IMG-LOGO
Tokoh

Subchan ZE (1931-1973): Oposan Flamboyan Dua Rezim

Senin 21 Januari 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Subchan ZE (1931-1973): Oposan Flamboyan Dua Rezim
Subchan ZE (memegang buku)
Aktor politik, sipil dan militer, jelang transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru pasti mengingat nama Subchan ZE. Tokoh politik dari Nahdlatul Ulama yang sinarnya redup selepas kematian misterius akibat kecelakaan lalu lintas di Riyadh, Arab Saudi tahun 1973.

Beberapa saat sebelum kematiannya, ia memberikan wawancara eksklusif koresponden AFP, Brian May, tentang jaringan bisnis Soeharto yang ada di Singapura, Belanda, dan AS. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kudus, Jawa Tengah.

Beberapa hari pasca pembunuhan para Jenderal, dini hari 1 Oktober 1965, hampir seluruh Jakarta mencekam. Keadaan berbeda terjadi di kediaman Subchan ZE Jl. Banyumas 4, Menteng. Ramai oleh hingar-bingar para aktivis anti PKI. Berasal dari aktivis ormas Islam, Kristen, dan Katolik. Mereka mengkonsolidir diri ke dalam Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu yang dipimpin oleh Subchan ZE (NU) dan Hary Tjan Silalahi (PMKRI/Katolik). Sejak itu, Subchan melesat menjadi the rising star.

Ia menjadi tokoh sipil yang mampu menggerakan massa aksi menuntut pembubaran PKI. Tokoh NU yang diterima oleh banyak pihak. Sulastomo (mantan Ketua Umum PB HMI), dalam memoarnya, mengakui hal ini. Menurutnya Subchan banyak memberikan pertimbangan dan nasehat kepada PB HMI dan menjadikan rumahnya seperti markas kedua setelah markas di Jl. Diponegoro sekaligus sebagai dapur umumnya.

Tidak hanya sipil, Subchan juga dekat dengan Angkatan Darat. Keberadaan KAP Gestapu mendapat dukungan dari kelompok itu. Kedekatannya semata-mata karena kepentingan yang sama. Membendung pengaruh komunisme. PKI melihat NU sebagai lawan politik dan ideologi. Ketidaksukaan terhadap komunisme tidak hanya ditunjukan di dalam negeri. Selaku Vice President dari Afro Asia Economic Coorporation (Afrasec) tahun 1960-1962 ia pernah mengusir delegasi Rusia dari persidangan di Mesir. Setibanya di tanah air dia ditahan.

Kedekatan Subchan dengan tentara retak lima tahun berikutnya.

Tahun 1966 Subchan diangkat sebagai Wakil Ketua MPRS. Dalam posisinya, ia tetap konsisten mendesak pembubaran PKI dan meminta ‘pertanggungjawaban’ Soekarno sebagai Presiden. Soeharto yang diuntungkan dari ‘kecelakaan PKI’ dikukuhkan sebagai Presiden oleh MPRS tahun 1968.

Melawan Soeharto
Setelah pelantikan Soeharto, Subchan tidak berhenti menjadi seorang ‘pemberontak’. Ia mencaci pola ‘redressing’ gaya Soeharto yang mengamputasi perangkat demokrasi di dalam lembaga legislatif.

Kritik keras dia sampaikan dalam sebuah pidato sebagai wakil ketua MPRS. Ia menuding kaidah-kaidah Orde Baru mulai kabur dan tidak lagi menjadi landasan perjuangan bagi seluruh komponen Orde Baru. Ia juga menyatakan bahwa “machinery” Orla sudah mendapat jalan melalui sel-sel koruptif, intrik, dan konspirasi yang sudah merajalela.

Menurut Subchan, pemerintah harus segera mengingat kembali kaidah-kaidah dasar perjuangan Orde Baru, yang intinya: 1) penegakan tata kehidupan demokrasi; 2) penegakan tata kehidupan hukum dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari; 3) pengusahaan adanya pendemokrasian di dalam pelaksanaan kebijaksanaan ekonomi, dan; 4) penegakkan hak asasi manusia (Choirul Anam, 1985).

Dengan lebih tajam, Ia mengkoreksi pemerintahan Soeharto yang sengaja menunda penyelenggaraan pemilu 1968 menjadi 1973. Berkat perlawanan gigihnya pemilu bisa berlangsung tahun 1971.

Jelang pemilu, konfrontasi terbuka Subchan dengan Soeharto semakin tidak terelakkan. Ia mengkritik menteri dalam negeri waktu itu, Jenderal Amir Machmud, agar menjadi wasit yang adil dan jangan main “bulldozer”. Lebih jauh ia menyesalkan keluarnya Permendagri No 12/1969 yang melarang keterlibatan anggota departemen (PNS) di dalam partai politik yang dinilai hanya menguntungkan Golkar. Ia menyebut Permendagri tersebut tidak memenuhi syarat perundang-undangan dari sudut formal karena bertentangan dengan UU No 18/1968. Dari sudut material, hakekatnya materi tersebut diatur dalam undang-undang dan bukan Permen.

Kritik-kritik terhadap rezim baru juga dia sampaikan selama masa kampanye. Dalam catatan Choirul Anam, penulis buku ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU’, pidato politik Subchan saat berkampanye kerap mengumandangkan istilah “jihad” untuk mengobarkan semangat politik umat Islam. Istilah “jihad” ini juga kemudian digunakan oleh Soeharto dalam pidato tanpa teksnya saat meresmikan pasar tekstil Klewer di Surakarta. Soeharto menyatakan bahwa setiap usaha “jihad” yang selalu dikobar-kobarkan golongan tertentu akan dihadapi oleh pemerintah dengan dengan semangat “jihad” pula. Komentar Soeharto di wilayah publik ditujukan hanya kepada Subchan.

Berkat kerja keras Jusuf Hasyim, Syaifudin Zuhri, KH. A. Syaichu, dan terutama Subchan ZE berhasil menempatkan NU dalam dua besar Pemilu 1971. Persis di bawah Golkar. Menguasai 69,96 persen suara yang diperoleh partai-partai Islam. Itulah prestasi terbesar NU dalam kapasitasnya sebagai partai politik.

Usai pemilu, ia bersama Nasution menulis Buku Putih yang berisi Laporan Pimpinan MPRS 1966-1972. Belum sempat diedarkan secara luas, buku itu disita dan dimusnahkan oleh Kopkamtib karena berisi sejumlah kecaman.

Sebagai salah seorang pemain inti Subchan memiliki musuh yang sangat kuat. Kritik-kritik tajamnya kepada pemerintah dan popularitasnya yang terus meningkat semakin menjadi ancaman rezim. Perilaku koruptif rezim jelas dia benci. Kebencian itulah yang membuat dia mati muda di usia 42 tahun.

Kematian Subchan yang misterius disejajarkan oleh George Junus Aditjondro dengan kematian Baharudin Lopa, Udin ‘Bernas’, dan Agus Wirahadikusumah. Di matanya, mereka mati karena memiliki keberanian membongkar perilaku koruptif.

Entah kebetulan atau tidak, jenderal Amir Mahmud sedang berada di Arab Saudi pada waktu kematian Subchan. Hingga kini, kematiannya tidak pernah diinvestigasi.

Dinamika Idham dan Subchan
Tidak diterimanya figur Subchan secara utuh di NU tidak lain karena gaya hidupnya yang dianggap flamboyan. Berbeda dengan kebanyakan pimpinan NU yang masih berperilaku tradisional-konservatif masa itu. Selain itu, sikap kritis Subchan tidak hanya ditujukan ke luar tapi juga ke dalam.

Menurut catatan Arief Mudatsir Mandan dalam tulisannya berjudul ‘Subchan ZE: Buku Menarik yang Belum Selesai”, Subchan dibesarkan oleh keluarga Islam-tradisionalis (santri) yang cukup mapan di Kudus. Di masa kecil ia mendapatkan pendidikan modern di sekolah Muhammadiyah. Pendidikan terakhirnya hanya setingkat diploma dalam bidang ekonomi di University of California. Sejak kecil ia sudah dilatih menjadi pengusaha. Ayah angkatnya, H. Zaenuri Echsan, memberinya kepercayaan memimpin perusahaan rokok cap “Kucing” di saat usianya baru menginjak 14 tahun.

Pertengahan tahun 1950-an ia sudah berhasil menjadi pengusaha yang meliputi usaha perdagangan, penerbangan, real estate, dan keuangan. Pengetahuan dan pengalamannya dalam bidang ekonomi menjadikannya sebagai seorang dosen dan komentator ekonomi.

Umar Basalim, aktivis PMII dan mantan rektor Universitas Nasional, mengatakan bahwa pada tahun 1965 Subchan sudah memperkenalkan konsep ekonomi alternatif. Konsep itu juga yang membuat ekonom jebolan Barkeley, Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana, kelabakan dalam sebuah diskusi yang digelar di Universitas Indonesia awal 1966 (Prioritas, 42/2012).

Keberhasilan Subchan menjadi pengusaha membuat hidupnya berlimpah. Menurut Greg Fealy, dalam bukunya ‘Ijtihad Politik Ulama’, Subchan memiliki rumah mewah di Jakarta dan Singapura, serta beberapa villa. Ia menerbangkan sendiri pesawat pribadinya dan menyukai mobil balap. Kegemarannya berdansa dengan wanita-wanita glamor membuat dia dijuluki sebagai ‘Kennedy-nya Indonesia’ oleh teman-temannya.

Kegemaran itu pula yang akhirnya menjadi kurang diterima oleh para kyai senior. Subchan gagal menjadi Ketua Umum Tanfidziyah meski didukung oleh banyak kalangan di internal NU. Diakomodasinya Subchan sebagai Ketua I PBNU hanya bertahan sebulan setelah Muktamar ke-25/1971. Pada 21 Januari 1972 Subchan dibebastugaskan oleh Rais Aam PBNU KH. Bishri Syansuri.

Di luar gaya hidupnya yang flamboyan, terdapat sejumlah friksi antara Subchan dan kelompok Idham Chalid yang saat itu menjadi Ketua Umum PBNU. Friksi yang sesungguhnya sudah ada sejak era Orde Lama. Subchan tidak terlalu menyukai strategi akomodasi yang diterapkan oleh PBNU. PBNU dinilainya terlalu cepat menerima konsep dan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dan Nasakom. Hasilnya, PKI mempunyai pengaruh lebih di pemerintahan. Sementara Idham Chalid mempunyai sikap politik yang luwes dan fleksibel. Friksi atas pandangan politik ini terus berlanjut di masa awal Orde Baru.

Tulisan Choirul Anam menyebutkan bahwa isi pidato Subchan dalam berbagai kampanye pemilu 1971 yang kerap mengkritik Orde Baru tidak direstui oleh Idham. Ia menyesalkan sikap Subchan melalui media massa cetak dan elektronik.

Meski pada akhirnya dipecat, Subchan tidak sendirian. Ia mendapat dukungan dari banyak kyai. Kyai Machrus Aly (Kediri), Kyai Ali Ma’sum (Yogyakarta), Kyai As’ad (Situbondo), Kyai Bisri Mustofa (Rembang), pengurus NU daerah, dan anak-anak muda NU. Polemik Subchan-Idham terhenti otomatis saat Subchan wafat tanggal 21 Januari 1973 atau tepat satu tahun setelah pemberhentiannya.

Bagi van Bruinessen, dalam kata pengantar buku ’NU Muda’, selain Wahid Hasyim, Subchan ZE merupakan figur NU paling menonjol yang kemudian di marjinalisasi dari sistem politik. Idham Chalid, dalam kelonggarannya berpolitik, dianggap lebih mewakili pendirian kyai NU di banding keduanya.

Pulangnya Gus Dur dari studi awal 70-an membuat nama Subchan sebagai politisi NU serba bisa: jago ngaji, penerbang, berdansa, dan berdagang berlahan tenggelam. (Dwi Winarno)

Tags:
Bagikan:
Selasa 1 Januari 2019 2:0 WIB
Riwayat Singkat KH Abdullah Mubarok atau Abah Sepuh
Riwayat Singkat KH Abdullah Mubarok atau Abah Sepuh
KH Abdullah Mubarok berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia lebih dikenal sebagai Abah Sepuh, ajengan pendiri dan pemimpin pesantren Suryalaya, Pagerageung, Tasikmlaya. Selain itu, dia juga seorang mursyid Tarekat Qodiriyyah Naqsababandiyah (TQN) yang diangkat sebagai mursyid tahun 1908.

Abah Sepuh lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang. Sekarang, kampung tersebut masuk ke dalam Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Waktu kecil ia belajar mengaji kepada ayahnya, R. Nurapraja yang bekerja sebagai upas kecamatan.

Ia kemudian dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kiai Jangkung. Sejak kecil, sudah gemar mengaji dan mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. 

Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya, ia melanjutkan menimba ilmu agama ke pesantren Sukamiskin Bandung. Di Pesantren Sukamiskin, ia mendalami fiqih, nahwu, dan shraf. Selain di pesantren tersebut, ia juga belajar tarekat kepada pada Syekh Tolhah di Trusmi, Cirebon dan dan Syekh Kholil Bangkalan, Madura. 

Pada tahun 1890, ketika usianya setengah abad, ia membuka pengajian. Mula-mula di kampung Tundangan, kemudian ke kapung Cisero. Dan baru tahun 1902, ia pindah ke kampung Godebag. Karena itulah ia dikenal dengan sebutan Ajengan Godebag. Pada tahun 1905, ia mendirikan pesantren Suryalaya yang ternyata menarik minat masyarakat dan kemudian berkembang subur dan masih berdiri dan berkembang hingga sekarang. 

Pada tahun 1907, guru tarekatnya dari Cirebon, Syekh Tolhah, sempat mengunjungi pesantren Godebag. Gurunya tersebut melihat pesantren sebagai masa depan cerah untuk mengembangkan ilmu agama, termasuk tarekat. Maka, sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun,  ia diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah.

Di dalam tarekat itu, ia juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.  Sejak diangkat menjadi mursyid, ia semakin dikenal sebagai kiai dan pemimpin tarekat.  

Pada tahun 1950, ketika usianya memasuki 114 tahu, Abah Sepuh mengangkat salah seorang putranya, KH Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin, sebagai pendamping yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. 

Pada tahun 1952, karena menghebatnya gangguan keamanan disamping usianya yang sudah uzur, Abah Sepuh bertetirah di Kota Tasikmalaya. Setelah menjalani masa yang cukup panjang, Abah Sepuh wafat pada tangal 25 Januari 1956 dalam usia yang cukup panjang, yaitu 120 tahun.

Ia meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia. Pesantren tersebut dilanjutkan putranya yang sudah dipersiapkan sejak awal, Abah Anom. Putranya yang kelima tersebut juga melanjutkan dan menggantinya dalam mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. (Abdullah Alawi)

Senin 31 Desember 2018 14:0 WIB
Riwayat KH Muhammad Masthuro dan Wasiatnya
Riwayat KH Muhammad Masthuro dan Wasiatnya
Ajengan KH Muhammad Masthuro adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Masthuriyyah, Babakan Tipar, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat. Ia lahir di Kampung Cikaroya, Tipar, Sukabumi pada tahun 1901. 

Masa kanak-kanak Masthuro belajar kepada ayahnya bernama Kamsol, seorang amil atau lebe yang bertugas mengurusi masalah keagamaan di desa. Kemudian ia berguru kepada kiai-kiai di Sukabumi diantaranya: H. Asy’ari (dari tahun 1909 sampai 1911) K.H. Katobi (dari 1911 sampai 1914) KH Hasan Basri (tahun 1914 sampai 1915) K.H. Muhammad Kurdi (tahun 1914 sampai 1915), K.H. Ghazali (dari 1915-1916) K.H. Muhammad Sidiq (tahun 1916-1916) KH Ahmad Sanusi (tahun 1918 sampai 1920).

Kemudian ia belajar kepada Habib Syekh bin Salim Al Atthas, guru para ajengan Sukabumi. KH Masthuro merupakan santrinya yang paling disayang, sehingga sebelum wafat, Habib Syekh berpesan supaya dikebumikan di samping KH Masthuro. Kedua ulama tersebut dimakamkan berdampingan di Pesantren Al-Masthuriyah.

KH Masthuro memiliki 13 putra dan putri. Salah seorang putranya, almarhum KH E. Fachrudin Masthuro, pernah menjabat Wakil Rais ‘Aam PBNU, hingga wafatnya menjadi salah seorang Mustasyar PBNU. 

Sebagai seorang yang hidup di masa penjajahan Belanda, KH Masthuro memperlihatkan keberaniannya. Ia melindungi para pejuang dan rakyat Indonesia. Sering penjajah memeriksa pesantrennya, tetapi KH Masthuro tidak menyerahkan mereka yang meminta perlindungan itu, sekalipun penjajah menodongkan senjata kepadanya.

Sebelum wafat, KH Masthuro mewasiatkan 6 hal kepada anak-anak dan mantu-mantunya, yaitu:

1. Kudu ngahiji dina ngamajukeun pesantren, madrasah. Ulah pagirang-girang tampian. (harus bersatu untuk kemajuan pesantren)
2. Ulah hasud (jangan hasud)
3. Kudu nutupan kaaeban batur (harus menutupi aib orang lain)
4. Kudu silih pika nyaah, (saling mengasihi)
5. Kudu boga karep sarerea hayang mere (suka memberi)
6. Kudu mapay tarekat anu geus dijalankeun ku Abah (harus mengikuti tarekat KH Masthuro)

Wasiat tersebut, hingga kini menjadi pegangan keturunan dan penerus KH Masthuro di pesantren Al-Masthuriyah. Terutama yang poin pertama, dalam keberlangsungan lembaga pendidikan memiliki makna penting untuk menanamkan dan memperkuat lembaga yang dirintisnya. Wasiat ini diungkapkan dengan jelas agar para pewaris perjuangan KH Masthuro tidak sulit menafsirkan maknanya.

Hampir seluruh putra-putri KH Masthuro tinggal di kompleks pesantren tersebut untuk turut serta mengembangkan Al-Masthuriyah. Hanya sekitar 20% cucunya yang tidak tinggal di pesantren yang kini sudah lengkap mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi.. 

KH Masthuro mengarang kitab berjudul Kaifiyatus Shalat, tebal 89 halaman, yang ditulis dengan bahasa Arab yang mudah dipahami. Kitab ini merupakan tukilan dari berbagai kitab yang membahas bab shalat, mulai dari Safinatun Naja, Sulam Munajat, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, tapi lebih banyak dari kitab Bajuri. (Abdullah Alawi)



Rabu 19 Desember 2018 13:0 WIB
Sa’ad bin Abi Waqqash, Sahabat Nabi yang Mendakwahkan Islam di China
Sa’ad bin Abi Waqqash, Sahabat Nabi yang Mendakwahkan Islam di China
Masjid Sa'ad bin Abi Waqqash di Ghuangzhou. Foto: Andini/detikTravel
Oleh: A Muchlishon Rochmat

Sa’ad bin Abi Waqqash memiliki peran dan kontribusi yang besar dalam dakwah Islam. Bersama Rasulullah, dia hampir mengikuti semua peperangan untuk menegakkan Islam. Sa’ad bin Abi Waqqash juga adalah orang pertama yang melepaskan anak panah dalam peperangan membela Islam. Begitu pun menjadi orang pertama yang terkena anak panah.

Sa’ad bin Abi Waqqash memeluk Islam ketika usianya baru 17 tahun. Ia termasuk golongan yang pertama masuk Islam (assabiqunal awwalun). Sa’ad memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan. Diantaranya menjadi satu dari 10 orang yang dijamin Rasulullah masuk surga, orang yang doanya diterima –karena suatu ketika Rasulullah pernah berdoa agar doa Sa’ad selalu dikabulkan Allah, menjadi pasukan berkuda di Perang Bada dan Uhud.

Sebagaimana keterangan dalam buku Ash-Shaffah (Yakhsyallah Mansur, 2015), Sa’ad juga menjadi sebab turunnya (asbabun nuzul) tiga wahyu Allah kepada Rasulullah. Pertama, QS. Luqman ayat 15. Ayat ini turun setelah kejadian ibunda Sa’ad bin Abi Waqqash tidak mau makan karena tahu anaknya memeluk agama Islam. Kedua, QS. Al-An’am ayat 52-52. Menurut Sa’ad, ayat tersebut berkaitan dengan enam orang sahabat. Dan dirinya adalah salah satunya. 

Ketiga, QS. Al-Anfal ayat 1. Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil membunuh orang yang telah membunuh saudaranya, Umair, dalam Perang Badar. Sa’ad juga berhasil mengambil pedang orang tersebut sebagai ghanimah. Namun Rasulullah memerintahkannya agar pedang tersebut disimpan di tempat rampasan perang. Ini membuat Sa’ad sedih. Lalu turunnya ayat tersebut dan Rasulullah kemudian memberikan pedang tersebut kepada Sa’ad.

Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk salah satu sahabat yang memiliki umur panjang. Ia wafat pada usia 83 tahun. Ia hidup di era Rasulullah, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, dan Khalifah Utsman bin Affan. Pada saat kekhalifahan Umar bin Khattab, Sa’ad diangkat untuk memimpin pasukan umat Islam melawan Persia dalam Perang Kadisiah. Pasukan umat Islam dibawah komando Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Persia. Kemenangan ini sekaligus menjadi ‘pintu masuk’ dalam mendakwahkan Islam di bumi Persia.

Sementara pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash ditugaskan untuk memimpin delegasi ke China. Merujuk buku Perkembangan Islam di Tiongkok (Ibrahim Tien Ying Ma, 1979), ini menjadi tonggak pertama dakwah Islam di negeri tirai bambu. 

Sebetulnya ada banyak versi tentang awal dan proses masuknya Islam ke China. Ada yang menyebut Islam masuk ke China dibawa oleh sahabat Rasulullah yang menetap di Abyssinia (Ethiopia) setelah hijrah yang pertama. Mereka menetap di sana dan tidak kembali lagi ke Makkah setelah peristiwa hijrah itu. Kemudian beberapa tahun setelahnya, mereka berlayar dari Abyssinia ke China untuk mendakwahkan Islam.

Ada juga yang menyebut kalau Islam masuk ke China dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Hampir sama dengan versi yang pertama, Sa’ad bin Abi Waqqash berlayar dari Abyssinia ke China untuk menyebarkan Islam pada tahun 616 M. Setelah beberapa saat berada di China, Sa’ad balik ke Arab. Dan sekitar 20 tahun setelahnya Sa’ad kembali lagi ke China untuk meneruskan dakwahnya.

Dari semua versi yang ada, Ibrahim Tien Ying Ma menyebut bahwa yang paling valid adalah versi yang pertama. Dimana Sa’ad dikirim Khalifah Utsman bin Affan untuk memimpin delegasi  ke China untuk mendakwahkan Islam pada tahun 615 M, atau sekitar 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah. 

Dalam buku History of China (Ivan Taniputera, 2008), rombongan Muslim itu diterima dengan baik oleh Kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang. Kaisar China juga menunjukkan toleransinya. Dia memperbolehkan delegasi umat Islam tersebut tidak melakukan tradisi penyembahan di hadapan kaisar. Sang Kaisar paham bahwa umat Islam tidak melakukan penyembahan terhadap manusia.   

Tidak hanya itu, Sang Kaisar China juga mengizinkan delegasi yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash itu untuk mendirikan tempat ibadah, masjid. Maka dibangun lah sebuah masjid agung pada 742 M. Masjid itu bernama Masjid Huaisheng atau dikenal dengan Masjid Sa’ad bin Abi Waqqash di Provinsi Guanzhou. Masjid yang dibangun di atas lahan seluas 5 hektare itu menjadi salah satu masjid tertua di China. 

Konon, Sa’ad bin Abi Waqqash menyebarkan Islam kepada masyarakat China hingga akhir hayatnya. Makamnya dikenal dengan Geys' Mazars. Versi lain menyebutkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash wafat di Aqiq –sekitar 18 mil dari Madinah- dan dimakamkan di Baqi'.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG