IMG-LOGO
Nasional
MUNAS KONBES NU 2019

Kiai NU: Islam Larang Buang Sampah Sembarangan

Kamis 24 Januari 2019 23:20 WIB
Bagikan:
Kiai NU: Islam Larang Buang Sampah Sembarangan

Jakarta, NU Online

Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menegaskan bahwa agama Islam melarang membuang sampah secara sembarangan. Sebabnya, selain dapat mencemari lingkungan, juga membahayakan kesehatan manusia.

Demikian dikemukakan Kiai Ishomuddin pada Forum Group Discussion (FGD) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (24/1) dengan tema "Konsep Islam tentang Pemeliharaan Lingkungan: Solusi Pengelolaan Sampah Plastik”.

“Membuang sampah secara sembarang itu termasuk dilarang oleh agama Karena selain mencemari lingkungan, juga membahayakan kesehatan manusia. Lebih-lebih apabila sampahnya sangat sulit diurai seperti sampah plastik yang sekarang bukan hanya mengotori darat tapi juga lautan,” kata Kiai Ishomuddin.

Ia mengemukakan, selain bertugas menyembah Allah, manusia juga menjadi khalifah di bumi, dan memakmurkannya. Oleh sebab itu, sambungnya, sudah seharusnya manusia memilihara lingkungan atau bumi.

“Menjaga lingkungan dari kerusakan dengan bergotong royong, bekerja sama dengan semua pihak untuk menyadarkan perilaku masyarkat agar sadar, jangan membuang sampah sembarangan, terutama sampah-sampah yang sulit terurai seperti sampah plastik,” terangnya.

Menurutnya, Allah sendiri berpesan dalam Al-Qur’an tentang larangan merusak bumi seperti dalam Surat Al-A’rof ayat 56 dan kerusakan di bumi akibat ulah manusia sebagaimana tertera dalam Surat Ar-Ruum ayat 41.

“Oleh karena itu, upaya-upaya untuk mengatasi persoalan kemanusiaan, termasuk di dalamnya pengotoran bumi dan perusakannya, tanah dan lautan itu menjadi tugas bersama semua pihak,” ucapnya.

Untuk itu, penanganan persoalan sampah plastik ini perlu dibahas secara serius di Munas NU agar kemudian dapat ditindaklanjuti pemerintah dan menjadi kepedulian semua pihak.

“Kita tidak bisa mendiamkan seseorang menimbulkan bahaya atas orang lain karena agama menyatakan La dlarara wala dirara, tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain,” jelasnya.

Sebagai informasi, persoalan sampah plastik akan menjadi bahasan pada Munas NU akhir Februari 2019 yang diselenggarakan di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat. (Husni Sahal/Ahmad Rozali)

Bagikan:
Kamis 24 Januari 2019 23:45 WIB
Ini Harapan Nyai Sinta terhadap Abdurrahman Wahid Centre UI
Ini Harapan Nyai Sinta terhadap Abdurrahman Wahid Centre UI
Jakarta, NU Online
Universitas Indonesia (UI) bersama keluarga Gus Dur melakukan penandatanganan nota kesepahaman pendirian Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities (AWCPH) sebagai Unit Kerja Khusus di bawah UI. Penandatangan dilakukan di kediaman Gus Dur di Jalan Al-Munawaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Kamis (24/1)
 
Nyai Sinta Nuriyah, istri Gus Dur, mengaku senang dengan kehadiran AWCPH di universitas tempat ia pernah menimba ilmu itu. Tentu, ia berharap melalui lembaga tersebut, semakin banyak orang yang membaca pemikiran Gus Dur.
 
"Saya sangat senang sekali dan berharap banyak dari situ karena bagaimanapun pemikiran Gus Dur masih banyak dibutuhkan oleh masyarakat pada zaman itu maupun zaman sekarang masih tetap up to date," kata Nyai Sinta.
 
Di samping itu, dengan membaca pemikiran Gus Dur, Nyai Sinta juga berharap dapat membuka pikiran mereka. Tidak berhenti di situ, tetapi keterbukaan pemikiran itu juga diaktualisasikan dalam tindakan dalam memperjuangkan demokrasi, toleransi, kesetaraan, kerukunan, kemanusiaan, dan sebagainya.
 
"Saya berharap dengan banyaknya orang yang membaca pemikiran Gus Dur itu akan membuat mereka terbuka untuk melakukan sesuatu tindakan yang misalnya demokrasi, tentang toleransi, kerukunan dan sebagainya," kata Nyai Sinta, "dan lebih khusus lagi tentang kemanusiaan," imbuhnya.
 
Ketua AWCPH UI Ahmad Syafiq mengungkapkan lembaga tersebut berawal dari Abdurrahman Wahid Corner di Perpustakaan UI, kemudian berkembang menjadi Abdurrahman Wahid Centre for Interfaith Dialogue and Peace (AWC -UI) dan sekarang menjadi Abdurrahman Wahid Centre for Peace and Humanities (AWCPH-UI).
 
Lembaga ini, jelasnya, bertujuan meneliti dan mengembangkan pemikiran Gus Dur sebagai seorang tokoh besar dunia dalam berbagai disiplin ilmu dan level sebagai sumber inspirasi dan moral di lingkungan akademik dan masyarakat luas, khususnya generasi muda.
 
"AWCPH-UI didirikan untuk meneliti dan mengembangkan pemikiran Gus Dur sebagai seorang tokoh intelektual akademik, budayawan besar di Indonesia dan dunia supaya nilai-nilai ini menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya, khususnya dalam wilayah koridor sains dan tradisi akademik," kata akademisi yang banyak riset mengenai kesehatan dan sumberdaya manusia ini.
 
Ke depan, lanjut Syafiq, AWCPH-UI akan menggelar diskusi ilmiah, seminar, penulisan buku dan jurnal, penelitian, serta kegiatan lain terkait pengabdian masyarakat mengingat keberadaannya di dalam kampus dalam menjunjung tridarma perguruan tinggi.
 
Tak ketinggalan, akademisi asal Pondok Buntet Pesantren ini juga menjelaskan bahwa AWCPH-UI akan didesain sesuai model kelembagaan yang mengakomodasi ide-ide dan kegiatan-kegiatan kreatif sesuai ketertarikan Gus Dur dalam bidang seni, budaya dan spiritualitas. Tentu, semua hal itu dalam bingkai semangat perdamaian dan kemanusiaan.
 
"Hingga nanti pada saatnya lembaga ini bisa memberikan kontribusi bagi penyusunan kebijakan, penyusunan perencanaan pembangunan, terutama dalam kaitannya dengan perdamaian dan kemanusiaan dalam arti yang luas," harap pengajar UI ini.
 
Nota kesepakatan itu ditandatangani langsung oleh Rektor UI Prof Muhammad Anis dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Bani Abdurrahman Wahid Nyai Sinta Nuriyah. Penandatanganan itu disaksikan oleh putri ketiga Gus Dur Anita Wahid yang juga alumni UI dan Ketua AWCPH-UI Ahmad Syafiq. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Kamis 24 Januari 2019 22:45 WIB
MUNAS KONBES NU 2019
Kiai NU: Buang Sampah Sembarangan Merupakan Kezaliman
Kiai NU: Buang Sampah Sembarangan Merupakan Kezaliman
Kiai Ishomuddin
Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin mengaku prihatin terhadap masyarakat, khususnya umat Islam yang belum memiliki kesadaran secara sungguh-sungguh terkait pentingnya menjaga lingkungan.

Hal itu dikemukakan Kiai Ishomuddin ketika menjadi pengantar pada Forum Group Discussion (FGD) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis 24/1) dengan tema "Konsep Islam tentang Pemeliharaan Lingkungan: Solusi Pengelolaan Sampah Plastik”.

“Indonesia yang dihuni mayoritas umat Islam, kapan dan di mana saja sampah-sampah berserakan. Di mana saja kita menemukan orang-orang yang tidak memiliki kesadaran terhadap sampah, sehingga mereka membuang sampah tidak pada tempatnya,” ucapnya.

Padahal, menurutnya, membuang sampah, khususnya sampah plastik secara sembarangan masuk dalam kategori ketidakadilan atau kezaliman karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

“Membuang sampah sembarangan merupakan kezaliman yang berakibat pada bahaya, pada manusia yang tinggal di lingkungan itu,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, dirinya mengimbau agar semua pihak bersama-sama menanggulangi persoalan sampah. 

“(Penanganan sampah) bukan saja tugas ulama di Nahdlatul Ulama, tapi juga tugas pemerintah. Sesuai dengan perintah Allah di dalam Al-Qur’an wata'awanu ‘alal birri wat taqwa,” ucapnya.

Pada FGD ini hadir dua pembicara utama, yakni Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Imran Agus Nurali dan Dirjen Tata Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Sapta putra.

Selain itu, hadir pula sejumlah pengurus Lembaga Bahtsul Masail seperti KH Azizi Hasbulloh, KH Asnawi Ridlwan, dan H Mahbub Ma'afi dan pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim PBNU. 

Sebagai informasi, persoalan sampah plastik akan menjadi bahasan pada Munas NU akhir Februari 2019 yang diselenggarakan di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat. (Husni Sahal/Ahmad Rozali)
Kamis 24 Januari 2019 22:23 WIB
Hari Ketiga Banjir Sulsel, 30 Orang Dinyatakan Meninggal Dunia
Hari Ketiga Banjir Sulsel, 30 Orang Dinyatakan Meninggal Dunia
Banjir Gowa Grid.Id
Jakarta, NU Online
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengumumkan bahwa banjir yang melanda sejumlah kawasan Sulawesi Selatan telah berangsur surut. BNPB juga terus memperbaharui jumlah korban banjir yang terjadi.   

"Sebagian banjir mulai surut. Dampak banjir, longsor dan puting beliung di Sulsel per 24/1/2019: 30 orang meninggal dunia, 25 orang hilang, 47 luka-luka, 3.321 orang mengungsi, 76 unit rumah rusak, 2.694 rumah terendam, 11.433 hektare sawah terendam, 9 jembatan rusak," kata Sutopo melalui akun twitternya @Sutopo_PN, Kamis (24/1).

Sementara itu, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan mengatakan korban meninggal yang berhasil ditemukan hari ketiga pascabencana sebanyak 15 orang. Delapan orang di temukan pagi hari kemudian beberapa jam selanjutnya kembali ditemukan enam orang korban.

Adnan menyatakan 15 korban meninggal dunia ini berasal dari Desa Mangempang, Kecamatan Bungaya yakni, Hamzah Bin Nuru, Erlangga, Mutung Daeng Kasma serta Muh Iksan. "Sebanyak 15 korban meninggal dunia ini berasal dari empat desa berbeda, masih dalam satu kecamatan yang sama. Semuanya meninggal karena longsor," katanya seperti dikutip di Antara.

Bupati Adnan mengungkapkan korban meninggal dunia pada hari pertama bencana banjir atau pada Selasa (22/1), ditemukan enam korban jiwa. Kemudian hari kedua pascabencana ditemukan kembali enam orang korban dari musibah longsor.

Adnan menambahkan, dalam musibah itu, selain korban banjir dan longsor, empat sarana infrastruktur jembatan penghubung juga dinyatakan terputus. Satu diantaranya adalah Jembatan Bongaya.

Banjir dan longsor yang melanda sejumlah titik di Kabupaten Gowa pada Selasa (22/1)  akibat curah hujan yang tinggi selama dua hari berturut-turut yang mengakibatkan meluapnya sungai Jeneberang, sungai terpanjang di Sulawesi Selatan. (Ahmad Rozali)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG