IMG-LOGO
Daerah

Gus Mus: Sederhana Kunci untuk Dekat dan Dimuliakan Allah

Ahad 20 Januari 2019 12:28 WIB
Bagikan:
Gus Mus: Sederhana Kunci untuk Dekat dan Dimuliakan Allah
Jakarta, NU Online
KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang karib disapa Gus Mus menyebut bahwa sederhana merupakan kunci untuk dekat dan tetap dimuliakan Allah SWT. Menurut Gus Mus, jika seseorang menjalani hidup dengan sederhana, maka pikirannya jernih dan moderat.

Demikian dikatakan Gus Mus ketika mengisi tausiyah pada Haul ke-20 KH Muslich di Perguruan Diponegoro Jalan Sunan Giri, Masjid Jami’ Al-Hidayah Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (19/1) malam.  KH Muslich merupakan seorang pejuang pergerakan yang gigih dan tokoh Nahdlatul Ulama.

“Jadi sebetulnya kalau kita pengen dekat dengan Allah subhanahû wa ta’ala, pengen tetep dimuliakan oleh Allah subhanahû wa ta’ala mudah sekali. Kita tetap jadi manusia saja. Gak usah lagi pengen jadi macem-macem. Tapi syaratnya ya itu: sederhana,” kata Gus Mus.

Gus Mus sendiri mengaku mengetahui KH Muslich melalui KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan dr H Fahmi Djafar Saifuddin ketika dirinya ke Jakarta.

Bagi Gus Mus, KH Muslich merupakan sosok yang sederhana. Melalui kesederhanannya itu, membuat orang tidak banyak tahu bahwa KH Muslich merupakan seorang pejuang, kiai besar, dan pendidik.

“Itu hanya melihat (Kiai Muslich) saja, saya sudah mendapat ilmu banyak. Dari kesederhanaan, dari sikapnya kepada anak-anak muda, sikapnya kepada orang yang lebih tua, kesederhanaannya itu yang luar biasa. Jadi kalau orang ketemu kiai Muslich gak akan tau kalau beliau ini seorang pejuang, seorang kiai besar, seorang pendidik,” terangnya.

Selain kesederhanaan, KH Muslich juga disebut Gus Mus sebagai sosok yang memuliakan dan memanusiakan manusia. Hal itu tercermin dari sikap KH Muslich yang mau mendengarkan setiap omongan orang.

“Anak muda ngomong didengarkan dengan penuh perhatian. Orang gak begitu pintar ngomong dengan beliau, beliau sudah tau apa yang diomongkan, didengarkan,” ucapnya.

Menurut Gus Mus, kini sedikit orang yang memuliakan dan memanusiakan manusia seperti yang ditampilkan KH Muslich. 

“Mempertahankan kemanusiaannnya saja sudah jarang, apalagi memanusikan manusia. Beliau ini memanusiakan manusia, tidak pandang bulu, asal dia manusia dimuliakan karena Allah memuliakan manusia. Silakan anda tanya kepada mereka yang menangi, mengalami, berjumpa dengan almarhum,” jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Ahad 20 Januari 2019 22:45 WIB
Santri Bahrul Ulum Warisi Darah Pejuang Islam dan Pembela Tanah Air
Santri Bahrul Ulum Warisi Darah Pejuang Islam dan Pembela Tanah Air
Santri putri Bahrul Ulum
Jombang, NU Online
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) Tambakberas KH Wafiyul Ahdi mengatakan santri Bahrul Ulum memiliki darah pejuang yang diwariskan oleh para pendiri dan pengasuh, terutama dari KH Abdul Wahab Hasbullah dan Kiai Syechah.

Darah yang diwariskan tersebut adalah darah sebagai pejuang Islam dengan menjadi dai, menyebarkan ajarannya dan darah sebagai pembela tanah air. Hal ini karena kecintaan yang besar pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Lebih jauh dua warisan darah tersebut berasal dari pendiri Pondok Bahrul Ulum, yaitu Mbah Sychah. Mbah Syechah memiliki dua sisi. Satu sisi adalah seorang dai yang mengajarkan Islam dan di sisi lain merupakan pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia. Itulah yang kita warisi sampai saat ini," katanya, Sabtu (19/01).

Lebih lanjut Kiai Wafi menyampaikan darah perjuangan tersebut dijaga selama bertahun-tahun bersama dengan berdirinya Pesantren Bahrul Ulum. 

"Kita sebagai penerus dari para pendiri berusaha melanjutkan cita-cita pendiri yang menjadikan pondok pesantren sebagai pusat pengkaderan bagi santri-santri yang memiliki dua sisi," tambah Kiai Wafi.

Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas saat ini berumur 194 tahun dan madrasah berumur 104 tahun. Pesantren ini dirintis pertama kali oleh Mbah Syechah. Ia merupakan salah satu pasukan dari Pangeran Diponegoro.

"Alhamdulillah saat ini kita sedang melaksanakan opening ceremony Hari Ulang Tahun Madrasah dan Pesantren (Humapon). Ulang tahun pondok ke-194 dan madrasah ke-104. Semoga kita selalu mendapatkan barokahnya," bebernya.

Humapon kali ini mengangkat tema Indonesia merawat kebhinekaan mengukuhkan keutuhan. Kekayaan budaya di nusantara juga harus dirawat oleh santri terutama berkaitan dengan pesantren dan Islam secara umum.

Santri harus bisa menciptakan perdamain dengan keanekaragaman adat budaya di Indonesia. Santri hendaknya menjadi pelopor bagi bangsa yang sedang tidak aman karena banyak kalangan yang ingin negara kacau.

"Sesuai dengan tema yang diangkat bahwa para santri bisa membuat bangsa dengan damai dengan cara menampilkan budaya nusantara diakhiri dengan tarian saman. Disini ada 10 ribu peserta yang merayakan Humapon," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Ahad 20 Januari 2019 22:0 WIB
NU Kabupaten Pasuruan Bantu Korban Banjir di Rejoso dan Grati
NU Kabupaten Pasuruan Bantu Korban Banjir di Rejoso dan Grati
Pasuruan, NU Online
Ikhtiar membantu mereka yang tertimpa musibah terus dilakukan Nahdlatul Ulama. Hal tersebut dibuktikan oleh Tim NU Peduli PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Ada sejumlah pihak yang turut andil yakni LPBI NU, LKK NU, LAZISNU, juga Ansor Bagana. Mereka  membantu korban bencana banjir di Kecamatan Rejoso dan Kecamatan Grati Pasuruan, Ahad (20/1).

"Banjir terjadi Jumat malam. Alhamdulillah, hari ini kami sudah bisa membantu dengan menggunakan dana siaga bencana PCNU yang selama  ini rutin dihimpun melalui LAZISNU," kata H Muhammad Nawawi.

"Bantuan logistik berupa beras, mie instan, telor dan lain-lain adalah untuk keperluan dapur umum darurat di lokasi terdampak bencana," ungkap Ketua PC LAZISNU Kabupaten Pasuruan tersebut. 

Menurut Gus Awie, sapaan akrabnya, bahwa di Rejoso ada 8 desa yang terdampak dengan jumlah mencapai hampir 3000 kepala keluarga. Sementara di Grati ada Satu dusun yang tergenang yaitu Dusun Kebrukan dengan jumlah 290 KK, lanjut alumnus Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah tersebut.

"Meski genangan air mulai surut, untuk daerah Rejoso Lor dan Patuguran, air masih akan terus menggenang sampai tiga atau empat hari yang akan datang," imbuhnya.

Gus Awie juga berharap, warga NU dan masyarakat umum bisa ikut membantu para korban banjir.

"Tim NU Peduli terus membuka dan penerimaan sampai sekarang terus bertambah. Sekarang sudah mencapai 6 juta rupiah," pungkas putra KH AD Rohman Syakur ini.

Sementara itu, Sulastri, warga Desa Sidowayah, berterima kasih telah dibantu oleh PCNU Kabupaten Pasuruan.

"Disambangi ngeten niki kulo pun seneng, ngriki nggeh warga NU, nopo male dibantu, alhamdulillah (dikunjungi seperti ini saya sudah senang, di sini ya warga NU, apalagi dibantu, alhamdulillah)," kesannya sambil tersenyum. (Makhfud/Ibnu Nawawi)

Ahad 20 Januari 2019 21:30 WIB
Kader IPPNU Harus Membuka Diri dan Mencerdaskan Masyarakat
Kader IPPNU Harus Membuka Diri dan Mencerdaskan Masyarakat

 Sumenep, NU Online

Sejarah panjang berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak terlepas dari peran perempuan. Sehingga perempuan di era milenial harus mampu mengambil peran di berbagai lini untuk membuktikan bahwa dirinya mandiri.


Pesan tersebut disampaikan Ny Innani Mukarramah pada Makesta (Masa Kesetian Anggota) Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) SMA Pesantren Al-In'am, Banjar Timur, Gapura Sumenep, Jawa Timur, Ahad (20/1).


"Buang jauh-jauh mindset perempuan yang hanya sebatas bertugas di dapur, sumur dan kasur,” kata Ketua Srikandi PIN (Pejuang Islam Nusantara) Pusat ini.


Pada acara yang mengambil tema Peran Perempuan di Era Milenial tersebut, dirinya menjelaskan hal yang harus dilakukan perempuan, termasuk kader IPPNU. “Perempuan hari ini harus membuka diri dan membuktikan bahwa kita memiliki kewajiban untuk merangkul dan mencerdaskan masyarakat di sekitar kita," tegasnya.


Menurutnya, tema yang dipilih panitia sudah tepat. "Sebagai upaya menegaskan kepada peserta Makesta untuk lebih mengenal bagaimana tugas dan kewajiban kader NU di era mileneal dan digital hari ini," jelasnya. Sehingga tidak mudah terpengaruh oleh doktrin radikalisme yang akan melunturkan jiwa ke-NU-an mereka, lanjutnya.


Acara diikuti puluhan santriwati Pondok Pesantren Al-In'am dan beberapa utusan dari kampus di Madura. (Masjudi/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG