IMG-LOGO
Nasional

Kiai Said: Kader NU Tak Boleh Takut dan Minder

Kamis 17 Januari 2019 23:45 WIB
Bagikan:
Kiai Said: Kader NU Tak Boleh Takut dan Minder
Bekasi, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengaku tidak mempermasalahkan orang-orang yang kerap menghina dirinya. Sebab, ketika seorang dihina, dosanya akan berkurang. 

Hal itu diungkapkannya pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Majelis Taklim dan Dzikir Syahida, Pondok Pesantren Syarif Hidayatullah, Kampung Pulo Yaman, Desa Sumberjaya, Tambun Selatan, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/1).

"Kalau ada orang menghina saya, tidak apa-apa. Tapi kalau sudah kiai yang diusik seperti KH Maimun Zubair, KH Mustofa Bisri, dan KH Abdurrahman Wahid, maka saya marah," tegas pengasuh Pondok Pesantren Luhur al-Tsaqafah, Jakarta ini.

Menurutnya, pujian dan caci-makian itu merupakan hal yang sangat biasa. Ia menganjurkan kepada kader NU agar ketika dipuji tidak lantas menjadi sombong, bangga, dan bahkan lupa daratan. 

Dengan tegas, Kiai Said juga menyampaikan bahwa saat dicaci-maki, dihina, dan diancam, kader NU tidak boleh takut dan minder.

"Saya tidak pernah takut pada siapa pun, kecuali sama istri," tegas Kiai Said dan disambut gemuruh tawa hadirin. (Aru Elgete/Ibnu Nawawi)
Bagikan:
Kamis 17 Januari 2019 23:30 WIB
Tiga Faktor Orang Suka Sebar Hoaks terkait Politisasi Agama
Tiga Faktor Orang Suka Sebar Hoaks terkait Politisasi Agama
Jakarta, NU Online
Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Republik Indonesia mengemukakan bahwa memeriksa dan menindak penyebar konten hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah, lebih sulit dibanding memeriksa dan menindak pembuatnya.

Menurut Masykurudin, pembuat konten tidak lebih dari 200 orang sebagaimana catatan Kominfo. “Jadi kalau dari konten pembuat, itu bisa langsung diverifikasi dan ditindak, namun yang susah dikendalikan adalah orang yang menerima konten atas konten yang diterima itu, kemudian disebarkan kembali. Nah menyebarkan kembali itulah yang membuat kegaduhan," kata staf ahli Bawaslu ini, Kamis (17/1). 

Setelah mengidentifikasi persoalan tersebut, pihaknya mengaku menemukan tiga faktor yang membuat seseorang suka menyebarkan konten hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah yang terkait dengan politisasi agama.

Pertama, seseorang suka menyebar hoaks karena didukung oleh pandangan keagamaannya yang hitam putih. "Jadi memang sejak awal dia mempunyai latar belakang keagamaan yang radikal, dalam arti hitam putih saja, ya, tidak sampai melakukan kekerasanan. Pandangan dia ya a  benar, b salah," ucapnya.

Kedua, mempunyai pandangan cukup besar tentang tata sosial yang ilusif atau bersifat mengkhayal, seperti menginginkan sistem atau cita-cita bentuk negara yang jauh dari kenyataan.

"Jadi pandangan itu didukung banyak orang yang punya pemahaman yang cukup tinggi, baik yang diperkenankan atau tidak," ucapnya.
Ketiga, menerima terhadap konten yang sesuai dengan pilihan politik pribadinya, kemudian disebarkan tanpa adanya klarifikasi tentang kebenaran konten tersebut.

"Ketika kontennya cocok bagi dia, itu tidak perlu klarifikasi karena kontennya memuaskan pilihan politiknya, konten itu disebar langsung," jelasnya.
Oleh karena itu, menurutnya, jika keadaannya seperti ini, relevan untuk dibahas di Munas-Konbes NU 2019 karena kalau dari penyebarannya, semua pasangan calon presiden terkena fitnah dan ujaran kebencian.

Bedanya, terdapat pada persentasenya, yakni pasangan calon Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin diserang sebanyak  60 persen, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebanyak 40 persen.

"Jadi lebih banyak menyerang paslon satu, yaitu 60 persen, daripada ke paslon dua. Tapi paslon dua juga kena 40 persen," jelasnya. 
Masykurudin Hafidz hadir pada Focus Group Discussion yang diselenggarakan Lembaga Bahstul Masa'il PBNU di gedung PBNU.  (Husni Sahal/Ibnu Nawawi)

Kamis 17 Januari 2019 23:15 WIB
Ini Perbedaan Politik Agama dan Politisasi Agama
Ini Perbedaan Politik Agama dan Politisasi Agama
Jakarta, NU Online
Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Republik Indonesia mengemukakan perbedaan istilah antara politik agama dan politisasi agama. Politik agama ialah memilih calon pemimpin berdasarkan keyakinan agamanya, dan hal itu bagi Bawaslu, bukan termasuk sebuah pelanggaran.

"Memilih pemimpin berlandaskan keyakinan keagamaan, itu mungkin tidak berkualitas, milih pemimpin ya program, visi misi dan seterusnya, tapi bagi Bawaslu, itu tidak melanggar, terserah orang mau memilih berdasarkan apa. Itu yang kita sebut dengan politik agama, yakni memilih berdasarkan agama tertentu," kata staf ahli Bawaslu, Masykurudin Hafidz. 

Hasl tersebut disampaikannya pada Focus Group Discussion yang diselenggarakan Lembaga Bahtsul Masa'il PBNU di gedung PBNU, Kamis (17/1).

Sementara politisasi agama, sambung Hafidz, ialah kampanye dengan menjatuhkan elektabilitas pasangan calon lain dengan cara seperti menghasut, menghina agama, menghina suku dan menggunakan rumah ibadah. Hal ini tertera dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Pasal 280 ayat 1 tentang Pemilihan Umum.

"Jadi nilai negatifnya itu langsung dilakukan, tapi perbuatan melakukan penilaian negatif itu pada saat yang sama ditujukkan untuk menjatuhkan elektabilitas kelompok lain. Jadi, kalau politisasi agama itu dimaknai secara negatif karena potensi kecurangan pelanggaran pemilunya harus masuk," ucapnya.

Menurutnya, politisasi agama penting dibahas di Munas-Konbes NU 2019 karena peristiwa ini diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2019. Namun yang lebih mengkhawatirkan, praktik politisasi agama tidak hanya bertujuan untuk menaikkan elektabilitas pasangan calon yang dipilih dan menjatuhkan elektabilitas lawan, tetapi sudah terindikasi memecah belah umat.

"Kalau setelah kampanye selesai, itu tidak ada masalah, tapi setelah diamplifikasi media sosial, Facebook,  itu ternyata suda ada indikasi hanya gara-gara pindah makam bagian dari perbedaan pilihan politik, pertentangan antar keluarga,” terangnya. Artinya bahwa ini tidak hanya soal politik elektoral saja, tetapi berpengaruh kepada persoalan kemanusiaan, lanjutnya.

Selain itu, putusan PBNU melalui Munas-Konbes NU juga dinilai penting sebagai pesan agar masyarakat, khususnya warga NU tidak langsung memercayai ketika menerima informasi yang belum dipastikan kebenaranya.

"Jadi kalau menerima informasi yang belum dipastikan kebenarannya, itu harus tabayyun dulu. Kemudian kalau menerima konten seperti itu jangan diteruskan (disebarkan)," jelasnya. (Husni Sahal/Ibnu Nawawi)

Kamis 17 Januari 2019 23:0 WIB
Zaman Fitnah dan Adu Domba, Kiai Said Contohkan Masa Nabi Musa
Zaman Fitnah dan Adu Domba, Kiai Said Contohkan Masa Nabi Musa
Bekasi, NU Online
Saat ini umat Islam dan khususnya warga NU sedang hidup di zaman yang penuh adu domba dan fitnah. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. 

"Adu domba, fitnah, gunjing, menjelekkan orang lain, semuanya adalah larangan al-Quran. Sudah dilarang sejak 15 abad lalu. Bukan baru sekarang," ungkap Kiai Said.

Pernyataan tersebut disampaikan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad di majelis taklim dan dzikir syahida, Pondok Pesdantren Syarif Hidayatullah, Kp Pulo Yaman, Desa Sumberjaya, Tambun Selatan, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/1).

Menurut al-Qur'an, lanjut Kiai Said, fitnah merupakan perbuatan yang lebih bahaya dari pembunuhan. Karenanya, ia mengimbau agar jangan sampai terpengaruh dengan orang-orang yang ke mana pun pergi selalu membawa kebohongan, menggunjing, dan adu domba.

"Hidup di zaman yang serba fitnah ini, tapi kita jangan khawatir. Kita dan keturunan kita, insyaallah menjadi umat yang saleh, hamba Allah yang berprinsip, bermartabat, dan punya jati diri," jelas kiai asal Cirebon ini.

Kiai Said menceritakan tentang kehidupan Nabi Musa yang hidupnya dikelilingi oleh perbuatan kemunkaran, tapi tidak sama sekali terpengaruh, malah justru bertambah keimanannya kepada Allah.

"Ketika Nabi Musa baru lahir, ada instruksi Fir'aun bahwa bayi laki-laki Bani Israil yang lahir harus dibunuh, karena kelak bakal menghancurkan kerajaan. Walhasil, semua bayi Bani Israil yang lahir dan berumur beberapa minggu langsung dibunuh," jelas Kiai Said.

Mendengar kabar tersebut, ibu Nabi Musa lantas memasrahkan diri kepada Allah. Kemudian Nabi Musa dihanyutkan di Sungai Nil dan tidak berapa lama ditemukan oleh istri Fir'aun bernama Sayyidah Asiyah.

"Sayyidah Asiyah binti Muzahim itu seorang perempuan yang baik, hamba Allah yang beriman dan berakhlak mulia. Ia memelihara Nabi Musa," jelas pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta ini.

Di tengah kehidupan yang penuh fitnah, adu domba, dan kemunkaran, Nabi Musa tumbuh besar dan menjadi dewasa. "Di sana, setiap malam selalu ada pentas seni maksiat yang para perempuannya telanjang melakukan tari perut," kata Kiai Said.

Meskipun terdapat banyak kemusyrikan dan kekufuran di dalam istana Fir'aun, ditambah dengan kezaliman yang sering terjadi, tapi Nabi Musa hingga dewasa tidak pernah terpengaruh.

"Nabi Musa tidak terpengaruh jadi musyrik, kafir, peminum, pemabuk, dan zina. Padahal Nabi Musa dididik di dalam istana Fir'aun yang penuh kemusyrikan. Karena beliau dipelihara oleh seorang wanita yang salehah," tegas Kiai Said.

Kiai Said menganalogikan, bahwa jika para orang tua menitipkan anak-anaknya di pondok pesantren sehingga ikut ulama, maka insyaallah tidak akan terpengaruh dengan keadaan buruk yang terjadi di lingkungan. 

"Kalau anak kita dititipkan pada pesantren, kalau kita sendiri ikut ulama, insyaallah silakan kanan kiri ada hiruk-pikuk narkoba, teroris, minuman keras dan narkoba, hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian. Orang yang ikut ulama, tidak akan terpengaruh," tegas Kiai Said dengan gaya bicara yang khas.

Karena itulah kemudian, ia menganjurkan hadirin untuk tidak terpengaruh oleh hasutan dan berbagai berita hoaks bernuansa fitnah atau ujaran kebencian. "Jangan terpengaruh dengan hoaks," tegasnya.

Selain Kiai Said, hadir pula beberapa tokoh. Salah satunya Pimpinan Majelis Taklim Syahida KH Ahmad Mubassyir. Kemudian nampak hadir badan otonom dan lembaga NU Kabupaten Bekasi, serta Jaringan Gusdurian Bekasi Raya. (Aruelgete/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG