IMG-LOGO
Wawancara

Kiai Manan: Koperasi Masjid Terinspirasi Wasiat Sunan Gunung Jati

Selasa 29 Januari 2019 23:15 WIB
Bagikan:
Kiai Manan: Koperasi Masjid Terinspirasi Wasiat Sunan Gunung Jati
Ketua PBNU KH Abdul Manan A. Ghani
Masjid merupakan tempat paling vital bagi umat Islam. Selain sebagai tempat beribadah, dari masjidlah Islam membangun peradaban, pusat pendidikan, menyusun strategi politik, bahkan perekonomian. Namun saat ini, terutama dalam hal perekonomian, seolah terpisah dari masjid. Seolah-olah masjid hanya berfungsi sebagai tempat tempat beribadah dan berdoa. 

Ketua PBNU yang menangani bidang dakwah dan masjid, KH Abdul Manan A. Ghani merupakan salah seorang yang memiliki konsentrasi terhadap pengembangan bidang masjid. Ia pernah menangani Lembaga Takmir Masjid PBNU selama satu periode. Pada masa dai relatif berhasil membangun persepsi warga NU bahwa masjid bukan hanya tempat beribadah, tapi juga pergerakan ekonomi. Dari 2010 hingga 2015 ia berkampanye tujuh aksi masjid. 

Hal yang mendasari gagasan Kiai Manan itu tiada lain dari sejarah Islam Indonesia. Menurut dia, ketika Islam masuk di Nusantara yang dibawa para ulama, aulia, mereka mendesain masjid menjadi dua ruang. Ada ruang dalam atau ruangan inti yang berfungsi untuk shalat, munajat, i’tikaf, wiridan, zikiran. Kedua, ada ruangan di luar yang terdiri samping kanan dan samping kiri, serta ruangan depan. Ruangan kedua inilah yang bisa digunakan untuk aktivitas membangun pergerakan ekonomi. 
 
Menurut Kiai Manan, ketika ekonomi terbangun dari masjid, maka wasiat Sunan Gunung Jati Syekh Syarif Hidayatullah akan terpenuhi sekaligus. Ia kemudian mengusulkan untuk membentuk Koperasi Masjid Nusantara. 

Untuk mengetahui gagasannya, Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarainya, di Gedung PBNU awal Januari ini. Berikut petikannya:

Apa latar belakang Koperasi Masjid Nusantara?

Masjid itu, pusat pemberdayaan umat. Pusat umat Islam membangun peradaban sejak awalnya. Itu seperti itu. Kemudian masjid ketika Islam masuk di Nusantara ini dibawa para ulama, aulia, kemudian desain masjid itu ada dua. Ada ruang masjid untuk hablum minallah dan ruang hablum minan nas. Makanya ruangan dalam, ruangan inti untuk shalat, munajat, i’tikaf, tahiyatul masjid, wiridan, zikiran, di dalam. Yang di luar itu ada ruangan hablum minan nas. 

Ruangan ini ada samping kanan dan samping kiri, dan depan. Dari dulu ketika kita kecil, masjid desa, isinya seperti itu. Itu masjid gaya wali seperti masjid Sunan Gunung Jati, Masjid Sang Cipta Rasa dibangun di Cirebon, itu ruangan yang inti malah kecil, yang besar itu malah yang di luar, kanan, kiri, depan. 

Itulah, masjid didesain ada yang untuk hubungan dengan Allah, dan untuk hablum minan nas, hubungan dengan manusia. 

Sunan Gunung Jati sendiri berwasiat, ingsun titip tajug lan fakir miskin. Saya titip masjid dan fakir miskin. Artinya apa, saya titip makmurkan masjid dan makmurkan yang masih miskin. Itu lho. Berdayakan yang miskin. Itu yang terngiang-ngiang ketika saya diamanati sebagai Ketua Lembaga Takmir Masjid PBNU wasiat Sunan Gunung Jati, tajug dan fakir masjid. Karena itu, kita gerakkan. 

Di dalam Al-Qur’an satu ada ayat memakmurkan masjid, dan memakmurkan bumi. 

Jadi, di dalam Al-Qur’an, ayat menyuruh memakmurkan itu terkait dengan masjid dan bumi? 

Ada ayat: 

… إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Artinya, 
Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18).

Ada ayat 
هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

"Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya." (Hud: 61)

Nah, memakmurkan bumi kan harus dengan ekonomi, pembangunan, infrastruktur. Kalau tak ada infrastruktur, tak makmur. Jadi salah kalau orang tidak membutuhkan infrastruktur. Makmurnya bumi dengan infrastruktur. Kalau tak ada jalan, mana ada kemakmuran di situ. Infrastruktur itu perintah Allah, 

Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya

Siapa yang tak butuh infrastruktur? Ada lapangan pesawat terbang, jalan tol, jalan tembus, ada pasar, itu infrastruktur. 

Tadi dua pesan Sunan Gunung Jati, bagaimana?

Ya, berawal dari dua amanat Sunan Gunung Jati, ingsun titip tajug lan fakir miskin. 

Nah, memakmurkan masjid dalam konteks zaman Sunan Gunung Jati dengan sekarang kan berbeda. Bagaimana kalau dengan sekarang? 

Aplikasinya, jamaah masjid itu kan ada yang kaya ada yang miskin. Makanya di LTM PBNU memaysarakatkan Gismas (Gerakan Infak Sedekah Masjid, red.) itu untuk memakmurkan masjid dan jamaahnya, dan masyarakatnya. Apa, mengisi kencleng di rumah-rumah, bikin jimpitan di rumah-rumah, kaleng yang setiap hari diisi oleh rumah di sekitar masjid yang recehan. Kalau satu masjid 300 kaleng, maka, kalau seribu satu rumah, berapa sebulan, bisa 9 juta. Itu untuk marbot, guru ngaji, makmur enggak masjidnya? Makmur. Di masjid daerah saya, dipraktikkan. Itu udah jalan 100 kaleng, 6 juta sebulan, 100 jamaah. 

Berjalan berapa tahun?

3 atau 4 tahun, sejak saya jadi pengurus LTM.

Resep sosialisasi bagaimana? 

Datang saja ke masjid saya. Yang sudah berjalan di Tenjo, Bogor, di Indramayu, di Brebes itu ada satu masjid yang tiap bulan 26 juta lho. 

Itu resepnya apa? 

Istiqomah, rahasianya di pengelolaan, ujung-ujungnya di manajemen, transparan. Transparansi dilakukan tiap Jumat, di Brebes itu di Desa Sawojajar, udah 26 juta sebulan. Ada yang 10 juta, ada yang 16 juta, macam-macam. Itu distribusinya macam-macam, untuk marbot, imam rawatib, guru ngaji, untuk santunan kematian, beli air mineral, santunan yatim piatu setahun sekali, yang satu lagi untuk pegel, pengusaha golongan ekonomi lemah. 

Lalu bagaimana dengan koperasi Nusantara?   

Ya beda, nanti ke depan berharap kita ini gerai-gerai masjid. Ada Komasnu, Kopi Masjid Nusantara, kita ngopi di situ. Kita sediakan kopi bid’ah, ada kopi jahe, hehe…



Tags:
Bagikan:
Selasa 1 Januari 2019 7:0 WIB
Peneliti Jepang: Islam Nusantara Tetap Islam Asli
Peneliti Jepang: Islam Nusantara Tetap Islam Asli
Islam Nusantara yang menjadi tema muktamar NU ke-33 di Jombang Jawa Timur pada 2015 seperti tak sepi dibicarakan banyak orang. Ada yang menolak, tak sedikit pula yang menerima. Bagi PBNU yang menolak itu karena salah paham karena sebenarnya tidak ada perbedaan ajaran Islam Nusantara dengan Islam Ahlussunah wal Jamaah atau Islam rahmatan lil alamin. 

Dalam berbagai kesempatan, KH Ma'ruf Amin saat menjadi Rais Aam PBNU mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah Ahlussunah wal Jamaah. Hanya mengganti kulitnya saja. Tidak ada yang berubah dari ajarannya. Tidak ada yang berbeda dari cara beribadahnya. 

Ternyata Islam Nusantara menjadi perhatian dari peneliti asing. Salah satunya dari Jepang yaitu Hisanori Kato yang bisa berbahasa Indonesia. Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai profesor di Faculty of Policy Studies di Chuo University saat berkunjung ke PBNU, Kamis (27/12). Berikut Petikannya: 

Menurut Anda bagaimana Islam Nusantara itu? 

Saya bukan seorang yang menilai, tapi saya ingin observasi.

Bagaimana hasil observasinya? 

Judul paper saya, Religion and Locality, agama dan lokalitas. Minat saya adalah bagaimana agama yang ajaran asli itu masih bisa tetap asli di tempat lain pada zaman lain. Contohnya kalau agama Buddha di India dan di Jepang. Bagaimana pengaruh lokalitasnya apakah ada pengaruh dalam ajaran kalau waktunya berbeda, tempat berbeda, makna agama berbeda, berubah atau tidak. Itu pertanyaan saya. Kalau begitu, saya punya ide, saya punya teori religion dan organism, walaupun agama sendiri itu tetap ada ajaran yang sesungguhnya di akar, tetapi di dalam agama Islam ada beberapa pembagian yang dipengaruhi oleh kondisi sosial, kondisi politik, ekonomi, apa saja. 

Karena itu, kelihatannya berbeda, tetapi masih tetap Islam. Itu observasi saya. Di dalam Islam Nusantara, keaslian Islam tidak hilang, melainkan keaslian Islam sangat ditekankan. Ada banyak orang yang menjelaskan hubungan Wali Songo dan Nabi Muhammad. Itu asli. Tetapi kadang-kadang agama di dalam teori saya, Islam dan organism atau religion and organism; agama sebagai organism itu bisa terjadi kelihatannya sedikit berbeda seperti tahlilan itu. Tapi itu masih tetap. Tapi kelihatannya, itu tidak terjadi di Arab Saudi. Orang salasfis di sini tidak mau kan. 

Dengan tahlilan, keaslian Islamnya masih terjaga? 

Iya, kalau menurut saya. Karena ajaran agama Islam sesungguhnya ada itu misalnya memelihara perdamaian, menghormati manusia itu kan tetap sama. 

Kenapa Islam Nusantara menjadi perdebatan dan ditolak kalangan salafis? 

Di dalam agama, menurut saya, ada dua kelompok, ada dua aliran. Yang satu adalah mungkin saya sebutkan itu sebagai masyarakat Islam yang ideological. Tapi ini adalah masyarakat yang pada zaman Nabi Muhammad. Ada banyak orang yang ingin mengembalikan kehidupan seperti yang dulu seperti sama. Tapi mereka belum berhasil. Mereka berjuang membuat masyarakat yang lalu pada zaman Nabi Muhammad. Itu yang berkaitan dengan teologi, literalis, apa saja yang ditulis di dalam Al-Qur’an atau hadits itu mereka sangat taat, sangat ingin dipelihara. 

Pada saat yang sama ada kelompok lain yang saya sebut muslim society atau masyarakat Muslim. Muslim adalah manusia. Manusia itu fleksibel, mereka mudah dipengaruhi oleh kondisi sosial. Saya kira, Gus Dur adalah seorang yang dari masyarakat Muslim society atau masyarakat Muslim. Tetapi di dalam Islam secara utuh, di sini ada bagian masyarakat Islam di sini juga masyarakat Muslim, dua-duanya tetap masih ada di dalam Islam yang secara utuh. Dua bagian itu bukannya terpisah seratus persen. Tidak. 

Tapi kalau dari sudut pandang saya dari sudut sosial antropologis, ada dua kelompok itu sangat alami karena agama secara utuh itu biasa, ada di mana-mana, itu terjadi. 

Kelompok yang ingin menerapkan ajaran sama persis di zaman Rasulullah itu bagaimana dalam pandangan sosial antropologis? 

Itu fenomena biasa. Ada dimana-mana. Di Jepang juga ada orang yang seperti orang fundamentalis di sini. Di Jepang, ayah punya anak perempuan harus kembali sebelum jam sembilan. Banyak itu. Mereka seperti itu, sangat ingin seperti masa lalu. Seratus tahun lalu, perempuan seperti itu. Masih banyak. Dalam apa saja ada. Karena itu, menurut saya, dua-duanya alami bagi saya, dari sudut pandang sosial antropologi. 

Bagaimana kalau yang satu menyalahkan yang lain? 

Bagaimana? 

Misalnya satu kelompok menyalahkan kelompok Muslim yang melakukan tahlilan? 

Tidak bisa memutuskan seperti itu. Saya tidak tahu karena saya bukan orang yang bisa memutuskan semuanya. Fenomena-fenomena seperti itu dalam kajian saya adalah alami. Kalau saya diminta menjelaskan agama Islam secara utuh saya akan menjelaskan seperti itu. 

Seorang teroris itu, bukan representasi dari masyarakat Islam karena sangat didasari oleh pemikiran pribadi itu. Tapi kalau bagian dasar itu, yang benar itu, asli ajaran Islam, tidak membolehkan aksi terorism karena itu mereka, yang terorism itu, bukannya dari masyarakat Islam. 

Dari hasil penelitian Anda tentang Islam Nusantara, itu apa kesimpulannya atau paling tidak definisinya? 

Islam Nusantara adalah fenomena agama yang sangat alami dan Islam Nusantara adalah ide yang sangat penting untuk memelihara kebaikan Islam juga. Tapi Islam Nusantara pada saat yang sama masih mungkin dipengaruhi oleh politik juga. Islam Nusantara adalah fenomena yang bisa membantu kerukunan di Indonesia atau mungkin di dunia. Kalau saya rasa begitu kalau saya harus berikan definisi.  

Kenapa sampai mendeskripsikan Islam Nusantara untuk Indonesia dan dunia?

Karena sesedikitnya dalam Islam Nusantara Anda menekankan kepentingan kebudayaan lokal. Karena kalau Anda salafis atau orang yang apa saja, seperti fundamentalis Buddha, Kristen, mungkin agak lebih tertutup terhadap apa yang berkaitan dengan perilaku sosial. Tapi kalau orang-orang yang menerima Islam Nusantara agak lebih terbuka terhadap kebudayaan lokal. Karena itu saya kasih judul paper saya, Islam Religion and Locality. 

Menurut Anda, gagasan Islam Nusantara turut serta untuk mendamaikan dunia, aktor-aktor pengusungnya harus bagaimana? 

Mungkin yang harus menyampaikan asli pemikiran Islam Nusantara, harus menyampaikan kepada orang lain, termasuk non-Muslim karena ada banyak salah paham mengenai Islam di luar umat Islam. Karena itu, Anda harus memberi tahu bahwa ada banyak orang yang sangat menghargai kebudayaan lokal, fleksibilitas juga. 

Apakah Anda mengetahui pakar lain yang berkomentar tentang Islam Nusantara?

Mungkin ada, tapi saya tidak tahu. Tapi banyak orang, Indonesianis yang berminat melihat ini dari sudut pandang politik misalnya, tetapi saya melihatnya dari sudut pandang sosial antropologi. 

Banyak itu dari mana? 

Ada banyak. 

Dari mana saja? 

Iya, saya kira. Mungkin ada banyak orang. Mungkin mereka melihat  Islam Nusantara, iya, karena saya tidak melihat Islam Nusantara itu dari sudut benar yang lain terbalik, saya tidak, tapi saya melihat fenomena. Tapi banyak orang di luar Islam cenderung berpikir menekankan ini yang benar. Banyak orang yang bilang bahwa Islam Nusantara, Islam yang benar, good Islam. Tapi saya tidak bilang begitu. Islam Nusantara itu bagus untuk moderate Islam dan sebagainya. Tapi itu fenomena umat Islam secara utuh. 

Setahu saya sikap orang-orang yang mengakui Islam Nusantara begitu jelas terhadap kelompok minoritas terhadap LGBT, Ahmadiyah, Syiah dan sebagainya. Belum ada deklarasi secara resmi. Bagi saya belum jelas. Bagi saya ada perbedaan pendapat-pendapatnya antara ulama-ulama itu tentang minoritas karena ada toleransi di dalam Islam Nusantara. Toleransi kepada kebudayaan lokal itu yes, sangat toleran. Tapi toleransi terhadap untuk minoritasnya, menurut saya, kurang jelas. Ada perdebatan mungkin. Ulama-ulama mungkin beda-beda kan. Kalau saya tidak salah, Pak Ma’ruf ini dulu mengeluarkan fatwa LGBT dari MUI. 

Ada usul untuk pengembangan Islam Nusantara ke depan? 

Terserah. Saya tidak tahu.    


Kamis 13 Desember 2018 19:0 WIB
Habib Anis: Pesantren Ikut Arus atau Menciptakan Arus?
Habib Anis: Pesantren Ikut Arus atau Menciptakan Arus?
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Hingga hari ini terus bertahan dan bahkan berkembang. Jumlah lembaganya mencapai puluhan ribu yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara jumlah santrinya, menurut data Kemenag RI tahun 2017, ada sekitar 7 juta orang. 

Pada masa lalu, pesantren merupakan sebuah lembaga yang dekat dengan kalangan kerajaan Islam. Ronggo Warsito, misalnya pernah nyantri kepada Kiai Kasan Besari. Bahkan Pangeran Diponegoro juga merupakan seorang santri. Sehingga, pesantren merupakan lembaga yang digunakan keraton untuk transformasi pengetahuan, bahkan revolusi kebudayaan. Pesantren melahirkan manusia-manusia terpilih yang merdeka dan ahli.  

Lalu, bagaimana ceritanya pesantren bisa seperti itu, dan bagaimana dengan pesantren hari ini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Habib Anis Sholeh Ba'asyin di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (6/12) malam. Berikut petikannya:

Bagaimana hubungan pesantren dengan keraton atau kerajaan Islam di masa lalu? 

Itu pesantren-pesantren letaknya di kota-kota. Lewat pesantren dan kerajaan pengetahuan disebarkan. Kaum intelektual (pesantren) dan bangsawan (keraton) memiliki hubungan erat. Perubahan-perubahan kebudayaan atau revolusi kebudayaan melalui pesantren dan kerajaan. 

Lalu, pesantren terpinggirkan itu mulai kapan?

Diponegoro. Jadi, ketika perang Diponegoro, ada kooptasi dari asing (penjajah Belanda, red.) kepada kerajaan. Sikap pesantren yang (menentang) tasyabuh (menyerupai kalangan yang yang telah dipengaruhi asing) itu, maka mereka menarik diri. Itu juga menjadi awal jarak antara Islam santri dengan apa yang kemudian dikembangkan sebagai Kejawan. Jadi, mereka (pesantren) menarik diri dari pusat-pusat kerajaan ke desa-desa, dan mereka menolak ekspresi budaya yang sudah diklaim milik keraton seperti wayang. 

Tanda perpisahan itu apa?

Mulai itu pesantren menolak tradisi yang disebut Jawa itu. Itu yang kemudian secara sosiologis terjadi, itu dimanfaatkan Belanda untuk membelah sekalian.  

Generasi-generasi pesantren berikutnya, merasa semakin tidak berhubungan dengan generasi keraton. Begitu juga sebaliknya? 

Ya, mereka menarik diri, dan sampai pada tahun 60-an 70-an, bahkan sampai sekarang banyak pesantren yang menolak wayangan, karena dianggap itu ekspresi budaya Jawa dan budaya Jawa itu sama dengan keraton, dan keraton itu sama dengan budaya yang sudah dikooptasi oleh orang kafir. Padahal mereka lupa, asal-usul wayang itu malah dari (Sunan) Giri. Jadi, wayang yang ada sekarang, yang kita kenal sebagai Sunan Kalijaga, ternyata mazhabnya dari Sunan Giri. 

Apa wayang itu dari luar? 

Enggak, Anda harus bedakan, wayang di Jawa, itu sudah kemampuan kreatif orang di Jawa. Jadi, ada (semacam wayang) di China, ada di Vietnam, tapi di Jawa sudah berbeda jauh. Jadi, kemampuan kreatif orang di Jawa itu menyerap yang dari luar, mengolahnya menjadi sesuatu yang baru. Itu dari China, ya bukan.

Alat musiknya (gamelan) ada di China, ada di Vietnam, tapi di Jawa menjadi orkestra paling lengkap kayak pentas orkestra di Eropa, di Jawa sudah lebih dahulu. 

Kemampuan seperti itu faktor apa? 

Jawa (Nusantara) kan kepulauan, banyak pengaruh masuk. Artinya dia harus banyak mengelola apa  puan yang datang menjadi sesuatu yang baru sehingga dia tidak kehilangan dirinya. 

Kemampuan itu masih berlangsung sampai sekarang tidak? 

Sekarang dibunuh karena kemampuannya ditekan. Dulu kan berdaulat. Banyak orang yang datang, supaya saya tidak kehilangan jatidiri, saya olah menjadi diri saya sendiri. Kemampuan mengolah menjadi sesuatu yang baru dari segenap yang datang itu karena berdaulat. Sekarang itu kan hilang. Mindset dasarnya kan hilang. 

Pengaruh penjajahan? 

Ya, kolonial akhir sebenarnya dan modernitas yang kebablasan ini. 

Kemudian Indonesia menjadi terkesan membebek kepada budaya lain, semisal Eropa dan Timur Tengah? 

Iya. Bayangkan di sini, orang dulu itu kemampuan spiritual yang sangat membanggakan, manusia yang dianggap agung, dan itu hilang. Padahal nanti, kalau kita ikuti jalan peradaban kemampuan manusia itu hanya tinggal dua, kerohanian, dan kreativitas, yang lainnya bisa diganti mesin. Harusnya kalau kita menyadari ulang, harusnya kita sejak awal disiapkan untuk mengarah ke sana. 

Apakah pendidikan model sekarang membunuh dua hal itu? 

Sangat. Sangat. Pendidikan membunuh kreativitas dua hal itu. Bagaimana dulu  pendidikan itu menciptakan manusia tangguh berdaulat. Teorinya begini, DNA orang ada on off itu, orang itu punya kemampuan dasar yang dibunuh karena mindset dibunuh. Kalau dalam teori DNA, orang bisa meloncat sampai 5-6 meter tanpa sadar. Jadi, itu kalau bahasa DNA, DNA-nya on (hidup, aktif). Sekarang siapa yang meng-off-kan? Yang meng-off-kan itu adalah ketakutan-ketakutan yang diciptakan. Jadi, pendidikan yang sebenarnya adalah bagaimana menghidupkan itu semua, tidak terhalangi oleh apa pun. Itu manusia berdaulat. Jadi, meng-on-kan DNA semuanya. Selama ini, sistem pendidikan meng-off-kannya supaya orang bisa dikuasai mesin. Jadi perangkat dalam sistem besar.  Tujuannya pertama dari awal pendidikan di kita ini adalah untuk mengisi lapangan pekerja, pegawai

Itu yang sangat kecewa, pesantren ikut-ikutan. Padahal dulu pesantren itu membentuk orang menjadi berdaulat. Saya kan protes di banyak tempat. Kalau kita mau bongkar sejarah, kenapa kok Indonesia memilih sistem sekolah, padahal secara teoritik, infrastrukturnya belum ada. Yang sudah ada secara nasional adalah pesantren. Kenapa tidak diadopsi? Artinya sudah ada pertarungan sejak awal. Di seluruh Indonesia sudah ada pesantren.

Kondisinya pesantren sudah banyak mengadopsi pendidikan umum. Lalu bagaimana caranya supaya bisa tetap meng-on-kan DNA-nya?  

Saya punya contoh di Kajen, Mbah Dullah Salam itu menolak sistem sekolah, dia mandiri. Artinya kalau jadi persoalan, bagaimana menghidupkan yang mandiri ini supaya lebih dinamik. Tantangan di dalam. Tapi dia sudah menolak semua kurikulum pemerintah, di luar dirinya, dan menolak itu semua. Dan masih bisa hidup. Minimal sampai tahun 2000, sampai 2000 sekian, bahkan sampai sekarang. 

Pesantren juga terkait dengan pikiran orang tua santri yang memikirkan anak-anaknya agar setelah di pesantren itu tidak menganggur.

Bukan sekadar itu, dulu orang jadi kiai itu karena ada santri datang sehingga dulu ada istilah gotakan, gubuk yang dibangun oleh orang tua santri untuk berguru. Si kiainya tidak butuh. Sekarang ada keterbalikan, mendirikan itu butuh murid, sistem pasar; yang dibutuhkan pasar, apa yang disiapkan itu. 

Pesantren kalau tidak mengadopsi sekolahan biasanya tidak laku?

Itu ketakutan dari maindset yang diciptakan. Siapa yang membuktikan itu kalau tidak pernah dicoba? Saya punya beberapa bukti, termasuk yang Kajen itu. Bisa kok. Banyak santrinya dan terkenal. Jadi kan tergantung kedaulatan orangnya kan, kiainya. Ikut arus atau menciptakan arus. 

Bisa tidak pesantren bersiasat dengan mengadopsi sekolahan, pada saat yang sama menciptakan manusia berdaulat? 

Sebenarnya masih ada. Tapi dengan kurikulum yang ikut pemerintah sudah enggak merdeka sebenarnya. Artinya kan kiai seharusnya punya kewaskitaan kan; untuk apa yang dibutuhkan masyarakat dan diajarkan. Dan kewaskitaan itu bukan hanya untuk saat ini, tapi untuk ke depan. 

Meskipun tanpa harus formal ikut pemerintah? 

Iya, itu yang hilang sekarang. 

Bagaimana juga pesantren di era digital sekarang ini? 

Itu juga tantangan artinya. Sekarang lebih banyak kepungan pengetahuan ya. Harusnya ada nilai tambah dari pesantren itu yang tidak akan didapat ketika orang masuk ke internet dan lain sebagainya.  Artinya begini, soal pengetahuan, itu kan kuantitas, itu bisa diambil di mana saja. Kualitas yang sulit dicari. Pesantren seharusnya menciptakan generasi mandiri, berdaulat  sehingga nanti ketika dia masuk ke level mana pun, dapat informasi dari mana pun, dia tetap tidak kehilangan kemandiriannya, tidak bisa dikooptasi oleh pengetahuan mana pun. 

Saya ingat kisahnya Imam Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Jailani yang mendidik orang-orang ketika menghadapi pemerintahan yang kocar-kacir waktu itu, sistem pendidikan, dan itu melahirkan Salahudin Al-Ayubi, orang- orang yang lebih bersih mengelola pemerintahan. Mereka sudah visioner itu. Jadi kalau Al-Hallaj mau menciptakan, tapi gagal, dia gerakan langsung, untuk menciptakan pemerintahan bersih, seperti gerakan politik, tapi dilibas kan, tapi kalau seperti Imam Ghazali mendidik orang yang sekian waktu. 



Jumat 30 November 2018 4:0 WIB
NU Jabar Award untuk Potret Potensi dan Picu Prestasi PCNU
NU Jabar Award untuk Potret Potensi dan Picu Prestasi PCNU
NU di Jawa pada tahun-tahun awal berdiri, sekitar tahun 1930-an, terbilang maju. Usaha-usaha kesehatan, pendidikan, sosial dan peranan untuk perempuan sudah dimulai secara struktural. Pada tahun 1941 NU Bandung telah memiliki poliklinik. Tahun 1933 NU Tasikmalaya punya Al-Mawaidz, dan lain-lain.  

Namun, Ketua Umum PBNU 1999-2010 almaghfurlah KH Hasyim Muzadi pernah mengatakan bahwa NU Jawa Barat merupakan NU ashabul kahfi. Artinya NU yang terlalu lama tertidur. 
 
Di bawah kepemipinan KH Ajengan Nuh Addawami sebagai rais syuriyah dan KH Hasan Nuri Hidayatullah sebagai Ketua PWNU berusaha membangkitkan kembali NU Jawa Barat di berbagai lini. 

Akhir tahun ini, NU Jawa Barat mengadakan NU Jabar Award. Pemenangnya akan diberi anugerah pada harlah NU pada Januari tahun depan. 

Untuk mengetahui apa dan bagaimana NU Jabar Award, Abdullah Alawi dari NU Onlinenya berhasil mewawancarai ketua panitinya, Kiagus Zaenal Mubarok yang merupakan Wakil Ketua PWNU Jabar.     

Apa saja kriteria penilaian NU Jabar Award itu? 

Yaitu bidang administrasi dan kelembagaan, sumber daya manusia, kaderisasi, program dan pelaksanaannya, publikasi dan penerbitan, aset dan inventarisasi, unit usaha, kemandirian dalam pendanaan.   

Apa sebetulnya yang ingin dicapai dari NU Jabar Award ini? 

Dengan adanya NU Jabar Award ini justru ingin memotret potensi dan prestasi masing-masing PCNU kabupaten dan kota di Jabar dengan Instrumen penilaian yang standar berdasarkan parameter akademik yang bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga PCNU mempunyai target yang mudah dicapai berdasarkan kriteria yang sama.

Bagaimana jika PCNU tidak terpacu dengan kriteria itu?

Sebelum diadakan NU Jabar Award ini kita sudah sosialisasikan sebagai kegiatan praNU Jabar Award ini ketika diadakan Kirab Resolusi Jihad Hari Santri Nasional kemarin dmn Delegasi Kirab dari PWNU Jabar berkeliling ke seluruh 27 PCNU seJabar, dari pantauan PWNU semya sudah mengetahui dan antusias dengann diadakan NU Jabar Award ini sebagai langkah silaturahim dan monitoring ke daerah.

Panitia telah mengundang seluruh PCNU se-Jabar untuk mendapatkan arahan dari rais dan ketua tentang kebijakan umum PWNU Jabar dan instrumen penilaian dari panitia. Dengan instrumen tersebut seluruh PCNU melakukan dulu penilaian diri mereka sendiri tentang jam'iyyah, lembaga, dan banomnya. Selanjutnya akan dilakukan monitoring dan visitasi ke masing-masing PCNU dalam tempo sebulan. Di akhir Desember 2018 sudah bisa dilakukan penetapan juara 1,2,3, dan harapan dari PCNU seluruh Jabar.

Bertolak dari NU Jabar Award, agenda terbesar atau cita-cita NU Jawa Barat dalam 5 atau 10 tahun yang akan datang bagaimana?

Secara simultan ketika diadakan NU Jabar Award ini, PWNU Jabar akan membangun Operation Room di Kantor PWNU yang berisi Sistem Informasi Manajemen dan Sistem Database secara digital sehingga seluruh aktivitas PWNU akan didukung oleh infrastruktur teknologi yang akan mengintegrasikan seluruh aktivitas PWNU dan PCNU yang bisa mengantisipasi seluruh problem dan tantangan jama'ah dan jam'iyyah di Jawa Barat secara akurat dan modern. 

Sehingga 5 sampai 10 tahun ke depan akan NU jabar akan siap secara kultural, sosial, maupun teknologis (cultural, social, and technological preparedness) menghadapi problem dan tantangan dakwah secara luwes sesuai dengan nilai almuhaafadlatu 'alaa qadliimish shalih wal akhdu bil jadiidil ashlah...

Tantangan terbesar NU Jawa Barat hari ini apa?

Tantangan masyarakat Jawa Barat sekarang secara umum yang dihadapi jam'iyyah NU adalah menghadapi ekses perubahan-ekses sosial yang timbul dari berubahnya masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, sehingga terjadi perubahan perilaku yang instan dalam berbagai dimensinya, termasuk sikap dan perilaku beragama yang instan di kalangan masyarakat. Dengan perubahan perilaku yang instan ini terjadilah sikap dan perilaku beragama yang intoleran, radikal dan ekstrem di masyarakat. Inilah tantangan dakwah NU dalam menghadapi perubahan-perubahan sosial yang kompleks di Jawa Barat ini.

Untuk NU Jabar Award apa stimulan yang diberikan kepada PCNU?

PWNU Jabar memberikan stimulan kepada seluruh PCNU se-Jabar sebagai bantuan operasional kegiatan, sehingga dengan stimulan tersebut akan memberikan dorongan aktvitas PCNU secara dinamik. Sehingga tidak ada alasan bagi PCNU untuk tidak melakukan apa-apa  seperti yang dikhawatirkan tadi.

Oh ya, bisa cerita bagaimana PWNU Jabar di pundak kepemimpinan KH Hasan Nuri Hidayatullah (Ketua PWNU) Ajengan KH Nuh Addawami (Rais Syuriyah)?

Yang dilakukan Gus Hasan dan Ajengan Nuh yang dirasakan adalah pada awal masa khidmahnya adalah memperkuat basis jam'iyyah yang kuat dan saling mengisi antara sepuh yang jernih dan bijak dengan Gus Hasan yang muda dan luas jaringannya sehingga ini menjadi kekuatan NU Jabar yang dapat mengantisipasi berbagai persoalan dan tantangan NU Jabar, di antaranya ketika menhhadapi Pemilukada di Jabar, mengambilalih Uninus, harakah ekonomi di kalangan masyarakat (Kimonu-Kios Modern NU, BMT Syariah) dan sebagainya.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG