IMG-LOGO
Esai

Jamiyah Bhenning; KHR Achmad Azaim Ibrahimy, Shalawat, Sastra, dan Budaya

Rabu 16 Januari 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Jamiyah Bhenning; KHR Achmad Azaim Ibrahimy, Shalawat, Sastra, dan Budaya
Screnshot video penampilan Jamiyah Bhenning
Oleh Mukhammad Lutfi

Bagi kebanyakan kita yang tinggal di Jawa, utamanya teman-teman santri pondok pesantren, pasti sudah tidak asing lagi dengan nama-nama seperti Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf–kebanyakan orang mengetahuinya dengan sebutan Habib Syech–, Gus Azmi.

Benar, keduanya adalah pentolan dari majelis shalawat. Habib Syech dengan Ahbabul Mustofa-nya dan Gus Azmi dengan Syubbanul Muslimin-nya. Sebenarnya masih banyak habaib–jamak dari habib–dan kiai yang kemudian memiliki majelis shalawat. Akan tetapi Majelis Shalawat Habib Syech dan Gus Azmi inilah yang beberapa tahun belakangan ini lebih dikenal masyarakat.

Fenomena majelis shalawat yang ada seperti sekarang ini tak pernah sepi dari ribuan jamaah yang kemudian rela berkumpul, dan rela berdesak-desakan demi melantunkan untaian-untaian shalawat Nabi yang dibaca sekaligus diiringi tabuhan alat terbang.

Bergeser ke daerah timur jawa tepatnya di KabupatenSitubondo. Ada yang menarik dari Kabupaten Situbondo ini, daerah ini disebut dengan 'Bumi Shalawat Nariyah'. Mungkin Anda yang pernah berkunjung atau sekedar melintas ketika ke Pulau Bali mengerti akan sebutan itu, karena tulisan 'Bumi Shalawat Nariyah' ini terletak persis di samping jalan Situbondo-Banyuwangi. Saya kurang begitu faham asal-muasal dari sebutan tersebut.

Kembali  ke pembahasan fenomena majelis shalawat, di Situbondo ini pun ada majelis shalawat. Majelis shalawat ini diasuh oleh KHR Achmad Azaim Ibrahimy yang juga merupakan pengasuh dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Di kalangan Nahdliyin pesantren ini sangatlah masyhur. Pesantren ini didirikan oleh KHR As'ad Syamsul Arifin, ulama besar sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya.

Seperti diketahui, pada 18-20 Desember 2018 yang lalu, di pesantren ini ada Muktamar Sastra untuk yang pertama kalinya digelar. Pada malam penutupan gelaran ini KHR Achmad Azaim Ibrahimy meluncurkan Jamiyah Shalawat Bhenning. Jamiyah Shalawat ini juga mengiringi pembacaan parade puisi yang menjadi rentetan dari penutupan Muktamar Sastra.

Saya sebagai mahasiswa sastra tak ingin melewatkan penutupan muktamar sastra ini. Waktu itu saya menyaksikannya di live streaming channel youtube AMTV P2S3 yang tak lain merupakan channel youtube pesantren. Saya cukup bingung karena dari awal hingga akhir penutupan ini selalu diselingi dengan lantunan shalawat dari Jamiyah Shalawat Bhenning. Selesai baca puisi diselingi shalawat, selesai sambutan shalawat lagi, begitu terus sampai akhir setiap pindah penampilan selalu diselingi shalawat.

Uniknya lagi lantunan shalawat yang dibawakan oleh mejelis shalawat ini menggunakan perpaduan bahasa Arab dan Madura mungkin karena daerah ini Pendalungan–asimilasi dari budaya Jawa dan Madura. Tempo pukulan rebana pengiringnya pun sedikit berbeda dari majelis-majelis shalawat seperti Habib Syech dan Gus Azmi. Dan pada satu penampilannya para pemain dari majelis shalawat ini memakai caping yaitu pada saat melantunkan lagu ole olang –lagu tradisional Madura. Kalai itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi Ajara Ombak oleh KHR Achmad Azaim Ibrahimy.

Terlepas dari keunikan Jamiyah Shalawat Bhenning ini, kemudian saya memfokuskan pada sesi ketika pemutaran video asal-usul dan perjalanan Jamiyah Shalawat Bhenning yang diputar saat penutupan Muktamar Sastra.
Dalam video tersebut sang narator menjelaskan muasal Jamiyah Shalawat Bhenning ini. Kira-kiranarasinya seperti berikut ini

Mulanya mejelis ini terbentuk dari para pemuda, abang becak, tetangga yang berada di sekitar lingkungan pesantren, beserta juga disertai oleh pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Almukaram KHR Achmad Azaim Ibrahimy. 

Bertepatan pada tanggal 14 Mei 2015 dilaksanakanlah pengajian yang bertema 'Semalam di Karangan' dalam acara renungan suci bersama KHR Achmad Azaim Ibrahimy. Pemberian nama 'Bhenning' baru muncul ketika inisiasi jamiyah hadrah pasca acara renungan malam di karangan.

Pada tanggal 21 Mei 2015 tercetuslah nama 'Bhenning'. Pemberian nama 'Bhenning' itu langsung diberikan oleh KHR Achmad Azaim Ibrahimy. Seiring perkembangannya konsep acaranya mengalami metamorfosa; lantunan shalawat;pagelaran puisi; drama teatrikal; dilanjutkan ceramah dan tanya jawab hadirin dengan KHR Achmad Azaim Ibrahimy.

Pengajian ini tidak ada tujuan lain, hanya ingin berkontemplasi bersama untuk menjernihkan hati, jiwa, pikiran, dan tingkah laku. Dengan harapan semoga bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat tanpa melihat latar belakang dan asal-usulnya. Asalkan di dalam hatinya ada kerinduan untuk belajar mencintai Rasulullah maka ia adalah saudara. Dan berikrar terendam sama basah, terampai sama kering.

Kita berjanji untuk saling megikat hati sampai hari kiamat tiba. Dan semoga Allah merahmati kita semua dan kelak kita bersama-sama di bawah naungan bendera Rasulullah Saw. Aamiin.

Dari penyampaian narator di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa Jamiyah Shalawat Bhenning ini merupakan perpaduan antara dakwah, shalawat, sastra, dan budaya. 

KHR Achmad Azaim Ibrahimy sebagai simbol dakwah; untaian pujian kepada Nabi sebagai simbol shalawat; pagelaran puisi dan teatrikal sebagai simbol sastra; serta penggunaan bahasa Madura adalah simbol budaya. 

Wallahu A’lam

Penulis adalah mahasiswa UIN Malang, kelahiran Pasuruan, mengabdi di Pusat Ma’had Al Jamiah UIN Malang.

Bagikan:
Rabu 16 Januari 2019 20:40 WIB
Jalan Terjal Penyelesaian Kasus HAM Besar di Indonesia
Jalan Terjal Penyelesaian Kasus HAM Besar di Indonesia

Ahmad Rozali

Proses penegakan HAM di Indonesia tak akan mudah, terlepas dari siapapun yang terpilih pada Pilpres 2019. Perkaranya sederhana; kedua kubu masih ‘menggunakan’ jasa kelompok yang memiliki kepentingan berbeda dengan tujuan penegakan kasus HAM. Kendati begitu, kans Jokowi lebih besar dibanding Prabowo untuk menyelesaikan masalah HAM berat di masa lalu.

Kira-kira itu kesimpulan dari diskusi dua jam dengan tema 'Merawat Keindonesiaan' di Jakarta, Rabu (16/1) siang ini yang menghadirkan sejumlah pembicara berkelas seperti Prof Arbi Sanit Guru Besar Fisip Universitas Indonesia, Peneliti Politik LIPI Prof Indria Samego, Pengamat Kebijakan Publik UI Dr Lisman Manurung dan Direktur Indonesian Public Institute Karyono Wibowo.

Kendati semua dari empat pembicara memiliki kesimpulan yang demikian sama, yakni besarnya tantangan penyelesaian kasus HAM masa lalu, masing-masing memiliki narasi penjelasan yang berbeda.

Prof Arbi Sanit mengajukan pandangan penyebab beratnya penyelesaian HAM, di mana salah satu yang terbesar adalah adanya konflik kepentingan yang begitu kuat antara kelompok-kelompok yang berada di dalam 'lingkaran' kasus penyelesaian HAM.

Kelompok pertama yang dimaksud adalah kelompok yang berasal dari bagian dari eks rezim Soeharto yang sejak reformasi bergulir hingga saat ini 'bercokol dan diandalkan' pemerintah. Di saat yang bersamaan sebagian partai politik juga 'bergantung' pada kelompok ini. Kelompok kedua adalah pemerintah sendiri yang masih begitu bergantung pada kelompok pertama. Akibatnya, kebijakan yang dilahirkan pemerintah dalam rangka penyelesaian masalah ini masih ‘setengah hati’.

Kesannya, kepentingan kedua kelompok ini bertentangan dengan kelompok ketiga, yakni pada korban pelanggaran HAM yang berasal dari berbagai kasus, seperti peristiwa Tanjung Priok, korban peristiwa 1965, peristiwa penculikan dan pembunuhan sepanjang Reformasi 1998 dan kasus lain. Kelompok ini biasanya berjalan bersama dengan para aktivis HAM.

Pertarungan kepentingan ini kata Arbi Sanit terjadi saat kelompok korban dan aktivis memperjuangkan penyelesaian kasus HAM yang bertentangan dengan kepentingan kelompok eks rezim Soeharto. Sementara di saat yang bersamaan, pemerintah begitu dekat dengan eks kelompok Soeharto.

Menurut Arbi Sanit, komposisi pemerintahan semacam yang melibatkan kelompok eks rezim Soeharto masih akan berlangsung lima tahun yang akan datang terlepas siapapun yang terpilih di antara kubu petahana dan penantangnya. “Tidak ada yang memungkiri bahwa mereka terlibat dalam kesalahan tapi mereka juga berkuasa, karena pemerintah bergantung pada mereka” katanya menggambarkan. Sehingga menurutnya upaya penyelesaian kasus ini sama sekali tidak akan mudah.

Hal serupa juga menjadi kesimpulan Prof Indria Samego MA. Walaupun tak mustahil terjadi dilakukan, tapi penyelesaian kasus ini tidak akan terjadi dengan cepat. Sebab kecenderungan dari rezim penguasa selama ini lebih menghindari efek buruk dari kegaduhan yang diakibatkan oleh upaya penyelesaian kasus HAM. Bagaimanapun, upaya ini akan menyeret nama-nama besar yang memiliki pengaruh yang tidak kecil yang sebagian sedang berada di dalam pemerintahan.

“Sorry to say, tapi Anda harus bersabar; tidak akan ada perubahan radikal dalam penyelesaian kasus HAM. Mengharapkan hukum menjadi panglima adalah hal yang mustahil terjadi dalam waktu singkat. Karena takut ribut, akhirnya solusinya yang bersifat jangka pendek yang tujuannya sekedar melupakan konflik sementara. Mereka diberi solusi kecil yang penting diam. Ya semacam neo-kompromi atau neo-harmoni yang penyelesaiannya bukan berdasarkan hukum,” kata Prof Indria.

Ini tak jauh berbeda dengan paparan Arbi Sanit mengenai ketergantungan pada sejumlah nama besar eks yang memiliki sangkutan dengan sejumlah kasus masa lalu yang masih berada dalam kabinet. “Seperti sebuah lagu long way to go, jalan menuju penegakan HAM masih panjang,” kata Indria berkelakar.

Dr Lisman Manurung hanya mengatakan, bahwa Pemerintah Indonesia belum sepenuhnya mengaplikasikan sistem Good Governance yang mengutamakan kepentingan masyarakat luas dalam konteks HAM melebihi kepentingan elit. Selama itu terjadi, maka penyelesaian kasus-kasus ini masih akan berjalan lambat. Secara umum, kondisi di Indonesia yang masih berjibaku dengan susahnya penyelesaian kasus HAM masa lalu menurutnya jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain yang telah disibukkan dengan isu lain yang lebih maju.

Karyono Wibowo saat ditanya pendapatnya secara spesifik tentang kemungkinan Prabowo menyelesaikan masalah HAM, Terorisme dan Radikalisme. “Kalau pertanyaannya, mampukah Prabowo menuntaskan kasus penculikan? Itu nggak mungkin dilakukan Prabowo, karena sama saja mengadili dirinya sendiri,” katanya.

Dalam hal lain mengenai penyelesaian kasus radikalisme, ia juga meragukan hal tersebut mengingat penolakan parpol pendukung prabowo seperti Gerindra dan PKS terhadap pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia. “Itu mengesankan dia berada dalam kelompok tersebut, dan dalam posisi ini, sulit untuk mempercayai bahwa Prabowo akan memberantas kelompok ini. Lalu hal lain karena kemesraan Prabowo dan tokoh-tokoh radikal begitu terbuka, termasuk dalam aksi 212. Dibanding Jokowi, Prabowo lebih dekat dengan kelompok radikal,” ujar Karyono.

Walaupun para pembicara menyimpulkan besarnya tantangan atas upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM di tanah air, tapi para pembicara juga bersepakat bahwa dalam hal ini Jokowi lebih memiliki kemungkinan lebih besar dalam melakukan upaya ini pada periode keduanya, dengan catatan Jokowi mampu mengurangi ketergantungan pada kelompok-kelompok eks Soeharto. Jika Jokowi bisa menghidari ketergantungan pada eks rezim Soeharto dan lebih dekat para rakyat serta partai politik maka besar kemungkinan proses penegakan HAM akan berjalan. Tapi jika ia tetap mengandalkan eks Soeharto maka mimpi penyelesaian kasus HAM besar ini akan ‘jauh api dari panggang’.


Redaktur NU Online

Selasa 15 Januari 2019 20:0 WIB
Sedekah Tidak Harus Rupiah
Sedekah Tidak Harus Rupiah
Ilustrasi (hipwee)
Oleh Rifatuz Zuhro

Sedekah tidak harus rupiah. Apa ada yang biasa mengucapkan itu? Atau berpikiran seperti itu? Bahwa sedekah tidak hanya bisa dilakukan dengan rupiah, namun juga dengan amal-amal baik yang tidak bisa dinilai dari sisi materi. 

Seperti halnya hadis Rasulullah SAW yang sangat familiar di kalangan kaum muslim bahwa Rasulullah Saw bersabda “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah,….” (HR Tirmizi dan Abu Dzar). 

Tentu itu merupakan sebuah kemurahan Allah Ta’ala untuk memberikan kemudahan dan ganjaran yang berkali-kali lipat untuk seorang muslim yang secara tulus memberikan senyum kepada saudaranya sehingga saudaranya merasa senang.

Kata kuncinya di sini adalah membuat saudara merasa senang, nyaman dan saling memiliki sebagai saudara sesama muslim. Namun pertanyaannya, bagaimana dengan senyum yang dipaksakan atau senyum yang tidak sampai menyentuh hati saudara kita ketika kita berusaha senyum, atau ramah tamah dengannya? Jawabannya memang bisa sederhana dan bisa juga meluas. Sederhananya, mungkin saja kita memberikan senyuman itu dengan tidak ikhlas, juga bisa jadi, saudara kita memerlukan sebuah pertolongan yang lebih dari sebuah senyuman.

Allah Ta’ala sangat memberikan kemudahan untuk hamba-Nya dalam berbuat kebaikan, semua pintu kebaikan telah ditunjukkan dan dibukakan, tinggal manusia dengan segala daya yang telah diberikan-Nya mau memberikan kebaikan sebesar dan seluas apa. Meski ketika dalam keadaan tidak berdayapun (keadaan sempit) masih bisa memikirkan orang lain atau tidak.

Kita berusaha saja untuk menerka kemurahan Allah Ta’ala, kenapa Allah Ta’ala yang telah mewajibkan Zakat, namun juga menganjurkan (menguji) manusia untuk juga bersedekah?

Pertama, sebagai wujud syukur. Dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah Ta’ala untuk hamba-Nya, apakah manusia mampu bersyukur dengan menunaikan zakat dan berbagi (sedekah) atau tidak sama sekali? Apakah manusia akan lebih takut kehilangan hartanya atau lebih tidak takut mendapatkan murka-Nya? Tentu saja kita tidak harus memposisikan Allah Ta’ala sebagai Tuhan yang Maha Pemaksa, namun ketika kalian merasakan demikianpun, itu sesungguhnya cara Allah Ta’ala untuk menjaga kalian agar tidak terlalu jauh dari-Nya dan lalai dari nikmat-Nya yang ujung-ujungnya akan mendatangkan kerugian dan kegelisahan hidup yang tidak berkesudahan.

Kedua, misi kemanusiaan. Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu dengan kadar yang seimbang. Pun, demikian juga ketika Allah memberikan sebuah perintah dan anjuran pasti ada maksud yang besar di dalamnya. Potensi zakat sangat luar biasa yang bisa dimanfaatkan untuk kesetaraan sosial, pendidikan, ekonomi dan juga kesehatan. Allah menciptakan kaya dan miskin untuk manusia bisa saling mengisi kekosongan dan kesenjangan. Allah menitipkan sebagian rizki manusia di atas sebagian rizki manusia yang lainnya untuk manusia saling berinteraksi dan menghidupkan radar kemanusiaannya supaya memahami hak dan kewajiban sebagai manusia.

Ketiga, keseimbangan ekonomi. Zakat yang bisa menopang pertumbuhan ekonomi lebih terikat dengan haul dan nishab. Dibutuhkan kadar, takaran dan waktu tertentu untuk menunaikannya. Namun, sedekah tidak sama sekali terikat dengan haul dan nishab, jumlahnya bisa sedikit dan banyak, waktunya bisa kapan saja. Sehingga manfaatnya pun bisa lebih kondisional atau lebih tepat waktu ketika dibutuhkan oleh orang yang membutuhkan.

Tidak berarti juga materi itu lebih penting dari pada akhlak. Namun alangkah baiknya materi digunakan sebagai jalan berbuat kebaikan dengan cara yang baik pula. Sedekah rupiah penting, senyum juga penting. Dan akan lebih penting jika sedekah rupiah yang dibarengi dengan senyuman. Atau jika tidak harus dengan rupiah, sedekah juga bisa dengan dolar.

Penulis adalah copy writer PP NU Care-LAZISNU.




Kamis 10 Januari 2019 18:0 WIB
Kedekatan KH Abdurrahman Nawi dan Habib Munzir
Kedekatan KH Abdurrahman Nawi dan Habib Munzir
Abuya dan Habib Munzir
Oleh Ahmad Rifaldi 

Peran KH Abdurrahman Nawi –sapaan akrab Abuya- dalam berdakwah memberikan banyak manfaat dan kesan baik bagi kaum Muslimin yang ada di Jakarta. Kesan publik dalam melihat kealiman Abuya sudah tidak diragukan, terutama karena produktivitasnya dalam menghasilkan banyak karya. 

Karya-karya yang lahir dari berbagai macam cabang keilmuan seperti tauhid bernama Sullamul Ibad, nahwu bernama Nahwu Melayu, fiqh yang spesifik menjelaskan tentang tata cara berhaji bernama Manasik Haji, dan lain-lain yang kemudian karya tersebut ditulis dengan bahasa yang sederhana sehingga masyarakat awam dapat memahami dengan lebih mudah. Sehingga banyak kalangan asatidz di Jakarta yang timbul kala ini sebab berkah mengaji kepada Abuya KH Abdurrahman Nawi.

Dikatakan oleh murid Abuya bahwa dahulu saat Abuya masih aktif dalam berdakwah, Abuya bukan hanya dianggap milik Al-Awwabin yakni pesantren yang didirikannya, akan tetapi lebih dari itu, ia sudah dianggap milik sejuta umat. Sehingga sosok karismatik Abuya sudah sangat mewarnai kehidupan banyak orang.

Bahkan bukan hanya dikalangan asatidz dan kiai, sosok karismatik Abuya sangat disegani oleh para habaib, baik di Jakarta maupun lintas daerah. Salah satunya adalah Almarhum Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa. Ia merupakan pendiri Majelis Rasulullah yang sampai kini majelisnya masih tetap eksis “bergerilya” di sekitaran Jabodetabek meskipun Habib Munzir sudah tiada.

Diceritakan oleh Ustadzah Diana Rahman yang merupakan salah satu putri KH Abdurrahman Nawi yang kini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Awwabin khusus putri Bedahan, Depok bahwa kedekatan Abuya dengan Habib Munzir mengalir bagaikan kedekatan seorang anak kepada orang tuanya. Jika ada masalah tentang kesulitan berdakwah ataupun beberapa kesulitan lainnya yang menimpa umat muslim khususnya di Jakarta, Habib Munzir datang untuk meminta nasehat dan solusi dari Abuya. Lebih dari itu, Habib Munzir sendiri meminta izin kepada Abuya untuk diangkat sebagai anak. Lantas Abuya pun mengizinkan hal tersebut. 

Hal seperti ini menjadi keunikan tersendiri dalam kisah hubungan seorang murid dengan gurunya. Habib Munzir melihat bahwa Abuya merupakan ulama sepuh yang sangat disegani banyak orang. Sehingga Habib Munzir merasa perlu belajar banyak kepada Abuya tentang berbagai hal, terutama yang menyangkut dalam dakwah di Jakarta.

Sampai kini, hubungan pengasuh Majelis Rasulullah dengan Abuya KH Abdurrahman Nawi masih berjalan baik. Abuya terkadang masih suka didatangi oleh Habib Nabiel Al-Musawa yang merupakan saudara Habib Munzir.

Cara Abuya dalam berdakwah adalah melakukan pendekatan yang menyesuaikan karakter orang. Di satu sisi Abuya bisa bergaul dengan para habaib, namun disisi lain hubungan Abuya dengan para kiai dan juga tokoh bangsa tetap erat. Artinya menjadi seorang pendakwah bukan untuk mengotak-kotakan golongan, namun justru untuk menyatukan semuanya. Baik untuk kalangan ulama dan umaro agar tidak terpecah. Akan tetapi kedekatan itu tentu saja harus dilakukan dengan metode yang lembut, sopan, dan tegas dalam ketidaksesuaian.

Hal seperti ini senyalir dengan konsep golongan masyarakat di zaman Wali Songo yang dalam sebuah keterangan termasuk dalam bagian dari ajaran Sunan Kali Jaga. Bahwa terdapat tujuh golongan masyarakat yang diukur dari keterikatan seseorang dengan kebutuhan duniawi. Yaitu golongan brahmana, golongan ksatria, golongan waisya, golongan sudra, golongan candala, golongan mleca, dan golongan tuja

Golongan brahmana itu merupakan golongan paling tinggi karena memiliki kewibawaan yang kuat dan meresap bagi setiap orang. Mereka dikenal suci yakni mengosongkan diri dari kebutuhan duniawi yang berlebihan. Golongan ini termasuk diantaranya adalah ulama. Tugas ulama adalah untuk menyambungkan hubungan bagi golongan-golongan di bawahnya, terutama adalah golongan ksatria.

Golongan ksatria merupakan orang-orang yang membangun jalan, mengusahakan agar rakyat tidak kelaparan, menjalankan hubungan dengan wilayah lain. Mereka tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi tapi kehidupannya dijamin oleh institusi Negara. Mereka adalah pemimpin rakyat atau umaro. Maka menjadi seorang brahmana tidaklah mudah. Ia harus selalu memberikan kesan baik bagi semua orang dan juga selalu membantu orang untuk menyelesaikan masalahnya dengan pendekatan ketuhanan. Sehingga ada koneksi yang sifatnya linear dari atas ke bawah dan senantiasa bersambung secara dinamis.

Dengan demikian, dapat terlihat bahwa esensi seorang ulama adalah untuk merangkul, memberikan perangai yang sederhana, dan selalu terbuka kepada siapapun. Itulah yang membuat Abuya KH Abdurrahman Nawi dianggap milik umat. 


Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG