::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

SULUK MALEMAN

Ngaji NgAllah, Lakon Bharatayudha Wurung untuk Meruwat Bangsa

Senin, 21 Januari 2019 09:03 Daerah

Bagikan

Ngaji NgAllah, Lakon Bharatayudha Wurung untuk Meruwat Bangsa
Sujiwo Tejo dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman “Bharatayudha Wurung” di Rumah Adab Indonesia Mulia
Pati, NU Online 
Ada momen yang berbeda dalam pagelaran Suluk Maleman edisi ke-85 atau yang tepat tahun ketujuh pada Sabtu (19/1) kemarin. Selain ngaji budaya, kegiatan yang digagas Anis Sholeh Ba’asyin itu pun rupanya turut menggelar ruwatan untuk bangsa.

Ruwatan itu diisi dengan pagelaran wayang yang dimainkan oleh Sujiwo Tejo sebagai dalangnya. Lakon Bharatayuda Wurung dipilih dalam wayangan di rumah Adab Indonesia Mulia malam itu.

Lakon itu sendiri menceritakan permasalahan perebutan kekuasan di Hastina, yang membuat pihak Pandawa maupun Kurawa pada akhirnya memiliki peran yang sama dalam menciptakan konflik di masyarakat.  

Kedua belah pihak sama-sama memproduksi fitnah, tipu daya hingga hoaks yang pada akhirnya mengacaukan masyarakat. Melihat keprihatinan tersebut Semar akhirnya berinisiatif untuk mencari jalan keluar agar konflik politik tidak menjadi peperangan terbuka.

Sejumlah lagu Sujiwo Tedjo seperti “Ingsun”, dan “Titi Kala Mangsa” juga dibawakan pada malam itu. Doa bersama dan potong tumpeng turut menjadi bagian dalam rangkaian ruwat Bangsa tersebut.

Rupanya pagelaran wayang dari presiden Jancukers itu mampu menarik ribuan masyarakat untuk menyaksikan. Bahkan walaupun sempat diguyur hujan yang cukup deras tidak membuat surut masyarakat untuk tetap menikmatinya.

Anis Sholeh Baasyin, mengatakan ruwatan bangsa itu memang digelar menjelang tahun politik sebagai doa agar bangsa dan dan negara ini selamat. Dalam topik malam itu memang banyak menyentil terkait munculnya kesan mudah berselisih hanya lantaran perbedaan pilihan.

“Munculnya fenomena capres fiktif Nurhadi itu lantaran masyarakat sudah jenuh terhadap menguatnya perdebatan yang tidak jelas arahnya antara dua kelompok pilihan. Fenomena itu justru menjadi bukti bahwa sebagian besar masyarakat masih waras,” terang Anis

Dia pun berharap meski terjadi perbedaan pilihan agar tidak sampai diperdebatkan hingga di luar batas. Bisa dimungkinkan perdebatan semacam itu nantinya justru akan ditertawakan oleh anak cucu kita kelak lantaran dianggap sebagai hal yang konyol.

Anis lantas bercerita bagaimana dulu dia melihat dua orang pemilik kendaraan yang berbeda merk, yang satu Honda yang lain Yamaha, berdebat habis-habisan hampir semalaman tentang kehebatan dan keunggulan kendaraannya dibanding yang lain. Perdebatan tersebut tentu akan segera dianggap konyol dan menjadi bahan tertawaan generasi masa kini.

Yang lebih tragis, demikian lanjut Anis, adalah kejadian yang terjadi di Nigeria. Dua pemuda yang berdebat habis-habisan tentang mana yang lebih hebat antara Messi dan Ronaldo, akhirnya membuat yang satu membunuh yang lain.

“Berjalan harus mengalir, jangan memegang apapun kecuali Allah dan jangan meminta apapun kecuali ke Allah. Kalau mau mengalir dengan nyaman, lepaskanlah dirimu dari hawa nafsu,” terangnya.

Tragedi maraknya hoaks disebut Anis sebagai salah satu bukti bentuk hilangnya nilai beragama. Seharusnya jika orang beragama tentu tidak akan mudah menyerang orang lain apalagi hingga membenci. Hidup pun terasa akan menjadi lebih santai.

“Sikap adil itu bahkan kepada orang yang memusuhi. Islam tidak mengajar kita untuk menggunakan pendekatan kelompok. Kini yang sering terjadi, karena bukan bagian dari kelompoknya, yang  benar pun kemudian disalahkan. Seharusnya tidak seperti itu,” imbuhnya.

Dia pun menyebut jika di dalam kehidupan selalu diciptakan dalam keseimbangan. Jika keseimbangan itu terganggu justru akan menjadikan sakit. Oleh karena itulah orang beriman seharusnya menjadi penengah agar dapat menjaga keseimbangan.

“Berjalanlah mengalir seperti air. Begitu berhenti tentu akan menjadi comberan. Tak hanya mengotori diri sendiri juga lingkungan,” demikian tegas Anis. (Red: Abdullah Alawi)