IMG-LOGO
Opini

Siapakah itu Abu Bakar Ba’asyir?

Selasa 22 Januari 2019 17:0 WIB
Bagikan:
Siapakah itu Abu Bakar Ba’asyir?
Abu Bakar Ba'asyir (foto: asianews.com)
Oleh M. Kholid Syeirazi

Jika ingin melihat orang tua yang keras kepala, lihatlah Abu Bakar Ba’asyir. Fisiknya rapuh digerogoti usia, tetapi isi kepalanya cadas. Dia menolak mengaku bersalah dan menolak ikrar setia kepada NKRI dan Pancasila. Selain hukum Al-Qur’an dan hadits, baginya adalah thaghut. Ba’asyir asli Jombang, alumni Gontor. Dia Wahabi dalam pikiran, Ikhwani dalam gerakan. Dia punya teman sejawat yang paling berpengaruh. Namanya Abdullah Sungkar, pengurus al-Irsyad Solo. Bersama Sungkar, Ba’asyir bikin radio dakwah di Surakarta. Programnyamemerangi TBC (tahayul, bid’ah, churafat). 

Tahun 1970, Sungkar dan Ba’asyir direkrut M. Natsir, mantan Ketua Masyumi, menjadi pimpinan DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) Cabang Solo. DDII berperan besar menyebarkan idelogi salafi jihadi ke Indonesia. Sepanjang 1970an, DDII menerjemahkan 12 seri buku karya ulama salafi-jihadi seperti Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, Said Hawwa, Abu A’la al-Mawdudi, dan Abdul Qadir Audah. 

Tahun 1976,  Sungkar dan Ba’asyir direkrut menjadi anggota Jama’ah DI/NII oleh H. Ismail Pranoto (Hispran). Pasca penangkapan besar-besaran aktivis DI/NII pada 1977 dan 1981, kepemimpinan Jama’ah DI/NII pindah ke Jawa Tengah. Pada awal 1983, Sungkar mengangkat Ir. Syahirul Alim, M.Sc, da’i terkenal dan dosen kimia F-MIPA UGM sebagai Imam Jama’ah DI/NII yang baru. Pertengahan 1983, Orde Baru memberlakukan asas tunggal Pancasila. Seoharto bertindak keras menghukum para pembangkang. Dibantu M. Natsir, pada April 1985, Sungkar dan Ba’asyir hijrah ke Malaysia. Bersama pengikutnya, mereka tinggal di Kuala Pilah, Kuala Lumpur. 

Akhir 1979, Soviet menginvasi Afghanistan. Ideologi jihad menemukan lahan. Abdullah Azzam dan Abdur Rabb Rasul Sayyaf mendirikan Maktab al-Khidmat untuk melatih calon mujahidindari luar Afghanistan. Duitnya disokong Arab Saudi dan Amerika Serikat. Arab Saudi menyumbang US$4 miliar sepanjang 1980-1990, AS sekitar US$500 juta di luar senjata dan operasi intelijen. Abdullah Kadungga, menantu Kahar Mudzakar, tokoh Permesta, menemui Sungkar dan Ba’asyir. Dia mengabarkan peluang mengirim orang untuk mengikuti tadrib askari (diklat militer). Sungkar dan Ba’asyir setuju. Tujuannya bukan untuk membantu mujahidin Afghanistan, tetapi menyiapkan laskar jihad untuk menggulingkan Orde Baru.

Dari 1985 hingga 1991, pengiriman dilakukan dalam sepuluh angkatan. Di harbi pohantun (akademi militer), mereka bukan hanya dididik ilmu kemiliteran, tetapi juga doktrin-doktrin salafi-jihadi. Harbi Pohantun meluluskan 200 orang. Mereka bukan sekadar piawai menembak dan merakit bom, tetapi ideologis dan militan. Generasi DI/NII produk harbi pohantun ini cekcok dalam paham agama dengan generasi DI/NII produk gunung Cupu. Mereka adalah bekas pelaku Komando Jihad yang bebas dari penjara dan kemudian mencoba mereorganisasi jamaah. Pemimpinnya Ajengan Masduki, penganut Islam tradisional. Pecah kongsi terjadi pada 1992. Sungkar dan Ba’asyir membentuk organisasi baru bernama Jamaah Islamiyah (JI) pada 1993. Sungkar menjadi Amir Jamaah, dibantu Ba’asyir di jajaran Majelis Qiyadah Markaziah.

Tahun 1997, JI diserahi Kamp Hudaibiyah Mindanao, kamp diklat militer milik MILF (Moro Islamic Liberation Front). Rekrutmen kombatan pindah dari Afghanistan ke Filipina. Dalam waktu dua tahun (1998-2000), diklat militer meluluskan 170-an kombatan. Instrukturnya adalah para alumni terbaik harbi pohantun seperti Nasir Abas dan Muhaimin Yahya. 

Selepas Orde Baru tumbang, Indonesia dilanda konflik komunal di Ambon dan Poso. Para kombatan alumni Afghanistan dan Mindanao menemukan lahan jihad baru. Di saat krusial itu, Abdullah Sungkar, Amir JI yang disegani, wafat pada 20 Oktober 1999. Meski ada upaya mengangkat Ba’asyir sebagai pengganti Sungkar, JI kehilangan kepemimpinan definitif setelah 1999. Pada 2000, Ba’asyir diangkat sebagai Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Organisasi ini mewadahi para eks-kombatan Afghanistan dan aktivis DI/NII. 

Pasca Sungkar, struktur DI bisa dikatakan lumpuh. Yang tersisa adalah para kombatan ‘liar’ yang tidak terikat komando. Karena itu, ketika Hanbali dan Imam Samudera meledakkan 25 bom di sejumlah gereja hampir serentak di delapan kota—yang dikenal dengan Bom Natal 24 Desember 2000—Ba’asyir menyangkal terlibat. Ba’asyir juga menyangkal terlibat di Bom Bali 12 Oktober 2002. Meski menyangkal, Ba’asyir dihukum penjara 2,6 tahun. 

Bebas pada Juni 2006, Ba’asyir mundur dari Amir MMI. Pada17 September 2008, dia mendirikan Jamâah Anshârut Tauhîd (JAT). Pada 2010, Ba’asyir kembali ditahan dan divonis bersalah pada 16 Juni 2011 atas tuduhan mendanai pelatihan militer Aceh. Tuduhan lainnya, mendirikan sayap Al-Qaeda di provinsi NAD. Bersama Aman Abdurrahman, Ba’asyir dikurung di Nusakambangan. Ba’asyir di hukum 15 tahun penjara, Aman 9 tahun penjara. 

Aman merupakan pendukung Abu Bakar Baghdadi, khalifah ISIS. Melalui Jamâ’ah Anshârut Daulah (JAD), Aman sukses mengajak ribuan orang berbaiat kepada ISIS dan mengirim sejumlah orang ke Suriah. Atas bujukan Aman, Ba’asyir konon mendukung ISIS, meski tidak bai’at. Dukungan Ba’asyir membuat pengikutnya gusar. JI dekat dengan al-Qaeda dan organisasi afiliasinya, Jabhah Nusrah. Sementara al-Qaeda tidak akur dengan ISIS dan menyatakan perang melawan Al-Baghdadi. Sekelompok orang JAT protes dengan mendirikan Jamâ’ah Anshârus Syarîah (JAS), termasuk anaknya, Abdur Rochim Ba’asyir. 

Masa tahanan Ba’asyir masih sekitar 5 tahun lagi. Pemerintah berniat membebaskannya lebih cepat atas dasar kemanusiaan. Tapi mungkin alasan sebenarnya bukan itu. Jokowi kalkulator politik ulung. Dia paham efek radikalisasi-deradikalisasi. Jika Ba’asyir mati di penjara, mengingat kesehatannya terus merosot, akan terjadi spiral radikalisasi. Ini bisa jadi bola panas menjelang pemilu. Jokowi tidak ingin itu terjadi. Dia mungkin tidak berharap dukungan dari eks-salafi jihadi atau Islam konservatif yang selama ini mengental di kubu Prabowo, tetapi langkahnya mungkin dapat menyumbang efek deradikalisasi. Tetapi ini telah menimbulkan polemik. Banyak pendukung Jokowi kecewa dan mengancam golput. Jokowi minta ditinjau ulang. Kalkulasi politik elektoral akan mendominasi langkah politik Jokowi. Saya kira, Jokowi akan menunda sampai situasi mereda. 


Penulis adalah Sekretaris Umum PP ISNU; pemerhati gerakan ekstremis di Indonesia

Tags:
Bagikan:
Senin 21 Januari 2019 12:30 WIB
Demokrasi dan Generasi Milenial
Demokrasi dan Generasi Milenial
Ilustrasi (via KlikPositif)
Oleh Abdul Ghopur

Generasi milenial merupakan kelompok penting dan utama dalam demokrasi Indonesia saat ini, khususnya yang berkaitan dengan aktifitas mereka di ragam media sosial (medsos). Karakter muda atau milenial sangat potensial dalam memajukan demokrasi yang tengah berlangsung. Sebab, mereka memiliki semangat yang sangat tinggi (emosional), berpikir besar dan memiliki mimpi yang besar pula.

Karakter milenial mempunyai banyak sikap positif dalam beberapa hal antara lain, bekerja cepat, suka perubahan dan kreatif-inovatif, artinya suka mengadopsi nilai-nilai atau sesuatu yang baru, fairness, artinya mereka segera mengakui kesalahan apabila merasa salah, baik terungkap atau tak terungkap dan segera mengoreksinya, heroisme sekaligus ‘Megalomania.’

Sisi minus atau negatifnya adalah karena suka melakukan sesuatu secara cepat, karakter milenial cenderung tergesa-gesa dan mengambil suatu keputusan tanpa analisa mendalam, karena instan. Generasi milenial cenderung mudah galau (melodramatik), cepat putus asa, kurang mau mendengar, kurang mendalam tingkat analisisnya, kurang pengalaman, kurang bijaksana terhadap situasi dan kondisi yang dihadapinya, serta mudah terpengaruh lingkungannya baik lingkungan sosial sekitarnya maupun lingkungan medsos.

Misalnya, terpengaruh tontonan di Youtube, terpengaruh ceramah-ceramah yang provokatif oleh sosok orang yang mengaku pandai atau paham agama. Karena kurang ilmu dan pengalaman tadi, generasi milenial mudah tervirusi ajakan-ajakan yang cenderung provokatif yang diajarkan “pendakwah” di Youtube. Misalnya, ajakan untuk memusuhi dan menghina agama orang lain, bahkan paham orang lain meski masih satu akidah atau seagama.

Sekali lagi, karena kurang pengalaman dan pendalaman ilmu (dalam hal ini ilmu agama), maka generasi milenial sangat mudah membenci bahkan memerangi orang lain yang dianggap tidak sesuai dengan pandangan mereka. Sesungguhnya yang terjadi adalah mereka memahami agama hanya berdasarkan teks semata tanpa melihat konteks (asbabun nuzul) atau substansi dari ayat-ayat dan ajaran agamanya. Mereka lupa inti dari ajaran agama itu sendiri, yaitu kasih sayang (rahmatan lil ’alamiin).

Contoh lainnya, dalam konteks kehidupan demokrasi yang tengah kita jalankan di republik tercinta ini,yang sudah barang tentu di dalam berdemokrasi pasti terjadi pro dan kontra. Dengan karakter minus dari generasi milenial tadi, mereka tidak mau mendengar pendapat atau pandangan dari kelompok yang mereka anggap kontra dengan mereka. Mereka hanya mau mendengar dan menerima pandangan yang pro dengan mereka saja.

Seolah-olah, kebenaran itu hanya berdiri sendiri dan mutlak, padahal di dunia ini tidak ada kebenaran yang mutlak. Sebab, yang mutlak hanyalah Tuhan Yang Maha Esa saja dengan segala ke-Maha-annya. Padahal, dalam konteks demokrasi, agama, budaya, dan lain-lain, semuanya berhubungan atau berhadapan dengan manusia (dealing with people). Dan, manusia merupakan tempatnya salah dan lupa (khilaf). Artinya, kebenaran seseorang tentu dibatasi oleh kebenaran orang lainnya.

Lantas pertanyaanannya kemudian, bagaimana seharusnya generasi milenial harus bersikap dan bertindak di zaman modern seperti sekarang ini (zaman now), zaman atau era kemajuan teknologi informasi (IT)? Dulu, generasi sebelum milenial selalu diajarkan suatu istilah atau sikap alon-alon asal kelakon yang artinya pelan-pelan asal terlaksana, biar lambat asal selamat. Apakah ajaran ini sesuai dengan karakter dasar generasi milenial? Jawabannya bisa iya bisa tidak. Kita tahu, karakter milenial ingin segala sesuatunya serba cepat.

Maka istilah alon-alon asal kelakon bisa saja kita padukan dengan karakter milenial, yakni cepat asal kelakon, artinya biar cepat tapi pasti dan tetap selamat. Bagaimana caranya? 

Pertama, generasi milenial harus mempunyai sifat selektifitas, terutama selektif terhadap informasi-informasi yang berkembang utamanya informasi di dunia maya yang belum terverifikasi benar atau salah, pas atau tidak pas, baik atau buruk, atau masih samar-samar, perlu check and balancing atau check and richeck. Sehingga, tak mudah termakan provokasi isu pecah-belah, dan hoaks apalagi isu-isu murahan. Atau sebaliknya, jangan sampai kebanyak informasi malah jadi bingung sendiri.

Kedua, generasi milenial harus membekali dirinya dengan skill (sesuai dengan minat-bakatnya), gunanya untuk menyeleksi informasi yang dibutuhkan.

Ketiga, generasi milenial perlu menanamkan serta mengembangkan sikap bijaksana dan ketenangan dalam menghadapi situasi yang berkembang serta menyaring informasi yang beredar. Dengan bahasa lain, tidak gampang emosional dan hanyut menanggapi isu yang berkembang terutama isu sentimen suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) dan isu pecah-belah lainnya.


Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), menulis beberapa buku di antaranya: “Ideologi Kaum Fundamentalis: Menjawab Persoalan Kagalauan Agama Dan Negara” (2018) dan “Ironi Demokrasi: Menyibak Tabir dan Menggali Makna Tersembunyi Demokrasi” (2019).
Kamis 17 Januari 2019 5:0 WIB
Santri Post Tradisionalisme
Santri Post Tradisionalisme
Oleh: Rifatuz Zuhro

Istilah post tradisionalisme sebetulnya bukan istilah baru pada perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Istilah ini muncul sekitar awal tahun 2000 an yang lekat dengan gerakan kaum intelektual muda NU yang mengembangkan kajian-kajian keislaman yang hidup dan menyegarkan tanpa menyisihkan nilai-nilai tradisi yang sudah diwarsiskan oleh generasi lama.

Saat itu, banyak sekali yang optimis dengan perkembangan pemikiran Islam di tanah air, yang dimotori oleh kaum intelektual NU. Meski saat ini gerakan tersebut lebih tertutupi dengan arus-arus atau isu-isu baru yang memaksa untuk merespons dan membahas tentang hal-hal yang sudah final, seperti memperdebatkan kembali antara Islam dan Pancasila. Jika diibaratkan mobil, kita telah dicoba untuk mundur kembali sibuk dengan hal-hal yang kulit, luar dan bukan subtansi.

Tapi wajar saja, membahas persoalan agama memang sangat bisa mengaduk-aduk emosi masyarakat, karena ranah perkembangan intelektual dalam Islam, tidak banyak yang menggemarinya, syukur-syukur masih lestari di dunia akademik maupun aktivis.

Generasi saat ini ditempatkan pada segala sesuatu yang instan, melahap produk yang siap saji. Masyarakat dalam menggunakan hukum lebih cenderung menyukai hukum hitam putih, halal haram, dan tidak mau masuk dalam kancah pergolatan pemikirannya, ataupun deskriptif panjang nash yang melelahkan. Generasi saat ini, dibuat untuk lebih ikhlas menerima, disuapi, dicekoki tentang sebuah nash. Namun, tidak diberi kesempatan menggunakan daya akalnya untuk berfikir tentang nash tersebut.

Penyegaran paham dan amaliah keislaman yang hidup dan menghidupkan membutuhkan usaha ekstra dari kaum muda NU. Banyak tantangan era saat ini yang harus mampu dihadapai mulai dari percepatan dunia digital dan paham keislaman yang turut ikut mengalami percepatan, dan instan.

Bisa kita bayangkan ketika kita terlalu sering mengonsumsi sesuatu yang instan dampaknya akan jauh lebih buruk dalam jangka pendek maupun panjang. Ibarat mie instan, selain obesitas yang sudah mulai tampak, penyakit-penyakit lain juga sudah menunggu. Begitu juga dengan ketika kita banyak mengonsumsi paham keislaman yang instan, kita akan banyak terjangkit penyakit tanpa kita sadar jika kita sedang sakit.

Post Tradisionalisme Islam bisa dikatakan merupakan antitesis dari sebuah tradisi dalam berkeagamaan itu sendiri. Perlu adanya penyegaran, rekonstruksi pemikiran yang lebih kontekstual. Paham Islam NU sendiri tidak menafikan konteks, namun memadukan antara teks (nash) dan konteks, sehingga produk  yang dihasilkan selalu bisa menjawab tantangan zaman.

Sebenarnya, jejak pemikiran Islam di Indonesia abad 19 sudah sangat mumpuni dengan banyak intelektual Muslim di Indonesia. Sebut saja Gus Dur, Cak Nur, Kuntowijoyo dan lainnya. Meski dikemas dengan istilah yang berubah-ubah, sejatinya memiliki satu subtansi yang sama yaitu memaknai agama (islam) sebagai jalan berkehidupan yang lebih baik. Seperti Gus Dur dengan Pribumisasi Islamnya, Cak Nur dengan sekularismenya. Ide-ide tersebut akan tetap hidup dan berkembang, berkombinasi dengan istilah yang baru.

Islam Pribumi, Islam Nusantara, Islam Moderat, Islam Rahmatan Lil Alamin, atau bahkan Post Tradisionalisme Islam, pasti mempunyai koneksi yang cukup kuat, dan akan bertemu pada titik yang tidak beda. Namun, yang paling urgen di sini adalah bagaimana kaum intelektual muda bisa untuk melanjutkan tradisi-tradisi intelektual tersebut. 

Intelektual Muda NU

Regenerasi sel intelektual harus tetap dijalankan di tengah tantangan paham berislam yang serba instan dan cepat. Paham yang praktis tidak boleh terlalu lebih besar porsinya ketimbang paham subtansial. Intelektual NU harus tetap membuat arus baru yang lebih berisi, dan tidak hanya berhenti pada tahap 'kontra narasi'.

Hemat saya, tidak lebih baik juga jika kita mengikuti arus untuk mencekoki (menyuapkan sesuatu) masyarakat dan mengikuti arus. Jika bisa mengubah arus mengapa tidak? Mengubah arus membuat masyarakat lebih dewasa dalam menyikapi paham yang beragam.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Di NU sendiri, pergolatan pemikiran generasi lama dengan generasi muda memang saat ini sudah tidak menjadi problem yang serius seperti tempo dulu. Tradisi pemikiran yang menyeimbangkan teks dan konteks sudah menjadi corak NU dalam merespons suatu hal.

Munculnya intelektual muda NU membuat NU semakin segar, meskipun NU membawa istilah tradisionalnya. Inilah perwujudan Post-Tradisionalisme yang menyajikan wajah NU selain tetap menjaga tradisi Walisongo, NU juga menampakkan wajah yang cerah dan menghidupkan pemikiran.

Sebut saja intelektual muda di NU seperti Gus Nadhirsyah Hosen, Gus Ulil Abshar, Gus Muwafiq, serta banyak sekali yang menyanggah sel-sel intelektual dalam NU yang tersebar di seluruh wilayah dan daerah di Idonesia. Beberapa mungkin kurang masyhur di dunia maya, namun tradisi yang tidak pernah ditinggalkan adalah tradisi menulisnya, yang masih merawat subtansi-subtansi beragama.

Gencarnya gerakan Islamisme, Post-Islamisme memoles wajah Islam dengan sentuhan modernis, dan bergesernya beberapa istilah dari makna dan maksud aslinya adalah salah satu dari hasil gerakan tersebut, seperti trend #Hijrah #PemudaHijrah #Sunnah yang mengalami pergeseran makna yang identik dengan gerakan tersebut. Meski, sudah banyak kontra narasi dilakukan dan mengembalikan makna dan istilah yang bergeser, apakah kader NU akan melakukan pengobatan, tanpa pencegahan?

Sebagai organisasi besar yang terstruktur, NU mempunyai banyak kader baik struktural maupun kultural; bibit-bibitnya menyebar di lembaga maupun banom-banom nya. Semua bergerak, semua hidup, semua berpikir, semua ada, semua berjamaah.

Gerakan Post-Tradisionalisme yang terjadi dalam kultur NU, akan memungkinkan NU tidak hanya akan menjadi penjaga gawang dan penawar sakit dari kuman-kuman, namun NU juga menjadi penggerak intelektual Muslim di Indonesia, bahkan dunia.

Santri Post-Tradisionalisme adalah perwujudan generasi intelektual muda NU yang memegang tradisi dan terus melakukan pembacaan-pembacaan realitas menggunakan segenap daya akal dan pikiran.

Siapa mereka? Ya, siapa saja kader NU yang tidak berhenti belajar dan tidak merasa paling benar. Dengan begitu, santri tidak hanya berkontribusi dalam sejarah bangsa, namun santri juga menentukan masa depan bangsa. Semoga kita tidak akan larut dalam sejarah besar santri itu sendiri.

Penulis adalah alumni STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang, Jawa Timur.

Rabu 16 Januari 2019 11:33 WIB
Mengapa Kalender 1895 Sama Persis dengan 2019?
Mengapa Kalender 1895 Sama Persis dengan 2019?
Oleh Muh. Ma’rufin Sudibyo

Hari–hari ini ramai beredar dalam jagat maya tentang lembaran kalender 1895, yang sama persis dengan 2019. Yakni dalam hal hari untuk setiap tanggal didalamnya. Misalnya, 1 Januari 2019 dan 1 Januari 1895 ternyata sama-sama bertepatan dengan hari Selasa. Kesamaan ini memantik pertanyaan, bagaimana semua itu bisa terjadi?

Terdapat beraneka ragam kalender yang semuanya mengacu pada pergerakan benda–benda langit. Ada yang hanya mengacu ke Matahari, yang dikenal sebagai kalender Matahari (solar). Ada pula yang hanya mengacu ke Bulan, membuatnya dinamakan kalender Bulan (lunar). Sebaliknya ada pula yang mengacu pada Matahari dan Bulan sekaligus, yang disebut kalender lunisolar. Bahkan ada juga yang mengacu pada Matahari dan Zahara (Venus), misalnya kalender suku Maya.

Kalender Masehi merupakan kalender terpopuler pada masakini. Meski berakar sebagai kalender religi (yakni kalender Nasrani), namun dalam kurun satu seperempat abad terakhir terdapat upaya-upaya menjadikannya kalender sekuler. Di Eropa terdapat titimangsa CE (Common Era), yang ditransliterasikan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai TU (Tarikh Umum) menggantikan istilah M (Masehi).

Ini adalah substitusi bagi kosakata titimangsa AD (Anno Domini) yang dianggap kurang pas mengingat Nabi Isa AS lahir sebelum tahun 1. Titimangsa CE adalah tahun 1, 2, 3, dan seterusnya. Sebaliknya terdapat pula titimangsa BCE (Before Common Era), atau dalam Bahasa Indonesia menjadi STU (Sebelum Tarikh Umum) menggantikan SM (Sebelum Masehi).

Kalender Tarikh Umum merupakan sistem penanggalan Matahari dengan acuan pada gerak semu tahunan Matahari. Yakni dimana Matahari seolah-olah beringsut dari satu rasi ke rasi bintang berikutnya dalam lingkaran ekliptika sebagai akibat peredaran Bumi mengelilingi Matahari.

Tepatnya mengacu pada periode tropis Matahari, yaitu selang waktu yang dibutuhkan Matahari untuk bergerak semu dari sebuah titik Haml (vernal equinox) ke titik Haml yang sama berikutnya. Titik Haml adalah salah satu titik potong lingkaran ekliptika dan khatulistiwa langit. Ia mendapatkan namanya karena dahulu terletak di rasi al-Haml (Aries), meski pada masakini telah beringsut hingga berkedudukan di rasi al-Hut (Pisces) sebagai akibat gerak presesi sumbu rotasi Bumi. 

Periode tropis Matahari bernilai rata-rata 365 hari 5 jam 48 menit 45 detik, atau dalam bentuk desimal adalah 365,24219 hari. Maka setahun Tarikh Umum terdiri atas tahun basitah (berumur 365 hari) dan tahun kabisat (berumur 366 hari) yang disusun berdasarkan hisab 'urfi (tubular).

Karena siklus kabisat terjadi setiap 4 tahun sekali (kecuali bagi tahun abad) dan siklus mingguan terjadi setiap 7 hari sekali, maka kelipatan persekutuan terkecil antara 7 dan 4 adalah 28. Sehingga suatu kalender Tarikh Umum akan sama persis dengan kalender 28 tahun sebelumnya. Kecuali jika melintasi tahun abad. Ini menjadikan hari dan tanggal di tahun 2019 adalah sama persis dengan di tahun 1991, 1963, 1935 dan 1907.

Situasi berbeda terjadi manakala kita berhadapan dengan pergantian abad. Dapat dilihat bahwa hari dan tanggal di tahun 1907 ternyata tidak sama dengan 28 tahun sebelumnya (tahun 1879). Melainkan sama persis dengan tahun 1895. Dengan kata lain selisihnya hanyalah 12 tahun, bukannya 28 tahun. Meski demikian selisih 12 ini sejatinya masih mengacu ke bilangan 7 dan 4. Yakni berasal dari penjumlahan 7 dan 4 ditambahkan dengan 1. 

Ada aturan khusus bagi pergantian abad dimana tahun abadnya bukanlah tahun kabisat. Dalam kalender Tarikh Umum, tahun kabisat adalah bilangan tahun yang habis dibagi 4 kecuali tahun abad. Tahun abad adalah tahun-tahun yang menandai awal sebuah abad, misalnya tahun 1600, 1700, 1800 dan seterusnya. Dalam tahun abad berlaku aturan khusus, dimana ia akan menjadi tahun kabisat hanya bilamana habis dibagi 400. Karena itu tahun 1700, 1800 dan 1900 hanyalah tahun basitah. Sebaliknya tahun 2000 merupakan tahun kabisat.

Bilamana tahun abad bukanlah tahun kabisat, maka terdapat aturan khusus yang berlaku hingga 28 tahun berikutnya.Apabila tahun-tahun tersebut terletak di antara rentang tahun abad tersebut hingga 11 tahun berikutnya, maka selisihnya adalah 12. Sebaliknya apabila tahun-tahunnya terletak di antara 11 hingga 28 tahun terhitung dari tahun abad yang bukan kabisat, maka selisihnya menjadi 40 (yang berasal dari 28 ditambahkan dengan 12). Aturan khusus ini tidak berlaku bilamana tahun abad merupakan tahun kabisat. 

Mari kita lihat abad ke-20. Ia diawali dengan tahun 1900 yang adalah tahun abad bukan tahun kabisat. Dengan aturan khusus di atas, maka tahun 1901 hingga 1911 memiliki hari dan tanggal yang persis sama dengan 11 tahun sebelumnya, yakni tahun 1889 hingga tahun 1900.

Dengan aturan khusus yang sama, maka tahun 1912 hingga tahun 1928 memiliki hari dan tanggal yang persis sama dengan 40 tahun sebelumnya, yakni tahun 1872 hingga tahun 1888. Sebaliknya tahun 2000 yang mengawali abad ke-21 adalah tahun kabisat. Maka pola selisih 28 tahun tetap berlaku tanpa aturan khusus. Inilah yang membuat tahun 2001 hingga 2027 memiliki hari dan tanggal yang sama dengan tahun 1973 hingga 1999. Pola keteraturan semacam ini bermanfaat untuk membentuk apa yang kita kenal sebagai Kalender Abadi.


Penulis adalah Pengurus Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG