IMG-LOGO
Nasional

Ketua LTN PBNU: Nukman, Guru Model Dakwah Era Digital

Senin 14 Januari 2019 14:0 WIB
Bagikan:
Ketua LTN PBNU: Nukman, Guru Model Dakwah Era Digital
Nukman Luthfie (Foto: Ist.)
Jakarta, NU Online
Rasa kehilangan atas wafatnya pakar media sosial, Nukman Luthfie datang dari banyak kalangan, tak terkecuali dari Lembaga Ta'lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU).

Ketua LTN PBNU Hari Usmayadi atau yang akrab disapa Cak Usma menyebut, almarhum merupakan gurunya dalam mengembangkan model dakwah nahdliyin di era digital.

"Beliau guru bagi saya dalam mengembangkan model dakwah nahdliyin di era digital," kata Cak Usma kepada NU Online, Ahad (13/1) melalui sambungan telepon.

Cak Usma pun mengemukakan tentang awal kali perkenalannya dengan almarhum. Ia mengenal almarhum ketika awal bertugas di Jakarta pada 2004, dalam rangka pembahasan teknis pemasaran melalui komunitas (Community Marketing).

Menurutnya, konsep community marketing yang dibawa almarhum original dan sesuai kondisi pasar sebenarnya. Sesuatu yang mengharuskan pemahaman secara detail.

Setelah itu, Cak Usma melanjutkan, hubungan berlanjut dalam konteks profesional untuk kegiatan pemasaran berbasis komunitas dan berkembang ke media sosial, serta beberapa inisiasi layanan baru untuk pemasaran.

"Beberapa model dan tema pemasaran saya coba replikasi untuk penyebaran dakwah ke Nahdliyin, dan cukup berhasil di awal 2010-an," ucapnya.

Pertemuan keduanya kembali di forum Komunitas Muda NU di Muktamar Jombang, Jawa Timur pada 2015. Di forum itulah, ia mengaku baru mengerti bahwa almarhum merupakan cucu kiai besar asal Kendal, Jawa Tengah, yakni KH Achmad Abdul Hamid.

"Hingga berjumpa dalam forum Komunitas Muda NU di Muktamar Jombang, dan saya baru paham ternyata beliau salah satu cucu Kiai Abdul Hamid Kendal," ucapnya.

Setelah itu, diskusi antara dirinya dan almarhum bergeser dan berkembang untuk model dakwah di era digital. Ia mengaku banyak mendapatkan masukan dari almarhum tentang model dakwah tersebut untuk setiap sosialisasi ke nahdliyin.

Sebagaimana diketahui, Nukman Luthfie wafat pada Sabtu (12/1/) di Yogyakarta sekitar pukul 22.00 WIB. Almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Grabag Kelurahan Langenharjo, Kecamatan Kendal Kota, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah pada Ahad (13/1) sekitar pukul 10.00 WIB. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Senin 14 Januari 2019 23:0 WIB
Intoleransi Pelajar Makin Marak, Perlukah Organisasi Pelajar Masuk Sekolah?
Intoleransi Pelajar Makin Marak, Perlukah Organisasi Pelajar Masuk Sekolah?
Pelajar SMA (Foto: Ist.)

Jakarta, NU Online
Toleransi sudah masuk dalam materi pelajaran pendidikan agama. Hal itu juga sudah diajarkan oleh guru di setiap sekolah. Akan tetapi, materi tersebut tidak sepenuhnya dipraktikkan oleh siswa.
 
"Sebagian sekolah seperti itu. Mereka memahami nilai-nilai toleransi dengan baik. Namun ketika diuji seberapa toleran itu gamang," kata Muhammad Zuhdi saat ditemui NU Online usai menyampaikan hasil penelitiannya yang berjudul Mempromosikan Moderatisme: Pencegahan Ekstremisme yang Keras, Pendidikan Agama dan Negara di Indonesia pada seminar internasional di Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta, Senin (14/1).
 
Jangankan pada agama yang berbeda, katanya, perbedaan pendapat dalam satu agama saja menjadi masalah tersendiri. Zuhdi mencontohkan perbedaan pandangan antara sesama Muslim terhadap ucapan selamat natal kepada umat Kristiani.
 
"Menerima toleransi tetapi ketika harus bersikap dengan itu kesulitan sendiri," katanya pada kegiatan yang digelar oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan United Nations Development Program (UNDP) itu.

Alumnus Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Sukabumi, Jawa Barat itu mengungkapkan, memang perlu adanya kesadaran betul tentang pemahaman terhadap toleransi sehingga dapat dipraktikkan dalam keseharian. Sebab, katanya, keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan untuk diyakini oleh orang lain.
 
"Bagaimana bersikap terhadap toleransi yaitu kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita yakini benar kepada orang lain," katanya.
 
Adanya organisasi kepelajaran masuk ke sekolah-sekolah, menurutnya, dapat memberikan nilai positif dan negatif. Nuansa berbeda menjadi positif bagi sekolah dan civitas akademika di dalamnya. Sementara negatifnya, jika kesempatan itu dibuka, tentu memberikan peluang yang sama bagi organisasi lainnya.
 
"Nah, siapa yang akan mengontrol itu kalau kepala sekolahnya, yayasannya, bisa memilah mana yang aman, mana yang tidak itu akan baik," ucap wakil dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
 
Kalaupun tidak masuk dalam sekolah, kata Zuhdi, jika siswa tersebut melakukan kegiatan di luar sekolah di organisasi itu tentu akan positif. Namun, ia mengingatkan ulang, bahwa masuknya organisasi itu juga perlu kriteria.

"Perlu kriteria yang jelas untuk itu," pungkasnya pada seminar yang mengangkat tema Merawat Keyakinan: Negara, Pendidikan Agama, dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan di Asia Tenggara itu. (Syakir NF/Muhammad Faizin)

Senin 14 Januari 2019 18:30 WIB
Mafindo: Adu Argumen Pilpres Boleh, tapi Hoaks Jangan
Mafindo: Adu Argumen Pilpres Boleh, tapi Hoaks Jangan
Sumber ANTARA

Jakarta, NU Online

Keragaman bangsa Indonesia dapat menjadi keuntungan dan kerugian. Ia bisa menginspirasi keragaman dan sekaligus menjadi titik rawan dari provokasi dan fitnah, terutama di era digital seperti sekarang ini. Kerukunan dapat berubah menjadi konflik, sementara persatuan dapat menjadi perpecahan akibat adanya penyebaran ujaran kebencian dan berita bohong atau hoaks.

Dalam keadaan demikian, menurut Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho, masyarakat Indonesia sebaiknya menjauhkan diri dari ujaran kebencian di media sosial terutama jelang Pilpres pada April 2019 mendatang.

“Sekarang ini kita dihantui dengan maraknya penyebaran hoaks yang menghancurkan pikiran kemudian membuat permusuhan. Lebih kita sebarkan konten tentang cinta dan damai di medsos agar negeri kita menjadi sejuk dan tenteram,” ujar Septiaji Eko Nugroho di Jakarta, Senin (14/1).

Berkompetisi dan beradu argumen merupakan hak setiap warga negara dan sangat diperbolehkan pada momen pesta demokrasi seperti Pilpres ini. Akan tetapi, lanjutnya, semua orang harus menahan diri dari mengeluarkan kebohongan dan ujaran kebencian.

“Jadi di tahun 2019 ini seharusnya menjadi titik tolak kita bersama untuk dapat bersama-sama melanjutkan hidup kita tanpa menggunakan kebencian, kebohongan, hasut, fitnah di medsos. Dan justru sebaliknya, semua teknologi yang sudah kita bisa gunakan itu seharusnya justru bisa mempercepat kita menjadi negara maju,” ujarnya.

Kuncinya pengendalian diri

Menurutnya, salah satu yang membuat kondisi media sosial makin ricuh adalah ketidakmampuan masyarakat untuk memfilter konten media sosial dengan baik. Karenanya, ia meminta kepada masyarakat untuk menahan diri agar tidak mudah terprovokasi oleh hasutan kebencian. Hal ini bisa dilakukan masyarakat dengan berlatih dan mempraktekkan pengendalian diri ketika menerima informasi atau saat hendak menyebarkan ulang informasi yang diterima.

Pengendalian diri ini, kata Septiaji, sangat penting dilakukan sehingga masyarakat tidak menjadi reaktif dan mudah diprovokasi oleh informasi-informasi yang kadang mengandung unsur hasut atau kebenaran separuh atau yang bertujuan itu mengadu domba untuk membenci orang lain. (Ahmad Rozali)

Senin 14 Januari 2019 13:15 WIB
Ke Depan, Pengurus NU Harus Nahdliyin Terdidik Kaderisasi, bukan Keturunan
Ke Depan, Pengurus NU Harus Nahdliyin Terdidik Kaderisasi, bukan Keturunan
Jakarta, NU Online
Koordinator Program Madrasah Kaderisasi Nahdlatul Ulama (MKNU) H Endin Soefihara menyebut pentingnya warga NU dalam mengikuti program kaderisasi. Kaderisasi ini merupakan bagian dari perbaikan dari kepengurusan NU ke depan.

Demikian disampaikan H Endin Soefihara dalam penutupan MKNU Gelombang Pertama di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, Ahad (13/1) dini hari.

“Ke depan semua pengurus NU harus memahami benar NU sebagai fikrah dan harakah, bukan sekadar karena keturunan,” kata Endin.

Ia menambahkan bahwa NU merupakan salah satu kekuatan besar sosial, politik, dan keagamaan. Pengurus-pengurus NU di tingkat ranting dan wakil cabang harus memahami benar kekuatan dan posisi NU.

“Tidak boleh lagi ada pengurus ‘naturalisasi’ NU. Dia menjadi pengurus NU hanya karena shalat Subuh dengan doa qunut atau masih mengikuti tahlilan. Dia menjadi pengurus NU karena orang tuanya dulu adalah aktivis NU. Ke depan pengurus NU seperti ini tidak boleh ada lagi,” kata Endin di auditorium.

Pengurus NU dengan didikan kaderisasi akan berbeda dengan pengurus NU yang tidak dikader. Sekarang ini tantangan NU lebih berat dan kompleks. Hanya sekadar amaliyah, NU akan ditinggal umat Islam ahlussunnah wal jamaah.

“Semua pengurus NU harus mengikuti madrasah kader. Ini momentum penting untuk menyatukan amaliyah, fikrah, dan harakah,” kata Endin. (Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG