IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Sejumlah Pihak Dukung NU dan Muhammadiyah Terima Nobel Perdamaian

Rabu 23 Januari 2019 15:30 WIB
Bagikan:
Sejumlah Pihak Dukung NU dan Muhammadiyah Terima Nobel Perdamaian
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Pengajuan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk menerima Nobel Perdamaian mendapat dukungan dari sejumlah pihak.

Akademisi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta A Bakir Ihsan mengaku setuju atas pengajuan tersebut karena kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini  mempunyai kontribusi besar bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Intinya setuju usulan tersebut karena NU dan Muhammadiyah sebagai civil society sudah punya sumbangsih besar bagi eksistensi NKRI yang warganya heterogen, beragam baik dari segi suku, agama, etnis, dan lainnya,” kata Bakir kepada NU Online melalui sambungan telepon, Rabu (23/1).

Ia mengemukakan, NU melalui gerakan kulturalnya, yakni lewat berbagai pesantrennya menjadi basis kohesivitas sosial

Begitu juga Muhammadiyah yang dinilainya mempunyai karya nyata melalui amal usahanya. Amal usaha itu tidak hanya dinikmati oleh umat Islam, tetapi juga seluruh masyarakat dari berbagai agama.

Begitu juga Aktivis Toleransi antar Umat Beragama Romo Antonius Benny Susetyo mendukung NU dan Muhammadiyah menerima Nobel Perdamaian.

Menurut pria yang karib disapa Romo Benny ini, NU dan Muhammadiyah berjasa menjaga NKRI serta perdamaian di Indonesia dan dunia secara nyata melalui wujud Islam Rahmatan lil Alamin.

“Usulan itu tepat karena NU dan Muhammadiyah menjaga keragaman dan kemajemukan bangsa ini dari ancaman kekerasan dan ideologi terorisme. Upaya menjaga perdamaian secara konkret dijalankan lewat aktualisasi Islam rahmat perdamaian. Dua organisasi tersebut berjasa menjaga NKRI dan perdamaian di Indonesia serta dunia khususnya merawat agama untuk perdamaian dan kemajemukan,” terangnya.

Sebelumnya, Guru Besar Antropologi Universitas Boston Amerika Serikat Robert W Hefner telah mengajukan nominasi penghargaan Nobel Perdamaian bagi dua organisasi Islam di Indonesia Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah pada 4 Januari 2019 dan sudah diterima panitia nobel.

Menurut profesor yang juga dikenal sebagai Indonesianis ini, peran besar Muhammadiyah dan NU yang terabaikan di luar negeri kini mulai diperhatikan bahkan keduanya disebut cukup layak mendapat Nobel karena kontribusinya dalam membangun demokrasi dan perdamaian di Indonesia.

Indonesia, kata Hefner, tidak sekadar dipandang sebagai negara paling demokratis di Asia Tenggara. Bahkan, Indonesia disebut negara paling demokratis di antara negara-negara dunia ketiga (nonblok).

"Level itu merupakan buah dari perjuangan Muhammadiyah dan NU. Reformasi pendidikan Islam yang diimpikan dari sebagian besar Muslim dunia, sudah kedua lembaga itu lahirkan di Indonesia sejak lama," kata Hefner. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Rabu 23 Januari 2019 23:30 WIB
Rais Aam Ingatkan NU Lamongan Tingkatkan Ekonomi Umat
Rais Aam Ingatkan NU Lamongan Tingkatkan Ekonomi Umat
Lamongan, NU Online
Beranjak siang hujan tiba-tiba mengguyur Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Namun derasnya hujan tidak menyurutkan langkah warga NU mendatangi pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan masa khidmat 2018-2023. Acara yang digelar Rabu (23/1) tersebut diselenggarakan di Pondok Pesantren Darul Mustagitsin.

Acara dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar, katib yang diwakili KH Mujib Qulyubi, dan jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang diwakili KH Syafrudin Syarif. Bahkan mustasyar PBNU, KH Ma'ruf Amin juga turut hadir dan memberikan sambutan pada perhelatan meriah tersebut.

“Pemberdayaan ekonomi umat, terutama yang fokus pada pendidikan, kesehatan dan perekonomian menjadi perhatian pada kepengurusan saat ini,” kata Supandi Awaludin selaku Ketua PCNU Lamongan dalam sambutannya. Pekerjaan ini merupakan amanah umat yang harus diimplementasikan dengan program kerja.

“Kami meminta doa agar ke depan tidak hanya bisa menyusun program, tapi mampu menindaklanjuti untuk lima tahun ke depan dengan aksi-aksi nyata,” imbuhnya 

Bupati Lamongan, Fadeli dalam sambutannya menguatkan pernyataan tersebut. Bahwa pihaknya sudah menjalin kerja sama yang baik di bidang pendidikan dan kesehatan dengan PCNU setempat. 

“Ke depan akan kami tingkatkan lagi, terutama dalam hal peningkatan ekonomi keumatan,” terangnya. 

Setelah proses pelantikan, Ketua PCNU Lamongan melantik pengurus lembaga dan badan khusus yang disaksikan ratusan kiai dan ribuan warga NU di atas panggung. 

Selain pelantikan pengurus lembaga, pada kesempatan itu juga dikukuhkan pengurus Idarah Syu’biyah Jam’iyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman).

KH Miftachul Akhyar merasa takjub karena acara pelantikan begitu meriah yang dihadiri ribuan tamu undangan. Menurutnya, baru kali ini ia menyaksikan kemeriahan warga Lamongan dalam kegiatan NU. 

“PCNU Lamongan harus mampu melahirkan program-program yang dapat menguatkan masyarakat, baik pikiran, inovasi, program, dan finansialnya,” katanya saat pemberian amanah. Para pengurus agar lebih cerdas dan melawan segala bentuk hoaks, lanjutnya. 

“Untuk program pendidikan dan kesehatan sudah cukup baik. Semoga program ekonomi bisa menjadi prioritas,” tambahnya.

Sedangkan KH Ma'ruf Amin mengingatkan seluruh kader NU harus melakukan penguatan umat. Hal itu harus dibangun supaya nahdliyin bisa berkompetisi membangun kekuatan ekonomi. 

“Kalau umat kuat, maka bangsa ini juga menjadi kuat. Ini menjadi tugas kita sebagai kader NU. Mudah-mudahan pengurus bisa melaksanakan, sehingga menjadikan Indonesia lebih sejahtera,’’ pungkasnya. 

Dalam rangkaian kegiatan pelantikan ini, juga berhasil dilaksanakan penandatanganan prasasti pembangunan gedung SLB Ma’arif NU, serta pembangunan mushalla NU setempat. (Eka/Ibnu Nawawi)

Rabu 23 Januari 2019 21:30 WIB
Beda Gus Dur dan Ben Anderson dalam Memandang Indonesia
Beda Gus Dur dan Ben Anderson dalam Memandang Indonesia
Diskusi Buku Gus Dur: Islam Nusantara dan Kewarganegaraan Bineka

Jakarta, NU Online
Setelah selama 27 tahun dilarang masuk, Ben Anderson kembali ke Indonesia dan menyampaikan bahwa Indonesia mestinya ditempatkan sebagai sebuah proyek bersama untuk masa depan, bukan warisan nenek moyang masa lalu.
 
"Indonesia adalah proyek bersama untuk masa depan," kata Riwanto Tirtosudarno, pensiunan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), mengutip pernyataan Ben Anderson, saat diskusi buku Gus Dur: Islam Nusantara dan Kewarganegaraan Bineka di Griya Gus Dur, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta, Rabu (23/1).
 
Riwanto melihat Gus Dur tidak punya pemikiran yang sama. Bahkan, lanjutnya, Gus Dur tidak sekadar memikirkan Indonesia, tetapi sudah lebih jauh dari itu, yakni terlibat langsung dalam proyek pembangunan Indonesia
 
"Sejak awal terlibat dalam proyek, besar atau kecil, untuk menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama tanpa melihat latar belakang etnis dan agamanya," katanya.
 
Keterlibatan Gus Dur dalam pembangunan itu sampai pada posisinya sebagai orang nomor satu di negerinya. Sebagai pemimpin yang muncul di tengah ketegangan masyarakat, ia harus mencari solusi terbaik dalam menyelesaikan persoalan tuntutan merdeka Aceh dan Papua, provinsi paling barat dan paling timur Indonesia.
 
Sejak dulu, ia sensitif dengan permasalahan yang ada di sekitarnya. Kesensitifan itu ia olah dalam pemikirannya dan dituangkan ke dalam tulisannya di berbagai media.
 
"Banyak menuliskan pemikiran-pemikirannya dalam berbagai media; koran, jurnal ilmiah, makalah seminar," katanya.
 
Gus Dur, jelas Riwanto, berangkat dari dunia pesantren. Dari situ, ia mampu membaca karya-karya yang berpengaruh di kancah internasional. Lebih dari itu, ia juga bisa menyampaikan hasil bacaannya itu ke bahasa yang dimengerti oleh masyarakat.
 
"Mampu menerjemahkan pikiran-pikiran yang berkelas dunia ke publiknya yang merupakan masyarakat awam," katanya.

Diskusi itu juga menghadirkan narasumber lain, yakni Menteri Percepatan Pembangunan Kawasan Timur era Gus Dur Manuel Kaisiepo dan penulis buku Ahmad Suaedy.

Kegiatan ini juga diikuti oleh berbagai kalangan, dari pensiunan pilot, desainer, dokter yang pernah bertugas di Papua, dan mahasiswa (Syakir NF/Muhammad Faizin)

Rabu 23 Januari 2019 20:50 WIB
Gus Dur Kombinasikan Mandela dan Ghandi Hadapi Konflik Papua dan Aceh
Gus Dur Kombinasikan Mandela dan Ghandi Hadapi Konflik Papua dan Aceh

Jakarta, NU Online

Saat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat sebagai presiden, Indonesia tengah dilanda konflik dan gerakan separatisme di sejumlah wilayah, seperti yang dimotori Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Keduanya tidak hanya bergerak di dalam negeri, namun juga menggalang dukungan di luar negeri.

Menghadapi kondisi tersebut, Gus Dur melakukan pendekatan yang menggabungkan dua cara rekonsiliasi ala Nelson Mandela di Afrika Selatan dan Mahatma Gandi di India. "Gus Dur membangun model rekonsiliasi dan resolusi konflik ala Mandela dan model non-violence-nya Gandhi," kata Manuel Kaisiepo, mantan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur era Presiden Gus Dur, Rabu (23/1).

Pernyatan itu disampaikan dalam diskusi buku ‘Gus Dur: Islam Nusantara dan Kewarganegaraan Bineka’, di Griya Gus Dur, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta. Diskusi itu juga dihadiri oleh guru besar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Riswanto Tirtosudarmo dan penulis buku Ahmad Suaedy.

Menurut Manuel Kaisiepo, langkah berani Gus Dur yang meminta maaf pada masyarakat Papua atas permasalahan yang terjadi di masa sebelumnya terinspirasi dari langkah Nelson Mandela yang dengan tegas memaafkan rezim apartheid yang memenjarakan Mandela.

Ia juga mengatakan bahwa Gus Dur juga mengambil intisari dari langkah politik Mahatma Ghandi yang menghadapi konflik dengan tidak menggunakan pendekatan kekerasan. Gus Dur bahkan melawan pemberontakan di Papua dan Aceh itu dengan pendekatan personal. "Tidak semua kekerasan dilawan dengan kekerasan," kata tokoh Papua itu.

Langkah politik yang demikian lanjut Manuel tidak hanya berhasil memulihkan harkat dan martabat masyarakat Aceh dan Papua, namun juga mampu membangun psikopolitik mereka. "Gus Dur berhasil membangun kepercayaan kembali masyarakat Papua," tegasnya. (Syakir NF/ Ahmad Rozali) 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG