IMG-LOGO
Nasional

Terungkap, Ini Dua Cara Kelompok Lain untuk Melemahkan NU

Ahad 20 Januari 2019 1:0 WIB
Terungkap, Ini Dua Cara Kelompok Lain untuk Melemahkan NU
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas menyebut dua strategi sejumlah pihak yang digunakan untuk melemahkan organisasi NU. Dua cara ini sempat mempengaruhi sebagian kecil warga NU, tetapi kemudian gagal.

Demikian disampaikan H Robikin Emhas dalam penutupan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) Gelombang Kedua Zona DKI Jakarta di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, Sabtu (19/1) malam.

“Cara yang tidak henti-hentinya ditempuh kelompok lain untuk melemahkan NU adalah keberanian mereka menyerang, menyalahkan, dan membidahkan amaliah NU. Mereka menyebarkan fitnah, hoaks, dan berbagai macam tuduhan terhadap amaliah kita,” kata H Robikin di hadapan sedikitnya 300 peserta MKNU Gelombang Kedua Zona DKI Jakarta.

Mereka menyusun argumentasi dan dalil naqli untuk mempengaruhi keyakinan warga NU atas amaliah yang selama ratusan tahun diamalkan oleh kalangan Ahlusunnah wal Jamaah. Mereka dengan demikian mencoba membuat warga NU ragu atas amaliah tersebut.

“Mereka tidak berhasil menyerang amaliah NU karena nahdliyin cukup kuat berpegang pada tradisi ulama Ahlusunnah wal Jamaah dan sanggup mempertahankan hujjah syar‘iyah. Meski demikian, mereka tidak mengurangi upaya tersebut. Silakan perhatikan media sosial di hape kita,” kata H Robikin.

Selain cara pertama, mereka menggunakan cara lain untuk melemahkan NU. Mereka mencoba menjauhkan warga NU dari para kiainya. Mereka berupaya membuat warga NU kehilangan kepercayaan terhadap pengurus-pengurus NU.

“Mereka kemudian putar strategi. Mereka menyerang tokoh-tokoh dan pengurus NU. Mereka menghujat Gus Dur, Mbah Moen, Kiai Makruf. Mereka menuduh Kiai Said sebagai pemikir liberal dan penganut Syiah. Ini upaya mereka untuk melemahkan NU. Kita sebagai kader NU harus paham strategi kelompok lain,” kata H Robikin.

Menurutnya, hal ini bukan omong kosong belaka. Kedua cara ini dapat disaksikan di media sosial. “Kelompok lain betapa gencarnya melakukan kedua hal ini,” kata H Robikin. (Alhafiz K)
Ahad 20 Januari 2019 23:0 WIB
Gus Yusuf Ajak Masyarakat Hidup Sehat Tanpa Hoaks
Gus Yusuf Ajak Masyarakat Hidup Sehat Tanpa Hoaks
Foto: KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) (Ist.)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Pelajar Islam (API) Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengingatkan masyarakat untuk senantiasa berhati-hati dan tidak mudah percaya terhadap pemberitaan khususnya di media sosial.

"Berita itu kan muhtamilun baina shidqi wal kidzbi. Beri itu pasti ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan salah. Itulah khabar (berita)," jelasnya.

Berita yang diterima lanjut Gus Yusuf harus ditelaah, dikonfirmasi kebenarannya dan tidak mudah untuk membagikan berita apapun yang diterima. Walaupun niatnya untuk tabayun (klarifikasi) kebenaran tersebut, tapi jika membagikannya tidak tepat maka sama saja ikut serta menyebarkannya.

"Anda bilang ini hoaks apa bukan? Anda share (bagi). Ini sama saja kita membagikan berita tersebut. Jadi kalau mau tabayun, tanya jangan di media. Tanya kepada ahlinya," ungkap Gus Yusuf di akun Facebook-nya, Ahad (20/1).

Langkah tabayun bisa bertanya langsung kepada yang paham terkait informasi yang diterima. Jika itu masalah agama, bisa ditanyakan ke kiai atau kepada orang yang kompeten menjawab hal tersebut.

Merajalelanya hoaks, fitnah, berita bohong khususnya di media sosial saat inilah yang membuat gerah para kiai. Para kiai yang biasanya lembut, tiba-tiba hari ini memperlihatkan ketegasannya terhadap perilaku yang sengaja diproduksi dan disebarkan di tengah-tengah masyarakat.

"Wes wayahe sing waras ojo ngalah. (Sudah saatnya yang sehat tidak diam saja). Maka tiada lain kecuali satu kata Lawan Hoaks. Sehat tanpa hoaks," pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)
Ahad 20 Januari 2019 22:30 WIB
Gus Mus: Berlebih-lebihan Membuat Kita Tidak Adil Sejak dari Pikiran
Gus Mus: Berlebih-lebihan Membuat Kita Tidak Adil Sejak dari Pikiran
KH Mustofa Bisri
Jakarta, NU Online
KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengajak umat Islam untuk hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan di segala hal. Termasuk menurutnya tidak boleh berlebih-lebihan dalam agama (ghuluw).

"Berlebih-lebihan itu membuat kita tidak adil sejak dari pikiran. Apalagi berlebih-lebihan dalam mencintai atau membenci," katanya ketika mengisi tausiyah pada Haul ke-20 KH Muslich di Perguruan Diponegoro Jalan Sunan Giri, Masjid Jami’ Al-Hidayah Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (19/1) malam.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini, jika orang membenci dengan berlebih-lebihan maka hilang akalnya. Apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh orang yang dibencinya akan selalu salah.

"Jika sampean benci sama saya, saya ngomong 2x2=4 akan sampean salahkan. 2x2 itu 5-1, pokoknya nggak sama saja dengan saya," Gus Mus memberi contoh.

Hal ini bisa dilihat saat ini di media sosial banyak orang yang pintar namun tidak menggunakan akalnya sama sekali. Hilang semua akalnya bahkan saat diberi sesuatu yang obyektif juga tidak bisa menerima karena yang dilihat bukan apa yang dibicarakan tapi siapa yang berbicara.

“Dulu orang melihat man qola (apa yang dibicarakan). Undzur ma qala wala tandzur man qola. Lihat apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan. Sekarang itu nggak laku. Sekarang lihat orangnya dulu. Malah sekarang orangnya sudah tidak ada. Yang ada cuma ’cebong’ sama ‘kampret’,” jelas Gus Mus disambut senyum yang hadir.

Gus Mus menambahkan bahwa makhluq Allah yang bisa berfikir dengan jernih dan dimuliakan oleh Allah hanya manusia. Jadi menurutnya jika kita ingin dekat dan dimuliakan Allah SWT cukup dengan tidak berlebih-lebihan dan tetap menjadi manusia sederhana.

“Kalau kita sederhana, berfikir kita jadi jernih. Kalau berlebih-lebihan tidak akan bisa,” pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)
Ahad 20 Januari 2019 21:0 WIB
Gus Mus Kenang KH Muslich, Berperilaku Al-Qur’an dan Rasulullah
Gus Mus Kenang KH Muslich, Berperilaku Al-Qur’an dan Rasulullah
Jakarta, NU Online
Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang karib disapa Gus Mus mengungkapkan tentang sosok KH Muslich yang ketika hidupnya memperlakukan manusia sebagaimana mestinya, yakni memuliakan dan memanusiakan manusia. Menurut Gus Mus, kini jarang orang-orang berperilaku seperti itu. 

Demikian diungkapkan Gus Mus ketika mengisi taushiyah pada Haul ke-20 KH Muslich di Perguruan Diponegoro Jalan Sunan Giri, Masjid Jami’ Al-Hidayah Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (19/1).

“Sekarang ini orang yang memanusiakan manusia seperti itu (KH Muslich, red.) sudah jarang. Mempertahankan kemanusiaannnya saja sudah jarang, apalagi memanusiakan manusia. Beliau (KH Muslich) ini memanusiakan manusia, tidak pandang bulu, asal dia manusia, dimuliakan, karena Allah memuliakan manusia,” kata Gus Mus.

Atas keprihatinannya tersebut, Gus Mus berharap para ulama dapat memberikan pemahaman ajaran Islam kepada orang-orang yang awam dengan cara menampilkan suri tauladan yang baik, yakni sesuai dengan isi Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad. 

“Beliau (KH Muslich) itu tampilkan apa yang beliau pahami di Al-Qur’anul karim. Beliau tampilkan ajaran rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: kemanusiaannnya, kasih sayangnya, memanusiakan manusianya. Itu kita jadi melihat itu, kita yang tidak begitu paham Al-Qur’an, itu tahu, ‘oh ini perilaku Qur’an ini seperti ini,” imbuhnya.

Bukan sebaliknya dengan membuat masyarakat menjadi bingung karena perilakunya tidak sesuai dengan yang dipraktikkan Nabi Muhammad Saw.

“Masyarakat jangan dibikin bingung. Kanjeng Nabi ke barat, sampeyan ke timur, padahal sampeyan sudah kadung disebut pewarisnya Nabi, ini kan repot. Ini pewaris Nabi, kok Nabi ke barat, dia ke timur, Nabi lembut, kok dia kasarnya kaya gitu, Nabi sering mendoakan baik kepada orang, kok dia sering melaknat orang, masyarakat bingung,” terangnya.

Menurut Gus Mus, jika pun kesulitan mengikuti perilaku seperti yang dilakukan Nabi Muhammad, setidaknya tidak melakukan hal-hal yang bertentangan perbuatan Nabi Muhammad.

Gus Mus berpendapat, mengajarkan kepada orang-orang awam melalui perilaku sehari-hari lebih efektif daripada berpidato.

“Itu akan lebih efektif untuk mengajak saudara-saudara kita daripada kita pidato seperti ini, pidato seperti saya ini. Pidato seperti ini, sampean bisa sambal ngantuk, bisa sambal macem-macem, tapi kalau melakukan sesuatu yang sesuai dengan ajaran mungkin tidak banyak kata, tidak banyak tausiyah, orang dengan mudah melihat,” jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG