IMG-LOGO
Anti-Hoaks

NU Jatim Tak Pernah Instruksikan Pilih Capres Tertentu

Jumat 25 Januari 2019 10:45 WIB
Bagikan:
NU Jatim Tak Pernah Instruksikan Pilih Capres Tertentu
Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar (Foto: Ist.)
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar menegaskan bahwa NU Jatim tidak pernah membuat imbauan apalagi instruksi agar warga NU memilih calon presiden tertentu.

Hal ini ditegaskan Kiai Marzuki merespon sebuah video viral baru-baru ini yang menyampaikan bahwa Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mendukung pasangan capres cawapres tertentu.

Dalam video tersebut, ada seseorang yang mengaku berada di kantor PWNU Jawa Timur dan menunjukkan baliho pasangan capres dan cawapres yang terpasang di lokasi tersebut sebagai bukti dukungan. Dalam video tersebut juga, pelaku mengajak warga NU untuk memilih pasangan capres tertentu.

"Itu bohong, itu palsu. Itu bukan kantor PWNU yang direkam-rekam. Kantor PWNU ada di depan Masjid Akbar, pojok. Nah yang ada di video yang disebar-sebar itu bukan kantor PWNU. Itu lokasinya di lingkungan Astranawa," jelasnya melalui sebuah video disamping Masjid Quba saat melaksanakan ibadah umroh ke tanah suci Makkah, Rabu (24/1).

Ia pun menegaskan, warga NU haram mendukung calon atau tim sukses yang menggunakan cara kebohongan untuk meraih suara apalagi mengatasnamakan PWNU Jawa Timur.

"Warga NU haram mendukung siapapun yang cara kampanyenya pakai palsu-palsu pakai bohong-bohong bertentangan dengan ajaran Islam, bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah," tegasnya.

Terkait dengan tempat pembuatan video tersebut, Kiai Marzuki menjelaskan bahwa lokasi tersebut adalah salah satu bagian aset NU yang sampai saat ini dikelola oleh perorangan dan belum bisa dikelola oleh PWNU Jawa Timur.

Kiai Marzuki pun menyelipkan doa agar umat Islam khususnya warga Nahdlatul Ulama tetap iman, istiqomah dan Islam. Sehat lahir batin, selamat dunia akhirat, dan khusnul khatimah. (Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Kamis 24 Januari 2019 22:57 WIB
Hoaks di Kantor PWNU Jatim Ada Spanduk Capres Nomor 02
Hoaks di Kantor PWNU Jatim Ada Spanduk Capres Nomor 02
Jakarta, NU Online
Beredar sebuah video seseorang yang menyampaikan bahwa Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mendukung pasangan capres cawapres nomor urut 02. 

Hal itu dibantah oleh Moch Rofii Boenawi, salah seorang yang mengaku pemuda NU Milenial. Ia menegaskan bahwa orang di dalam video yang beredar itu bukanlah di kantor PWNU Jawa Timur sebagaimana yang disebutkannya.

“Kami ingin mengklarifikasi video kemarin yang viral di beberapa media sosial. Sekarang di PWNU, tidak ada satu pun banner (spanduk) dukungan kepada capres cawapres tertentu,” katanya di Kantor PWNU Jawa Timur di Jalan Al Akbar Timur Surabaya, Jawa Timur, Kamis (24/1).

Ia pun mempersilakan siapa pun untuk melihat sendiri kondisi kantor PWNU Jawa Timur yang sebenarnya, bahwa tidak ada banner capres cawapres. 

“Anda boleh melihatnya sendiri,” lanjutnya.

Seseorang yang di video tersebut mengaku sedang berada di kantor PWNU Jawa Timur dan menunjukkan banner capres cawapres nomor urut 02. 

Terlihat lingkungan dan gedung pada video tersebut berbeda dengan video klarifikasi yang dibuat oleh Rofii. Video klarifikasi menunjukkan dengan jelas papan nama PWNU Jawa Timur. Sementara video hoaks tidak menunjukkan tanda-tanda NU-nya.

“Ingat, kantor PWNU berada di Jalan Masjid Al-Akbar Timur. Berada di pojokan masjid timur. Bukan di gedung yang dimaksud di video kemarin,” tegas Rofii.

Dalam keterangan video yang diunggah melalui akun Facebooknya itu, ia menulis bahwa orang tersebut telah memfitnah NU secara kelembagaan mendukung capres tertentu. Karenanya, Rofii menuntut pemilik video meminta maaf kepada warga NU.

“Kami menuntut kepada pemilik video untuk minta maaf kepada warga NU,” ucap pria yang sehari-hari di tempat tersebut. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Senin 7 Januari 2019 15:30 WIB
Habib Lutfhi: Hoaks Memecah Belah Persatuan dan Kesatuan
Habib Lutfhi: Hoaks Memecah Belah Persatuan dan Kesatuan
Foto: Habib Luthfi bin Ali Yahya
Brebes, NU Online
Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Muktabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Ali Yahya sangat prihatin dengan kondisi saat ini di mana hoaks (berita bohong) merajalela dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hoaks dan fitnah sangat berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

“Dimana pun dan kapan pun kita harus bangga dan cinta tanah air dan tumpah darah Indonesia. Jangan sampai goyah oleh apapun, hanya karena berita hoaks,” tegasnya saat menyampaikan mauidzah hasanah dalam kegiatan Polres Brebes Bershalawat, di halaman Mapolres setempat, Ahad (6/1) malam

Habib Luthfi menegaskan perlunya segenap elemen bangsa mengingat kembali sejarah perjuangan bangsa. Dalam mendirikan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), banyak peristiwa heroik yang mengorbankan harta, jiwa dan raga. Hasil perjuangan para syuhada harus diapresiasi sedalam mungkin. Maka itu ia menegaskan untuk jangan pernah melupakan sejarah Indonesia.  

“Pelajaran ilmu bumi perlu diangkat kembali, pelajaran sejarah perlu dibangunkan kembali, supaya kita selaku anak bangsa, generasi penerus pejuang para ulama, penerus umat, semakin kokoh demi tegaknya kembali merah putih,” ujar  Habib Lutfhi .

Habib Luthfi juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami berbagai macam permasalahan yang bisa menjerumuskan kepada perpecahan. Banyak umat bertengkar hanya karena berbeda pandangan. Terlebih jelang pemilihan umum (Pemilu).

“Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu untuk hal semacam itu walaupun baju berbeda, pilihan berbeda. Bolehlah bendera ormas ataupun bendera partai banyak, namun merah putih tetap satu,” tegas sosok Habib yang terkenal kecintaannya terhadap NKRI ini.

Ia bertekad akan tetap menggaungkan NKRI harga mati meskipun dalam suasana Pemilihan Presiden (Pilpres), Pemilihan Legislatif (Pileg), maupun Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).

Sedangkan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak masyarakat untuk menggunakan hak politiknya secara cerdas dan tidak mudah termakan hoaks.

Hoaks, kata Idza, termasuk salah satu ancaman yang berpotensi menimbulkan keretakan bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Jangan hanya karena beda pilihan jadi bermusuhan,” ujarnya.

Untuk situasi dan kondisi di Brebes, Idza pun mengungkapkan secara umum masih dalam keadaan kondusif. Semuanya tidak lepas dari kerja keras jajaran Polres Brebes dan kesadaran yang tinggi dari masyarakat Brebes.

“Mari kita bertekad untuk menjaga kondusifitas di Kabupaten Brebes demi terciptanya Pemilu 2019 yang aman, damai, dan sejuk,”” ajaknya.  

Turut hadir Jajaran Forkopimda, Kepala SKPD Brebes, camat Brebes, alim-ulama, tokoh agama dan masyarakat, Ansor, Banser, serta para santri dari berbagai pondok pesantren di Brebes. (Wasdiun/Muhammad Faizin)   

Ahad 6 Januari 2019 23:0 WIB
Jadi Panutan, Tokoh Agama Jangan Ikut Sebar Hoaks
Jadi Panutan, Tokoh Agama Jangan Ikut Sebar Hoaks
KH Marsudi Syuhud, Ketua PBNU
Kota Banjar, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Marsudi Syuhud mengajak para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk tidak ikut terbawa arus dengan fenomena hoaks atau berita bohong yang saat ini sedang melanda di media sosial. Para kiai atau ustadz harus mampu meminimalisasi hoaks dengan tidak ikut-ikutan menebar hoaks.

"Pada dasarnya sebagai kiai, ustadz atau tokoh agama yang terpenting adalah mestinya meminimalisasi kabar-kabar berita hoaks. Bukan ikut-ikutan menyebarkan berita hoaks karena kiai, ustad, tokoh-tokoh agama itu adalah panutan yang menjaga bagaimana umat, masyarakat, bangsa untuk tidak melakukan hoaks," jelasnya, Sabtu (5/1).

Masyarakat dan khususnya para tokoh lanjutnya, seharusnya melakukan tabayun (klarifikasi) tentang kebenaran sebuah informasi agar tidak menjadi agen penyebar hoaks.

"Salah-salah nanti dia sendiri (tokoh) yang menjadi penyebar hoaks," kata Kiai Marsudi saat hadir di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al azhar Citangkolo Banjar Jawa Barat dalam rangka persiapan Munas dan Konbes ke-2 NU tahun 2019.

Itulah yang menjadi kehati-hatian para kiai dan ulama. Jika tidak bisa menyampaikan sesuatu yang tidak dipahami dan belum jelas kebenarannya maka diam adalah emas dan menjadi cara yang terbaik.

"Diam itu adalah emas dan diam itu adalah lebih baik. Namun jika bisa menyampaikan, sampaikanlah hal-hal yang lebih produktif, lebih baik, lebih manfaat. Jangan ikut-ikutan menyebarkan," tandasnya. (Red: Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG