Kabupaten Pringsewu, Sabtu (12/1) malam.

Senada dengan Umarsyah, Wakil Katib Syuriyah PWNU Lampung Ruslan Abdul Ghafur mengatakan, kekuatan ekonomi perlu menjadi perhatian serius dengan salah satunya meneruskan pondasi dasar yang telah diletakkan oleh Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin.

Semasa menjabat sebagai Rais Aam lanjutnya, Kiai Ma’ruf telah merintis arus ekonomi baru umat dengan konsep buttom up (dari bawah) bukan top down (dari atas).

“Perjuangan Kiai Ma’ruf Amin dengan ekonomi syariah yang merupakan arus baru ekonomi umat Islam perlu kita dukung. Hasilnya sudah dirasakan di antaranya digulirkannya Bank Wakaf Mikro oleh pemerintah,” ungkap Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Intan Lampung ini.

Bank Wakaf Mikro merupakan upaya untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat yang digulirkan pemerintah menggandeng pesantren. Pemerintah melihat pesantren memiliki peran strategis dalam ikut serta memperbaiki ekonomi masyarakat. Program ini perlu didukung di samping program lain seperti Ultra Mikro (pinjaman tanpa bunga).

Pemerintah saat ini juga terus melakukan pembenahan aset negara yang sejak lama dikuasai pemodal besar untuk kembali ke pemerintah. Langkah pemerintah ini juga harus didukung oleh warga NU sehingga kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Secara otomatis warga NU sebagai mayoritas umat Islam di Indonesia juga akan ikut merasakan manfaatnya. (Muhammad Faizin)

Ahad 13 Januari 2019 17:0 WIB
Kiai Subhan Makmun: Beda Wa‘alaikumussalam dan Wa‘alaikum Salam
Kiai Subhan Makmun: Beda Wa‘alaikumussalam dan Wa‘alaikum Salam
KH Subhan Makmun (foto: Facebook)
Brebes, NU Online
“Kalau menjawab salam, jawablah dengan kalimat wa’alaikumussalâm, jangan wa’alaikum salam.” Demikian Kiai Subhan Makmun mengajarkan kepada peserta kajian kitab Tafsîr Al-Munîr di Masjid Al-Mukarromah komplek Islamic Center Brebes, Ahad, 13/01.

Rais Syuriyah PBNU ini menyampaikan hal tersebut di sela-sela menjelaskan penafsiran Surat An-Nisa ayat 86 yang menuturkan wa idzâ huyyîtum bi tahiyyatin fa hayyû bi ahsana minhâ aw ruddûhâ (bila kalian diberi penghormatan maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau dengan yang sepadannya).

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes ini, orang yang mengucapkan salam kepada kita dengan mengucapkan as-salâmu ‘alaikum kata salâm-nya (di dalam Bahasa Arab) menggunakan “al” ma’rifat. Maka, sebagaimana perintah ayat di atas membalasnya pun harus dengan menggunakan “al“ ma’rifat biar balasannya sepadan. Dengan demikian maka menjawab salam harus dengan kalimat wa’alaikumussalâm, bukan wa’alaikum salâm di mana kata salâm-nya berupa isim nakirah, tanpa “al”.

Lalu apa perbedaan makna di antara keduanya?

Kiai Subhan menjelaskan bahwa ketika kata salâm menggunakan isim ma’rifat (dengan adanya “al” di depannya) maka itu berarti salam (keselamatan) yang disampaikan adalah salam yang berasal dari Allah, bukan salam dari selain-Nya. Namun bila kata salâm ini diucapkan dalam bentuk isim nakirah (tanpa “al” di depannya) maka makna salam ini masih umum, tidak tertentu yang berasal dari Allah.

Karenanya menjawab salam dengan kalimat wa’alaikum salâm tidak sesuai dengan perintah ayat tersebut, karena membalas secara tidak sepadan dengan salam yang diberikan oleh pengucapnya.

Lebih lanjut Kisi Subhan mengisahkan bahwa satu ketika pesantrennya kedatangan Habib Abdullah bin Salim Alkaf dari Pekalongan. Beliau seorang alumni Al-Azhar Kairo yang ahli di bidang tafsir. Mendapat kabar bahwa sang habib akan hadir di pesantrennya Kiai Subhan segera mengingatkan para santrinya agar kelak ketika sang habib hadir dan beruluk salam maka dijawab dengan kalimat wa’alaikumussalâm, bukan wa’alaikum salam.

Namun ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Saat sang habib hadir seorang santri yang sebelumnya tidak ikut mendengar peringatan sang kiai berada di bagian paling depan penyambutan. Dan ketika sang habib mengucapkan salam santri ini dengan keras menjawab wa’alakum salam. Mendengar jawaban ini spontan Habib Abdullah menegurnya bahwa itu adalah jawaban yang salah. (Yazid Muttaqin)

Ahad 13 Januari 2019 16:30 WIB
Islam Nusantara di Mata Antropolog Amerika
Islam Nusantara di Mata Antropolog Amerika
Robert W. Hefner
Jakarta, NU Online
Wacana Islam Nusantara kian santer terdengar pasca-Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama yang digelar di Jombang pada Agustus 2015 silam. Pasalnya, istilah tersebut menjadi tema pada perhelatan akbar lima tahunan itu.

Peneliti Indonesia asal Amerika Serikat Robert W. Hefner melihat bahwa frasa itu dikenal sebagai wujud kebanggaan komunitas Muslim Indonesia akan keindonesiaannya. Ia, begitupula rekan-rekannya yang lain dari berbagai negara, mengakui bahwa masyarakat Indonesia itu begitu cinta dengan negaranya.

"Islam Nusantara adalah suatu kebanggaan terhadap gaya hidup mereka sebagai orang Indonesia dan pengakuan bahwa sebetulnya adat istiadat Indonesia yang benar itu tidak sama sekali bertentangan dengan agama Islam," kata Robert kepada NU Online saat ditemui usai memberikan kuliah umum di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta Pusat pada Jumat (11/1).

Lebih dari itu, Guru Besar Antropologi Universitas Boston, Amerika Serikat itu juga menyatakan bahwa praktik tradisi Islam Nusantara itu justru merupakan tafsiran positif atas inti ajaran Islam sendiri.

"Bahkan memberikan sebuah tafsiran yang sangat positif terhadap nilai-nilai Islam yang benar, betul, dan pokok," tegasnya.

Hefner menjelaskan bahwa pada dasarnya, Islam Nusantara merupakan lanjutan tradisi masa lalu yang terus dipraktikkan oleh tidak hanya kalangan NU, tetapi mayoritas Muslim di Indonesia.

"Islam Nusantara lanjutan sesuatu sejak dulu di kalangan Nu dan di kalangan sebagian besar dari komunitas Muslim di sini," ujarnya.

Ia melihat bahwa ada jiwa yang sejak dulu sudah hidup jauh sebelum istilah itu digaungkan. "Walaupun istilahnya baru, menurut pengalaman saya di kalangan NU selama lebih dari 40 tahun, ada jiwa seperti itu jauh dulu sebelum istilah itu diciptakan," pungkasnya. (Syakir NF/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG