IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Seruan Tuhan untuk Orang-orang Beriman

Selasa 15 Januari 2019 7:3 WIB
Bagikan:
Seruan Tuhan untuk Orang-orang Beriman
Di zaman yang kian menua, pembacaan terhadap al-Quran hanya bernada ritual semata. Adalah sebuah ironi kala Al-Qur'an yang didapuk sebagai pedoman umat manusia, khususnya umat Islam, hanya dibaca tanpa ditelaah makna dan kandungannya.

Paling banter, kita hanya menengok terjemahan untuk mengetahui artinya saja. Padahal, untuk memahami esensi Al-Qur'an yang serupa mayapada tak bertepi, tidak hanya cukup membaca artinya saja. Akibatnya, hikmah-hikmah luhur Al-Qur'an acapkali terabaikan.

Ketika membaca Al-Qur'an, kita barangkali pernah berpapasan dengan kalimat ya ayyuhalladzina amanu. Kalimat ini diulang sebanyak 89 kali dalam Al-Qur'an dan lumrah dipahami sebagai ciri fisik dari ayat-ayat madaniyah―ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan pasca nabi hijrah ke Madinah. Melalui karya Nurul Huda Maarif ini, kita tahu bahwa keberadaan kalimat tersebut bukan hanya sapaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Ayat-ayat ini dilanjutkan dengan tema-tema yang berkenaan soal kewajiban, larangan, jihad, qital, penghormatan pada kemanusiaan dan lainnya, yang secara umum bertema serius dan mengindikasikan identitas keimanan seorang muslim.

Dari 89 ayat yang termaktub, buku ini hanya mendedah sebagiannya yang mayoritas turun disertai asbabun nuzul. Namun, Nurul Huda Maarif tidak hanya mengupas secara mendalam ayat demi ayat, beberapa diramu dengan pembahasan yang up to date dan kontekstual dengan realita kekinian, seperti surat Ali ‘Imran ayat 100 yang mewartakan bahaya provokasi:

“Hai orang-orang yang beriman, seandainya kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” 
                        
Ayat ini diturunkan lantaran ulah seorang Yahudi bernama Syas bin Qais yang dengki melihat kerukunan suku Aus dan Khazraj yang dulunya saling bentrok. Syas mengutus  anak buahnya untuk nimbrung dan bercakap-cakap dengan mereka guna memprovokasi dan menyulut kembali sentimen pertikaian lama kedua suku tersebut ketika perang Bu’ats pada masa jahiliah.

Beruntung berita ini didengar oleh Rasulullah, beliau segera datang dan mendamaikan keduanya. Bersamaan dengan kejadian itu, Allah pun berpesan: “Wa’tashimu bihablillah jami’an wa la tafarraqu” (QS. Ali Imran[3]:103). (halaman 77-78)

Dalam konteks Indonesia, pluralitas memang menjadi senjata yang ampuh untuk memantik api permusuhan antar sesama umat Islam. Hal ini tidak lepas dari ulah pihak-pihak tak bertanggung jawab yang terus-menerus mengompori dan memprovokasi.

Imbasnya, ukhuwah wathaniyah bahkan ukhuwah Islamiyah digilas begitu saja dengan dalih membela harga diri. Mirisnya, mereka masih sama-sama orang Islam yang katanya beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Lebih-lebih di era media sosial ini. Di mana statemen-statemen provokatif sangat mudah dihembuskan untuk memancing emosi umat. 

Memang, hari ini lini masa kita nyaris tak pernah sepi dari paparan konten-konten bermuatan negatif, semacam hoax, hujatan-hujatan kebencian, statemen kontroversial dan provokatif dan lainnya. Apalagi menjelang pilpres tahun 2019 ini, di mana masing-masing kubu Paslon bersaing untuk meraup sebanyak mungkin suara rakyat dengan ragam trik dan intrik, termasuk dengan melancarkan konten-konten diatas kepada lawan politiknya—seperti yang sudah-sudah. Di sinilah Allah kembali mengingatkan orang beriman untuk senantiasa bertabayun sebelum mengambil sikap. 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.” (QS. Al-Hujarat [49]: 6).

Saat ini tidak sedikit kita temui berita yang justru membenarkan yang palsu dan memalsukan yang benar. Semakin canggih teknologi, pemalsuan informasi akhir-akhir ini juga sangat mengkhawatirkan. Uniknya, semakin banyak pula yang termakan bualan-bualan ini. Inilah zaman yang serba keblinger, ketika klarifikasi atau tabayun menjadi sesuatu yang mahal dan tidak banyak dilakukan. (halaman 312-313)

Buku ini mengajak kita untuk mempertanyakan kembali keimanan kita selama ini. Kendatipun demikian, buku ini lebih berposisi sebagai pengingat bagi kita, alih-alih menghakimi kita yang tak pernah lekang dari salah dan lupa.

Lebih jauh, seperti yang dituturkan KH Ahsin Sakho Muhammad di bagian pengantar, buku ini merepresentasikan ajaran Islam yang sebenarnya: menggugah kesadaran manusia agar selalu menjaga hubungan harmonis dengan Allah dengan berbakti kepada-Nya dan juga menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia dengan berlaku baik dan adil.

Peresensi adalah Muhammad Faiz As, pengurus perpustakaan Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep.

Identitas buku:
Judul Buku: Seruan Tuhan untuk Orang-Orang Beriman
Penulis: Dr. Nurul Huda Maarif
Cetakan: I, 2018
Penerbit: Zaman, Jakarta
Tebal: 418 Halaman
ISBN: 978-602-6273-16-1
Tags:
Bagikan:
Senin 14 Januari 2019 16:30 WIB
Empat Spirit Literasi Baca-Tulis dalam Al-Qur’an
Empat Spirit Literasi Baca-Tulis dalam Al-Qur’an
Banjirnya perkembaangan teknologi yang ditandai dengan derasnya arus internet dan HP cerdas menambah parah keperihatinan soal literasi Al-Qur'an. Bagaimana kebudayaan umat Islam akan gemilang dan terpandang jika krisis literasi dalam memahami Al-Qur'an terus terjadi?

Maka dari itu penulis tertarik untuk mengulas spirit al-Qur’an tentang pentingnya literasi baca-tulis yang terdapat dalam buku Al-Qur'an dan Literasi: Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman karya Ali Romdhoni sebagai berikut:

Pertama, perintah membaca dan menulis. Firman Allah SWT. yang tertuang dalam surah al-Alaq ayat 1-5 berikut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ayat diatas menginginkan revolusi besar-besaran dari suatu masyarakat yang jauh dari tradisi baca tulis dan dari suatu bangsa yang sangat rendah menjadi bangsa yang paling mulia. Karena jika tidak ada tulisan tentu pengetahuan tidak akan terekam, agama akan sirna dan bangsa belakangan tidak akan pernah mengenal sejarah peradaban umat sebelumnya.

Kedua, filosofi iqra’ (perintah membaca). Perintah membaca sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW mengindikasikan begitu pentingnya prihal membaca sehingga Nabi Muhammad SAW diharuskan membaca yang berarti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui dan lain sebagainya. Hal ini,  tidak lain kecuali bahwa salah stu tugas manusia dalam kehidupan adalah membaca hingga menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan.

Ketiga, perintah mencari ilmu pengetahuan dan inspirasi tradisi manajemen. Perintah mencari ilmu pengetahuan selain dari surah al-Alaqdiatas dapat ditemukan dalam subtansiyat 31 al-Baqarah, ayat 179 al-A’raf, ayat 9 al-Nisa’, ayat 2 al-Jumu’ah, ayat 11 al-Mujadalah, ayat 43 al-Nahl, dan ayat ke 9 al-Zumar. 

Substansi dari kesemua ayat ini memerintahkan umat manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan merupakan syarat utama diraihnya perihal mengetahui dirinya, apa yang mesti dilakukan dan kemana mesti melangkah. 

Ilmu pengetahuan dan tulis-menulis merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan sehingga perintah untuk mencari ilmu pengetahuan juga menjadi perintah untuk mengembangkan budaya tulis-menulis. Karena tulisan menjadi sarana bagi ilmu pengetahuan untuk selalu dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya. 

Sementara ayat yang berbicara terkait tradisi manajemen dapat disingkap dalam ayat ke 282 QS. Al-Baqarah dan ayat ke 33 QS. Al-Nur, yang mana hal ini mengarah kepada fungsionalitas tulisan sebagai bukti otentik yang efektif dalam perdagangan demi melindungi hak-hak secara benar. 

Keempat, penyebutan seperangkat peralatan kegiatan baca-tulis. Di samping terdapat perintah membaca dan menulis serta perintah mencari ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an juga menyebut seperangkat peralatan kegiatan baca-tulis, seperti, kata midad (tinta), qalam (pena), qirthas (kertas), lauh (batu tulis), raqq (lembaran), dan shuhuf (helai kertas).

Puncaknya, menandakan bahwa al-Qur’an hanya ingin menekankan terhadap budaya baca tulis agar betul-betul terbumikan dalam masyarakat sehingga peradaban menjadi maju dan gemilang sebagaimana Allah mengubah peradaban jahiliah menuju peradaban ilmiah. Wallahua’lam. (Moh. Hafid)

Identitas buku:
Judul: Al-Qur’an dan Literasi: Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman
Penulis: Ali Romdhoni, MA
Penerbit: Linus (Literatur Nusantara)
Cetakan: Desember 2013
ISBN: 978-602-18064-1-8
Kamis 10 Januari 2019 14:33 WIB
Pintu Masuk Mengenal Keragaman Indonesia
Pintu Masuk Mengenal Keragaman Indonesia
Indonesia begitu kaya akan segala hal. Dengan penduduk yang kini lebih dari 260 juta jiwa, Indonesia terdiri dari 1.340 suku dan 652 bahasa. Mereka tinggal di 17.503 pulau yang disatukan dengan laut yang luasnya mencapai 3,25 juta km2. Bangsa Indonesia juga tidak seragam untuk agamanya. Mereka menganut salah satu dari enam agama, yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di antara mereka juga ada yang menganut aliran kepercayaan.

Keragaman itu merupakan kekayaan tak terhingga yang dimiliki negara ini. Di tengah perbedaan yang begitu kontras, baik dilihat dari suku, bahasa, hingga keyakinan, mereka bersatu atas nama kebangsaan sebagai bangsa Indonesia, bersatu dengan bahasa persatuan bahasa Indonesia, berpegang teguh tanah air Indonesia sebagai wilayah tinggal mereka yang perlu dipertahankan.

Disparitas tentu saja muncul mengingat banyak unsur yang berbeda. Namun, ada satu hal yang harus menjadi pegangan masing-masing individu maupun kelompok, yakni upaya saling memahami terhadap satu sama lain sehingga tidak menimbulkan konflik horizontal. Hal inilah yang selama ini terus dijaga, meskipun di satu dua tempat, peristiwa yang tidak diinginkan terkadang terjadi.

Hal itulah yang diupayakan oleh Ibn Ghifarie melalui bukunya, Merayakan Keragaman. Ia menguraikan hal penting terkait agama yang kerap kali dijadikan alasan oleh sebagian orang untuk menyerang kelompok lain. Dengan dalih agama, mereka melakukan teror yang bahkan hal itu menyasar saudara sendiri.

Di bukunya itu, ia menjelaskan sejak mula kedatangan setiap agama ke Indonesia. Ghifarie juga menerangkan hal pokok setiap agama, yakni akidah atau keimanan, syariat atau ritual peribadatan, dan aturan hubungan sosial kemasyarakatan masing-masing.

Dengan penuh gambar dan penuh warna, buku ini sangat cocok bagi kalangan pelajar yang hari ini menjadi sasaran utama radikalisme dan paham ekstrem atas dasar pemahaman agama. Survei Alvara Research Center menyebut lebih dari 23 persen pelajar Indonesia sudah terpapar virus radikalisme. Hal ini ternyata seirama dengan temuan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyebut lebih dari 30 persen guru Muslim ingin melakukan aksi teror.

Kehadiran buku ini tentu sangat penting guna menjadi pintu masuk saling mengenal satu sama lain agar ancaman terhadap keretakan negara yang begitu kompleks dengan segala macam perbedaannya ini bisa teratasi. Konflik horizontal rawan sekali terjadi. Terlebih tahun 2019 menjadi tahun politik dan suasana masih memanas.

Peresensi Syakir NF, mahasiswa Program Magister Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.

Identitas Buku
Penulis : Ibn Ghifarie
Judul : Merayakan Keragaman, Religious Literacy Series
Halaman         : xiii + 184
Tahun Terbit : 2018
Penerbit         : Expose

Kamis 10 Januari 2019 9:0 WIB
Menengok Isi Kitab Ushul Fiqh 'al-Burhan' Karya Imam Haramain
Menengok Isi Kitab Ushul Fiqh 'al-Burhan' Karya Imam Haramain
Kitab al-Burhan fi Ushûl al-Fiqh merupakan salah satu kitab karya Imam al-Juwaini atau biasa dikenal dengan sebutan Imam Haramain. Kitab ini menduduki posisi yang signifikan, sebagai salah satu kitab yang orisinil di dalam membahas teori jurisprudensi mazhab Syafi’i. Dalam rangka menghargai karya tokoh bernama lengkap Abu al-Ma’âlî Abd al-Mâlik Ibn Abdillâh Ibn Yûsuf al-Juwainî ini, Ibnu Khaldun sampai menuliskan dalam kitab Muqaddimah-nya: 

 وأحسن ما كتبه المتكلمون في الأصول كتاب البرهان للجويني إمام الحرمين ، والمستصفي للغزالي تلميذ الجويني . وهما معا من الأشعرية ، وكتاب العهد للقاضي عبدالجبار المعتزلي ، وقام تلميذه أبو الحسن البصري بشرح كتاب العهد

Artinya: “Di antara kitab terbaik yang disusun oleh kaum mutakallimun adalah kitab al-Burhan karya al-Juwaini dan al-Mustashfa karya al-Ghazâli dan keduanya dari aliran kalam Asy’ariyah, serta kitab al-‘Ahd karya Abd al-Jabbar al-Mu’tazily, lalu tampil muridnya Abu al-Hasan al-Bashrî memberikan syarahnya (dalam kitab al-Mu’tamad).” (Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah li ibn Khaldûn, Mesir: Mathba’ah Musthafa Muhammad, tt: 455)

Syekh Tâj al-Dîn al-Subki, selaku orang yang menyusun biografi ulama-ulama Syafi’iyah menegaskan bahwa al-Burhân yang disusun oleh al-Juwaini memiliki metode dan gaya yang unik yang belum ditemui di kalangan sebelumnya. Karena kitab ini dinisbatkan dengan mazhab Syafi’i, maka jadilah ia menjadi salah satu kitab penting untuk dipelajari di kalangan mazhab tersebut.

Secara garis besar, kitab al-Burhân diawali dengan pembahasan mengenai metode mempelajari suatu disiplin ilmu. Ia mengatakan:

حق على كل من يحاول الخوض في فن من فنون العلوم أن يحيط بالمقصود منه وبالمواد التي منها يستمد ذلك الفن وبحقيقته وفنه وحده إن أمكنت عبارة سديدة على صناعة الحد وإن عسر فعليه أن يحاول الدرك بمسلك التقاسيم 

Artinya: “Wajib bagi setiap individu yang ingin mendalami disiplin ilmu tertentu untuk (1) mengetahui tujuan disiplin ilmu itu, (2) konsentrasi materi yang dipelajari, dan (3) jika memungkinkan maka harus mengetahui hakikat/batasan dari disiplin ilmu itu sendiri. Namun jika hal tersebut dirasa sulit, maka ia mesti menguasai pembagian-pembagian cabang disiplinnya.” (Abu al-Ma‘ali al-Juwayni, al-Burhan fī Usul al-Fiqh, Jilid 1, Qatar: Matba‘at al-Dawhah al-Hadīthah, 1399 H: 83)

Sesuai dengan yang disampaikan tersebut, al-Juwaini menjelaskan pertama kalinya dalam kitab al-Burhan karyanya tentang pengertian ushûl fiqh, sumber-sumbernya serta tujuan mempelajarinya. Menurut al-Juwaini, materi dasar bangunan ushul fiqh adalah al-kalam (ilmu kalam/teologi, red), yang didefinisikannya sebagai pengetahuan tentang alam, pembagian-pembagian dan hakikat-hakikatnya, pengetahuan tentang al-Khâliq dan sifat-sifat-Nya yang wajib, mustahil dan jâiz, pengetahuan tentang kenabian dan lainnya. Bahasa Arab merupakan materi kedua setelah al-kalam. Berikutnya materi ketiga terdiri dari fiqih. Penempatan fiqih sebagai materi ketiga adalah dengan alasan bahwa ia merupakan ilmu produk dari dalil-dalil ushuliyah dalam bidang fiqih. 

Secara umum, kitab al-Burhân terdiri dari delapan sub pembahasan. Kedelapan sub tersebut meliputi pembahasan: (1) al-bayân, (2) al-ijma’, (3) al-qiyâs, (4) al-istidlâl, (5) al-tarjîhât, (6) al-naskh, (7) ijtihad dan (8) al-fatwa.

Menurut Abd al-Adhîm al-Dib, al-Burhân termasuk salah satu kitab yang secara komprehensif menjelaskan berbagai pendapat ulama ushul fiqh yang hidup sebelum al-Juwaini. Meskipun saat ini kitab karya para ulama sebelum al-Juwaini sulit ditemukan kembali, namun berbekal kitab al-Burhân, kita bisa menjadi tahu sekilas mengenai gambaran pendapat-pendapatnya. Salah seorang ulama yang juga turut disitir pendapatnya oleh al-Juwaini adalah Abu Bakar al-Baqilâny (w. 403 H), Ibn Fawrak, Al-Qâdli Abd al-Jabbâr, dan bahkan Abu ‘Ali al-Juba-i. 

Perbedaan al-Burhân dengan al-Waraqât yang juga karyanya adalah: jika di kitab al-Waraqât, al-Juwaini menjelaskan tentang kesesuaian antara aliran kalam dan mazhab fiqih dalam bab kaidah–kaidah fiqih dan ushul fiqih, maka dalam al-Burhân ini ia justru bersikap sebaliknya. Di dalam al-Burhân, ia mengelaborasi secara rinci dan panjang lebar aspek-aspek perbedaan dari setiap aliran kalam dan mazhab fiqih dibandingkan aspek kesesuaiannya. Masing-masing perbedaan diuraikan dengan dalil yang rinci. Seolah, menurutnya dalil adalah media bagi perbedaan tersebut dan bukan malah sebaliknya, yaitu perbedaan justru menghilangkan dalil. Itulah sebabnya, dengan berbekal kitab ini maka akan tampak kesan bahwa ada korelasi antara ushul fiqh sebagai pedoman pokok mazhab fiqih dan ushul al-dîn sebagai mazhab ilmu kalam. 

Di dalam kitab ini, juga disebutkan bahwa ia tidak hanya merujuk ke sejumlah ulama lain. Al-Juwainî juga melakukan hal yang sama terhadap sejumlah kitab karyanya sendiri sehingga ada kesinambungan manhaj (metode) pemikiran. Mungkin ini sebabnya, ulama pada masanya menggelarinya sebagai mujtahid mazhab disebabkan konsistensi pendapatnya.

Mengingat adanya korelasi yang erat antara kalam dan ushul serta konsentrasi teoritis-murni, maka kitab al-Burhân juga masuk dalam kategori kitab ushul yang mengikuti kecenderungan pola pembahasan mutakallimun (para ahli ilmu kalam). Mereka adalah satu aliran ushul fiqih yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Memiliki konsentrasi khusus yang murni sebagai wahana menyediakan wacana teoritis terhadap mazhab yang dipegangnya. Dengan demikian al-Burhân merupakan teoritisasi manhaj mazhab Syafi’i dan sekaligus Asy’ariyah.

2. Imbas dari upaya teoritisasi ini, terkadang ada pendapat yang kurang lebihnya dinilai sebagai agak tidak bersesuaian dengan mayoritas pemahaman mazhab Syafi’i.

3. Kaidah ushul tidak dipergunakan untuk memberikan justifikasi terhadap masalah-masalah furu’ sebagai yang paling benar dan harus diikuti, melainkan ia menempatkan kaidah furu’ sebagai yang menerima untuk didiskusikan. 

Wallahu a’lam bi al-Shawâb

Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean dan saat ini menjabat sebagai Tim Peneliti dan Pengkaji Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU JATIM dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBM PWNU Jatim

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG