IMG-LOGO
Nasional

Ratusan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama

Selasa 22 Januari 2019 5:12 WIB
Bagikan:
Ratusan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama
Jakarta, NU Online
Ratusan pendekar NU dari berbagai daerah mengikuti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) Pagar Nusa di Gedung Korea-Indonesia Technical and Cultural Coorperation Center (KITCC) Ciracas, Jakarta Timur, Senin (21/1) malam. Kegiatan ini bertujuan menyamakan gerak dan langkah pengurus.

"Di luar sana banyak kelompok-kelompok Islam yang amaliahnya sama, tapi napas perjuanganya berbeda, masih ada yang NKRI bersyariah, tapi dakwahnya dengan kekerasan. Itu jelas bukan bagian dari NU. Bukan bagian dari Pagar Nusa,” katanya.

Menurut Gus Nabil, Pagar Nusa merupakan kelompok Islam yang selalu memegang prinsip-prinsip NU, seperti tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal.

Sementara dalam berbangsa, Pagar Nusa memiliki konsep yang jelas, yakni empat pilar: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Undang-Undang Dasar 1945.

Empat pilar tersebut, sambung Gus Nabil, merupakan kesepakatan para pendiri bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya adalah tokoh-tokoh NU. Sehinga, Pagar Nusa dan NU selalu menjaga empat pilar itu.

"Jika ada kelompok-kelompok melawan empat pilar ini, sama halnya melawan pagar nusa atau NU, dan kita berada di barisan pagar terdepan. Nah, ini yang kemudian akan kita tanamkan dalam-dalam ke dalam lubuk hati dan sanubari pendekar-pendekar kita," jelasnya.

Gus Nabil juga mengemukakan bahwa kegiatan yang rencananya berlangsung selama enam hari ini tidak hanya diisi materi-materi MKNU, tetapi juga akan dilakukan Training of Trainer (TOT). Hal itu agar pengurus Pagar Nusa di semua tingkatan dapat menyelenggarakan MKNU Pagar Nusa di wilayahnya masing-masing, seperti di Banten, Jawa barat, DKI dan Lampung.

"Anda-anda nanti setelah lulus dari sini harus satu kata, satu frekuensi bahwa kita ini satu komando di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama," jelasnya.

Pembukaan ini dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU Eman Suryaman dan H Aizzuddin Abdurrahman, Ketua Tim MKNU Sultonul Huda, dan Ketua Lazisnu Pusat Ahmad Sudrajat. Selain itu hadir juga Dewan Khos PP Pagar Nusa KH Ayip Abbas dan Majelis Pendekar PP Pagar Nusa Zainal Suwari. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 22 Januari 2019 20:0 WIB
Diskusi Buku 'Qiraah Mubadalah' Ungkap Pentingnya Peran Perempuan
Diskusi Buku 'Qiraah Mubadalah' Ungkap Pentingnya Peran Perempuan
Diskusi buku Qiraah Mubadalah
Yogyakarta, NU Online
Pondok Pesantren Krapyak menyelenggarakan diskusi dan bedag buku Qiraah Mubadalah, Senin (21/1). Hadir sebagai pembicara penulis buku Faqihuddin Abdul Kodir, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Nyai Hj Ida Rufaida Ali, serta akademisi Yuyun Sri Wahyuni.

Acara yang berlangsung di Mushala Kompleks N Pondok Pesantren Krapyak ini dihadiri oleh para santri putra dan putri. Mereka sangat antusias terhadap isu kesetaraan gender sebagaimana topik buku tersebut.

Bedah buku yang merupakan kerja sama antara Fatayat NU DIY dengan Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta ini mengangkat tema Memahami Paradigma dan Kerangka Pikir Dalil-dalil Agama terkait Relasi Laki-laki dan Perempuan.

Pada kesempatan pertama, Nyai Hajah Ida menyampaikan bahwa sejak awal Islam telah membawa risalah yang mengangkat derajat perempuan untuk sejajar dengan laki-laki dalam masyarakat. Ia mengisahkan beberapa sahabat perempuan yang ikut berjuang dalam dakwah Nabi menyebarkan ajaran Islam.

Bu Nyai Ida juga menceritakan bagaimana keteladanan Mbah Ali Maksum dalam mendidik anak perempuannya.

"Mbah Ali tidak pernah membedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Beliau memberikan kesempatan yang sama terhadap keduanya untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Hingga pada ranah perjodohan dalam menentukan calon suami untuk putrinya, beliau meminta pendapat dan persetujuan dari sang putri atas calon suami yang akan mendampinginya," jelasnya.

Sementara itu Sri Wahyuni menjelaskan bahwa prinsip mubadalah atau berkeadilan ini sangat diperlukan, dan harus dipahami oleh laki-laki dan perempuan ketika mereka akan membina bahtera rumah tangga.

"Buku ini menjelaskan pertama, bagaimana relasi berkeadila antara suami dan istri dalam sebuah keluarga. Kedua, buku ini  menawarkan konsep kesalehan berkeadilan yang sekaligus merupakan kritik atas konsep teori feminisme modern," ujar dosen Universitas Negeri Yogyakarta.

Selanjutnya, Faqihuddin, penulis buku Qiraah Mubadalah ini menerangkan bahwa kesetaraan dalam relasi antara suami dan istri di Indonesia masih belum terlaksana sepenuhnya. Konstruksi sosial yang memposisikan perempuan lebih rendah dari laki-laki menghambat pemenuhan keadilan ini, sehingga seringkali perempuan berada pada posisi yang sulit ketika dihadapkan pada konflik rumah tangga.

"Konsep mubadalah pada dasarnya mengajarkan kita untuk memandang orang lain dan diri sendiri sebagai manusia yang sama-sama terhormat, hal ini sesuai dengan hadist laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibba linafsihi," jelas Kiai Faqih.

Diskusi ini diharapkan dapat membuka cakrawala para santri, sebagai seorang tafaqquh fiddin, dalam merespons teori feminisme global, dengan kembali melihat konsep keadilan yang bersumber dari Qur’an dan hadist guna memberikan kritik serta penyeimbang teori barat terhadap keilmuan pesantren yang mengedepankan kemaslahatan umat yang bersumber pada ajaran salafus shalih. (Irsyadul Ibad/Kendi Setiawan)
Selasa 22 Januari 2019 19:0 WIB
Gus Yusuf: Tak Ada Negara Sebebas Indonesia dalam Beragama
Gus Yusuf: Tak Ada Negara Sebebas Indonesia dalam Beragama
Foto: KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) (Ist.)

Jakarta, NU Online
Saat ini ada sekelompok masyarakat atau kelompok yang selalu mengembor-gemborkan umat Islam dipinggirkan, digencet (ditekan) dan dihalang-halangi dalam menjalankan ibadah. Kelompok ini juga senang menggembar-gemborkan soal kriminalisasi ulama. Namun pada faktanya kelompok ini malah tidak pernah berhenti melakukan pengajian dari kota ke kota bahkan sering muncul di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

"Ngaji bebas di mana-mana kaya gitu kok bilang digencet. Tidak ada negara yang dalam beragama sebebas di Indonesia. Rukun Islam semua difasilitasi di indonesia. Shalat tidak ada yang menghalangi. Mau pengajian bebas tanpa izin, cukup pemberitahuan saja," kata KH Yusuf Chudlori, di Kudus Jawa Tengah, Selasa (22/1).

Pemerintah sangat menjamin pelaksanaan ibadah umat Islam di Indonesia. 800 ribu lebih masjid di Indonesia berdiri menjadikan Indonesia negara yang memiliki masjid terbanyak. Puasa, zakat dan haji juga difasilitasi oleh negara dengan baik. Sehingga kelompok yang mengingkari fakta ini ia sebut Haluhu yukaddibu qaulahu (Perilakunya membohongi perkataannya)

Gus Yusuf menegaskan hal ini saat berbicara pada Halaqoh Kebangsaan dengan tema Merawat Tradisi menjaga NKRI di Hotel Griptha Jalan AKBP Agil Kusumadya No. 100, Jatimakmur, Jati Wetan, Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Gus Yusuf pun membandingkan kebebasan menjalankan syariat agama di Indonesia dengan negara-negara lain di dunia. Di Indonesia, ia menyontohkan, umat Islam bisa mengadakan pengajian diberbagai tempat dan waktu. Sementara di negara lain seperti Arab Saudi di Turki tidak bisa ditemukan pengajian di jalan-jalan sebebas di Indonesia.

“Yang terdekat saja di Malaysia, khatib bisa naik mimbar Jumat harus ada sertifikat dari negara. Di Indonesia, siapa saja bisa, selama takmir masjidnya cocok bisa naik. Seperti ini masih bilang umat Islam tergencet. Katanya pemerintah anti Islam? Islam yang mana? ,” tanya Gus Yusuf.

Kalau pemerintah anti Islam menurutnya adalah Islam yang radikal. Karena menurutnya Islam radikal hanya akan menghacurkan NKRI. “Kalau ada orang mengatakan pemerintah anti Islam, tolong dilanjutkan, (pemerintah anti) Islam radikal,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang ini.

Jika Islam radikal dibiarkan tumbuh subur di NKRI lanjut Gus Yusuf, maka Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang sudah ada sejak kehadiran Islam di tanah air lah yang akan bergejolak. Jika Islam radikal dibiarkan besar maka NKRI bisa hancur. Oleh karenanya umat Islam di Indonesia berkewajiban untuk mempertahankan NKRI dan Aswaja.

Masyarakat harus sadar bahwa pemerintah saat ini adalah pemerintah yang menjaga kelangsungan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Umat Islam harus tahu bahwa Islam yang tidak layak di Republik ini adalah Islam radikal. (Red:  Muhammad Faizin)

Selasa 22 Januari 2019 16:30 WIB
HARLAH KE-93 NU
Tantangan Dakwah NU terhadap Generasi Milenial
Tantangan Dakwah NU terhadap Generasi Milenial
Fariz Alniezar (Dok. TV9 Nusantara)
Jakarta, NU Online
Koordinator Tim NU Milenial Fariz Alniezar menegaskan bahwa generasi milenial merupakan salah satu isu penting. Sebab bukan saja menyangkut jumlahnya yang cukup besar. Namun lebih dari itu generasi ini memiliki watak, ciri, dan karakter yang berbeda.

Menurutnya, tentu saja serangkaian watak, ciri, dan karakter itu membentuk ‘semangat zaman’ yang baru dan sama sekali berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya.

“Di sinilah letak tantangan NU, yakni beradaptasi dengan zaman,” jelas Fariz saat dihubungi, Selasa (22/1) menaggapi tantangan NU menjelang usianya yang ke-93 tahun pada 31 Januari 2019.

Ia menegaskan bahwa kunci tantangannya ada pada masalah adaptasi. Dalam hal ini, menurutnya, NU memiliki sejarah panjang dan terbukti selama ini piawai dalam meneysuaikan diri dengan tuntutan zaman. 

Penulis buku Muslim Pentol Korek ini mengatakan, wahana dakwah sudah berubah, dari yang konvensional ke digital. Di antara ormas-ormas lain yang konsen di bidang dakwah, NU memang sudah memulai upaya migrasi gaya dan cara dakwahnya.

Dalam persoalan dakwah tersebut menurutnya, NU sejauh ini sudah cukup baik. Namun, lanjut Fariz, penting untuk dicatat harus terus ada upaya inovatif dalam menciptakan konten-konten dakwah yang menarik dan kekinian.

“Salah satunya menangkap semangat kalangan milenial urban yang cenderung menggandrungi cara berislam yang ‘prasmanan’ praktis dan instan,” tandas Dosen UNUSIA Jakarta ini.

Sebelumnya, Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi mengatakan, tantangan penting NU hari ini dan ke depan pertama ialah soal perubahan gaya hidup umat beragama dan pemahaman terhadap agama itu sendiri.

“Banyak cara-cara dakwah NU yang mulai tidak relevan dengan gaya hidup masyarakat, khususnya masyarakat urban,” ujar Zastrouw.

Kondisi ini, menurutnya, dimanfaatkan oleh kelompok formalis-simbolis dengan membuat format gaya hidup keagamaan yang sesuai dengan budaya kaum urban.

Setelah tertarik pada gaya hidup keagamaan, maka kaum formalis-simbolik menanamkan paham keagamaan yang juga simbolik-formal yang kadang tidak sesuai dengan hakam keagamaan NU. 

“Akibatnya cara hidup beragama dan pemahaman agama model NU menjadi tersingkir karena dianggap tidak menarik. Inilah tantangan NU ke depan,” tegas Ketua Lesbumi PBNU 2010-2015 ini. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG