IMG-LOGO
Pustaka

Mengenal Kitab Ushul Fiqh ‘Al-Mustashfa’ Karya Imam al-Ghazali

Rabu 16 Januari 2019 20:30 WIB
Bagikan:
Mengenal Kitab Ushul Fiqh ‘Al-Mustashfa’  Karya Imam al-Ghazali
Al-Ghazali bernama lengkap Abû Hâmid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thûsî al-Syâfi’î. Ia lahir di Thûs pada tahun 450 H dan wafat serta dikebumikan di kota yang sama  pada tahun 505 H, pada kisaran usia 52-55 tahun. (As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah: 6/191).

Ada dua riwayat yang menyebutkan penisbatan beliau dengan al-Ghazalî. Pertama, disebabkan karena ayah Imam al-Ghazali adalah seorang pemintal bulu kambing. Pemintal dalam istilah Mu’jamu al-Arab disebut Ghazala. Ahli pintal dikenal dengan istilah Ghazâl. Jadi, nisbat al-Ghazâlî seolah menunjuk pada keahlian sang ayah sebagai juru pintal. Ibnu Imad menjelaskan ini dalam kitabnya Syadzarâtu al-Dzahab fi Akhbâri Man Dzahab, juz 6 halaman 19. Riwayat kedua menghubungkan nisbah al-Ghazâlî dengan desa tempat al-Ghazali dilahirkan yaitu Ghazâlah, sebuah kota yang menjadi bandar dari kota Thûs, yang berada di wilayah Khurasân, Persia (Iran). 

Pendidikan al-Ghazali diawali dengan berguru di kepada seorang sufi besar di masanya, yaitu Ahmad bin Muhammad al-Razikânî. Berikutnya, ia masuk ke sebuah ribath yang diasuh oleh Syeikh Yusuf Al-Nasaj. Setelah tamat, kemudian ia melakukan rihlah ilmiahnya yang diawali ke kota al-Jurjân, lalu berguru kepada Abu Nashr al-Ismâ’ily. Beberapa kitab hadits yang sempat dipelajarinya adalah sebagai berikut:

1. Shahih Bukhâri, dipelajari dari Abû Sahl Muhammad ibn Abd allâh al-Hafsh dan Abû al-Fatyân Umar al-Ruasâi. Khusus dari ulama’ terakhir, ia juga mempelajari Shahih Muslim
2. Sunan Abu Dawud dari al-Hâkim Abû Fath al-Hâkimî
3. Maulid Nabi dari Abû Abdillah Muhammad ibn Muhammad al-Khawwâni

Di usia 20 tahun ia pergi dari al-Thûs menuju ke pusat kota Nisabûr, yang saat itu menjadi kota ilmu pengetahuan yang masyhur hingga hancurnya oleh tentara Mongol di Tahun 1256 M. Di kota ini ia masuk di Universitas Nidhâmiyah, dan berguru kepada Abu al-Ma’âlî al-Juwaini (Imam Haramain) sampai beliau wafat kurang lebih tahun 478 H (1084 H). Di al-Nidhâmiyah inilah, kemudian al-Ghazali diangkat sebagai guru besar madrasah itu, yaitu pada tahun 1090 M/482 H dan berlangsung selama 6 tahun. Tahun 488 H, beliau memutuskan kembali ke tanah kelahirannya yaitu al-Thûs lalu mendirikan sebuah khanaqah (semacam tempat tajrîbah/latihan bagi para sufi yang ingin mempelajari dzikir dan olah batin). Seluruh perjalanan ini, terangkum dengan baik di dalam kitabnya yang berjudul al-Munqîdz min al-Dlalâl. (Al-Ghazali, Al-Munqidz Min al-Dhalal, Kairo: Dar al-Nasr Li Taba’ah 1968, 75).

Baca juga:
Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah
Menengok Isi Kitab Ushul Fiqh 'al-Burhan' Karya Imam Haramain
Al-Ghazali dalam perjalanan intelektualnya, dikenal sebagai sosok ulama terkemuka yang menguasai berbagai bidang keilmuan termasuk ilmu kalam, filsafat, sastra, manthiq, fiqih, ushul fiqih, hadits, bahkan seorang teolog. Karena daya ingatnya yang kuat dan mampu berdialog dengan baik, maka ia mendapatkan gelar sebagai hujjatu al-islâm oleh para tokoh di zamannya, sebagai bentuk penghargaan atas perannya yang besar dalam mewarnai pemikiran umat Islam kala itu. Al-Isnawi dalam kitab Thabaqat-nya sebagaimana dikutip oleh Ibnu Imad menggambarkan sosok al-Ghazali sebagai berikut:

الغزّالي إمام باسمه تنشرح الصدور، وتحيا النفوس، وبرسمه تفتخر المحابر وتهتزّ الطّروس، وبسماعه تخشع الأصوات وتخضع الرؤوس ولد بطوس، سنة خمسين وأربعمائة، وكان والده يغزل الصّوف ويبيعه في حانوته

Artinya: “Al-Ghazzali adalah seorang imam yang dengan namanya dada menjadi lapang, jiwa menjadi hidup, tinta-tinta menjadi berbangga ketika menulis namanya, kertas-kertas terguncang mendengar namanya, suara-suara akan jadi khusyuk dan kepala-kepala akan tertunduk. Beliau dilahirkan di Thus tahun 450 H. Ayahnya menenun bulu dan menjualnya di tokonya.”  (Ibnu Imad, Syadzarâtu al-Dzahab fi Akhbâri Man Dzahab, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyah, tt.: Juz 6 halaman 19)

Al-Ghazali memiliki banyak karya tulis. Beberapa karya yang menjadi masterpiece-nya dan terkenal di Indonesia adalah kitab Ihyâ Ulûm al-Dîn. Ada juga karya yang lain, dan turut terkenal dan diajarkan di pesantren-{pesantren nusantara antara lain Bidâyat al-Hidâyah, Minhâj al-‘Abidîn, al-Munqîdz min al-Dlalâl dan al-Wasîth dan al-Wajîz. Di dalam ushul al-fiqh, al-Ghazali memiliki sejumlah karangan antara lain al-Mustashfa, al-Mankhul, al-Ma’lul fi ikhtilifayah, Tahdzîb al-Ushûl, dan Shifâu al-Ghalil. Sebenarnya masih banyak kitab karya yang lain, namun dari kesekian kitab itu masih agak jarang ditemui di dunia pesantren selain empat kitab yang telah disebutkan di atas. 

Untuk mengetahui pemikiran maqâshid dari al-Ghazali, maka kitab rujukan yang paling disarankan adalah kitab al-Mustashfa. Kitab ini disusun kurang lebih 900 halaman. Di dalam kitab ini, Al-Ghazali seolah menunjukkan kapasitasnya sebagai ahli dalam bidang ushul al-fiqh. Penting diketahui bahwa al-Ghazali merupakan sosok pemikir dan tasawuf yang bermadzhab al-Syâfi’i. Oleh karena itu, disarankan bagi para pembaca yang menginginkan untuk mendalami kitab ini, agar membingkaikan diri terlebih dahulu dengan pagar madzhab ini sehingga dapat menyerap apa yang dimaksudkan oleh al-Ghazali di dalam kitabnya. 

Kandungan Kitab al-Mustashfa

Kitab al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali menjadi bukti kualitas dan kapabilitas sang pengarang di bidang fiqih. Di bagian akhir kitab al-Mustashfa, Imam al-Ghazâli menyebutkan bahwa kitab tersebut selesai ditulis pada tahun 503 H. Berbekal informasi ini dan bersandarkan pada publikasi ilmiah bahwa kitab tersebut ditulis selama tiga tahun, maka dapat disimpulkan bahwa beliau memulai proyek risetnya ini kurang lebih pada tahun 499 H. 

Pada tahun 499 H, al-Ghazâlî mendapat permintaan dari para mahasiswanya di Universitas Nidhâm al-Mulk agar menulis sebuah kitab pegangan (semacam diktat) tentang metode penggalian hukum Islam. Berbekal permintaan inilah, lalu dijawab oleh al-Ghazâli dengan menghadirkan kitab al-Mustashfa min 'Ilm al-Ushûl. Jika menilik dari tahun akhir penulisan, maka kurang lebihnya al-Mustashfa adalah kitab akhir dari karya beliau. Kitabnya ditulis dalam kondisi alam pemikiran yang sudah benar-benar matang (Louay Safi, The Foundation of Knowledge; A Comaparative Study in Islamic and Western Methods of Inquiry, Selangor: IIUM dan IIIT, 1996, hal: 8-9).

Baca juga:
Mengenal Kitab-kitab Fiqih Perbandingan Mazhab
Detik-detik Wafatnya Imam Al-Ghazali
Melihat dari judul kitabnya “al-Mustashfa” yang berarti upaya menuju kondisi shafiyun (bersih), maka seolah kitab ini menggambarkan akhir perjalanan hidup beliau yang sempat menyatakan diri keluar dari Universitas Nidhâm al-Mulk untuk berkonsentrasi pada dunia ketasawufan. Dan apabila melihat bahwa kitab ini disandarkan pada satu disiplin ilmu ushûl al-fiqh, maka seolah kitab ini beliau hadirkan sebagai wujud metode menempuh jalan pemurnian hati melalui pola penggalian hukum fiqih. Dan sebagaimana pernah beliau sampaikan bahwa maqâshid syarîah pada dasarnya adalah upaya mencapai kesejahteraan (sabîli al-ibtida’), maka yang dimaksud oleh beliau sebagai kesejahteraan olehnya adalah tidak jauh amat dari nama salah satu judul kitabnya yaitu upaya mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat (sa’âdah fi al-dunya wa sa’âdah fi al-âkhirat). Hal ini tertuang sebagaimana isi dari kitab Kimiyâu al-Sa’âdah li al-Ghazâli.

Kitab al-Mustashfa disusun dengan penggunaan gaya bahasa yang imbang antara sulit dan mudah. Sistematika penyusunan kitabnya juga unik, karena terkesan rapi dan penyelidikan isi yang cermat. Isi kitab seolah membawa daya tarik tersendiri kepada pembacanya untuk terus-menerus membaca, bahkan jauh dari kesan membosankan, meskipun uraiannya panjang. Pantaslah kiranya kalau al-Juwaini menjuluki Imam al-Ghazali sebagai al-bahru maghrûq (samudera yang menenggelamkan). Pembaca karyanya tidak terasa seperti terhipnotis atas uraiannya sehingga sulit untuk mencari titik lemahnya. Istilah zaman sekarang adalah “diam-diam menghanyutkan”. Itulah kiranya padanan julukan dari al-Juwaini ini kepada al-Ghazâli. 

Jika umumnya para penulis ushul fiqh memulai bahasannya mengenai bahasa hukum dan premis-premis kebahasaan dalam penalaran hukum, lalu dilanjutkan dengan kajian dilâlatu al-ahkâm (dalil-dalil hukum), ikhtilâf dan ittifâq di dalam hukum, ijtihad dan mujtahid serta syarat mujtahid, lalu taqlid dan diakhiri dengan metode tarjîhât al-ahkâm, namun semua itu tidak dengan al-Ghazâli dalam kitab al-Mustashfa ini. Kitab al-Mustashfa diorganisasikan dalam apa yang disebut dengan istilah “quthub.” Al-Ghazali mendefinisikan quthub sendiri sebagai sesuatu yang memuat substansi yang dituju (والأقطاب هي المشتملة على لباب المقصود). 

Kurang lebih ada 4 quthub dalam al-Mustashfa. Mungkin maksud pengorganisasian ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa semua materi yang dikaji dalam tiap-tiap quthub-nya adalah berhubungan erat antara satu sama lain membentuk suatu kesatuan bahasan dalam satu ide sentral yang menjadi topik utama kajiannya. 

Lantas apa sebenarnya tujuan utama beliau dalam membagi kajian ushul fiqih menjadi 4 quthub ini? Asumsi dasar penulis kemungkinan hal itu ditujukan untuk menjawab empat dasar pertanyaan dasar ushul fiqih, antara lain:

1) Apakah hukum syar’i itu?
2) Di mana hukum syar’i itu ditemukan atau apa sumber hukum syar’i itu?
3) Bagaimana cara (metode) menemukan hukum dari sumber hukum syar’i?
4) Siapa yang berwenang melakukan penemuan hukum syar’i dari sumber-sumber hukum tersebut?

Keempat pertanyaan inilah yang menyebabkan bahasan al-Mustashfa dibagi menjadi 4 quthub. Dengan berbekal pertanyaan ini, maka seolah al-Mustashfa memang hadir tidak lepas dari setting sosial al-Ghazâli sendiri yang sangat panjang dan bahkan sempat menggambarkan dunia eskatisme yang pernah beliau alami saat beliau memutuskan berhenti dari mengajar di Universitas Nidhâm al-Mulk untuk menekuni dunia tashawuf dan tazkiyâtu al-nafs (pembersihan jiwa).

Pada bagian awal muqaddimah kitab, al-Ghazâli membaginya menjadi tiga sub-pembahasan. Di sub pertama, ia menjelaskan latar belakang dan motif mengapa ia menulis kitab ini (hal. 8-10). Sub kedua, ia membahas mengenai apa itu usul fiqih, kedudukannya dalam struktur ilmu-ilmu keislaman, sistematika dan ruang lingkup kajian ushul fiqh (hal. 11-18). Di bagian sub ketiga, al-Ghazâli membahas mengenai logika Yunani. Di bagian sub ketiga ini, beliau menjelaskan banyak hal tentang logika dengan sangat menarik hingga mencapai kurang lebih 40 halaman tersendiri (hal. 19-68).

Quthub pertama al-Mustashfa membahas tentang hukum syar’i. Di bagian ini, ia membagi kajian menjadi empat pokok bahasan utama. Pokok bahasan pertama, membahas mengenai hakikat hukum itu sendiri sebagai khithab syar’î (sapaan Ilahi) yang ditujukan kepada perbuatan subjek hukum (mukallaf). Tanpa adanya khithab syar’i, maka tidak ada hukum (hal. 68-80). 

Pada pokok bahasan pertama, al-Ghazâli membahas mengenai pembagian hukum. Pembahasan ini diawali dengan sebuah diskusi pendahuluan mengenai hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Pembahasan dilanjutkan dengan membahas 15 masalah yang keseluruhannya membicarakan mengenai korelasi dari kelima hukum dengan lafadh amar (perintah) dan nahî (larangan) (hal. 80-100).

Pada pokok bahasan ketiga, ia membahas mengenai ‘anâshir al-ahkâm yang di dalam istilah al-Ghazâli disebut arkân al-hukm yang memuat materi hukum itu sendiri. Menurut al-Ghazâli, hukum itu memiliki beberapa rukun, antara lain adalah adanya al-hâkim (pembuat hukum), subjek hukum (al-mahkûm ‘alaih) dan objek hukum (al-mahkûm fîh). Pembahasan arkânu al-hukm ini dibahas sampai 11 lembar (hal. 100-111). Berikutnya, di pokok bahasan keempat, al-Ghazâli mengajukan sebuah diskusi tentang dialektika sebab-sebab hukum dan hubungan hukum dengan sebab-sebab tersebut. Imam al-Ghazâli mengistilahkannya dengan sebutan hukum wadl’i (hal. 111-118).

Pembahasan dari al-Mustashfa ini sangat menarik untuk dicermati. Cakupannya luas, dan insyaallah dalam beberapa edisi tulisan mendatang, kita akan berkonsentrasi pada kitab ini untuk menggali maqâshid al-Ghazâli, mengingat Indonesia pada khususnya, dan Nusantara pada umumnya, banyak yang menggunakan karya beliau sebagai bagian dari kurikulum yang diajarkan di setiap pesantren. Bagaimana sikap beliau dengan manhâj iqtishâd-nya (metode “tengah-tengah”), mungkin akan banyak mewarnai tulisan-tulisan mendatang. Wallâhu a’lam.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBM PWNU Jatim
Tags:
Bagikan:
Selasa 15 Januari 2019 7:3 WIB
Seruan Tuhan untuk Orang-orang Beriman
Seruan Tuhan untuk Orang-orang Beriman
Di zaman yang kian menua, pembacaan terhadap al-Quran hanya bernada ritual semata. Adalah sebuah ironi kala Al-Qur'an yang didapuk sebagai pedoman umat manusia, khususnya umat Islam, hanya dibaca tanpa ditelaah makna dan kandungannya.

Paling banter, kita hanya menengok terjemahan untuk mengetahui artinya saja. Padahal, untuk memahami esensi Al-Qur'an yang serupa mayapada tak bertepi, tidak hanya cukup membaca artinya saja. Akibatnya, hikmah-hikmah luhur Al-Qur'an acapkali terabaikan.

Ketika membaca Al-Qur'an, kita barangkali pernah berpapasan dengan kalimat ya ayyuhalladzina amanu. Kalimat ini diulang sebanyak 89 kali dalam Al-Qur'an dan lumrah dipahami sebagai ciri fisik dari ayat-ayat madaniyah―ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan pasca nabi hijrah ke Madinah. Melalui karya Nurul Huda Maarif ini, kita tahu bahwa keberadaan kalimat tersebut bukan hanya sapaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Ayat-ayat ini dilanjutkan dengan tema-tema yang berkenaan soal kewajiban, larangan, jihad, qital, penghormatan pada kemanusiaan dan lainnya, yang secara umum bertema serius dan mengindikasikan identitas keimanan seorang muslim.

Dari 89 ayat yang termaktub, buku ini hanya mendedah sebagiannya yang mayoritas turun disertai asbabun nuzul. Namun, Nurul Huda Maarif tidak hanya mengupas secara mendalam ayat demi ayat, beberapa diramu dengan pembahasan yang up to date dan kontekstual dengan realita kekinian, seperti surat Ali ‘Imran ayat 100 yang mewartakan bahaya provokasi:

“Hai orang-orang yang beriman, seandainya kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” 
                        
Ayat ini diturunkan lantaran ulah seorang Yahudi bernama Syas bin Qais yang dengki melihat kerukunan suku Aus dan Khazraj yang dulunya saling bentrok. Syas mengutus  anak buahnya untuk nimbrung dan bercakap-cakap dengan mereka guna memprovokasi dan menyulut kembali sentimen pertikaian lama kedua suku tersebut ketika perang Bu’ats pada masa jahiliah.

Beruntung berita ini didengar oleh Rasulullah, beliau segera datang dan mendamaikan keduanya. Bersamaan dengan kejadian itu, Allah pun berpesan: “Wa’tashimu bihablillah jami’an wa la tafarraqu” (QS. Ali Imran[3]:103). (halaman 77-78)

Dalam konteks Indonesia, pluralitas memang menjadi senjata yang ampuh untuk memantik api permusuhan antar sesama umat Islam. Hal ini tidak lepas dari ulah pihak-pihak tak bertanggung jawab yang terus-menerus mengompori dan memprovokasi.

Imbasnya, ukhuwah wathaniyah bahkan ukhuwah Islamiyah digilas begitu saja dengan dalih membela harga diri. Mirisnya, mereka masih sama-sama orang Islam yang katanya beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Lebih-lebih di era media sosial ini. Di mana statemen-statemen provokatif sangat mudah dihembuskan untuk memancing emosi umat. 

Memang, hari ini lini masa kita nyaris tak pernah sepi dari paparan konten-konten bermuatan negatif, semacam hoax, hujatan-hujatan kebencian, statemen kontroversial dan provokatif dan lainnya. Apalagi menjelang pilpres tahun 2019 ini, di mana masing-masing kubu Paslon bersaing untuk meraup sebanyak mungkin suara rakyat dengan ragam trik dan intrik, termasuk dengan melancarkan konten-konten diatas kepada lawan politiknya—seperti yang sudah-sudah. Di sinilah Allah kembali mengingatkan orang beriman untuk senantiasa bertabayun sebelum mengambil sikap. 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.” (QS. Al-Hujarat [49]: 6).

Saat ini tidak sedikit kita temui berita yang justru membenarkan yang palsu dan memalsukan yang benar. Semakin canggih teknologi, pemalsuan informasi akhir-akhir ini juga sangat mengkhawatirkan. Uniknya, semakin banyak pula yang termakan bualan-bualan ini. Inilah zaman yang serba keblinger, ketika klarifikasi atau tabayun menjadi sesuatu yang mahal dan tidak banyak dilakukan. (halaman 312-313)

Buku ini mengajak kita untuk mempertanyakan kembali keimanan kita selama ini. Kendatipun demikian, buku ini lebih berposisi sebagai pengingat bagi kita, alih-alih menghakimi kita yang tak pernah lekang dari salah dan lupa.

Lebih jauh, seperti yang dituturkan KH Ahsin Sakho Muhammad di bagian pengantar, buku ini merepresentasikan ajaran Islam yang sebenarnya: menggugah kesadaran manusia agar selalu menjaga hubungan harmonis dengan Allah dengan berbakti kepada-Nya dan juga menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia dengan berlaku baik dan adil.

Peresensi adalah Muhammad Faiz As, pengurus perpustakaan Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep.

Identitas buku:
Judul Buku: Seruan Tuhan untuk Orang-Orang Beriman
Penulis: Dr. Nurul Huda Maarif
Cetakan: I, 2018
Penerbit: Zaman, Jakarta
Tebal: 418 Halaman
ISBN: 978-602-6273-16-1
Senin 14 Januari 2019 16:30 WIB
Empat Spirit Literasi Baca-Tulis dalam Al-Qur’an
Empat Spirit Literasi Baca-Tulis dalam Al-Qur’an
Banjirnya perkembaangan teknologi yang ditandai dengan derasnya arus internet dan HP cerdas menambah parah keperihatinan soal literasi Al-Qur'an. Bagaimana kebudayaan umat Islam akan gemilang dan terpandang jika krisis literasi dalam memahami Al-Qur'an terus terjadi?

Maka dari itu penulis tertarik untuk mengulas spirit al-Qur’an tentang pentingnya literasi baca-tulis yang terdapat dalam buku Al-Qur'an dan Literasi: Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman karya Ali Romdhoni sebagai berikut:

Pertama, perintah membaca dan menulis. Firman Allah SWT. yang tertuang dalam surah al-Alaq ayat 1-5 berikut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ayat diatas menginginkan revolusi besar-besaran dari suatu masyarakat yang jauh dari tradisi baca tulis dan dari suatu bangsa yang sangat rendah menjadi bangsa yang paling mulia. Karena jika tidak ada tulisan tentu pengetahuan tidak akan terekam, agama akan sirna dan bangsa belakangan tidak akan pernah mengenal sejarah peradaban umat sebelumnya.

Kedua, filosofi iqra’ (perintah membaca). Perintah membaca sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW mengindikasikan begitu pentingnya prihal membaca sehingga Nabi Muhammad SAW diharuskan membaca yang berarti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui dan lain sebagainya. Hal ini,  tidak lain kecuali bahwa salah stu tugas manusia dalam kehidupan adalah membaca hingga menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan.

Ketiga, perintah mencari ilmu pengetahuan dan inspirasi tradisi manajemen. Perintah mencari ilmu pengetahuan selain dari surah al-Alaqdiatas dapat ditemukan dalam subtansiyat 31 al-Baqarah, ayat 179 al-A’raf, ayat 9 al-Nisa’, ayat 2 al-Jumu’ah, ayat 11 al-Mujadalah, ayat 43 al-Nahl, dan ayat ke 9 al-Zumar. 

Substansi dari kesemua ayat ini memerintahkan umat manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan merupakan syarat utama diraihnya perihal mengetahui dirinya, apa yang mesti dilakukan dan kemana mesti melangkah. 

Ilmu pengetahuan dan tulis-menulis merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan sehingga perintah untuk mencari ilmu pengetahuan juga menjadi perintah untuk mengembangkan budaya tulis-menulis. Karena tulisan menjadi sarana bagi ilmu pengetahuan untuk selalu dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya. 

Sementara ayat yang berbicara terkait tradisi manajemen dapat disingkap dalam ayat ke 282 QS. Al-Baqarah dan ayat ke 33 QS. Al-Nur, yang mana hal ini mengarah kepada fungsionalitas tulisan sebagai bukti otentik yang efektif dalam perdagangan demi melindungi hak-hak secara benar. 

Keempat, penyebutan seperangkat peralatan kegiatan baca-tulis. Di samping terdapat perintah membaca dan menulis serta perintah mencari ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an juga menyebut seperangkat peralatan kegiatan baca-tulis, seperti, kata midad (tinta), qalam (pena), qirthas (kertas), lauh (batu tulis), raqq (lembaran), dan shuhuf (helai kertas).

Puncaknya, menandakan bahwa al-Qur’an hanya ingin menekankan terhadap budaya baca tulis agar betul-betul terbumikan dalam masyarakat sehingga peradaban menjadi maju dan gemilang sebagaimana Allah mengubah peradaban jahiliah menuju peradaban ilmiah. Wallahua’lam. (Moh. Hafid)

Identitas buku:
Judul: Al-Qur’an dan Literasi: Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman
Penulis: Ali Romdhoni, MA
Penerbit: Linus (Literatur Nusantara)
Cetakan: Desember 2013
ISBN: 978-602-18064-1-8
Kamis 10 Januari 2019 14:33 WIB
Pintu Masuk Mengenal Keragaman Indonesia
Pintu Masuk Mengenal Keragaman Indonesia
Indonesia begitu kaya akan segala hal. Dengan penduduk yang kini lebih dari 260 juta jiwa, Indonesia terdiri dari 1.340 suku dan 652 bahasa. Mereka tinggal di 17.503 pulau yang disatukan dengan laut yang luasnya mencapai 3,25 juta km2. Bangsa Indonesia juga tidak seragam untuk agamanya. Mereka menganut salah satu dari enam agama, yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di antara mereka juga ada yang menganut aliran kepercayaan.

Keragaman itu merupakan kekayaan tak terhingga yang dimiliki negara ini. Di tengah perbedaan yang begitu kontras, baik dilihat dari suku, bahasa, hingga keyakinan, mereka bersatu atas nama kebangsaan sebagai bangsa Indonesia, bersatu dengan bahasa persatuan bahasa Indonesia, berpegang teguh tanah air Indonesia sebagai wilayah tinggal mereka yang perlu dipertahankan.

Disparitas tentu saja muncul mengingat banyak unsur yang berbeda. Namun, ada satu hal yang harus menjadi pegangan masing-masing individu maupun kelompok, yakni upaya saling memahami terhadap satu sama lain sehingga tidak menimbulkan konflik horizontal. Hal inilah yang selama ini terus dijaga, meskipun di satu dua tempat, peristiwa yang tidak diinginkan terkadang terjadi.

Hal itulah yang diupayakan oleh Ibn Ghifarie melalui bukunya, Merayakan Keragaman. Ia menguraikan hal penting terkait agama yang kerap kali dijadikan alasan oleh sebagian orang untuk menyerang kelompok lain. Dengan dalih agama, mereka melakukan teror yang bahkan hal itu menyasar saudara sendiri.

Di bukunya itu, ia menjelaskan sejak mula kedatangan setiap agama ke Indonesia. Ghifarie juga menerangkan hal pokok setiap agama, yakni akidah atau keimanan, syariat atau ritual peribadatan, dan aturan hubungan sosial kemasyarakatan masing-masing.

Dengan penuh gambar dan penuh warna, buku ini sangat cocok bagi kalangan pelajar yang hari ini menjadi sasaran utama radikalisme dan paham ekstrem atas dasar pemahaman agama. Survei Alvara Research Center menyebut lebih dari 23 persen pelajar Indonesia sudah terpapar virus radikalisme. Hal ini ternyata seirama dengan temuan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyebut lebih dari 30 persen guru Muslim ingin melakukan aksi teror.

Kehadiran buku ini tentu sangat penting guna menjadi pintu masuk saling mengenal satu sama lain agar ancaman terhadap keretakan negara yang begitu kompleks dengan segala macam perbedaannya ini bisa teratasi. Konflik horizontal rawan sekali terjadi. Terlebih tahun 2019 menjadi tahun politik dan suasana masih memanas.

Peresensi Syakir NF, mahasiswa Program Magister Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.

Identitas Buku
Penulis : Ibn Ghifarie
Judul : Merayakan Keragaman, Religious Literacy Series
Halaman         : xiii + 184
Tahun Terbit : 2018
Penerbit         : Expose

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG