IMG-LOGO
Nasional

Kiai Said Harap Respons Masyarakat terhadap Aplikasi NU CASH

Sabtu 19 Januari 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Kiai Said Harap Respons Masyarakat terhadap Aplikasi NU CASH
Kiai Said menghadiri syukuran aplikasi NU CASH
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj menghadiri syukuran kantor uang elektronik yang diberi NU CASH, Jumat (18/1) di Jakarta. Aplikasi NU CASH, kata Kiai Said, adalah upaya NU untuk memaksimalkan perkembangan finansial teknologi untuk memudahkan dan mempercepat urusan masyarakat.

"Karena prospektif saya minta pihak manajemen harus bekerja keras terus melengkapi aplikasi NU CASH sesuai kebutuhan masyarakat luas," kata Kiai Said.

Pihaknya mengapresiasi kepada para pengelola aplikasi NU CASH. "Terima kasih kepada kalian, anak-anak muda profesional yang telah menyiapkan aplikasi NU CASH. Saya akan turun langsung mengajak warga NU agar menggunakan aplikasi NU CASH ini," ujarnya.

Selain itu Kiai Said Aqil juga mengharapkan respons positif masyarakat luas terhadap aplikas NU CASH. "Apalagi warga NU seyogyanya menyambut baik program PBNU ini dengan menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari," tambahnya.

Acara tersebut turut dihadiri Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini dan Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra.

Aplikasi NU CASH yang dibangun dalam setahun terakhir ini di samping memuat fitur pembayaran dan pembelian yang menjamin kecepatan dan kemudahan, juga menawarkan fitur yang khas pelayanan warga Nahdlatul Ulama. (Red: Kendi Setiawan)
Bagikan:
Sabtu 19 Januari 2019 22:0 WIB
Gunakan Kitab Klasik, Upaya Pesantren Sambungkan Tradisi
Gunakan Kitab Klasik, Upaya Pesantren Sambungkan Tradisi
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Pesantren sampai saat ini masih menggunakan kitab klasik sebagai sumber kurikulum pengajaran. Hal itu bukanlah suatu kemunduran.

"Justru hal itu menjadi titik tolak dalam upaya melestarikan tradisi," ujar Ahmad Ginanjar Sya'ban, dosen Studi Pesantren Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di kampus Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (18/1).

Selain sebagai upaya pelestarian tradisi, katanya, teks kitab itu juga menjadi dasar pembahasan yang diteruskan dengan kontekstualisasi.

Upaya melanjutkan tradisi pemikiran klasik juga dilakukan oleh para pengasuh pesantren dengan menulis syarah atau hasyiyah-nya.

"Aktivitas para pengasuh pesantren berupaya menyambungkan tradisi para penulis kitab tersebut dengan menulis syarah (penjelasan) atau hasyiyah (penjabaran) atas kitab-kitab klasik tersebut," kata Direktur Islam Nusantara Center (INC) itu.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1999-2014 KH Sahal Mahfudz, misalnya. Ia menulis Kitab Thariqatul Hushul sebagai syarah atas kitab Ghayatul Wushul.

Penjaga Budaya

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren menentukan sejarah perkembangan Indonesia. Selain berupaya memerdekakan, pesantren juga menjaga budaya Indonesia.

"Jika Indonesia adalah suatu bahtera maka pesantren adalah jangkarnya," katanya.

Sebagai jangkar, lanjutnya, pesantren menjaga tradisi dan budaya dari gelombang arus globalisasi. Pasalnya, sampai hari ini, pesantren tetap menggunakan aksara pegon dalam belajar mengajarnya, sebagaimana Thailand tetap menggunakan aksaranya sendiri.

"Hal ini juga yang diupayakan oleh masyarakat pesantren dengan melestarikan tradisi penulisan menggunakan aksara Pegon atau Arab Jawi," ujarnya.

Lebih dari itu, pesantren merupakan suatu skriptorium naskah-naskah keagamaan.(Syakir NF/Muhammad Faizin)
Sabtu 19 Januari 2019 20:15 WIB
Kebebasan Bicara Ustadz Sekarang Berkah Gus Dur dan Kaum Reformis
Kebebasan Bicara Ustadz Sekarang Berkah Gus Dur dan Kaum Reformis
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan Ghani mengatakan bahwa kebebasan berbicara para ustadz sekarang ini merupakan berkah dari perjuangan kelompok yang menyuarakan reformasi. Gus Dur adalah salah seorang aktivis reformasi yang mempelopori kemerdekaan berpendapat yang dijamin UUD 1945.

“Sekarang para ustadz bebas berbicara. Di zaman Orde Baru para ustadz tidak bebas menyarakan pendapatnya seperti yang kita kenal seperti sekarang ini. Itu semua berkah antara lain Gus Dur,” kata Kiai Manan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1) pagi.

Meski mendapat kebebasan berbicara seperti jaminan UUD 1945, Kiai Manan menyayangkan sikap sebagian ustadz sekarang ini yang melakukan penyalahgunaan atas kebebasan tersebut.

Para ustadz memanfaatkan kekebasan era reformasi ini untuk menghujat, memfitnah, dan menyebar berita bohong terkait pihak lain yang berseberangan dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya.

“Bahkan sebagian ustadz sekarang ini sudah berbicara dengan provokatif dan mengandung sentimen SARA hanya karena berbeda pandangan dengan dirinya,” kata Kiai Manan.

Zaman Orde Baru semua ceramah agama termasuk juga khotbah Jumat berada di bawah kontrol negara. Para ustadz tidak dapat berbicara bebas yang berisi hujatan, hoaks, fitnah, atau konten provokatif yang ditujukan ke pihak mana pun, terlebih pihak pemerintah.

Menurutnya, kalau para ustadz menyampaikan khotbah dengan pesan “macam-macam”, mereka dapat diinterogasi oleh pihak koramil.

“Kita tidak menginginkan situasi itu terjadi kembali. Itu situasi yang tidak bagus di alam demokrasi Pancasila. Tetapi situasi kebebasan seperti sekarang ini juga bukan tanpa masalah. Kebebasan seperti ini berpotensi bagi mafsadat lain, perpecahan horizontal,” kata Kiai Manan.

Ia mengajak banyak kelompok termasuk para ustadz untuk menggunakan sebaik-baiknya hak kebebasan berbicara.

“Para ustadz perlu mematuhi norma-norma yang berlaku. Hal ini penting untuk menjaga iklim reformasi dari konten provokatif dan ujaran kebencian dengan sentimen-sentimen SARA,” kata Kiai Manan. (Alhafiz K)
Sabtu 19 Januari 2019 20:0 WIB
Gelar Munas Ke-5, KMNU Harus Fokus Kaderisasi
Gelar Munas Ke-5, KMNU Harus Fokus Kaderisasi
Munas Ke-5 KMNU
Surabaya, NU Online
Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur M Qoderi  mengatakan, kaderisasi merupakan elemen yang sangat penting untuk terus mempertahankan eksistensi sebuah organisasi. Saat ini kaderisasi harus menjadi perhatian khususnya di Jamiyyah Nahdlatul Ulama.

“Kita harus menjawab tantangan NU ke depan, salah satu yang harus kita persiapkan adalah kaderisasi,” ujarnya saat menjadi pemateri Seminar Nasional sekaligus Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) ke-5 di Gedung PWNU Jawa Timur, Jumat (18/1).

Wakil Ketua Bidang Kaderisasi ini pun merasa bersyukur atas adanya KMNU dan kiprahnya selama ini yang mampu menjadi tempat bersemainya para kader NU khususnya di lembaga-lembaga perguruan tinggi. Hal ini menjadi sinyal positif eksistensi NU ke depan sekaligus akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di Jamiyyah NU.

Ia pun mengingatkan dengan sejarah bagaimana kerajaan-kerajaan di Indonesia akhirnya punah. Salah satu faktornya menurut Kiai Qoderi adalah terputusnya regenerasi yang disebabkan konflik internal.

“Banyak kerajaan di Indonesia hancur. Persoalannya adalah karena tidak mempersiapkan siapa kader penerus penggantinya. Sejarah membuktikan bahwa perkelahian antara keturunan kerajaan malah menghancurkan kerajaan itu sendiri,” imbuhnya.

Oleh karena itu ia berharap KMNU dapat terus berkiprah untuk terus menjadi tempat bersemainya kader-kader NU masa mendatang.

“Mudah-mudahan NU terus memiliki para kader luar biasa, seperti KMNU, salah satu bentuk baru selain IPNU, PMII yang ada di lingkungan NU,” pesannya kepada para peserta yang akan mengikuti selama tiga hari mulai 18-20 Januari 2019 ini. (Hanan/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG