IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Gus Ulil Sebut Kiai Sahal Sebagai Penggagas Sekaligus Eksekutor Fiqih Sosial

Selasa 15 Januari 2019 16:23 WIB
Bagikan:
Gus Ulil Sebut Kiai Sahal Sebagai Penggagas Sekaligus Eksekutor Fiqih Sosial
Jakarta, NU Online
Cendekiawan Muda Nahdlatul Ulama (NU) Ulil Abshar Abdalla menyebut bahwa Rais ‘Aam PBNU 1999-2014, KH Sahal Mahfudh merupakan sosok ulama fiqih yang tidak hanya pandai berteori saja, tetapi juga sangat tekun mempraktikkan ilmunya.

Hal itu diungkapkan pria yang akrab disapa Gus Ulil ini dalam sebuah diskusi dengan tema Kontekstualisasi Fiqih dari Era Klasik Hingga Era Kontemporer, di Ngopi Santri Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, pada Ahad (13/1).

“Kiai Sahal ini keren sekali. Beliau mendirikan Rumah Sakit Islam (RSI) di Pati. Setelah itu, beliau mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR),” ungkap menantu KH Mustofa Bisri atau Gus Mus ini.

Hal itu dilakukan Kiai Sahal karena memiliki alasan bahwa umat Islam tidak bisa produktif kalau tidak sehat dan tidak punya akses kepada modal.

“Itu paradigmanya. Jadi umat Islam maju kalau secara fisik mereka tidak sehat dan secara ekonomi tidak punya akses kepada sumber pembiayaan untuk usaha. Jawabannya harus ada solusi yang konkret,” jelas santri Kiai Sahal di Pondok Pesantren Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah ini.

Kalau secara fisik harus sehat, berarti mesti ada rumah sakit dan itu didirikan Kiai Sahal. Kemudian untuk akses modal, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat 2000-2014 ini mendirikan BPR.

“Bank perkreditan rakyat pertama yang didirikan Kiai Sahal bukan BPR Syari’ah,” kata Gus Ulil, mengejutkan hadirin yang memperhatikannya sedari awal dengan saksama.

BPR pertama yang didirikan pertama kali oleh Kiai Sahal itu adalah bank biasa pada umumnya. Baru kemudian, setelah itu, Kiai Sahal mendirikan BPR Syari’ah. “Cara berpikir Kiai Sahal di dalam isu-isu sosial itu sangat kontekstual sekali,” jelas mantan Ketua Lakpesdam PBNU ini.

Gus Ulil melanjutkan, ketika Kiai Sahal mendukung gagasan kontekstualisasi fiqih itu tidak hanya berupa gagasan yang abstrak. Akan tetapi, juga dilakukan secara konkret pada segala kebijakan di dalam membangun berbagai institusi yang dirintis.

“Jadi Kiai Sahal ini bukan kiai yang hanya sekadar ngomong. Tapi beliau bebtul-betul melaksanakan ucapannya dengan merintis sebuah lembaga,” tegas Gus Ulil.

Ia melanjutkan, Kiai Sahal pernah mengatakan bahwa segala sesuatu yang menyangkut masalah sosial-kebudayaan harus berani menggunakan pendekatan yang lebih luas, tidak hanya sekadar menggunakan fiqih saja. “Analisanya bukan analisa tekstual berupa dalil dalam kitab, tetapi juga menggunakan analisa filosofis,” terang Gus Ulil.

Karena itulah kemudian Kiai Sahal mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan membuka kesempatan kepada anak-anak muda yang belajar Sosiologi, untuk ikut mengembangkan masyarakat di Pati ketika itu, dengan menggunakan analisa sosial modern.

“Beliau sangat terlibat di dalam isu pengembangan masyarakat. Jadi Kiai Sahal itu penggagas sekaligus eksekutor fiqih sosial. Dan hasil ijtihad sosialnya Kiai Sahal dan kemudian dilakukan, itu sangat banyak,” tegas Gus Ulil.

Menurutnya, Kiai Sahal adalah contoh ulama yang ideal. Sebab, Kiai Sahal bukan hanya menguasai tetapi juga mampu menerjemahkan dan melakukan kontekstualisasi fiqih.

“Terjemahan fiqih sosial yang dilakukan beliau itu secara teoritis, konseptual, dan juga terjemahan yang lebih konkret dengan mendirikan sebuah lembaga atau institusi yang hingga sekarang masih hidup terus,” pungkas pria yang menempuh program doktoral di Universitas Boston, Massachussetts, Amerika Serikat ini. (Aru Elgete/Ahmad Rozali)
Bagikan:
Selasa 15 Januari 2019 23:59 WIB
41,6 Persen Mahasiswa PAI Pandang Pemerintah 'Thaghut', Ada 2 Hal yang Harus Dilakukan
41,6 Persen Mahasiswa PAI Pandang Pemerintah 'Thaghut', Ada 2 Hal yang Harus Dilakukan
Foto: FB Saiful Umam
Jakarta, NU Online
Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta Saiful Umam menyebut, survey yang dilakukan Center for The Study of Islam and Social Transformation (CISForm) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak bisa mewakili populasi nasional.

“Karena tidak dilakukan secara random (acak). Survey tersebut purposif, terhadap mahasiswa Fak Tarbiyah dari 18 PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) di 9 kota,” kata Umam saat dimintai keterangan NU Online, Selasa (15/1).

Meski demikian, lanjut Umam, temuan CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu harus menjadi perhatian pihak, terutama para pengambil kebijakan. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan potensi masalah yang ada pada calon-calon guru PAI. 
Oleh karena itu, dia menganggap perlu untuk melakukan kajian yang lebih komprehensif terhadap semua Fakultas Tarbiyah di seluruh PTKI, baik negeri maupun swasta, terutama jurusan PAI.

“Riset ini sebetulnya sejalan dengan riset PPIM 2016 terhadap guru-guru PAI, dimana menemukan fakta bahwa lebih dari 70 persen mendukung penerapan Syariat Islam dan memberikan dukungan terhadap kelompok yang memperjuangkan penerapan syariat Islam,” papar Dosen Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Jakarta ini.


“Selain itu lebih dari 80 persen juga tidak setuju orang yang berbeda agama menjadi pemimpin di jabatan-jabatan publik. Ini juga sejalan dengan survei nasional PPIM 2017 terhadapa para pelajar dan mahasiswa dimana lebih dari 40 persen punya pandangan intoleran,” lanjutnya. 

Terkait hal itu, Umam berpendapat bahwa ada dua hal penting yang harus dilakukan. Pertama, mengkaji kembali persyaratan atau seleksi masuk untuk jurusan PAI. Ia mempertanyakan, apakah jurusan PAI terbuka untuk semua lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) tanpa mempertimbangkan penguasaan ilmu agama mereka atau tertutup untuk mereka yang sudah menguasai ilmu agama.

“Dalam riset PPIM 2016, ditemukan korelasi positif bahwa mereka yang mulai belajar agama setelah menjadi mahasiswa (ketika belajar di Fakultas Tarbiyah) punya kecenderungan intoleransi lebih tinggi dibanding mereka yang belajar agama sejak kecil,” jelas Alumni Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen ini. 

Kedua, perlu kajian serius terhadap kurikulum PAI yang diberlakukan saat ini. Bagi Umam, kurikulum PAI harus dikaji dengan serius mengingat banyak hal. Mulai dari sepertiga mahasiswa program PAI berlatar-belakang pendidikan SMA/SMK yang tidak memiliki pendidikan agama yang cukup, hingga komposisi mata kuliah yang terlalu banyak pada teaching method (metode mengajar) dan hanya sedikit porsi substansi ilmu agama.

“Dengan porsi yang ada sekarang, tidak akan mampu menghasilkan guru PAI yang menguasai substansi agama secara mendalam,” tegasnya.

Sebelumnya, berdasarkan hasil surveinya CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengungkap kalau 41,6 % mahasiswa Program Studi PAI berpandangan bahwa pemerintah Indonesia thaghut (sesat, jauh dari kebenaran Islam). Di samping itu, 36,5% mahasiswa Prodi PAI berpandangan bahwa Islam hanya dapat tegak dengan sistem khilafah, 27,4% mahasiswa memiliki pandangan boleh menggunakan kekerasan dalam membela agama. Adapun di level dosen Prodi PAI: sebanyak 14,2% dosen PAI setuju bahwa Islam harus ditegakkan dengan negara Islam dan 16,5% setuju menggunakan kekerasan dalam agama. (Muchlishon)
Selasa 15 Januari 2019 22:19 WIB
Gus Sholah Tegaskan Kejujuran Pangkal Keberhasilan Seseorang
Gus Sholah Tegaskan Kejujuran Pangkal Keberhasilan Seseorang
Gus Sholah (Dok. iNews)
Jombang, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid mengatakan, Islam membawa ajaran kebaikan. Salah satu indikasinya yaitu kehadiran Nabi Muhammad yang selalu berkata jujur, sederhana, dan diturunkannya Al-Qur'an sebagai kitab suci yang membawa kebenaran wahyu Allah SWT.

"Sejumlah peneliti di dunia menegaskan bahwa tidak ada pemimpin di dunia yang lebih baik daripada Rasulullah. Itu diakui oleh semua orang di dunia. Tokoh-tokoh hebat itu, mengakui kehebatan Rasulullah. Salah satunya Mahatma Gandhi dan para sejarawan juga mengakui kehebatan Rasulullah," katanya saat wisuda mahasiswa Ma'had Aly KH Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Senin (14/1).

Dia menyebut, di dalam sebuah penelitian yang melibatkan ribuan orang di seluruh dunia. Bahwa penyebab orang-orang yang berhasil di dunia itu bukan kecerdasan atau keilmuan yang menempati urutan pertama. Tetapi yang pertama itu kejujuran dan ini ada pada Nabi Muhammad. Baru kemudian penyebab yang lain itu adalah kerja keras. 

Kejujuran Nabi Muhammad terlihat saat ia membawa dagangan Khadijah bersama Maysaroh. Sehingga saat itu perdagangannya untung besar. Dan karena kejujuran Rasulullah juga membuat Khadijah mantap menjadi istri Nabi Muhammad.

"Tadi penyebab sukses adalah kejujuran itu, nomer satu. Yang kedua itu kerja keras. Kalau rumusan dari penelitian tadi itu, kerja lebih keras daripada orang lain. Orang lain kerja keras, kita kerja lebih keras. Jadi itulah yang harusnya kita jadikan pegangan selain keilmuan tadi," tambah cucu KH Hasyim Asy'ari ini.

Gus Sholah menceritakan, Pesantren Tebuireng sejak dulu sudah menjadikan kejujuran sebagai karakter wajib santri. Kejujuran masuk dalam ajaran pokok Tebuireng. Lima ajaran Tebuireng ini yang pertama keikhlasan, yang kedua kejujuran, tanggung jawab, bekerja keras, dan dan terakhir tasamuh.

"Tugas pesantren bagaimana menyampaikan nilai-nilai yang lima itu ke dalam diri para santri. Bagaimana menanamkan kejujuran, bagaimana menanamkan tanggung jawab, bagaimana menanamkan kemauan bekerja keras dan sikap toleran, tentunya keikhlasan, iya," imbuh adik kandung Gus Dur ini.

Dia juga menyinggung permasalahan tentang pendidikan di Indonesia yang belum berhasil sejak dulu. Pendidikan sebagian masih fokus pada pembangunan fisik sekolah bukan karakter peserta didik. Kewajiban dan contoh untuk bersikap jujur jarang diterapkan di Indonesia. Sehingga wajar walaupun sudah jadi pejabat tak sungkan untuk korupsi.

"Mudah-mudahan ke depannya, semua sadar dan memperbaiki diri. Dan mudah-mudahan, kita pun bisa memperbaiki mutu pendidikan kita. Bukan mutu pengajaran saja, mutu pendidikan juga. Bagaimana kita membentuk karakter anak didik kita, bagaimana kita membentuk akhlak anak didik kita," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Fathoni)
Selasa 15 Januari 2019 17:15 WIB
Tes Baca Quran bagi Capres-Cawapres? Ini Pendapat Akademisi dan Lakpesdam NU
Tes Baca Quran bagi Capres-Cawapres? Ini Pendapat Akademisi dan Lakpesdam NU
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah A Bakir Ihsan menilai tidak perlu mengadakan tes baca Al-Qur'an bagi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

"Tes baca Al-Qur'an untuk kepemimpinan masyarakat yang majemuk secara agama tidak perlu," kata Bakir kepada NU Online melalui sambungan telepon, Selasa (15/1).

Menurut Bakir, ada yang lebih dibutuhkan masyarakat terhadap seorang pemimpin, yakni kapabilitas dan integritas dalam memimpin warganya.

Hal senada disampaikan Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, Kamis (3/1). Lakpesdam menilai usulan untuk menggelar uji kualifikasi membaca Al-Qur'an pada capres-cawapres merupakan usulan berlebihan.

Menurutnya, usul demikian tidak perlu diperbincangkan terlalu panjang sehingga menjadi bahan pembicaraan yang terlalu serius. Pasalnya isu seperti ini merupakan bagian dari penggunaan agama sebaga komiditas politik.

"Ini berlebihan. Tidak perlu urusan bisa baca Al-Qur'an atau tidak menjadi isu dalam Pilpres. Hal ini bertendensi politisasi agama," kata Rumadi.

Sebagaimana diketahui, Dewan Ikatan Dai Aceh (IDA) mengusulkan adanya tes baca Al-Qur'an bagi kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Usulan itu disebut untuk mengakhiri polemik soal keislaman calon.

Mereka menyampaikan undangan tes tersebut kepada kedua tim pemenangan pasangan capres-cawapres, namun tak kunjung mendapat respons resmi baik dari tim pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Untuk mendapat kepastian respons dari paslon tersebut, mereka memutuskan mendatangi tim pemenangan kedua belah pihak pada Senin (14/1). (Husni Sahal/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG