IMG-LOGO
Opini

Merkantilisme: Fakta Perbedaan Barat dan Muslim Memandang Pasar

Kamis 24 Januari 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Merkantilisme: Fakta Perbedaan Barat dan Muslim Memandang Pasar
Ilustrasi (via fee.org)
Oleh Muhammad Syamsudin

Sarjana skolastik terdiri atas sarjana yang mengabdi pada gereja. Tugasnya mengadopsi semua pemikiran cendekiawan Muslim saat lalu menterjemahkannya menurut perspektif rohaniawan gereja dan dipergunakan untuk mempertahankan eksistensi gereja akibat gelombang sekulerisasi di dunia Barat yang mulai meninggalkan gereja dan ajaran ruhaninya. Kemunculan sarjana skolastik ini bukannya tanpa alasan, melainkan karena faktor hegemoni gereja yang berlaku ke semua relung termasuk wilayah sains yang dalam beberapa hal fatwa ruhaniawan gereja saat itu banyak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Coba memori kita kembali diputar pada apa yang pernah dialami oleh Copernicus dan Galileo pra gelombang renaissance! Itulah bagian dari latar belakang munculnya sarjana skolastik dan gelombang sekularisasi.

Sudah bukan rahasia lagi betapa besar kontribusi cendekiawan Muslim pengaruhnya terhadap alam pemikiran ekonomi sarjana skolastik Barat. Hal ini sekaligus menunjukkan titik terang dominasi Islam terhadap perkembangan pemikiran ekonomi di awal Abad Pertengahan (middle age). Besarnya dominasi Islam dalam ilmu pengetahuan khususnya ekonomi secara tidak langsung telah menisbahkan bahwa negeri Muslim adalah sebuah negeri dengan kekuatan super power di Abad Pertengahan sehingga banyak memberi warna pada ornamen kebudayaan dan peradaban. 

Menyandang status super power bukan berarti tidak memiliki tantangan. Justru karena gelar ini maka timbul reaksi bagi pihak yang merasa berseteru (Barat) untuk menunjukkan perilaku kontra produktif. Mungkin, gambarannya adalah hampir sama dengan kondisi abad kini, di mana Cina merupakan kekuatan baru super power. Kekuatan ini mau tidak mau mengundang reaksi seteru bagi negara yang merasa terancam oleh pengaruhnya. Ya siapa lagi kalau bukan negara yang sudah mendaku diri sebagai kekuatan adidaya dengan ditopang kekuatan super power angkatan bersenjatanya. Kira-kira seperti itulah reaksi yang ditunjukkan terhadap dunia Muslim di abad pertengahan. 

Dalam rangka merespons terhadap kemajuan bidang ekonomi negeri Muslim, Barat memberi respons dengan memunculkan paradigma baru dalam memandang pasar. Di kalangan Muslim, pasar dan perdagangan keduanya memiliki basis pemikiran bahwa antara kedua pihak yang bertransaksi harus saling menerima keuntungan. Pembeli dan penjual harus sama-sama mendapat manfaat, dan bahkan konsep kemanfaatan ini menjadi bagian dari syarat sahnya perdagangan. 

Coba Anda buka kembali definisi jual beli pada kitab fiqih Anda! Anda buka bab yang menjelaskan syarat sah jual beli! Syarat sahnya perdagangan (transaksi) adalah barang yang dijual harus suci, bermanfaat, diketahui kadar, jenis dan ukurannya dan transaksi harus dibangun saling ridha antara kedua pelakunya. Fondasi dasar ini rupa-rupanya tidak ditemui pada konsep pemikiran ekonomi Barat, meskipun ilmu ekonomi yang diadopsi adalah berasal dari cendekiawan Muslim. Mengapa konsepnya bisa berubah setelah jatuh ke tangan sarjana skolastik? Ada beberapa hipotesis terkait hal ini. 

Pertama, sejak awal para sarjana skolastik sudah memiliki orientasi bahwa mereka harus mempertahankan dominasi gereja dan berusaha mereduksi pengaruh peradaban pendatang yang dibawa oleh para sarjana Muslim. Kedua, sebagai langkah yang dirasa tepat oleh mereka guna mereduksi pengaruh tersebut maka harus menempuh jalan merekonstruksi bahasa simbol ilmu pengetahuan itu sendiri. Misalnya, jika jual beli dalam dunia Muslim didefinisikan sebagai “akad pertukaran barang antara dua pelaku transaksi sehingga terjadi perpindahan kepemilikan,” maka jual beli di tangan sarjana skolastik diredifinisikan sebagai “perang dagang.” (Islahi, Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought and Analysis (11 - 905 After Hijriah /632-1500 A.D), Jeddah: Islamic Economic Research Centre King Abdul Aziz University, 2004: 82)

Mari kita flashback pada catatan sejarah bangsa kita khususnya dan Nusantara pada umumnya! Ketika pedagang Barat datang ke bumi Nusantara pada abad ke-14 pascaekspedisi Vasco Da Gama, mereka membawa misi Gold, Gospel and Glory yang kemudian diterjemahkan oleh ahli sejarah kita sebagai misi Kejayaan, Kemakmuran dan Misi Suci. Praktik dari misi mereka ini adalah dalam langkah untuk kejayaan; mereka harus berani dan bisa menguasai sumber daya (imperialisme dan kolonialisme). Sumber daya yang terpenting bagi mereka adalah “bahan baku yang murah”, “jalur perdagangan yang singkat dan vital” serta “angkatan bersenjata”. Mungkin saudara pembaca akan bertanya, apa hubungannya dengan “angkatan bersenjata”? 

Bagaimanapun juga, untuk menguasai sumber daya serta mengamankan jalur perdagangan agar tidak dimasuki oleh pihak lain, maka mereka harus memiliki angkatan bersenjata yang bersedia menjaganya. Pihak lain yang masuk ke jalur perdagangan yang dikuasai harus membayar pajak kapal dan barang. Dengan pajak, mereka mendapat pemasukan keuangan bagi negara. Jadi, jelas bukan hubungan ketiga elemen “bahan baku”, “jalur perdagangan” dan “angkatan bersenjata tersebut” di atas? Itulah perdagangan menurut definisi mereka setelah awalnya mendapatkan definisi yang beradab dari Islam. Sudah pasti, konsep agama mereka sebenarnya juga tidak menerima akan hal ini. Namun, seiring gelombang sekulerisme yang juga besar, para pedagang Barat ini menempatkan ajaran ruhani pada posisi sinegok dan gereja saja sehingga tidak mengatur relung peradaban manusia yang dibangun. (Islahi, Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought and Analysis (11 - 905 After Hijriah /632-1500 A.D), Jeddah: Islamic Economic Research Centre King Abdul Aziz University, 2004: 83)

Sekali sebagai catatan utama kita, adalah bahwa definisi “perdagangan” telah mengalami dekonstruksi di tangan sarjana skolastik. Definisi perdagangan berubah dari transaksi saling-menguntungkan dan terhindar dari penipuan berubah menjadi “upaya untuk menguasai suatu sumber daya dan konsumen.” Di tangan sarjana skolastik ini, “perdagangan” bukan semata kegiatan mencari keuntungan, melainkan juga bagian dari strategi penguasaan melalui usaha “perang dagang”. Mazhab ekonomi sarjana yang memiliki paham ini dalam teori ekonomi kontemporer konvensional dikenal dengan istilah mazhab “merkantilis”. Terjadinya dimulai abad ke-14. Silakan membandingkannya dengan ekspedisi Vasco Da Gama yang datang ke Indonesia pada tahun 1425 M. Apa kira-kira relevansinya ekspedisi tersebut dan kaitannya dengan perang dagang? Agar hal ini tidak hanya sekedar sebagai asumsi, maka perlu kiranya dihadirkan bukti ilmiah. Mari kita tengok dan sajikan data sejarah bangsa kita!

Awal Abad ke-15, datang ekspedisi Portugis ke Nusantara. Mereka datang dengan misi dagang namun membawa tentara perang untuk menaklukkan daerah yang dipandang potensial menanamkan pengaruh mereka. Mereka datang dan menguasai Goa (Makassar) yang diawali dengan perseteruan dengan Sultan Hasanudin. Di Malaka, pada tahun yang sama mereka menaklukkan Kerajaan Samudera Pasai dan mendapat perlawanan dari Sultan Malik al-Saleh. Baik Goa dan Malaka, keduanya berhasil dikuasai oleh Portugis di bawah pimpinan Gubernur Portugis saat itu, yaitu Alfonso de Abuquerque pada tahun 1511 M. Yang memantik pemikiran kita, adalah mengapa mereka harus bersusah payah menguasai Goa dan Selat Malaka? Ternyata ada kronologi sejarahnya yang ada kaitannya dengan jalur perdagangan.

Sebagaimana diketahui bahwa Selat Makassar dan Selat Malaka, keduanya sudah lama menjadi jalur perdagangan yang ramai sejak Abad Pertengahan. Kedua jalur ini banyak dikuasai dan menjadi jalur dagang yang utama bagi Dinasti Mamluk yang berkedudukan di Mesir. Para saudagar dari dinasti ini, umumnya mendapatkan bahan baku rempah-rempah dan sutera adalah dari Nusantara. Rempah-rempah biasanya lantas di jual ke Venice. Sebagian lagi di bawa ke Mekah dan Kairo. Menguasai Selat Malaka dan Selat Makassar oleh Portugis, dianggap dapat memutus jalur singkat perdagangan pedagang Muslim sehingga memaksanya harus melewati Samudera Hindia yang ganas dan ombaknya yang besar serta perjalanan yang menjadi dua kali lipat jauhnya sehingga dapat berakibat meningkatnya biaya produksi dan sekaligus tujuan melemahkan kekuatan tentara Muslim saat perang salib diakibatkan pasokan sumber daya mereka menjadi berkurang. Jadi, wajarlah kemudian, apabila tentara Muslim pada abad ke-14 saat itu menderita banyak kekalahan dalam peperangan m
ereka, bahkan diusir dari Spanyol. (Islahi, Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought and Analysis (11 - 905 After Hijriah /632-1500 A.D), Jeddah: Islamic Economic Research Centre King Abdul Aziz University, 2004: 83)

Kasus pendangkalan Selat Malaka membawa imbas pada ramainya para pedagang melewati Selat Banten. Belanda di bawah pimpinan ekspedisi Cornelis de Hotman memandang posisi jalur strategis itu sehingga kemudian datang kembali ke Nusantara dengan membawa angkatan perang yang besar untuk menguasai Jayakarta / Batavia (sekarang Jakarta) lewat VOC (Verenidging Ost Compagnie), yang oleh para pejuang kemudian disingkat menjadi Kompeni. VOC awalnya berdiri dengan misi dagang dan sebagai kantor dagang. Lama-lama mereka berusaha menanamkan pengaruhnya dan berusaha menguasai Selat Banten yang kemudian mendapat perlawanan keras dari Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram sehingga timbul Perang Batavia dengan akhir kekalahan yang memaksa Sultan Agung harus mengakui dominasi Belanda di Batavia. 

Paham merkantilis dengan topik besar “perang dagang”-nya adalah bukti upaya Barat menanamkan pengaruhnya sebagai akibat perlawanan terhadap pengaruh budaya Arab-Islam. Ujung awalnya adalah berada di tangan sarjana skolastik yang berusaha mendefinisikan ilmu pengetahuan yang awalnya bercita rasa Muslim (dengan basis saling menguntungkan) menjadi bercita rasa perang, meski berkamuflase sebagai perang dagang. Wallâhu a’lam bish shawab.


Penulis adalah Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean, JATIM dan Peneliti Bidang Ekonomi Syariah-Aswaja NU Center PWNU Jatim. 

Tags:
Bagikan:
Kamis 24 Januari 2019 13:31 WIB
Menampar Hoaks dengan Hizib Nashar
Menampar Hoaks dengan Hizib Nashar
Oleh Vevi Alfi Maghfiroh

“Tantangan bangsa Indonesia saat ini adalah persatuan, dan menjadi tugas kita bersama untuk berperang melawan hoaks dan ujaran kebencian”. Begitulah kalimat-kalimat anjuran yang selalu digemakan untuk memberantas hoaks dan anjuran kebencian. Secara tidak langsung inilah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, terutama pada tahun politik dengan berbagai kepentingan.

Namun hoaks yang merajalela ini seharusnya tidak ditanggapi dengan hoaks lagi untuk saling menjatuhkan. Hal ini karena orang yang telah menyebar hoaks berarti mereka telah melakukan penghianatan kepada bangsa dan negara.

Mereka mengajari bangsa untuk berakhlak buruk. Oleh karena itu hoaks tidak boleh dibalas dengan hoaks lagi. Dengan demikian kita tidak ikut serta mempertontonkan akhlak buruk kepada bangsa dan negara. Lantas bagaimana memberantasnya?

Dalam beberapa forum, KH Asep Saifuddin Chalim, pengasuh pondok pesantren Amanatul Ummah sekaligus ketua umum Pergunu mengatakan bahwa hoaks cukup diklarifikasi dan dibacakan hizib nashar.

Salah satu hizib yang mengandung karomah tingkat tinggi dan paling hebat energi spiritualnya. Hizib ini ditulis oleh Syekh Abu Hassan as-Syadzily sekitar 800 tahun yang lalu, yang ditulis pada saat ia terjun dalam peperangan melawan tentara salib. 

Kehebatan hizib nashar ini sudah banyak diketahui di kalangan masyarakat, khususnya kalangan pondok pesantren. Beberapa manfaat kehebatannya antara lain menangkal sihir, mengobati segala macam penyakit medis dan nonmedis, memberikan kewibawaan pada diri si pembaca, menghilangkan rasa takut, meningkatkan kepercayaan diri, memberikan pagar pelindung pada diri dan kediaman si pembaca, dan mengabulkan hajat yang belum terlaksana.

Pembacaan hizib nashar juga mampu menampar hoax dengan sendirinya akan berbalik pada pelakunya. Oleh karena itu Kiai Asep selalu mengijazahkan kepada seluruh hadirin dan jama’ah untuk mengamalkannya. Adapun syair yang tak lupa beliau bacakan dalam setiap forum berbunyi, “Biarkanlah dia, yang menyakitimu, janganlah kau balas kekejian itu, karena segera ia akan terbalaskan, dengan sendirinya berlaku pembalasan.” 

Adapun mahar yang harus dilaksanakan sebelum mengamalkan hizib ini adalah puasa satu minggu yang dimulai pada hari selasa dan berakhir pada hari senin. Pada saat berpuasa tersebut dianjurkan untuk membaca sebanyak-banyaknya hizib tersebut dengan diawali tawasul (pengiriman al-Fatihah) kepada Syekh Abu Hasan as-Syadzily.

Dengan pembacaan hizib yang dilakukan oleh masyarakat, terutama Nahdliyin (warga NU) dimaksudkan agar yang menyebarkan hoaks akan segera menghentikannya. Dan jika  tetap melakukannya, maka ia akan tertampar dengan hoaksnya sendiri.

Hal ini bertujuan untuk membersihkan, melindungi, dan menjaga Indonesia. Jangan biarkan orang berani melakukan dan menyebarkan hoaks, karena ia akan tertampar dengan hoaksnya sendiri. Sehingga persatuan, kesatuan, dan cita-cita Indonesia menjadi negara yang damai tercapai.


Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, saat ini sedang menempuh Program Pascasarjana di IAIN Syekh Nurjati Cirebon jurusan Hukum Keluarga Islam.
Rabu 23 Januari 2019 15:45 WIB
Persinggungan Islam, Renaisance, dan Sekularisasi Dunia Barat
Persinggungan Islam, Renaisance, dan Sekularisasi Dunia Barat
Ilustrasi: Islam abad pertengahan (via ok.ru)
Oleh Muhammad Syamsudin

Berbicara mengenai pengaruh Islam terhadap gerakan renaissance dan sekularisasi dunia Barat, akan sangat menarik bila membaca sebuah karya tulis dari Ghazanfar yang berjudul Scholastic Economics and Arab Scholars: The Great Gap Thesis Reconsidered, dan dimuat di dalam karya Ghazanfar, S.M. yang berjudul Medieval Islamic Economic Thought: Filling The Great Gap in Europeann Economics. Karya ini diterbitkan oleh New York Routledge Curzon dengan tahun terbit 2003.

Di dalam karya tersebut disampaikan bahwa pada abad pertengahan (middle age), dunia Barat merupakan dunia yang mengalami masa suram dari ilmu pengetahuan yang ditandai oleh minimnya kreativitas dari para penduduknya. Gereja memegang peran penting dalam perjalanan kekuasaan, sehingga raja/pemimpin pemerintahan seolah tidak memiliki wewenang dan hak prerogatif untuk mengatur jalannya roda pemerintahan.

Semua hal yang berkaitan dengan kehidupan didominasi oleh doktrin teologi gereja. Tidak boleh ada satu kreativitas pun yang boleh bertentangan dengan kepentingan gereja, bahkan sampai urusan ilmu pengetahuan. Dihukum matinya Copernicus yang menyampaikan teori tata surya merupakan bagian kelam dari perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Barat. Termasuk dihukumnya Galileo Galilei yang menemukan teropong bintang dan mengajukan statemen bahwa bumi ini adalah bulat. Statemen Galileo Galilei ini dianggap menentang doktrin gereja yang saat itu memiliki doktrin bahwa bumi ini adalah datar sehingga tidak banyak masyarakat Barat yang berani melakukan pelayaran.

Singkatnya, pemikiran ilmu pengetahuan saat itu harus diarahkan kepada mendukung doktrin gereja agar tercapai misi keselamatan pada hari akhir (eskatologik). Filsafat yang memiliki kecondongan pada mendukung doktrin gereja ini dinamakan dengan istilah filsafat skolastik. 

Gerakan renaissance merupakan gerakan yang awalnya ditujukan untuk melakukan reformasi terhadap ilmu pengetahuan yang sebelumnya didominasi oleh doktrin gereja. Menurut Prancis Michael De Certeau, upaya keluar dari alam hegemoni gereja diawali dengan bubarnya jaringan sosial lama dan kemunculan elite-elite baru yang memiliki keahlian khusus yang dalam perkembangannya memunculkan raja-raja kecil baru berwawasan elite. 

Renaissance juga muncul akibat dipengaruhi oleh kemunculan kota-kota dagang baru yang makmur akibat adanya perdagangan dan gesekan dengan pendatang dan pemikir baru, termasuk di antaranya adalah pedagang Muslim. Dengan bekal dukungan dari para saudagar baru yang terbentuk akibat relasi dagang ini, maka lahirlah gerakan renaissance

Jadi, pada dasarnya, gerakan renaissance adalah gerakan yang ingin lepas dari hegemoni gereja (sekularisasi) yang saat itu didominasi oleh filsafat skolastik. Hegemoni umumnya adalah dipengaruhi oleh doktrin bahwa penentang ide gereja dianggap sebagai yang tidak selamat dalam kehidupan akhirnya (kafir). Hegemoni juga dipengaruhi oleh iming-iming surga yang ditawarkan oleh sang pendeta/paus kepada pengikutnya, padahal sebagian dari doktrin yang dipaksakan saat itu adalah buah dari karya intelektual gereja sendiri. 

Gerakan sekularisasi berfokus pada upaya memisahkan pemikiran ruhani gereja dengan upaya menggali pengetahuan (sains). Singkatnya, doktrin gereja adalah dicukupkan pada aspek ruhani, sementara sains biarlah lepas mewujudkan kreativitasnya. Pengikut paham sekularisasi ini disebut dengan istilah sekularisme. Inilah yang melatarbelakangi mengapa di Barat hingga saat ini lestari upaya sekularisasi tersebut.

Ketika dunia Barat bersinggungan dengan dunia Islam, mereka masih membawa misi sekularisasi tersebut. Hal itu sebagaimana tampak dari pemikiran St Thomas Aquinas (abad XIII M) dengan Summa Theologica-nya yang pada dasarnya merupakan upaya menyatukan pemikiran gereja ini dengan sains yang berkembang, meskipun ide pemikirannya banyak mengadopsi Ihyâ Ulûm al-Dîn-nya al-Ghazâli. 

Sebenarnya karya Summa Theologica St Thomas Aquinas ini adalah diperuntukkan bagi para calon pendeta pemula. Menurut Durant, Summa Theologica sejatinya hadir karena kekhaawatiran ditinggalkannya teologi Kristen akibat persinggungan dengan pemikiran-pemikiran dunia Arab abad pertengahan. Penyebab utamanya, karena ada jurang yang sangat jauh antara pemikiran intelektual dunia Arab dengan dunia Barat. Schumpeter (Abad XVIII akhir) mengabadikan jauhnya alam pemikiran ini dalam sebuah tesisnya yang berjudul The Great Gap (Jarak yang Teramat Lebar). Hanya saja, Schumpeter di sini tidak menyatakan pengakuannya bahwa hal itu dipengaruhi oleh persinggungan dengan dunia Muslim. Ia lebih condong kepada anggapan bahwa St Thomas Aquinas telah melahirkan sebuah pemikiran yang genuine  (asli) berbekal filsafat Yunani-Romawi sehingga kemudian lahir karya Summa Theologica. Padahal, banyak ilmuwan yang meneliti bahwa karya Aquinas ini adalah adopsi dari pemikiran al-Ghazâli. 

Pertanyaannya, bagaimana mungkin Aquinas mengalihkannya untuk mendukung teologi Nasrani? Jawabnya, karena St Thomas Aquinas ini adalah seorang penganut filsafat skolastik. Sebagaimana di awal sudah dijelaskan bahwa filosof dari filsafat skolastik memiliki tugas menerjemahkan sains dan membawanya ke alam pemikiran gereja. Misi utama dari teolog skolastik ini adalah memurnikan ajaran Kristen dari pengaruh Arab dan memisahkan filsafat kalam Aristotelian dari pengaruh lain.

Hal yang sama, sebenarnya tidak hanya dialami oleh karya al-Ghazâli. Ibnu Rusyd juga mengalami hal yang sama pada karyanya. Bedanya, Ibn Rusyd (Averroes) terlebih dahulu mendapat caci makian dari Aristotelian Skolastik. Penyebabnya, Ibn Rusyd telah mengkritik karya Aristoteles yang berjudul Metaphysics dan De Anima. Padahal, kedua karya ini banyak mendapat tempat di kalangan teolog Kristen. 

Filsafat Ibn Rusyd (Averroes) yang berbicara tentang sifat qadimnya dunia, Intelektual Aktif, dan kemungkinan mencapai kesempurnaan dalam kehidupan dunia ini dianggap sebagai telah mengembangkan tradisi tandingan bagi pengikut Kristen Skolastik. Buahnya kemudian adalah Ibn Rusyd mendapat cacian yang pedas dan caci maki kasar dari Tempier dan Bonaventure. Seorang Aristotelian kenamaan waktu itu yang bernama Duns Scotus pernah menghujat Ibn Rusyd sebagai binatang irasional yang mengungguli binatang-binatang lainnya. Cacian ini mungkin disebabkan karena tradisi intelektual dunia Barat saat itu belum menemui titik kematangan. 

Membaca karya al-Ghazâli seperti menemukan mutiara di tengah hutan belantara bagi kaum skolastik, disebabkan karena al-Ghazali telah menyajikan sebuah bangunan keilmuan yang berdiri di atas sains, filsafat dan rasio yang dikendalikan oleh agama dan kalam. Itulah sebabnya, pemikiran al-Ghazâli lebih banyak diterima dan diadopsi oleh para sarjana skolastik seperti St Thomas Aquinas (abad XIII M) dan Adam Smith (abad XVI M). Inilah awal bagi percaturan dan persinggungan dunia Barat dengan Islam lewat pintu karya al-Ghazâlî dan sekaligus awal bagi renaissance di kalangan skolastik gereja. Wallâhu a’lam bish shawab


Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean dan Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jatim. 

Rabu 23 Januari 2019 15:10 WIB
Waspadai Hoaks tentang Bencana saat Musibah Terjadi
Waspadai Hoaks tentang Bencana saat Musibah Terjadi

Ahmad Rozali

Di saat Indonesia sedang dilanda musibah seperti saat-saat ini, kita harus lebih waspada pada berita hoaks mengenai bencana. Sebab salah satunya jenis hoaks yang sering ditemukan adalah konten hoaks bencana. Sayangnya konten jenis ini juga sering dipercaya masyarakat.

Konten hoaks tak melulu berupa berita yang tidak benar. Sebab berdasarkan temuan terbaru, hoaks juga berbentuk unggahan kembali konten lama untuk membuat keresahan pada masyarakat. Seperti contoh, hoaks mengenai anjuran dari Walikota Bogor, Bima Arya agar warga Bogor dan Jakarta waspada tingginya debit air di bendungan Katulampa yang beredar sekitar 22 januari 2019 lalu. Dalam rekaman tersebut Bima Arya meminta agar warga berhati-hati karena bendungan Katulampa bisa menyebabkan banjir.

Dalam penjelasan Bima Arya menegaskan bahwa video yang tersebar tersebut merupakan rekaman tahun 2018 lalu ketika ketinggian air di bendungan Katulampa mencapai 240 sentimeter dengan status siaga satu. Tetapi karena baru di-share kembali beberapa waktu lalu, rekaman lama tersebut seolah-olah terjadi pada Januari 2019.

Hoaks tentang bendungan Katumpala bukan saja terjadi kali ini saja. Akhir tahun lalu pada buan November 2018, hoaks serupa juga terjadi. Bedanya, kala itu hoaks kala itu beredar melalui aplikasi chatting mengatasnamakan informasi dari Pudek BMKG. Beruntung, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB bertindak sigap dan langsung membantah kabar tersebut, melalui akun twitternya. Merujuk pada data Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Sutopo mengatakan bahwa kabar tersebut adalah hoaks. Saking banyaknya konten hoaks mengenai bencana, Sutopo kerap kali disibukkan dengan klarifikasi berita semacam ini.

Jika merujuk pada data yang dikeluakan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), hoaks mengenai bencana alam, merupakan salah satu dari 11 kategori hoaks yang kerap disebarkan melalui media sosial. Jenis hoaks lain yang kerap disebarkan adalah hoaks jenis politik, agama dan kesehatan. Berdasarkan data yang sama, jumlah hoaks yang menyebar di masyarakat setiap hari mencapai kurang lebih tiga buah. Dikabarkan angka hoaks terus bertambah setiap tahun sejak tahun 2014 silam.

Berita hoaks pada dasarnya memiliki ciri khas yang bisa diidentifikasi secara kasat mata. Akan tetapi tanpa berpikir kritis, berita hoaks kerap lolos dari identifikasi pengguna media sosial atau chattinng platform. Untuk memudahkan, terdapat beberapa ciri khas berita hoaks yang umum bisa ditemukan, antara lain; 1. Diawali kata-kata sugestif dan heboh, 2. Kerap mencatut nama tokoh-tokoh atau lembaga terkenal, 3. Terdengar tidak masuk akal, sehingga kerap disertai dengan hasil penelitian palsu, 4. Biasanya hanya beredar melalui pesan-pesan singkat atau situs-situs yang tidak jelas kepemilikannya, tidak muncul di media-media arus utama, 5. Biasanya menggunakan huruf kapital dan tanda seru. 

Konten demikian dapat diantisipasi dengan dua cara sederhana; memeriksa kredibilitas website yang memuat konten tersebut dan Melakukan cross check pada platform terpercaya. 

Dengan tingginya angka produksi dan penyebaran berita hoaks di media sosial, dan kemampuan berita bohong ini memanfaatkan situasi hingga memanipulasi sebuah fenomena, maka semestinya kita semakin waspada terhadap konten media sosial terutama mengenai bencana. Untuk melakukan pengencekan kebenaran berita bencana, kita bisa merujuk pada akun twitter BMKG atau akun twitter Sutopo Purwo Nugroho.  

Redaktur NU Online

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG